Membawakan tongkat dan air untuk beristinja’ (cebok)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُوْنَةَ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً يَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ تَابَعَهُ النَّضْرُ وَشَاذَانُ عَنْ شُعْبَةَ اَلْعَنَزَةُ عَصًا عَلَيْهِ زُجٌّ
[151]

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Atha’ bin Abu Maimunah ia mendengar Anas bin Malik berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam WC untuk buang hajat, lalu aku dan seorang temanku membawa bejana berisi air dan sebatang kayu (tongkat) untuk beliau gunakan beristinja’. Hadits ini kuatkan oleh An-Nadlr dan Syadzan dari Syu’bah, Al Anazah adalah tongkat yang ujungnya ada besi.
(HR : Imam Bukhori: 151)

Menjawab pertanyaan dengan panjang lebar

حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا اِبْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ فَقَالَ لَا يَلْبَسُ الْقَمِيْصَ وَلَا الْعِمَامَةَ وَلَا السَّرَاوِيْلَ وَلَا الْبُرْنُسَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ الْوَرْسُ أَوِ الزَّعْفَرَانُ فَإِنْ لَمْ يَجِدِ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسِ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُوْنَا تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ
[134]

Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi’b dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu ‘Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Bahwa ada seorang laki-laki bertanya, “Apa yang harus dikenakan oleh orang yang melakukan ihram?” Beliau menjawab: “Ia tidak boleh memakai baju, Imamah (surban yang dililitkan pada kepala), celana panjang, mantel, atau pakaian yang diberi minyak wangi atau za’faran. Jika dia tidak mendapatkan sandal, maka ia boleh mengenakan sepatu dengan memotongnya hingga di bawah mata kaki.”
(HR Imam Bukhori: 134)

Menuturkan ilmu dan berfatwa didalam masjid

حَدَّثَنِي قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا نَافِعٌ مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَجُلًا قَامَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مِنْ أَيْنَ تَأْمُرُنَا أَنْ نُهِلَّ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهِلُّ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ مِنْ ذِي الْحُلَيْفَةِ وَيُهِلُّ أَهْلُ الشَّأْمِ مِنَ الْجُحْفَةِ وَيُهِلُّ أَهْلُ نَجْدٍ مِنْ قَرْنٍ وَقَالَ اِبْنُ عُمَرَ وَيَزْعُمُوْنَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَيُهِلُّ أَهْلُ الْيَمَنِ مِنْ يَلَمْلَمَ وَكَانَ اِبْنُ عُمَرَ يَقُوْلُ لَمْ أَفْقَهْ هَذِهِ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
[133]

Telah menceritakan kepadaku Qutaibah bin Sa’id berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits bin Sa’d telah menceritakan kepada kami Nafi’ mantan budak ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab, dari ‘Abdullah bin ‘Umar
Bahwa ada seorang laki-laki datang berdiri di masjid lalu bertanya, Wahai Rasulullah, dari mana Tuan memerintahkan kami untuk bertalbiyah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menjawab: Bagi penduduk Madinah bertalbiyah dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam dari Al Juhfah, dan penduduk Najed dari Qarn. Ibnu Umar berkata, Orang-orang mengklaim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengatakan bahwa penduduk Yaman bertalbiyah dari Yalamlam. Sementara Ibnu Umar berkata, Aku tidak yakin bahwa (yang terakhir) ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
(HR Imam Bukhori: 133)

Orang yang malu, kemudian menyuruh orang lain untuk bertanya

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُنْذِرٍ الْثَّوْرِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ
كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ
[132]

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Daud dari Al A’masy dari Mundzir Ats Tsauri dari Muhammad Al Hanafiyah dari ‘Ali bin Abu Thalib berkata:
“Aku adalah seorang laki-laki yang mudah mengeluarkan madzi, lalu suruh Miqdad bin Al Aswad untuk menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia pun menanyakannya kepada beliau, dan beliau menjawab: “Padanya ada kewajiban wudlu.”
(HR Imam Bukhori: 132)

Malu dalam masalah ilmu

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ زَيْنَبَ ابْنَةِ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ
جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ فَغَطَّتْ أُمُّ سَلَمَةَ تَعْنِي وَجْهَهَا وَقَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَوَتَحْتَلِمُ الْمَرْأَةُ قَالَ نَعَمْ تَرِبَتْ يَمِيْنُكِ فَبِمَ يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا
[130]

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari Zainab puteri Ummu Salamah, dari Ummu Salamah ia berkata:
Ummu Sulaim datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam perkara yang hak. Apakah bagi wanita wajib mandi jika ia bermimpi? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Ya, jika dia melihat air. Ummu Salamah lalu menutupi wajahnya seraya bertanya, Wahai Rasulullah, apakah seorang wanita itu bermimpi? Beliau menjawab: Ya. Celaka kamu. (jika tidak) Lantas dari mana datangnya kemiripan seorang anak itu?
(HR Imam Bukhori: 130)

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِيْنَارٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَهِيَ مَثَلُ الْمُسْلِمِ حَدِّثُوْنِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَادِيَةِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ قَالَ عَبْدُ اللهِ فَاسْتَحْيَيْتُ فَقَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنَا بِهَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ قَالَ عَبْدُ اللهِ فَحَدَّثْتُ أَبِي بِمَا وَقَعَ فِي نَفْسِي فَقَالَ لَأَنْ تَكُوْنَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لِي كَذَا وَكَذَا
[131]

Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya di antara pohon-pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya, dan itu adalah perumpamaan bagi seorang Muslim. Ceritakan kepadaku pohon apakah itu? Maka orang-orang menganggapnya sebagai pohon-pohon yang ada di lembah, sedangkan menurut perkiraanku bahwa itu adalah pohon kurma. ‘Abdullah berkata, Tetapi aku malu (untuk mengungkapkannya). Lalu orang-orang berkata, Wahai Rasulullah, beritahukan kami pohon apakah itu? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Dia adalah pohon kurma. ‘Abdullah berkata, Kemudian aku ceritakan hal itu kepada bapakku, Maka bapakku berkata, Aku lebih suka bila engkau ungkapkan saat itu dari pada aku memiliki begini dan begini.
(HR Imam Bukhori: 131)

Memberikan ilmu khusus kepada suatu kaum , tidak kepada kaum yang lainnya karena khwatir mereka tidak bisa memahaminya

وَقَالَ عَلِيٌّ حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوْسَى عَنْ مَعْرُوْفِ بْنِ خَرَّبُوْذٍ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ عَلِيٍّ بِذَلِكَ
[127]

Dan Ali berkata,
Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan? Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Ma ‘ruf bin Kharrabudz dari Abu Ath Thufail dari ‘Ali seperti itu.
(HR Imam Bukhori: 127)

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُعاذٌ رَدِيْفُهُ عَلَى الرَّحْلِ قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ يَا مُعَاذُ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ثَلَاثًا قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوْا قَالَ إِذًا يَتَّكِلُوْا وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا
[128]

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam berkata, telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Qatadah berkata, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunggang kendaraan sementara Mu’adz membonceng di belakangnya. Beliau lalu bersabda: Wahai Mu’adz bin Jabal! Mu’adz menjawab, Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu. Beliau memanggil kembali: Wahai Mu’adz! Mu’adz menjawab, Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu. Hal itu hingga terulang tiga kali, beliau lantas bersabda: Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, tulus dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan baginya neraka. Mu’adz lalu bertanya, Apakah boleh aku memberitahukan hal itu kepada orang, sehingga mereka bergembira dengannya? Beliau menjawab: Nanti mereka jadi malas (untuk beramal). Mu’adz lalu menyampaikan hadits itu ketika dirinya akan meninggal karena takut dari dosa
(HR Imam Bukhori: 128)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ
ذُكِرَ لِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قَالَ أَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ لَا إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَّكِلُوْا
[129]

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir berkata, aku mendengar Bapakku berkata, aku mendengar Anas bin Malik berkata,

Disebutkan kepadaku bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal: Barangsiapa berjumpa Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk surga. Mu’adz bertanya, Bolehkan jika itu aku sampaikan kepada manusia? Beliau menjawab: Jangan, karena aku khawatir mereka akan jadi malas (untuk beramal).
(HR Imam Bukhori: 129)

Tidak melakukan apa yang bisa dilakukan, karena takut sebagian masyarakat tidak bisa memahaminya

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوْسَى عَنْ إِسْرَائِيْلَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنِ الْأَسْوَدِ قَالَ قَالَ لِي اِبْنُ الزُّبَيْرِ كَانَتْ عَائِشَةُ تُسِرُّ إِلَيْكَ كَثِيْرًا فَمَا حَدَّثَتْكَ فِي الْكَعْبَةِ قُلْتُ قَالَتْ لِي قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ لَوْلَا قَوْمُكِ حَدِيْثٌ عَهْدُهُمْ قَالَ اِبْنُ الزُّبَيْرِ بِكُفْرٍ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ فَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ بَابٌ يَدْخُلُ النَّاسُ وَبَابٌ يَخْرُجُوْنَ فَفَعَلَهُ اِبْنُ الزُّبَيْرِ

[126]

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Musa dari Isra’il dari Abu Ishaq dari Al Aswad berkata, Ibnu Az Zubair berkata kepadaku,

‘Aisyah banyak merahasiakan (hadits) kepadamu. Apa yang pernah dibicarakannya kepadamu tentang Ka’bah? Aku berkata, Aisyah berkata kepadaku, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: Wahai ‘Aisyah, kalau bukan karena kaummu masih dekat zaman mereka, Az Zubair menyebutkan, Dengan kekufuran, maka Ka’bah akan aku rubah, lalu aku buat dua pintu untuk orang-orang masuk dan satu untuk mereka keluar. Di kemudian hari hal ini dilaksanakan oleh Ibnu Zubair.

(HR Imam Bukhori: 126)