Apabila seseorang mengucapkan amien dan bertepatan dengan ucapan malaikat dilangit maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ أَخْبَرَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ عَنْ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ أُمَيَّةَ أَنَّ نَافِعًا حَدَّثَهُ أَنَّ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ حَدَّثَهُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ
حَشَوْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِسَادَةً فِيْهَا تَمَاثِيْلُ كَأَنَّهَا نُمْرُقَةٌ فَجَاءَ فَقَامَ بَيْنَ الْبَابَيْنِ وَجَعَلَ يَتَغَيَّرُ وَجْهُهُ فَقُلْتُ مَا لَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَا بَالُ هَذِهِ الْوِسَادَةِ قَالَتْ وِسَادَةٌ جَعَلْتُهَا لَكَ لِتَضْطَجِعَ عَلَيْهَا قَالَ أَمَا عَلِمْتِ أَنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ صُوْرَةٌ وَأَنَّ مَنْ صَنَعَ الصُّوْرَةَ يُعَذَّبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُوْلُ أَحْيُواْ مَا خَلَقْتُمْ
[3052]

Telah bercerita kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Makhlad telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari Isma’il bin Umayyah bahwa Nafi’ bercerita kepadanya bahwa Al Qasim bin Muhammad bercerita kepadanya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata;
Aku melipat tikar yang ada gambarnya sehingga menjadi seperti bantal kecil untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Beliau datang namun hanya berdiri di antara dua pintu dengan wajah yang berubah (marah). Aku bertanya; Wahai Rasulullah, apa salah kami?. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Mengapa tikar ini ada disini. Aku berkata; Aku membuatnya untuk tuan agar tuan dapat berbaring. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidak tahukah kamu bahwa malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar, dan orang yang membuat gambar akan disiksa pada hari qiyamat, dan akan dikatakan kepada mereka; hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan.
[ HR Bukhori 3052 ]

حَدَّثَنَا اِبْنُ مُقَاتِلٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ سَمِعْتُ أَبَا طَلْحَةَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ
لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ كَلْبٌ وَلَا صُوْرَةُ تَمَاثِيْلَ
[3053]

Telah bercerita kepada kami Muqatil telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah dia mendengar Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Abu Thalhah berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing dan (atau) gambar patung.
[ HR Bukhori 3053 ]

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا عَمْرٌو أَنَّ بُكَيْرَ بْنَ الْأَشَجِّ حَدَّثَهُ أَنَّ بُسْرَ بْنَ سَعِيْدٍ حَدَّثَهُ أَنَّ زَيْدَ بْنَ خَالِدٍ اَلْجُهَنِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ وَمَعَ بُسْرِ بْنِ سَعِيْدٍ عُبَيْدُ اللهِ الْخَوْلَانِيُّ الَّذِي كَانَ فِي حَجْرِ مَيْمُوْنَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَهُمَا زَيْدُ بْنُ خَالِدٍ أَنَّ أَبَا طَلْحَةَ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ صُوْرَةٌ قَالَ بُسْرٌ فَمَرِضَ زَيْدُ بْنُ خَالِدٍ فَعُدْنَاهُ فَإِذَا نَحْنُ فِي بَيْتِهِ بِسِتْرٍ فِيْهِ تَصَاوِيْرُ فَقُلْتُ لِعُبَيْدِاللهِ الْخَوْلَانِيِّ أَلَمْ يُحَدِّثْنَا فِي التَّصَاوِيْرِ فَقَالَ إِنَّهُ قَالَ إِلَّا رَقْمٌ فِي ثَوْبٍ أَلَا سَمِعْتَهُ قُلْتُ لَا قَالَ بَلَى قَدْ ذَكَرَهُ
[3054]

Telah bercerita kepada kami Ahmad telah bercerita kepada kami Ibnu Wahab telah mengabarkan kepada kami ‘Amru bahwa Bukair bin Al Asyajj bercerita kepadanya bahwa Busr bin Sa’id bercerita kepadanya bahwa Zaid bin Khalid Al Juhaniy radliallahu ‘anhu bercerita kepadanya, saat itu Busr bin Sa’id bersama ‘Ubaidullah Al Khawlaniy berada di rumah Maimunah radliallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Zaid bin Khalid bercerita kepada keduanya bahwa Abu Thalhah bercerita kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang dalamnya ada gambar. Busr berkata; Kemudian Zaid bin Khalid menderita sakit lalu kami menjenguknya yang ternyata kami berada di dalam rumah yang banyak gambar-gambar. Maka aku berkata kepada ‘Ubaidullah Al Khawlaaniy; Bukankah Beliau pernah bercerita kepada kita tentang masalah gambar?. ‘Ubaidullah berkata; Sungguh Beliau bersabda: Kecuali gambar (corak warna) pada pakaian. Bukankah kamu pernah mendengarnya?. Aku katakan; Belum. Dia berkata; Iya, Beliau pernah mengatakannya.
[ HR Bukhori 3054 ]

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي اِبْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ وَعَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِبْرِيْلُ فَقَالَ
إِنَّا لَا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ صُورَةٌ وَلَا كَلْبٌ
[3055]

Telah bercerita kepada kami Yahya bin Sulaiman berkata telah bercerita kepadaku Ibnu Wahab berkata telah bercerita kepadaku ‘Umar dari Salim dari bapaknya berkata;
Malaikat Jibril berjanji kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya: Kami tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar ataupun anjing.
[ HR Bukhori 3055 ]

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِذَا قَالَ الْإِمَامُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُوْلُوْا اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
[3056]

Telah bercerita kepada kami Isma’il berkata telah bercerita kepadaku Malik dari Sumayya dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Apabila imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah Allahumma rabbanaa lakal hamdu. Karena siapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.
[ HR Bukhori 3056 ]

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ هِلَالِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمْرَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِنَّ أَحَدَكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ وَالْمَلَائِكَةُ تَقُوْلُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ مَا لَمْ يَقُمْ مِنْ صَلَاتِهِ أَوْ يُحْدِثْ
[3057]

Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir telah bercerita kepada kami Muhammad bin Fulaih telah bercerita kepada kami bapakku dari Hilal bin ‘Ali dari ‘Abdur Rahman bin Abu ‘Amrah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Seseorang dari kalian akan selalu dihitung berada di dalam shalat selagi shalat itu mengekangnya (orang tersebut menanti shalat ditegakkan) dan malaikat akan mendo’akan; Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah, selama dia belum berdiri dari tempat shalatnya atau telah berhadats.
[ HR Bukhori 3057 ]

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ عَطَاءٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ يَعْلَى عَنْ أَبِيْهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَى الْمِنْبَرِ { وَنَادَوْا يَا مَالِكُ } قَالَ سُفْيَانُ فِي قِرَاءَةِ عَبْدِ اللهِ وَنَادَوْا يَا مَالِ
[3058]

Telah bercerita kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah bercerita kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari ‘Atha’ dari Shafwan bin Ya’laa dari bapaknya radliallahu ‘anhu berkata:
Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca suatu ayat (QS az-Zukhruf ayat 77) di atas mimbar: Wa naadaw yaa maalik (Mereka berseru; hai maalik). Sufyan berkata; menurut bacaan ‘Abdullah (bin Mas’ud); ‘Wa naadaw yaa maal (tanpa huruf kaaf).
[ HR Bukhori 3058 ]

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوْسُفَ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَتْهُ أَنَّهَا قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيْتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيْتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيْتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيْلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُوْمٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيْهَا جِبْرِيْلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوْا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيْهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ فَقَالَ ذَلِكَ فِيْمَا شِئْتَ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُوْ أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
[3059]

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab berkata telah bercerita kepadaku ‘Urwah bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?. Beliau menjawab: Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa yang paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa al-‘Aqabah, saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal agar membantuku namun dia tidak mau memenuhi keinginanku hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu ats-Tsa’aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mendongakkan kepalaku ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata; Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu. Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata; Wahai Muhammad. Maka dia berkata; apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
[ HR Bukhori 3059 ]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَوَانَةَ حَدَّثَنَا أَبُوْ إِسْحَاقَ الشَّيْبَانِيُّ قَالَ
سَأَلْتُ زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍ عَنْ قَوْلِ اللهِ تَعَالَى { فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى } قَالَ حَدَّثَنَا اِبْنُ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ رَأَى جِبْرِيْلَ لَهُ سِتُّ مِائَةِ جَنَاحٍ
[3060]

Telah bercerita kepada kami Qutaibah telah bercerita kepada kami Abu ‘Awanah telah bercerita kepada kami Abu Ishaq asy-Syaibaniy berkata:
Aku bertanya kepada Zirra bin Hubaisy tentang firman Allah Ta’ala QS an-Najm ayat 9-10: Fa kaana qaaba qausaini aw adnaa. Fa awhaa ilaa ‘abdihii maa awhaa (Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan). Dia berkata, telah bercerita kepada kami Ibnu Mas’ud bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Jibril yang memiliki enam ratus sayap.
[ HR Bukhori 3060 ]

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ { لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى } قَالَ رَأَى رَفْرَفًا أَخْضَرَ سَدَّ أُفُقَ السَّمَاءِ
[3061]

Telah bercerita kepada kami Hafsh bin ‘Umar telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari ‘Abdullah radliallahu ‘anhu tentang firman Allah Ta’ala pada QS an-Najm ayat 18 yang artinya (Sungguh dia (Muhammad) telah melihat sebagian dari tanda-tanda kekuaaan Rabbnya yang paling besar), dia berkata:
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat tikar berwarna hijau menutupi ufuk langit. (Maksudnya malaikat Jibril Alaihissalam membuka sayapnya sehingga menutupi ufuk langit).
[ HR Bukhori 3061 ]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْأَنْصَارِيُّ عَنِ ابْنِ عَوْنٍ أَنْبَأَنَا الْقَاسِمُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ
مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ وَلَكِنْ قَدْ رَأَى جِبْرِيْلَ فِي صُوْرَتِهِ وَخَلْقُهُ سَادٌّ مَا بَيْنَ الْأُفُقِ
[3062]

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Isma’il telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshariy dari Ibnu ‘Aun telah mengabarkan kepada kami Al Qasim dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:
Barangsiapa yang mengatakan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Rabbnya berarti dia telah masuk pada persoalan (salah) besar. Akan tetapi Beliau melihat Jibril ‘alaihissalam dalam bentuk dan rupa aslinya yang menutupi apa yang ada di antara ufuk langit.
[ HR Bukhori 3062 ]

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ يُوْسُفَ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ أَبِي زَائِدَةَ عَنِ ابْنِ الْأَشْوَعِ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ مَسْرُوْقٍ قَالَ
قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فَأَيْنَ قَوْلُهُ { ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى } قَالَتْ ذَاكَ جِبْرِيْلُ كَانَ يَأْتِيْهِ فِي صُوْرَةِ الرَّجُلِ وَإِنَّهُ أَتَاهُ هَذِهِ الْمَرَّةَ فِي صُوْرَتِهِ الَّتِي هِيَ صُوْرَتُهُ فَسَدَّ الْأُفُقَ
[3063]

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf telah bercerita kepada kami Abu Usamah telah bercerita kepada kami Zakariya’ bin Abu Za’idah dari Ibnu Al Asywa’ dari asy-Sya’biy dari Masruq berkata;
Aku bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha bagaimana maksud tentang firman Allah Ta’ala QS an-Najm ayat 8-10: Tsumma danaa fa tadallaa. Fa kaana qaaba qausaini aw adnaa. (Kemudian dia mendekat lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) ). Dia berkata, Itulah Jibril ‘Alaihissalam yang pernah datang kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rupa seorang laki-laki dan dalam kesempatan ini (seperti dimaksud ayat ini), Jibril Alaihissalam datang dalam bentuk asli, yang raganya tersebut menutup ufuk langit.
[ HR Bukhori 3063 ]

حَدَّثَنَا مُوْسَى حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُوْ رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا الَّذِي يُوْقِدُ النَّارَ مَالِكٌ خَازِنُ النَّارِ وَأَنَا جِبْرِيْلُ وَهَذَا مِيْكَائِيْلُ
[3064]

Telah bercerita kepada kami Musa telah bercerita kepada kami Jarir telah bercerita kepada kami Abu Raja’ dari Samurah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Aku bermimpi pada suatu malam, ada dua laki-laki yang datang kepadaku. Keduanya berkata; Malaikat yang menyalakan api adalah Malik sebagai penunggu neraka sedangkan aku adalah Jibril dan ini Mika’il.
[ HR Bukhori 3064 ]

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَوَانَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ تَابَعَهُ شُعْبَةُ وَأَبُوْ حَمْزَةَ وَابْنُ دَاوُدَ وَأَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ
[3065]

Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Abu ‘Awanah dari Al A’masy dari Abu Hazim dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu istrinya menolaknya sehingga dia melalui malam itu dalam keadaan marah, maka malaikat melaknat istrinya itu hingga shubuh. Hadits ini diikuti pula oleh Syu’bah, Abu Hamzah, Ibnu Daud dan Abu Mu’awiyah dari Al A’masy.
[ HR Bukhori 3065 ]

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوْسُفَ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ
ثُمَّ فَتَرَ عَنِّي الْوَحْيُ فَتْرَةً فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي قِبَلَ السَّمَاءِ فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ قَاعِدٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَجُئِثْتُ مِنْهُ حَتَّى هَوَيْتُ إِلَى الْأَرْضِ فَجِئْتُ أَهْلِي فَقُلْتُ زَمِّلُوْنِي زَمِّلُوْنِي فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ } قَالَ أَبُوْ سَلَمَةَ وَالرِّجْزُ الْأَوْثَانُ
[3066]

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab berkata aku mendengar Abu Salamah berkata telah mengabarkan kepadaku Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhuma bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Kemudian wahyu berhenti turun kepadaku pada masa tertentu hingga ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit. Maka aku mengarahkan pandanganku menghadap langit yang ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira sedang duduk di atas Kursiy antara langit dan bumi. Aku menjadi sangat takut karenanya hingga aku ingin lepas dari bumi. Lalu aku mendatangi keluargaku sambil mengatakan; Selimuti aku, selimuti aku. Maka kemudian Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya (QS al-Mudatstsir ayat 1 – 5) yang artinya (Wahai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan) hingga frman-Nya (Dan perbuatan dosa jauhilah). Abu Salamah berkata; ar-Rujza artinya berhala-berhala.
[ HR Bukhori 3066 ]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ ح و قَالَ لِي خَلِيْفَةُ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيْدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ حَدَّثَنَا اِبْنُ عَمِّ نَبِيِّكُمْ يَعْنِي اِبْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي مُوْسَى رَجُلًا آدَمَ طُوَالًا جَعْدًا كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوْءَةَ وَرَأَيْتُ عِيْسَى رَجُلًا مَرْبُوْعًا مَرْبُوْعَ الْخَلْقِ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ سَبِطَ الرَّأْسِ وَرَأَيْتُ مَالِكًا خَازِنَ النَّارِ وَالدَّجَّالَ فِي آيَاتٍ أَرَاهُنَّ اللهُ إِيَّاهُ { فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ } قَالَ أَنَسٌ وَأَبُو بَكْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْرُسُ الْمَلَائِكَةُ الْمَدِيْنَةَ مِنَ الدَّجَّالِ
[3067]

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Ghundar telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Qatadah. Dan telah diriwayatkan pula. Dan Khalifah berkata kepadaku, telah bercerita kepada kami Yazid bin Zurai’ telah bercerita kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah telah bercerita kepada kami anak paman Nabi kalian, yaitu Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Pada malam diisra’kan, aku melihat Musa Alaihissalam, seorang yang berkulit sawo matang, berbadan tinggi dan rambutnya keriting bagaikan orang Syanu’ah. Dan aku melihat ‘Isa sebagai seorang yang berdada bidang, posturnya tegap atau kekar, kulitnya merah agak keputih-putihan sedangkan rambutnya ikal. Aku juga melihat Malik, malaikat penunggu neraka dan Dajjal. Semuanya Allah perlihatkan kepadaku sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya, (Maka janganlah kamu (Muhammad) berada dalam keraguan untuk menjumpainya (menerima al-Qur’an) . Firman Allah Ta’ala (QS as-Sajadah ayat 23). Anas dan Abu Bakrah berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Malaikat menjaga kota Madinah dari (dimasuki) ad-Dajjal.
[ HR Bukhori 3067 ]

Iklan

Memakai minyak wangi (misik), dan kemakruhan menolak wewangian dan minyak wangi

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنِي خُلَيْدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ قَصِيْرَةٌ تَمْشِي مَعَ اِمْرَأَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ فَاتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٌ مُطْبَقٌ ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا وَهُوَ أَطْيَبُ الطِّيْبِ فَمَرَّتْ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ فَلَمْ يَعْرِفُوْهَا فَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا وَنَفَضَ شُعْبَةُ يَدَهُ

18- (2252)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Syu’bah; Telah menceritakan kepadaku Khulaid bin Ja’far dariAbu Nadhr dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Pada masa bani Isra`il ada seorang wanita yang pendek badannya berjalan bersama dua orang wanita yang tinggi badannya. lalu ia membuat kaki palsu dari kayu untuk kedua kakinya, dan memakai cincin emas yang dia buatnya. Lalu diberi minyak wangi kesturi (misik) , sebaik-baik minyak wangi. Kemudian dia berjalan di antara dua wanita tersebut hingga orang-orang pun tidak mengenalnya. Dia berkata sambil kedua tangannya seperti ini. Syu’bah sambil menggerak-gerakkan tangannya.

(Shahih Muslim : 2252 – 18 )

 

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ خُلَيْدِ بْنِ جَعْفَرٍ وَالْمُسْتَمِرِّ قَالاَ سَمِعْنَا أَبَا نَضْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ امْرَأَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ حَشَتْ خَاتَمَهَا مِسْكًا وَالْمِسْكُ أَطْيَبُ الطِّيْبِ

19- (2252)

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru An Naqid; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Syu’bah dari Khulaid bin Ja’far dan Al Mustamir keduanya berkata; Aku mendengar Abu Nadhrah bercerita dari Abu Sa’id Al Khudri

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang wanita dari bani Israil yang memberi minyak kesturi pada cincinnya. Minyak kesturi adalah sebaik-baik minyak wangi.

(Shahih Muslim : 2252 – 19 )

 

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ كِلاَهُمَا عَنِ الْمُقْرِئِ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِي أَيُّوْبَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ رَيْحَانٌ فَلاَ يَرُدُّهُ فَإِنَّهُ خَفِيْفُ الْمَحْمِلِ طَيِّبُ الرِّيْحِ

20- (2253)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb keduanya dari Al Muqri. Abu Bakr berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdur Rahman Al Muqri dari Sa’id bin Abu Ayyub; Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Abu Ja’far dari ‘Abdur Rahman Al A’raj dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa ditawarkan kepadanya wewangian maka janganlah menolaknya, karena sesungguhnya wangian-wangian ringan bebannya dan harum baunya.

(Shahih Muslim : 2253 – 19 )

 

حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيْدٍ اْلأَيْلِيُّ وَأَبُوْ طَاهِرٍ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيْسَى قَالَ أَحْمَدُ حَدَّثَنَا و قَالَ اْلآخَرَانِ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مَخْرَمَةُ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ نَافِعٍ قَالَ

كَانَ اِبْنُ عُمَرَ إِذَا اسْتَجْمَرَ اِسْتَجْمَرَ بِالْأَلُوَّةِ غَيْرَ مُطَرَّاةٍ وَبِكَافُوْرٍ يَطْرَحُهُ مَعَ الْأَلُوَّةِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ يَسْتَجْمِرُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

21-   (2254)

Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id Al Aili dan Abu Thahir dan Ahmad bin ‘Isa. Ahmad berkata; Telah menceritakan kepada kami. Dan yang lainnya berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab Telah mengabarkan kepadaku Makhramah dari Bapaknya dari Nafi’ dia berkata:

Jika Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu ingin menggunakan wewangian, ia memakai Al aluwwah (kayu wangi yang dibakar) tanpa campuran, terkadang juga memakai kapur yang dicampur dengan Al aluwwah. Lalu ia berkata, Beginilah kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat memakai minyak wangi.

(Shahih Muslim : 2254 – 21 )

 

 

 

 

Makruh mengatakan sial aku

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ح وَحَدَّثَنَا أَبُوْ كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ كِلاَهُمَا عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ خَبُثَتْ نَفْسِي وَلَكِنْ لِيَقُلْ لَقِسَتْ نَفْسِي هَذَا حَدِيْثُ أَبِي كُرَيْبٍ و قَالَ أَبُو بَكْرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ لَكِنْ و حَدَّثَنَاهُ أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

16- (2250)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah, Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al A’la, Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah keduanya dari Hisyam dari Bapaknya dari ‘Aisyah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah sekali-kali salah seorang kamu berkata: Khabusat nafsi (diriku buruk), tetapi katakanlah: Laqisat nafsi (diriku kurang).

Ini adalah Hadits Abu Kuraib. Abu Bakr berkata; dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun dia tidak menyebutkan kata; Wa laakin. (akan tetapi). Dan Telah menceritakannya kepada kami Abu Kuraib Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah melalui jalur ini.

(Shahih Muslim : 2250 – 16 )

وَ حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ قَالاَ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ عَنْ اِبْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ خَبُثَتْ نَفْسِي وَلْيَقُلْ لَقِسَتْ نَفْسِي

17-   (2251)

Dan telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir dan Harmalah keduanya berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif dari Bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah salah seorang kamu berkata: Khabusat nafsi (diriku buruk), tetapi katakanlah: Laqisat nafsi’ (diriku kurang mampu).

(Shahih Muslim : 2251 – 17 )

Hukum menggunakan lafal “budak lelaki”, “budak perempuan”, “baginda” dan “tuan”

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوْبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ وَهُوَ اِبْنُ جَعْفَرٍ عَنِ الْعَلاَءِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ عَبْدِي وَأَمَتِي كُلُّكُمْ عَبِيْدُ اللهِ وَكُلُّ نِسَائِكُمْ إِمَاءُ اللهِ وَلَكِنْ لِيَقُلْ غُلاَمِي وَجَارِيَتِي وَفَتَايَ وَفَتَاتِي

13- (2249)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah serta Ibnu Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far dari Al’Ala dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu berkata; ‘Abdi (hai budakku) atau Amati (hai budak perempuanku/sahayaku), karena kamu semua adalah ‘Abiidullah (budak atau hamba Allah) dan kaum wanita adalah Imaaullah (hamba sahaya Allah). Tetapi katakanlah; Ghulaami (pelayanku) dan Jariyati (pelayan perempuanku) atau Faataya (pemudaku) dan Fataati (pemudiku).

(Shahih Muslim : 2249 – 13 )

 

وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ عَبْدِي فَكُلُّكُمْ عَبِيْدُ اللهِ وَلَكِنْ لِيَقُلْ فَتَايَ وَلاَ يَقُلِ اَلْعَبْدُ رَبِّي وَلَكِنْ لِيَقُلْ سَيِّدِي

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُوْ سَعِيْدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ كِلاَهُمَا عَنِ اْلأَعْمَشِ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَفِي حَدِيْثِهِمَا وَلاَ يَقُلِ الْعَبْدُ لِسَيِّدِهِ مَوْلاَيَ وَزَادَ فِي حَدِيْثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ فَإِنَّ مَوْلاَكُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

14- (2249)

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu berkata; ‘Abdi (hai budakku) karena kamu semua adalah ‘Abiidullah (budak atau hamba Allah)  Tetapi katakanlah: Faataya (pemudaku). Dan jangan pula seorang pelayan memanggil majikannya: Robbi (Tuhanku), tetapi ucapkanlah: Sayyidi (majikanku atau tuanku).

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al Asyaj; Telah menceritakan kepada kami Waki’ keduanya dari Al A’masy melalui jalur ini. Dan di dalam Hadits keduanya disebutkan:

‘Dan janganlah seorang pelayan memanggil tuannya dengan kalimat ‘Maulaaya’ karena di dalam Hadits Abu Mu’awiyah di sebutkan; ‘Sesungguhnya ‘Maulaakum’ (pelindungmu) adalah Allah Azza wa Jalla.

(Shahih Muslim : 2249 – 14 )

 

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيْثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ اِسْقِ رَبَّكَ أَطْعِمْ رَبَّكَ وَضِّئْ رَبَّكَ وَلاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ رَبِّي وَلْيَقُلْ سَيِّدِي مَوْلاَيَ وَلاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ عَبْدِي أَمَتِي وَلْيَقُلْ فَتَايَ فَتَاتِي غُلاَمِي

15- (2248)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Hammam bin Munabih dia berkata; Inilah yang telah diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian dia menyebutkan beberapa Hadits di antaranya; dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah salah seorang dari kalian berkata; Beri minum robmuu, beri makan robmu, wudlukan robmu,  dan janganlah salah seorang dari kalian berkata; Robby akan tetapi hendaklah ia berkata; Tuanku, majikanku,  dan janganlah salah seorang dari kalian berkata; Hamba laki-lakiku dan hamba perempuanku, akan tetapi katakanlah, Anak mudaku, dan anak mudiku serta anak laki-lakiku.

(Shahih Muslim : 2248 – 15 )

 

 

 

Makruh memberi nama anggur dengan sebutan KARMUN

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ اِبْنِ سِيْرِيْنَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لاَ يَسُبُّ أَحَدُكُمْ الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ وَلاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ لِلْعِنَبِ الْكَرْمَ فَإِنَّ الْكَرْمَ الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ

6- (2247)

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Asy Sya’ir; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah salah seorang di antara kalian mencela masa, Karena sesungguhnya Allahlah pencipta masa. Dan Janganlah seseorang di antara kalian mengistilahkan anggur dengan  istilah karm, karena Al karm itu adalah seorang lelaki muslim

(Shahih Muslim : 2247 – 6 )

 

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيْدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لاَ تَقُوْلُوْا كَرْمٌ فَإِنَّ الْكَرْمَ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ

7- (2247)

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru An Naqid dan Ibnu Abu ‘Umar keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Janganlah kalian mengistilahkan anggur dengan istilah karm, karena Al karm adalah hati seorang mu’min.

(Shahih Muslim : 2247 – 7 )

 

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ اِبْنِ سِيْرِيْنَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لاَ تُسَمُّوا الْعِنَبَ الْكَرْمَ فَإِنَّ الْكَرْمَ الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ

8- (2247)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hisyam dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Janganlah kalian mengistilahkan anggur dengan karm, karena Al karm itu adalah seorang lelaki muslim.

(Shahih Muslim : 2247 – 8 )

 

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمُ الْكَرْمُ فَإِنَّمَا الْكَرْمُ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ

9- (2247)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami’Ali bin Hafsh; Telah menceritakan kepada kami Warqa dari Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian mengistilahkan anggur dengan istilah karm, karena Al karm adalah hati seorang mu’min.

(Shahih Muslim : 2247 – 9 )

 

وَحَدَّثَنَا اِبْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيْثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ لِلْعِنَبِ الْكَرْمَ إِنَّمَا الْكَرْمُ الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ

10- (2247)

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Rafi’; Telah menceritakan kepada kami’Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Hammam bin Munabbih dia berkata; Inilah yang telah di ceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -lalu dia menyebutkan beberapa Hadits- di antaranya;

Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian menamakan anggur dengan karm, karena Al karm itu adalah seorang lelaki muslim.

(Shahih Muslim : 2247 – 10 )

 

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ أَخْبَرَنَا عِيْسَى يَعْنِي اِبْنَ يُوْنُسَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لاَ تَقُوْلُوْا الْكَرْمُ وَلَكِنْ قُوْلُوْا الْحَبْلَةُ يَعْنِي الْعِنَبَ

11- (2248)

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Khasyram; Telah mengabarkan kepada kami ‘Isa yaitu Ibnu Yunus dari Syu’bah dari Simak bin Harb dari ‘Alqamah bin Wail dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Janganlah kalian mengatakan  Al karm,  tapi katakanlah ‘al hablah’ yaitu anggur.

(Shahih Muslim : 2248 – 11 )

 

وَ حَدَّثَنِيْهِ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكٍ قَالَ سَمِعْتُ عَلْقَمَةَ بْنَ وَائِلٍ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لاَ تَقُوْلُوْا الْكَرْمُ وَلَكِنْ قُوْلُوْا الْعِنَبُ وَالْحَبْلَةُ

12- (2248)

Dan telah menceritakannya kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak dia berkata; Aku mendengar; ‘Alqamah bin Wail dari Bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah kalian mengatakan  Al karm, tapi katakanlah   al‘inab atau  al hablah  (pohon anggur).

(Shahih Muslim : 2248 – 12 )

 

Keutamaan Shodaqoh kepada orang-orang miskin

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ ِلأَبِي بَكْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ اَللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

بَيْنَا رَجُلٌ بِفَلاَةٍ مِنَ اْلأَرْضِ فَسَمِعَ صَوْتًا فِي سَحَابَةٍ اِسْقِ حَدِيقَةَ فُلاَنٍ فَتَنَحَّى ذَلِكَ السَّحَابُ فَأَفْرَغَ مَاءَهُ فِي حَرَّةٍ فَإِذَا شَرْجَةٌ مِنْ تِلْكَ الشِّرَاجِ قَدْ اِسْتَوْعَبَتْ ذَلِكَ الْمَاءَ كُلَّهُ فَتَتَبَّعَ الْمَاءَ فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي حَدِيْقَتِهِ يُحَوِّلُ الْمَاءَ بِمِسْحَاتِهِ فَقَالَ لَهُ يَا عَبْدَ اللهِ مَا اِسْمُكَ قَالَ فُلاَنٌ لِلْاِسْمِ الَّذِي سَمِعَ فِي السَّحَابَةِ فَقَالَ لَهُ يَا عَبْدَ اللهِ لِمَ تَسْأَلُنِي عَنْ اِسْمِي فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ صَوْتًا فِي السَّحَابِ الَّذِي هَذَا مَاؤُهُ يَقُوْلُ اِسْقِ حَدِيْقَةَ فُلاَنٍ لِاِسْمِكَ فَمَا تَصْنَعُ فِيْهَا قَالَ أَمَّا إِذْ قُلْتَ هَذَا فَإِنِّي أَنْظُرُ إِلَى مَا يَخْرُجُ مِنْهَا فَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ وَآكُلُ أَنَا وَعِيَالِي ثُلُثًا وَأَرُدُّ فِيْهَا ثُلُثَهُ

45 – (2984)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb, teks hadits adalah milik Abu Bakar, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Abdulaziz bin Abu Salamah dari Wahab bin Kaisan dari Ubaidullah bin Umair Al Laitsi dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Saat seseorang berada di suatu padang pasir, ia mendengar suara di awan: ‘Siramilah kebun si fulan’ lalu awan itu menjauh dan menuangkan air. Ternyata dikebun itu ada seseorang yang tengah mengurus air dengan sekopnya. Ia bertanya padanya: ‘Wahai hamba Allah, siapa namamu? ‘  Ia menjawab: ‘Fulan’ Sama seperti nama yang ia dengar dari awan. Ia bertanya: ‘Hai hamba Allah, kenapa kau tanya namaku? ‘ ia menjawab: Aku mendengar suara di awan dimana inilah airnya. Awan itu berkata: Siramilah kebun si fulan, namamu. Apa yang kau lakukan dalam kebunmu?  ia menjawab: Karena kau mengatakan seperti itu, aku melihat (hasil) yang keluar darinya, lalu aku sedekahkan sepertiganya, aku makan sepertiganya bersama keluargaku dan aku kembalikan sepertiganya ke kebun’.

(Shahih Muslim 2984-45)

وَحَدَّثَنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ أَخْبَرَنَا أَبُوْ دَاوُدَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ كَيْسَانَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَأَجْعَلُ ثُلُثَهُ فِي الْمَسَاكِيْنِ وَالسَّائِلِيْنَ وَابْنِ السَّبِيْلِ

45-م – (2984)

Telah menceritakannya kepada kami Ahmad bin Abdah Adh Dhabbi telah mengkhabarkan kepada kami Abu Dawud telah menceritakan kepada kami Abdulaziz bin Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Wahab bin Kaisan dengan sanad ini, hanya saja ia berkata: Dan aku berikan sepertiganya untuk orang-orang miskin, peminta-minta dan Ibnu sabil.

(Shahih Muslim 2984-m-45)

Keutamaan orang yang membangun masjid

حَدَّثَنِي هَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدِ اْلأَيْلِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيْسَى قَالاَ حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو وَهُوَ اِبْنُ الْحَارِثِ أَنَّ بُكَيْرًا حَدَّثَهُ أَنَّ عَاصِمَ بْنَ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ عُبَيْدَ اللهِ الْخَوْلاَنِيَّ يَذْكُرُ:

أَنَّهُ سَمِعَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ عِنْدَ قَوْلِ النَّاسِ فِيْهِ حِينَ بَنَى مَسْجِدَ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكُمْ قَدْ أَكْثَرْتُمْ وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا قَالَ بُكَيْرٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ وَفِي رِوَايَةِ هَارُونَ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

43 – (533)

Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id Al Aili dan Ahmad bin Isa keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab telah mengkhabarkan kepadaku Amru bin Al Harits bahwa Bukair telah menceritakan kepadanya bahwa Ashim bin Umar bin Qatadahtelah menceritakan kepadanya bahwa ia mendengar Ubaidullah Al Khaulani menyebutkan :

Bahwa ia mendengar Utsman bin Affan saat orang-orang berkata tentang dia saat membangun masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: Sesungguhnya kalian memperbanyak, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: Barangsiapa membangun masjid -Bukair berkata: Aku mengiranya berkata: Karena mencari wajah Allah- maka Allah akan membangunkan sepertinya di surga. Disebutkan dalam riwayat Harun: Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga.

(Shahih Muslim 533-43)

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى كِلاَهُمَا عَنِ الضَّحَّاكِ قَالَ اِبْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْحَمِيْدِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لَبِيْدٍ:

أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ أَرَادَ بِنَاءَ الْمَسْجِدِ فَكَرِهَ النَّاسُ ذَلِكَ وَأَحَبُّوْا أَنْ يَدَعَهُ عَلَى هَيْئَتِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا ِللهِ بَنَى اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

44 – (533)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya dari Adh Dhahhak, berkata Ibnu Al Mutsanna: telah menceritakan kepada kami Adh Dhahhak bin Makhlad telah mengkhabarkan kepada kami Abdulhamid bin Ja’far telah menceritakan kepadaku ayahku dari Mahmud bin Labid :

Bahwa Utsman bin Affan hendak membangun masjid tapi orang-orang tidak menyukainya, mereka ingin masjid tetap seperti kondisinya semula. Lalu ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Barangsiapa membangun masjid maka Allah akan membangunkan untuknya sepertinya di surga.

(Shahih Muslim 533-44)

وَحَدَّثَنَاهُ إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ الْحَنْظَلِيُّ حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرٍ اَلْحَنَفِيُّ وَعَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ الصَّبَّاحِ كِلاَهُمَا عَنْ عَبْدِ الْحَمِيْدِ بْنِ جَعْفَرٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيْثِهِمَا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

44-م – (533)

Telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hadzhali telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Al Hanafi dan Abdulmalik bin Ash Shabbah keduanya dari Abdulhamid bin Ja’far dengan sanad ini, hanya saja dalam hadits keduanya disebutkan: Allah akan membangunkan rumah untuknya disurga.

(Shahih Muslim 533-m-44)

%d blogger menyukai ini: