Di perbolehkan menjual budak mudabbar (seorang hamba yang dijanjikan merdeka bila majikannya meninggal dunia)

حَدَّثَنَا أَبُوْ الرَّبِيْعِ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي اِبْنَ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله:

أَنَّ رَجُلاً مِنَ اْلأَنْصَارِ أَعْتَقَ غُلاَمًا لَهُ عَنْ دُبُرٍ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِيْهِ مِنِّي فَاشْتَرَاهُ نُعَيْمُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بِثَمَانِ مِائَةِ دِرْهَمٍ فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ قَالَ عَمْرٌو سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ عَبْدًا قِبْطِيًّا مَاتَ عَامَ أَوَّلَ

58 – (997)

Telah menceritakan kepada kami Abu Ar Rabi’ Sulaiman bin Daud Al ‘Ataki telah menceritakan kepada kami Hammad -yaitu Ibnu Zaid- dari ‘Amru bin Dinar dari Jabir bin Abdullah:

Bahwa seorang laki-laki memerdekakan seorang budak miliknya secara mudabbar (seorang hamba yang dijanjikan merdeka bila majikannya meninggal dunia) , padahal ia tidak memiliki harta selain budak tersebut. Ketika berita itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda: Siapa yang ingin membeli budak ini dariku? Maka Nu’ain bin Abdullah membeli budak tersebut dari beliau seharga seratus dirham, lalu uang tersebut diserahkan kepadanya (Jabir). ‘Amru berkata, Aku pernah mendengar Jabir bin Abdullah berkata, Dia adalah seorang budak Qibthi yang meninggal awal tahun (dari pemerintahannya Ibnu Zubair)

(Shahih Muslim : 997 – 58 )

وَحَدَّثَنَاهُ أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ قَالَ سَمِعَ عَمْرٌو جَابِرًا يَقُوْلُ :

دَبَّرَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ غُلَامًا لَهُ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ فَبَاعَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ جَابِرٌ فَاشْتَرَاهُ ابْنُ النَّحَّامِ عَبْدًا قِبْطِيًّا مَاتَ عَامَ أَوَّلَ فِي إِمَارَةِ ابْنِ الزُّبَيْرِ

59 – (997)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim dari Ibnu ‘UyainahAbu Bakar berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dia berkata; ‘Amru pernah mendengar Jabir berkata,

Seorang laki-laki Anshar pernah membebaskan seorang budak miliknya dengan cara mudabbar (seorang hamba yang dijanjikan merdeka bila majikannya meninggal dunia), namun dia tidak memiliki harta selain budak tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjualkan budak tersebut. Jabir berkata, Kemudian budak tersebut dibeli oleh Ibnu Nahham. Budak tersebut adalah seorang Qibthi yang meninggal di awal pemerintahan Ibnu Zubair.

(Shahih Muslim : 997 – 59 )

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ وَابْنُ رُمْحٍ عَنِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمُدَبَّرِ نَحْوَ حَدِيْثِ حَمَّادٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِيْنَارٍ

(997)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Ibnu Rumh dari Laits bin sa’d dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wassalam dalam masalah mudabbar seumpama hadits Hammad dari ‘Amru bin Dinar

(Shahih Muslim : 997 )

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا الْمُغِيْرَةُ يَعْنِي الْحِزَامِيَّ عَنْ عَبْدِ الْمَجِيْدِ بْنِ سُهَيْلٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ح و حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ هَاشِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى يَعْنِي اِبْنَ سَعِيْدٍ عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ ذَكْوَانَ الْمُعَلِّمِ حَدَّثَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرٍ ح و حَدَّثَنِي أَبُوْ غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ مَطَرٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَأَبِي الزُّبَيْرِ وَعَمْرِو بْنِ دِينَارٍ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَهُمْ فِي بَيْعِ الْمُدَبَّرِ كُلُّ هَؤُلاَءِ قَالَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَى حَدِيْثِ حَمَّادٍ وَابْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرٍ

(997)

telah menceritakan kepada kami Al Mughirah -yaitu Al Hizami- dari Abdul Majid bin Suhail dari ‘Atha bin Abu Rabah dari Jabir bin Abdullah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Hasyim telah menceritakan kepada kami Yahya -yaitu Ibnu Sa’id- dariAl Husain bin Dzakwan Al Mu’allim telah menceritakan kepadaku ‘Atha dari Jabir. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Abu Ghassan Al Misma’i telah menceritakan kepada kami Mu’adz telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Mathar dari ‘Atha bin Abu Rabah dan Abu Zubair dan ‘Amru bin Dinar bahwa Jabir bin Abdullah pernah menceritakan kepada mereka mengenai jual beli budak mudabbar, setiap orang dari mereka berkata, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang semakna dengan hadits Hamamd bin ‘Uyainah dari ‘Amru dari Jabir.

(Shahih Muslim : 997 )

Orang yang membebaskan hamba sahaya yang dimiliki bersama

ََدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قُلْتُ لِمَالِكٍ حَدَّثَكَ نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

مَنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ فِي عَبْدٍ فَكَانَ لَهُ مَالٌ يَبْلُغُ ثَمَنَ الْعَبْدِ قُوِّمَ عَلَيْهِ قِيْمَةَ الْعَدْلِ فَأَعْطَى شُرَكَاءَهُ حِصَصَهُمْ وَعَتَقَ عَلَيْهِ الْعَبْدُ وَإِلاَّ فَقَدْ عَتَقَ مِنْهُ مَا عَتَقَ

47 – (1501)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia berkata; aku bertanya kepada Malik, Apakah Nafi’ pernah menceritakan kepadamu dari Ibnu Umar  Radhiyallahu’anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa membebaskan apa yang menjadi bagian miliknya pada diri seorang budak, dan ia masih mempunyai uang yang cukup untuk menebus sisanya, maka hendaklah sisanya tersebut dihargai dan diberikan kepada serikatnya sehingga budak tersebut bebas, jika tidak maka sungguh ia telah membebaskan apa yang menjadi miliknya.

(Shahih Muslim : 1501 – 47   )

حَدَّثَنَا اِبْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

مَنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ مِنْ مَمْلُوْكٍ فَعَلَيْهِ عِتْقُهُ كُلُّهُ إِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ يَبْلُغُ ثَمَنَهُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ عَتَقَ مِنْهُ مَا عَتَقَ

48 – (1501)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Bapakku telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa memerdekakan hak kepemilikan dari seorang budak, jika dia memiliki cukup harta, hendaknya dia juga membebaskan kepemilikan semuanya, jika tidak memiliki harta yang cukup untuk memerdekakan semuanya, berarti dia telah memerdekakan sebagiannya.

(Shahih Muslim : 1501 – 48  )

وَحَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوْخَ حَدَّثَنَا جَرِيْرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ نَافِعٍ مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

مَنْ أَعْتَقَ نَصِيْبًا لَهُ فِي عَبْدٍ فَكَانَ لَهُ مِنَ الْمَالِ قَدْرُ مَا يَبْلُغُ قِيْمَتَهُ قُوِّمَ عَلَيْهِ قِيْمَةَ عَدْلٍ وَإِلاَّ فَقَدْ عَتَقَ مِنْهُ مَا عَتَقَ

49 – (1501)

Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim dari Nafi’  bekas budak Abdullah bin Umar, dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersbda:

Barangsiapa membebaskan bagian kepemilikan dari seorang budak, dan apabila dia memiliki cukup harta untuk membayar sisanya, maka hendaknya ia membebaskan dengan membayar sisa dari harga budak tersebut, jika tidak maka sungguh ia telah membebaskan apa yang menjadi miliknya.

(Shahih Muslim : 1501 – 49  )

وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ عَنِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ ح و حَدَّثَنِي أَبُوْ الرَّبِيْعِ وَأَبُوْ كَامِلٍ قَالاَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ وَهُوَ اِبْنُ زَيْدٍ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ يَعْنِي اِبْنَ عُلَيَّةَ كِلاَهُمَا عَنْ أَيُّوْبَ ح وَ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُوْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي إِسْمَعِيْلُ بْنُ أُمَيَّةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا اِبْنُ أَبِي فُدَيْكٍ عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ ح وَ حَدَّثَنَا هَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدٍ اَلْأَيْلِيُّ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أُسَامَةُ يَعْنِي اِبْنَ زَيْدٍ كُلُّ هَؤُلاَءِ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْحَدِيْثِ وَلَيْسَ فِي حَدِيْثِهِمْ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ فَقَدْ عَتَقَ مِنْهُ مَا عَتَقَ إِلاَّ فِي حَدِيْثِ أَيُّوْبَ وَيَحْيَى بْنِ سَعِيْدٍ فَإِنَّهُمَا ذَكَرَا هَذَا الْحَرْفَ فِي الْحَدِيْثِ وَقَالاَ لاَ نَدْرِي أَهُوَ شَيْءٌ فِي الْحَدِيْثِ أَوْ قَالَهُ نَافِعٌ مِنْ قِبَلِهِ وَلَيْسَ فِي رِوَايَةِ أَحَدٍ مِنْهُمْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ فِي حَدِيْثِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ

(1501)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin Rumh dari Al Laits bin Sa’d. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab aku telah mendengar Yahya bin Sa’id. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Abu Ar Rabi’ dan Abu Kamil keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad -yaitu Ibnu Zaid-. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma’il -yaitu Ibnu ‘Ulayyah- keduanya dari Ayyub. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadau Isma’il bin Umayah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’  telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu fudaik dari Ibnu Abu Dzi`b. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa’id Al Aili telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Usamah -yaitu Ibnu Zaid- mereka semua dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits ini, namun dalam hadits mereka tidak disebutkan, Jika dia tidak memiliki harta, maka dia telah membebaskan bagiannya saja. Kecuali dalam hadits Ayyub dan Yahya bin Sa’id, karena keduanya menyebutkan kalimat tersebut dalam hadits. Keduanya berkata, Kami tidak tahu, apakah kalimat tersebut termasuk dalam hadits atau hanya sekedar perkataannya Nafi’. Dan dalam riwayatnya mereka semua juga tidak disebutkan, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam …, kecuali dalam hadits Laits bin Sa’ad.

(Shahih Muslim : 1501 )

وَحَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ كِلاَهُمَا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ اِبْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

مَنْ أَعْتَقَ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ آخَرَ قُوِّمَ عَلَيْهِ فِي مَالِهِ قِيْمَةَ عَدْلٍ لاَ وَكْسَ وَلاَ شَطَطَ ثُمَّ عَتَقَ عَلَيْهِ فِي مَالِهِ إِنْ كَانَ مُوْسِرًا

50 – (1501)

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru An Naqid dan Ibnu Abu Umar keduanya dari Ibnu ‘UyainahIbnu Abu Umar berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ‘Amru dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa memerdekakan seorang budak yang dimilikinya bersama orang lain, hendaknya dia membayar bagiannya kepada partnernya secara adil, tidak boleh curang dan tidak boleh berbuat zhalim, kemudian dia memerdekakan dengan hartanya, jika dia mampu.

(Shahih Muslim : 1501 – 50  )

وَ حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

مَنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ فِي عَبْدٍ عَتَقَ مَا بَقِيَ فِي مَالِهِ إِذَا كَانَ لَهُ مَالٌ يَبْلُغُ ثَمَنَ الْعَبْدِ

51 – (1501)

Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa memerdekakan bagiannya atas seorang budak, hendaklah ia membebaskan sisa bagian yang lainnya jika ia memiliki uang yang mencukupinya (harganya).

(Shahih Muslim : 1501 – 51  )

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ  ِلابْنِ الْمُثَنَّى قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ النَّضْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ بَشِيْرِ بْنِ نَهِيْكٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

فِي الْمَمْلُوْكِ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ فَيُعْتِقُ أَحَدُهُمَا قَالَ يَضْمَنُ

52 – (1502)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyar dan ini adalah lafadz Ibnu Mutsanna, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari An Nadlr bin Anas dari Basyir bin Nuhaik dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

Seorang budak yang dimiliki oleh dua orang, lalu salah di antaranya hendak membebaskan budak tersebut, maka hendaknya dia membebaskan bagian sekutunya.

(Shahih Muslim : 1502 – 52  )

وَ حَدَّثَنَاهُ عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ قَالَ مَنْ أَعْتَقَ شَقِيْصًا مِنْ مَمْلُوْكٍ فَهُوَ حُرٌّ مِنْ مَالِهِ

53 – (1503)

Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Syu’bah dengan isnad ini, dia berkata:

Barangsiapa membebaskan bagian dari kepemilikan seorang budak, hendaknya dia juga membebaskan bagian yang lain dari hartanya.

(Shahih Muslim : 1503 – 53  )

وَحَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ عَنِ ابْنِ أَبِي عَرُوْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ النَّضْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ بَشِيْرِ بْنِ نَهِيْكٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

مَنْ أَعْتَقَ شَقِيْصًا لَهُ فِي عَبْدٍ فَخَلاَصُهُ فِي مَالِهِ إِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ اُسْتُسْعِيَ الْعَبْدُ غَيْرَ مَشْقُوْقٍ عَلَيْهِ

54 – (1503)

Dan telah menceritakan kepadaku Amru An Naqid telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim dari Abu ‘Arubah dari Qatadah dari An Nadlr bin Anas dari Basyir bin Nahik dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

Barangsiapa membebaskan bagian kepemilikanya pada seorang budak, maka dialah yang menanggung biaya pemerdekakan budak tersebut, jika dia memiliki harta, sekiranya dia tidak memiliki harta (untuk dibayarkan kepada hak kepemilikan partnernya), hendaknya budak tersebut diberi kelonggaran untuk menebus pembebasannya dengan tidak diperberat.

(Shahih Muslim : 1503 – 54  )

وَحَدَّثَنَاهُ أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ ح وَ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالاَ أَخْبَرَنَا عِيْسَى بْنُ يُوْنُسَ جَمِيْعًا عَنِ ابْنِ أَبِي عَرُوْبَةَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَفِي حَدِيْثِ عِيْسَى:

ثُمَّ يُسْتَسْعَى فِي نَصِيْبِ الَّذِي لَمْ يُعْتِقْ غَيْرَ مَشْقُوْقٍ عَلَيْهِ

55 – (1503)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dan Muhammad bin Bisyr. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ali bin Khasyram keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus semuanya dari Ibnu Abu ‘Arubah dengan isnad ini. Dan dalam hadits Isa disebutkan:

Kemudian dia diberi kelonggaran untuk menebus pembebasannya dengan tidak diperberat.

(Shahih Muslim : 1503 – 55  )

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ وَهُوَ اِبْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ :

أَنَّ رَجُلاً أَعْتَقَ سِتَّةَ مَمْلُوْكِيْنَ لَهُ عِنْدَ مَوْتِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرَهُمْ فَدَعَا بِهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَزَّأَهُمْ أَثْلاَثًا ثُمَّ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فَأَعْتَقَ اِثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً وَقَالَ لَهُ قَوْلاً شَدِيْدًا

56 – (1668)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr As Sa’di dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il -yaitu Ibnu ‘Ulayah- dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Abu Al Muhallab dari Imran bin Hushain:

Bahwa ada seorang laki-laki yang memerdekakan enam orang budak miliknya ketika dia akan meninggal dunia, sedangkan dia tidak memiliki harta yang lain selain keenam budak tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil keenam budak tersebut, lalu membagi mereka ke dalam tiga kelompok kemudian mengundinya. Setelah itu beliau memerdekakan dua orang, sedangkan empat orang yang lainnya masih tetap menjadi seorang budak. Dan beliau juga menyalahkan pemilik budak tersebut.

(Shahih Muslim : 1668 – 56  )

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ ح وَ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ عَنِ الثَّقَفِيِّ كِلاَهُمَا عَنْ أَيُّوْبَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ أَمَّا حَمَّادٌ فَحَدِيْثُهُ كَرِوَايَةِ ابْنِ عُلَيَّةَ وَأَمَّا الثَّقَفِيُّ فَفِي حَدِيْثِهِ أَنَّ رَجُلاً مِنَ اْلأَنْصَارِ أَوْصَى عِنْدَ مَوْتِهِ فَأَعْتَقَ سِتَّةَ مَمْلُوْكِيْنَ

57 – (1668)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Hammad. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Abu Umar dari At Tsaqafi keduanya dari Ayyub dengan isnad ini. Hadits Hamamd mirip seperti riwayat Ibnu ‘Ulayah, sedangkan dalam hadits At Tsaqafi disebutkan, bahwa seorang laki-laki Anshar menjelang kematiannya memberi wasiat untuk memerdekakan enam orang budak miliknya….

(Shahih Muslim : 1668 – 57  )

وَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِنْهَالٍ الضَّرِيْرُ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ قَالاَ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيْرِيْنَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيْثِ ابْنِ عُلَيَّةَ وَحَمَّادٍ

(1668)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Minhal Adl Dlarir dan Ahmad bin ‘Abdah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Hasan dari Muhammad bin Sirin dari ‘Imran bin Hushain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits Ibnu ‘Ulayyah dan Hammad.

(Shahih Muslim : 1668 )

Pahala hamba sahaya yang patuh pada majikan dan beribadah kepada Allah

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا نَصَحَ لِسَيِّدِهِ وَأَحْسَنَ عِبَادَةَ اللهِ فَلَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ

43 – (1664)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia berkata, aku membacakannya di hadapan Malik; dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sungguh, jika seorang budak baik dalam berbakti kepada tuannya dan baik dalam beribadah kepada Allah, maka dia akan mendapatkan pahala dua kali lipat.

(Shahih Muslim : 1664 – 43   )

وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالاَ حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ ح وَ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا اِبْنُ نُمَيْرٍ وَأَبُوْ أُسَامَةَ كُلُّهُمْ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ ح و حَدَّثَنَا هَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدِ اْلأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ جَمِيْعًا عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيْثِ مَالِكٍ

(1664)

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya -yaitu Al Qatthan-. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibahtelah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Abu Usamah semuanya dari ‘Ubaidullah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa’id Al Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepadaku Usamah semuanya dariNafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti haditsnya Malik.

(Shahih Muslim : 1664  )

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالاَ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيْدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُوْلُ قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبْدِ الْمَمْلُوْكِ الْمُصْلِحِ أَجْرَانِ وَالَّذِي نَفْسُ أَبِي هُرَيْرَةَ بِيَدِهِ لَوْلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْحَجُّ وَبِرُّ أُمِّي لَأَحْبَبْتُ أَنْ أَمُوْتَ وَأَنَا مَمْلُوْكٌ قَالَ وَبَلَغَنَا أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ لَمْ يَكُنْ يَحُجُّ حَتَّى مَاتَتْ أُمُّهُ لِصُحْبَتِهَا قَالَ أَبُو الطَّاهِرِ فِي حَدِيْثِهِ لِلْعَبْدِ الْمُصْلِحِ وَلَمْ يَذْكُرِ الْمَمْلُوكَ

44 – (1665)

Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir dan Harmalah bin Yahya keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata; aku pernah mendengar Sa’id bin Musayyab berkata, Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Bagi seorang budak yang selalu berusaha berbuat baik, maka dia akan mendapatkan pahala dua kali lipat. Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, seandainya tidak ada kewajiban jihad di jalan Allah, haji dan berbakti kepada ibu, tentu aku lebih senang mati dalam keadaan menjadi budak. Perawi berkata, Kami mendapat kabar bahwa Abu Hurairah tidak melakukan haji kecuali setelah ibunya meninggal dunia, karena dia harus menemani ibunya. Abu At Thahir menyebutkan dalam haditsnya, Seorang budak yang selalu berusaha berbuat baik. Dan tidak mengatakan, ‘Seorang hamba sahaya’.

(Shahih Muslim : 1665 – 44   )

وَ حَدَّثَنِيهِ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ صَفْوَانَ اْلأُمَوِيُّ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَلَمْ يَذْكُرْ بَلَغَنَا وَمَا بَعْدَهُ

(1665)

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Abu Shafwan Al Amawi telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dengan sanad ini, tanpa menyebutkan, Dan telah sampai kepadaku. Atau, Setelahnya.

(Shahih Muslim : 1665 )

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

إِذَا أَدَّى الْعَبْدُ حَقَّ اللهِ وَحَقَّ مَوَالِيْهِ كَانَ لَهُ أَجْرَانِ قَالَ فَحَدَّثْتُهَا كَعْبًا فَقَالَ كَعْبٌ لَيْسَ عَلَيْهِ حِسَابٌ وَلاَ عَلَى مُؤْمِنٍ مُزْهِدٍ

45 – (1666)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Apabila seorang budak melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak walinya (tuannya), maka dia akan mendapatkan pahala dua kali lipat. Perawi berkata, Ketika hadits tersebut aku ceritakan kepada Ka’ab, maka Iapun berkata, Baginya tidak ada hisap, tidak juga atas seorang mukmin yang zuhud.

(Shahih Muslim : 1666 – 45   )

وَحَدَّثَنِيْهِ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ عَنِ اْلأَعْمَشِ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ

(1666)

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dengan isnad ini.

(Shahih Muslim : 1666  )

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيْثَ مِنْهَا وَقَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

نِعِمَّا لِلْمَمْلُوكِ أَنْ يُتَوَفَّى يُحْسِنُ عِبَادَةَ اللهِ وَصَحَابَةَ سَيِّدِهِ نِعِمَّا لَهُ

46 – (1667)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Hammam bin Munabih dia berkata; Ini adalah sesuatu yang pernah diceritakan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu kepada kami, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia menyebutkan beberapa hadits yang di antaranya adalah, (Abu Hurairah) berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersbda:

Sebaik-baik budak adalah apabila dia wafat setelah membaguskan diri untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada tuannya.

(Shahih Muslim : 1667 – 46   )

Memberi makan dan pakaian kepada budak seperti apa yang ia makan dan pakai serta tidak membebaninya dengan tugas yang melebihi kemampuannya

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ حَدَّثَنَا اْلأَعْمَشُ عَنِ الْمَعْرُوْرِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ مَرَرْنَا بِأَبِي ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ وَعَلَى غُلاَمِهِ مِثْلُهُ فَقُلْنَا:

يَا أَبَا ذَرٍّ لَوْ جَمَعْتَ بَيْنَهُمَا كَانَتْ حُلَّةً فَقَالَ إِنَّهُ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَانِي كَلاَمٌ وَكَانَتْ أُمُّهُ أَعْجَمِيَّةً فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَشَكَانِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَقِيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ سَبَّ الرِّجَالَ سَبُّوْا أَبَاهُ وَأُمَّهُ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ هُمْ إِخْوَانُكُمْ جَعَلَهُمْ اللهُ تَحْتَ أَيْدِيْكُمْ فَأَطْعِمُوْهُمْ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ وَأَلْبِسُوْهُمْ مِمَّا تَلْبَسُوْنَ وَلاَ تُكَلِّفُوْهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوْهُمْ فَأَعِيْنُوْهُمْ

38 – (1661)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki’  telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Al Ma’rur bin Suwaid dia berkata:

Kami pernah melewati Abu Dzar di Rabdzah, saat itu dia mengenakan kain burdah, sebagaimana dia, budaknya juga mengenakan pakaian yang sama. Kami lalu bertanya, Wahai Abu Dzar, sekiranya kamu menggabungkan dua kain burdah itu, tentu akan menjadi pakaian yang lengkap. Kemudian dia berkata, Dahulu aku pernah adu mulut dengan saudaraku (seiman), ibunya adalah orang ‘Ajam (non Arab), lalu aku mengejek ibunya hingga ia pun mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika aku berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Wahai Abu Dzar, sungguh dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah. Maka aku membantah, Wahai Rasulullah, barangsiapa mencela laki-laki, maka mereka (para lelaki itu) akan mencela bapak dan ibunya. Beliau bersabda lagi: Wahai Abu Dzar, sungguh dalam dirimu masih terdapat sifat Jahiliyah, mereka semua adalah saudara-saudaramu yang dijadikan Allah tunduk di bawah kekuasaanmu. Oleh karena itu, berilah mereka makan sebagaimana yang kamu makan, berilah mereka pakaian sebagaimana pakaian yang kamu kenakan, dan janganlah kamu membebani mereka di luar kemampuannya. Jika kamu memberikan beban kepada mereka, maka bantulah mereka.

(Shahih Muslim : 1661 – 38   )

وَ حَدَّثَنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ يُوْنُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ ح و حَدَّثَنَا أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ ح وَ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا عِيْسَى بْنُ يُوْنُسَ كُلُّهُمْ عَنِ اْلأَعْمَشِ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَزَادَ فِي حَدِيْثِ زُهَيْرٍ وَأَبِي مُعَاوِيَةَ بَعْدَ قَوْلِهِ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ قَالَ قُلْتُ عَلَى حَالِ سَاعَتِي مِنَ الْكِبَرِ قَالَ نَعَمْ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي مُعَاوِيَةَ نَعَمْ عَلَى حَالِ سَاعَتِكَ مِنَ الْكِبَرِ وَفِي حَدِيْثِ عِيْسَى فَإِنْ كَلَّفَهُ مَا يَغْلِبُهُ فَلْيَبِعْهُ وَفِي حَدِيْثِ زُهَيْرٍ فَلْيُعِنْهُ عَلَيْهِ وَلَيْسَ فِي حَدِيْثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ فَلْيَبِعْهُ وَلاَ فَلْيُعِنْهُ اِنْتَهَى عِنْدَ قَوْلِهِ وَلاَ يُكَلِّفْهُ مَا يَغْلِبُهُ

39 – (1661)

Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus semuanya dari Al A’masy dengan sanad ini, namun dalam hadits Zuhair dan Abu Mu’awiyah ada tambahan setelah perkataan “Sesungguhnya dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah”. Abu Dzar berkata; lalu aku menjawab, Apakah karena keadaanku lebih terpandang? beliau menjawab: Ya. Dan dalam riwayatnya Abu Mu’awiyah disebutkan, Ya, karena keadaanmu lebih terpandang. Dan dalam hadit Isa disebutkan, Jika kamu membebani sesuatu yang memberatkan bagi dirinya, hendaknya kamu membantunya -tidak menggunakan lafadz yu’inhu (menolongnya) -. Dan selesai pada perkataannya, Dan janganlah kamu membenai sesuatu yang memberatkan bagi dirinya.

(Shahih Muslim : 1661 – 39   )

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ  ِلابْنِ الْمُثَنَّى قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاصِلٍ اْلأَحْدَبِ عَنِ الْمَعْرُوْرِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ:

رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلاَمِهِ مِثْلُهَا فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ قَالَ فَذَكَرَ أَنَّهُ سَابَّ رَجُلاً عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَيَّرَهُ بِأُمِّهِ قَالَ فَأَتَى الرَّجُلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ إِخْوَانُكُمْ وَخَوَلُكُمْ جَعَلَهُمُ اللهُ تَحْتَ أَيْدِيْكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوْهُ تَحْتَ يَدَيْهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلاَ تُكَلِّفُوْهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوْهُمْ فَأَعِيْنُوْهُمْ عَلَيْهِ

40 – (1661)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar dan ini adalah lafadz Ibnu Mutsanna, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Washil Al Ahdab dari Ma’rur bin Suwaid dia berkata,

“Aku pernah melihat Abu Dzar memakai pakaian serupa dengan sahayanya. Lalu aku bertanya perihal itu, dia mengatakan bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ia pernah mencela seorang laki-laki dengan cara mencela ibunya (laki-laki tersebut). Lalu laki-laki itu mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepadanya: “Sungguh, dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah! Sesungguhnya mereka adalah saudaramu dan paman-pamanmu yang dititipkan Allah di bawah pengurusanmu, karena barangsiapa memiliki saudara yang masih dalam pengurusanya, hendaklah dia diberi makan sebagaimana yang dia makan, diberi pakaian sebagaimana ia mengenakan pakaian. Dan janganlah kamu bebani mereka di luar batas kemampuan mereka, dan jika kamu membebani mereka, maka bantulah mereka dalam menyelesaikan tugasnya.”

(Shahih Muslim : 1661 – 40   )

وَ حَدَّثَنِي أَبُوْ الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ أَنَّ بُكَيْرَ بْنَ اْلأَشَجِّ حَدَّثَهُ عَنِ الْعَجْلاَنِ مَوْلَى فَاطِمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لِلْمَمْلُوكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ وَلاَ يُكَلَّفُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا يُطِيْقُ

41 – (1662)

Dan telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir Ahmad bin ‘Amru bin Sarh telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami ‘Amru bin Al Harits bahwa Bukair bin Al Asyaj telah menceritakan kepadanya dari Al ‘Ajlan bekas budak Fatimah, dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Seorang budak itu berhak mendapatkan makan dan sandang (dari tuannya) dan janganlah dia dibebani atas suatu pekerjaan melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

(Shahih Muslim : 1662 – 41   )

وَحَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ مُوْسَى بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَنَعَ  ِلأَحَدِكُمْ خَادِمُهُ طَعَامَهُ ثُمَّ جَاءَهُ بِهِ وَقَدْ وَلِيَ حَرَّهُ وَدُخَانَهُ فَلْيُقْعِدْهُ مَعَهُ فَلْيَأْكُلْ فَإِنْ كَانَ الطَّعَامُ مَشْفُوْهًا قَلِيْلاً فَلْيَضَعْ فِي يَدِهِ مِنْهُ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ قَالَ دَاوُدُ يَعْنِي لُقْمَةً أَوْ لُقْمَتَيْنِ

42 – (1663)

Telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabi telah menceritakan kepada kami Daud bin Qais dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Apabila budakmu membuatkan makanan untukmu, kemudian ia membawakannya ke hadapanmu dalam keadaan matang dan telah mendapatkan lelahnya, maka suruhlah dia duduk dan makan bersama. Jika makanan itu hanya sedikit, maka letakkanlah di tanganya sesuap atau dua suap.

(Shahih Muslim : 1663 – 42   )

Ancaman keras bagi seorang yang menuduh budaknya berzina

وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا اِبْنُ نُمَيْرٍ ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ غَزْوَانَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي نُعْمٍ حَدَّثَنِي أَبُوْ هُرَيْرَةَ قَالَ:

قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَذَفَ مَمْلُوْكَهُ بِالزِّنَا يُقَامُ عَلَيْهِ الْحَدُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ كَمَا قَالَ

37 – (1660)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Fudlail bin Ghazwan dia berkata; aku mendengar Abdurrahman bin Abu Nu’m telah menceritakan kepadaku Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata:

Abu Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: Barangsiapa menuduh seorang budak berbuat zina, maka dia akan dikenakan had (hukuman setimpal) pada hari Kiamat, kecuali jika tuduhannya benar.

(Shahih Muslim : 1660 – 37  )

وَحَدَّثَنَاه أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ يُوْسُفَ اْلأَزْرَقُ كِلاَهُمَا عَنْ فُضَيْلِ بْنِ غَزْوَانَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَفِي حَدِيْثِهِمَا سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيَّ التَّوْبَةِ

(1660)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Waki’. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf Al Azraq keduanya dari Fudlail bi Ghazwan dengan sanad ini. Dan dalam hadits keduanya disebutkan, Aku pernah mendengar Abu Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Nabi yang menyukai taubat.

(Shahih Muslim : 1660   )

Barangsiapa menampar atau memukul hamba sahayanya, maka kafarahnya (tebusannya) adalah memerdekakannya

حَدَّثَنِي أَبُوْ كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ اَلْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَوَانَةَ عَنْ فِرَاسٍ عَنْ ذَكْوَانَ أَبِي صَالِحٍ عَنْ زَاذَانَ أَبِي عُمَرَ قَالَ:

أَتَيْتُ اِبْنَ عُمَرَ وَقَدْ أَعْتَقَ مَمْلُوْكًا قَالَ فَأَخَذَ مِنَ اْلأَرْضِ عُوْدًا أَوْ شَيْئًا فَقَالَ مَا فِيْهِ مِنَ اْلأَجْرِ مَا يَسْوَى هَذَا إِلاَّ أَنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ لَطَمَ مَمْلُوْكَهُ أَوْ ضَرَبَهُ فَكَفَّارَتُهُ أَنْ يُعْتِقَهُ

29 – (1657)

Telah menceritakan kepadaku Abu Kamil Fudlail bin Husain Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Firas dari Dzakwan Abu Shalih dari Zadzan Abu ‘Umar dia berkata:

Aku pernah menemui Ibnu Umar yang saat itu dia habis memerdekakan seorang budak. Zadzan melanjutkan, Kemudian dia mengambil dahan atau sesuatu dari atas tanah sambil berkata, “Tidaklah aku mendapatkan pahala melainkan seimbang dengan benda ini, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menampar sahayanya atau memukul sahayanya, maka kafarahnya (tebusannya) adalah memerdekakannya.”

(Shahih Muslim : 1657 – 29 )

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ ِلابْنِ الْمُثَنَّى قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ فِرَاسٍ قَالَ:

سَمِعْتُ ذَكْوَانَ يُحَدِّثُ عَنْ زَاذَانَ أَنَّ اِبْنَ عُمَرَ دَعَا بِغُلاَمٍ لَهُ فَرَأَى بِظَهْرِهِ أَثَرًا فَقَالَ لَهُ أَوْجَعْتُكَ قَالَ لاَ قَالَ فَأَنْتَ عَتِيْقٌ قَالَ ثُمَّ أَخَذَ شَيْئًا مِنَ اْلأَرْضِ فَقَالَ مَا لِي فِيْهِ مِنَ اْلأَجْرِ مَا يَزِنُ هَذَا إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ ضَرَبَ غُلاَمًا لَهُ حَدًّا لَمْ يَأْتِهِ أَوْ لَطَمَهُ فَإِنَّ كَفَّارَتَهُ أَنْ يُعْتِقَهُ

30 – (1657)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar dan ini adalah lafadz Ibnu Mutsanna, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Firas dia berkata:

Aku pernah mendengar Dzakwan menceritakan dari Zadzan bahwa Ibnu Umar pernah memanggil seorang budak miliknya, lalu dia melihat ada bekas pukulan dipunggungnya, lantas dia bertanya kepada budaknya, Apakah aku telah menyakitimu? dia menjawab, Tidak. Ibnu Umar berkata, Sekarang kamu telah merdeka. Zadzan melanjutkan, Kemudian dia mengambil sesuatu dari atas tanah sambil berkata, Dalam hal ini tidaklah aku mendapatkan pahala lebih dari ini, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa memukul budaknya melebihi batas atau menamparnya, maka kafarahnya (tebusannya) adalah memerdekakannya.

(Shahih Muslim : 1657 – 30 )

وَحَدَّثَنَاهُ أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ ح وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ كِلاَهُمَا عَنْ سُفْيَانَ عَنْ فِرَاسٍ بِإِسْنَادِ شُعْبَةَ وَأَبِي عَوَانَةَ أَمَّا حَدِيثُ ابْنِ مَهْدِيٍّ فَذَكَرَ فِيْهِ حَدًّا لَمْ يَأْتِهِ وَفِي حَدِيْثِ وَكِيْعٍ مَنْ لَطَمَ عَبْدَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ الْحَدَّ

(1657)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki’. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdurrahman keduanya dari Sufyan dari Firas dengan sanadnya Syu’bah dan Abu ‘Awanah. Adapun dalam hadits Ibnu Mahdi disebutkan, Ada suatu had yang belum dia tunaikannya. Sedangkan dalam hadits Waki’ disebutkan, Barangsiapa menampar budaknya…., tanpa menyebutkan, Ada hadnya.

(Shahih Muslim : 1657 )

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ نُمَيْرٍ ح وَحَدَّثَنَا اِبْنُ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ:

لَطَمْتُ مَوْلًى لَنَا فَهَرَبْتُ ثُمَّ جِئْتُ قُبَيْلَ الظُّهْرِ فَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي فَدَعَاهُ وَدَعَانِي ثُمَّ قَالَ اِمْتَثِلْ مِنْهُ فَعَفَا ثُمَّ قَالَ كُنَّا بَنِي مُقَرِّنٍ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَنَا إِلاَّ خَادِمٌ وَاحِدَةٌ فَلَطَمَهَا أَحَدُنَا فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَعْتِقُوْهَا قَالُوْا لَيْسَ لَهُمْ خَادِمٌ غَيْرُهَا قَالَ فَلْيَسْتَخْدِمُوْهَا فَإِذَا اِسْتَغْنَوْا عَنْهَا فَلْيُخَلُّوْا سَبِيْلَهَا

31 – (1658)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan ini adalah lafadz dari dia, telah menceritakan kepadaku Ayahku telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Mu’awiyah bin Suwaid dia berkata:

Aku pernah menampar seorang bekas budak milikku, lalu aku pergi dan kembali pulang menjelang zhuhur, kemudian aku shalat di belakang ayahku. Lantas ayahku memanggilku dan memanggilnya (bekas budakku), lalu dia berkata, Tamparlah dia sebagaiamana dia menamparmu. Namun bekas budakku mema’afkanku hingga ayahku pun berkata, Kami adalah bani Muqarrin yang di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kami tidak memiliki pelayan kecuali hanya satu orang wanita, kemudian salah seorang dari kami menamparnya, ternyata hal itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Merdekakanlah dia. Mereka berkata, Kami tidak memiliki pelayan lain selain dia. Beliau menjawab, Mintalah dia supaya tetap menjadi pelayan kalian sementara waktu, kemudian biarkanlah dia bebas.

(Shahih Muslim : 1658 – 31 )

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ  ِلأَبِي بَكْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا اِبْنُ إِدْرِيْسَ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ هِلاَلِ بْنِ يَسَافٍ قَالَ:

عَجِلَ شَيْخٌ فَلَطَمَ خَادِمًا لَهُ فَقَالَ لَهُ سُوَيْدُ بْنُ مُقَرِّنٍ عَجَزَ عَلَيْكَ إِلاَّ حُرُّ وَجْهِهَا لَقَدْ رَأَيْتُنِي سَابِعَ سَبْعَةٍ مِنْ بَنِي مُقَرِّنٍ مَا لَنَا خَادِمٌ إِلاَّ وَاحِدَةٌ لَطَمَهَا أَصْغَرُنَا فَأَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُعْتِقَهَا

32 – (1658)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair dan ini adalah lafadz Abu Bakar, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris dari Hushain dari Hilal bin Yasaf dia berkata:

Ada seorang tua yang suka cepat naik pitam, kemudian dia menampar budak miliknya, maka Suwaid bin Muqarin berkata kepadanya, Apakah kamu tidak dapat menahan untuk tidak menampar wajahnya? Sungguh, aku adalah anak yang ketujuh dari keturunan Bani Muqarrin, dulunya aku tidak memiliki budak melainkan satu orang saja, kemudian saudara yang paling muda dari kami menamparnya, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan supaya kami memerdekakan dia.

(Shahih Muslim : 1658 – 32 )

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا اِبْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ هِلاَلِ بْنِ يَسَافٍ قَالَ:

كُنَّا نَبِيْعُ الْبَزَّ فِي دَارِ سُوَيْدِ بْنِ مُقَرِّنٍ أَخِي النُّعْمَانِ بْنِ مُقَرِّنٍ فَخَرَجَتْ جَارِيَةٌ فَقَالَتْ لِرَجُلٍ مِنَّا كَلِمَةً فَلَطَمَهَا فَغَضِبَ سُوَيْدٌ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيْثِ ابْنِ إِدْرِيْسَ

(1658)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘adi dari Syu’bah dari Hushain dari Hilal bin Yasaf dia berkata:

Kami biasa membeli perkakas rumah tangga di rumahnya Suwaid bin Muqarrin, yaitu saudara laki-lakinya An Nu’man bin Muqarrin, tiba-tiba seorang budak perempuan keluar dan mencela seorang laki-laki dari kami hingga ia pun menampar budak tersebut, seketika itu Suwaid pun marah …, kemudian dia menyebutkan hadits seperti riwayatnya Ibnu Idris.

(Shahih Muslim : 1658 )

وَحَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ:

قَالَ لِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ مَا اسْمُكَ قُلْتُ شُعْبَةُ فَقَالَ مُحَمَّدٌ حَدَّثَنِي أَبُو شُعْبَةَ الْعِرَاقِيُّ عَنْ سُوَيْدِ بْنِ مُقَرِّنٍ أَنَّ جَارِيَةً لَهُ لَطَمَهَا إِنْسَانٌ فَقَالَ لَهُ سُوَيْدٌ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الصُّوْرَةَ مُحَرَّمَةٌ فَقَالَ لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَإِنِّي لَسَابِعُ إِخْوَةٍ لِي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا لَنَا خَادِمٌ غَيْرُ وَاحِدٍ فَعَمَدَ أَحَدُنَا فَلَطَمَهُ فَأَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُعْتِقَهُ

33 – (1658)

Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits bin Abdush Shamad telah menceritakan kepadaku Ayahku telah menceritakan kepada kami Syu’bah ia berkata:

Muhammad bin Munkadir bertanya kepadaku, Siapakah namamu? Aku menjawab, Syu’bah. Selanjutnya Muhammad berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Syu’bah Al ‘Iraqi dari Suwaid bin Muqarrin, bahwa seorang budak perempuan miliknya pernah ditampar oleh seseorang, lalu Suwaid berkata kepada orang itu, Tahukah kamu bahwa wajah itu haram untuk ditampar? Suwaid berkata lagi, Sungguh, aku adalah anak yang ke tujuh di antara saudara-saudaraku, dan aku pernah mengalami peristiwa ini pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal saat itu pelayan kami hanya satu orang, lalu salah seorang dari kami ada yang sengaja menampar pelayan perempuan (budak) kami, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintahkan kepada kami supaya memerdekakan dia.

(Shahih Muslim : 1658 – 33 )

وَحَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ وَهْبِ بْنِ جَرِيْرٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ قَالَ قَالَ لِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ مَا اسْمُكَ فَذَكَرَ بِمِثْلِ حَدِيْثِ عَبْدِ الصَّمَدِ

(1658)

Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Al Mutsanna dari Wahb bin Jarir telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dia berkata; Muhammad bin Al Munkadir pernah bertanya kepadaku, Siapakah namamu? kemudian dia menyebutkan seperti hadits Abdush Shamad.

(Shahih Muslim : 1658 )

حَدَّثَنَا أَبُوْ كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ يَعْنِي اِبْنَ زِيَادٍ حَدَّثَنَا اْلأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ:

قَالَ أَبُوْ مَسْعُوْدٍ اَلْبَدْرِيُّ كُنْتُ أَضْرِبُ غُلاَمًا لِي بِالسَّوْطِ فَسَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ خَلْفِي اِعْلَمْ أَبَا مَسْعُوْدٍ فَلَمْ أَفْهَمْ اَلصَّوْتَ مِنَ الْغَضَبِ قَالَ فَلَمَّا دَنَا مِنِّي إِذَا هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَقُوْلُ اِعْلَمْ أَبَا مَسْعُوْدٍ اِعْلَمْ أَبَا مَسْعُوْدٍ قَالَ فَأَلْقَيْتُ السَّوْطَ مِنْ يَدِي فَقَالَ اِعْلَمْ أَبَا مَسْعُوْدٍ أَنَّ اللهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلاَمِ قَالَ فَقُلْتُ لاَ أَضْرِبُ مَمْلُوْكًا بَعْدَهُ أَبَدًا

34 – (1659)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid -yaitu Ibnu Ziyad- telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim At Taimi dari Ayahnya dia berkata:

Abu Mas’ud Al Badri berkata, Aku pernah memukul pelayan (budak) milikku dengan cemeti, tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku, Ketahuilah wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah wahai Abu Mas’ud! , aku tidak memperhatikan suara tersebut karena terlalu marahnya. Abu Mas’ud berkata, Ketika telah dekat, ternyata itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan beliaulah yang mengatakan, Ketahuilah wahai Abu Mas’ud. Ketahuilah wahai Abu Mas’ud. Abu Mas’ud berkata: Kemudian aku melemparkan cemeti dari tanganku. Lantas beliau bersabda: Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, Sesungguhnya Allah lebih kuasa atas dirimu daripada kuasamu atas budak ini. Abu Mas’ud berkata lagi, Kemudian aku berkata, Aku tidak akan memukul seorang budak pun setelah itu.

(Shahih Muslim : 1659 – 34 )

وَحَدَّثَنَاهُ إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا جَرِيْرٌ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَهُوَ الْمَعْمَرِيُّ عَنْ سُفْيَانَ ح وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ ح وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَوَانَةَ كُلُّهُمْ عَنِ اْلأَعْمَشِ بِإِسْنَادِ عَبْدِ الْوَاحِدِ نَحْوَ حَدِيْثِهِ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيْثِ جَرِيْرٍ فَسَقَطَ مِنْ يَدِي السَّوْطُ مِنْ هَيْبَتِهِ

(1659)

Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Jarir. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid -yaitu Al Ma’mari- dari Sufyan. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah semuanya dari Al A’masy dengan sanadnya Abdul Wahid, seperti haditsnya (Al A’masy). Hanya saja dalam hadits Jarir disebutan, Tiba-tiba cemeti tersebut terjatuh dari tanganku karena kagetnya.

(Shahih Muslim : 1659 )

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا اْلأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ:

كُنْتُ أَضْرِبُ غُلاَمًا لِي فَسَمِعْتُ مِنْ خَلْفِي صَوْتًا اِعْلَمْ أَبَا مَسْعُوْدٍ للهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَيْهِ فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ هُوَ حُرٌّ لِوَجْهِ اللهِ فَقَالَ أَمَا لَوْ لَمْ تَفْعَلْ لَلَفَحَتْكَ النَّارُ أَوْ لَمَسَّتْكَ النَّارُ

35 – (1659)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim At Taimi dari Ayahnya dari Abu Mas’ud Al Anshari dia berkata:

Aku pernah memukul seorang budak milikku, lalu aku mendengar suara seseorang menyeru dari belakang, Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, sesungguhnya Allah lebih berkuasa atas dirimu daripada kuasamu atas dia. Setelah aku menoleh, ternyata itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Aku pun berkata, Wahai Rasulullah, dia sekarang aku bebaskan karena Allah. Beliau bersabda: Seandainya kamu tidak membebaskanya, maka kamu akan dilahap oleh api neraka.

(Shahih Muslim : 1659 – 35 )

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ ِلابْنِ الْمُثَنَّى قَالاَ حَدَّثَنَا اِبْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ:

أَنَّهُ كَانَ يَضْرِبُ غُلاَمَهُ فَجَعَلَ يَقُوْلُ أَعُوْذُ بِاللهِ قَالَ فَجَعَلَ يَضْرِبُهُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِرَسُوْلِ اللهِ فَتَرَكَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللهِ لَلّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَيْهِ قَالَ فَأَعْتَقَهُ

36 – (1659)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar dan ini adalah lafadz Ibnu Mutsanna, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Adi dari Syu’bah dari Sulaiman dari Ibrahim At Taimi dari Ayahnya dari Abu Mas’ud:

Bahwa dia pernah memukul budak miliknya, kemudian budaknya mengatakan, Aku berlindung kepada Allah. Perawi berkata, Kemudian dia memukulnya lagi, lalu budaknya mengatakan, Aku berlindung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Abu Mas’ud meninggalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: Demi Allah, sungguh Allah lebih berkuasa atas dirimu daripada kuasamu atas dia. Perawi berkata, Kemudian ia memerdekakannya.

(Shahih Muslim : 1659 – 36 )

وَحَدَّثَنِيْهِ بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي اِبْنَ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَلَمْ يَذْكُرْ قَوْلَهُ أَعُوْذُ بِاللهِ أَعُوْذُ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(1659)

Dan telah menceritakan kepadaku Bisyr bin Khalid telah mengabarkan kepada kami Muhammad -yaitu Ibnu Ja’far- dari Syu’bah dengan sanad ini, namun dia tidak menyebutkan perkataannya, Aku berlindung kepada Allah dan aku berlindung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Shahih Muslim : 1659  )

Nadzar orang kafir, jika telah masuk Islam maka harus dipenuhi

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ اَلْمُقَدَّمِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ اِبْنُ سَعِيْدٍ اَلْقَطَّانُ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ قَالَ:

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ قَالَ فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ

27 – (1656)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Bakar Al Muqaddami dan Muhammad bin Al Mutsanna dan Zuhair bin Harb sedangkan lafadznya dari Zuhair, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya -yaitu Ibnu Sa’id Al Qatthan- dari ‘Ubaidullah dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma bahwa Umar berkata:

Wahai Rasulullah, sesungguhnya ketika masih Jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram. Beliau bersabda: Tunaikanlah nadzarmu.

(Shahih Muslim : 1656 – 27 )

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ سَعِيْدٍ اَلْأَشَجُّ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِي الثَّقَفِيَّ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيْعًا عَنْ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ جَبَلَةَ بْنِ أَبِي رَوَّادٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كُلُّهُمْ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ و قَالَ حَفْصٌ مِنْ بَيْنِهِمْ عَنْ عُمَرَ بِهَذَا الْحَدِيثِ أَمَّا أَبُو أُسَامَةَ وَالثَّقَفِيُّ فَفِي حَدِيْثِهِمَا اِعْتِكَافُ لَيْلَةٍ وَأَمَّا فِي حَدِيثِ شُعْبَةَ فَقَالَ جَعَلَ عَلَيْهِ يَوْمًا يَعْتَكِفُهُ وَلَيْسَ فِي حَدِيْثِ حَفْصٍ ذِكْرُ يَوْمٍ وَلاَ لَيْلَةٍ

(1656)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al Asyaj telah menceritakan kepada kami Abu Usamah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdul Wahb -yaitu At tsaqafi-. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Al ‘Ala’ dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Hafsh bin Ghiyats. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amru bin Jabalah bin Abu Rawad telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah semuanya dari ‘Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Dan Hafsh berkata; Dan di antaranya dari Umar dengan hadits seperti ini. Adapun dalam hadits Abu Usamah dan Ats Tsaqafi disebutkan, ‘Beri’tikaf satu malam.’ Sedangkan dalam hadits Syu’bah disebutkan, ‘Sehari untuk beri’tikaf.’ Namun dalam hadits Hafsh tidak disebutkan, ‘Semalam atau sehari’.

(Shahih Muslim : 1656  )

وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيْرُ بْنُ حَازِمٍ أَنَّ أَيُّوْبَ حَدَّثَهُ أَنَّ نَافِعًا حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالْجِعْرَانَةِ بَعْدَ أَنْ رَجَعَ مِنَ الطَّائِفِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ يَوْمًا فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَكَيْفَ تَرَى قَالَ اِذْهَبْ فَاعْتَكِفْ يَوْمًا قَالَ وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَعْطَاهُ جَارِيَةً مِنَ الْخُمْسِ فَلَمَّا أَعْتَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَايَا النَّاسِ سَمِعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَصْوَاتَهُمْ يَقُوْلُوْنَ أَعْتَقَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا هَذَا فَقَالُوْا أَعْتَقَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَايَا النَّاسِ فَقَالَ عُمَرُ يَا عَبْدَ اللهِ اِذْهَبْ إِلَى تِلْكَ الْجَارِيَةِ فَخَلِّ سَبِيْلَهَا

28 – (1656)

Dan telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim bahwa Ayyub telah menceritakan kepadanya bahwa Nafi’ telah menceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhuma telah menceritakan kepadanya, bahwa :

Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di Ji’ranah, sekembalinya dari Tha`if dia berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya ketika masih Jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk beri’tikaf sehari di Masjidil Haram, bagaimana pendapatmu? beliau bersabda: Pergilah dan beri’tikaflah sehari. Abdullah bin Umar melanjutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi seorang sahaya perempuan kepada Umar bin Khattab, yang merupakan bagian seperlima dari harta rampasan perang. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerdekakan para tawanan perang, maka Umar bin Khattab mendengar suara mereka yang menyatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerdekakan kami. Umar akhirnya bertanya-tanya, Ada apa ini? mereka menjawab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerdekakan para tawanan perang. Lalu Umar berkata, Wahai Abdullah, pergi dan temuilah sahaya perempuan itu dan merdekakanlah dia.

(Shahih Muslim : 1656 – 28 )

وَحَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ لَمَّا قَفَلَ النَّبِيُّ مِنْ حُنَيْنٍ سَأَلَ عُمَرُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَذْرٍ كَانَ نَذَرَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ اِعْتِكَافِ يَوْمٍ ثُمَّ ذَكَرَ بِمَعْنَى حَدِيْثِ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ

(1656)

وَحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا أَيُّوْبُ عَنْ نَافِعٍ قَالَ ذُكِرَ عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ عُمْرَةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْجِعْرَانَةِ فَقَالَ لَمْ يَعْتَمِرْ مِنْهَا قَالَ وَكَانَ عُمَرُ نَذَرَ اِعْتِكَافَ لَيْلَةٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَ حَدِيْثِ جَرِيْرِ بْنِ حَازِمٍ وَمَعْمَرٍ عَنْ أَيُّوبَ

2 م – (1656)

وَحَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ الْمِنْهَالِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَيُّوبَ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ كِلاَهُمَا عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ بِهَذَا الْحَدِيْثِ فِي النَّذْرِ وَفِي حَدِيْثِهِمَا جَمِيْعًا اِعْتِكَافُ يَوْمٍ

3 م – (1656)

Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata, Sekembalinya Nabi dari perang Hunain, Umar bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai nadzar yang pernah dia nadzarkan ketika masih Jahiliyah, yaitu untuk beri’tikaf sehari…, kemudian dia menyebutkan seperti makna hadits Jarir bin Hazim.

Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah Adl Dhabbi telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dia berkata, Suatu ketik, disebutkan di sisi Ibnu Umar perihal ‘Umrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Ji’ranah, maka dia berkata, Beliau belum pernah ‘umrah darinya. Dia melanjutkan, Ketika itu Umar pernah bernadzar di waktu Jahiliyah untuk beri’tikaf semalam…, kemudian dia menyebutkan seperti hadits Jarir bin Hazim dan Ma’mar dari Ayyub.

Dan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayyub. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Khalaf telah menceritakan kepada kami Abdul A’ladari Muhammad bin Ishaq keduanya dari Nafi’ dari Ibnu Umar dengan hadits ini, yaitu mengenai nadzar. Dan dalam hadits keduanya disebutkan, I’tikaf sehari.

(Shahih Muslim : 1656  )