Mengapa Membuang Bangkai Tikus ke Jalanan

Entah siapa yang mula-mula membuang bangkai tikus ke jalan, yang jelas sekarang ini sangat banyak pengikutnya. Kalau di tweeter, boleh berbangga hati tuh si orang yang diikutin orang banyak.

Pertama kali mendapati bangkai tikus dijalan, saya hanya beranggapan “ahh hanya tikus na’as yang kelindes mobil”, tapi….. lama-kelamaan koq tambah sering…

dan suatu ketika kedapatan tikusnya terikat didalam plastik…

barulah saya mempunyai anggapan lain “ohh ternyata mereka sengaja dilempar ke jalan” entah dalam keadaan mati atau hidup.

Bagi yang pernah berurusan dengan tikus, mungkin sedikit banyak bisa mengerti mengapa mereka melempar tikus kejalanan. Mungkin saking keselnya ama si tikus yang setiap malam mengacak-ngacak dapur rumah, membuat berantakan makanan atau sisa-sisa makanan dan meninggalkan kotoran-kototran yang sangat menjijikkan.  Belum lagi suaranya yang berisik menggangu orang tidur. Maka begitu ketangkap itu tikus, lantas lupa daratan membantainya atau yang kurang tega memasukkannya ke kantong plastik kemudian melemparkannya kejalanan hidup-hidup dan membiarkan si pengguna jalanan menghakimi si tikus.

Bagi yang belum pernah berurusan dengan tikus mungkin akan berkata dalam hatinya “sadis amat itu orang”

Tapi apakah perbuatan itu tergolong sadis ??

Saya tidak akan menjawabnya daripada nanti menimbulkan perdebatan yang berkepanjangan… cukup kita merasakan dan menanyakannya pada hati kita.

Saya sebagai pengguna jalan hanya agak merasa risih dan geli aja kalau mendapati banyak bangkai tikus dijalanan. Yang jelas saya tidak ingin roda kendaraan saya menginjak mereka.

Kalau musim hujan tiba, tikus-tikus mati tersebut lebih-lebih menggelikan (menjijikkan) lagi. Bangkai tikus yang acak-acakan karena digilas roda kendaraan mengundang datangnya beratus-ratus lalat mendatanginya dan menimbulkan pemandangan yang menjijikkan. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan para pejalan kaki yang lewat disekitarnya. Mereka pasti merasa tidak nyaman sama sekali. Pemandangan yang menjijikkan tersebut masih di tambah dengan bau tak sedap menyengat menghampiri hidungnya.

Kalau kita pemakai merasa sangat-sangat terganggu oleh bangkai-bangkai tikus tadi, apakah si “pembuang bangkai” tidak merasakan hal yang sama?

Saya yakin mereka masih menggunakan jalan dimana mereka melakukan aksi “buang bangkai” … , kecuali  mereka bisa terbang..

Kita kesampingkan dulu apakah mereka juga terganggu atau tidak atas ulah “buang bangkai” mereka. Sekarang marilah kita mencoba untuk bertanya kepada hati kita :  “ Pantaskah kita membuang bangkai tikus kejalanan? ”

Biarkan hati nurani anda yang menjawab dan biarlah jawabannya tetap menjadi rahasia anda sendiri.

 

Bahan kajian:

وحدثنا محمد بن رافع. حدثنا عبدالرزاق بن همام. حدثنا معمر عن همام بن منبه. قال: هذا ما حدثنا أبو هريرة عن محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم. فذكر أحاديث منها وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ. قَالَ: تَعْدِلُ بَيْنَ اْلاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ. وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ، صَدَقَةٌ. قَالَ: وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ. وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَتُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

56 – (1009)

Hadits riwayat AbuHurairah Radhiyallahu’anhu,iaberkata:

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap ruas tulang manusia wajib bersedekah setiap hari, di mana matahari terbit. Selanjutnya beliau bersabda: Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang (yang kesulitan menaikkan barang) pada hewan tunggangannya, lalu ia membantu menaikkannya ke atas punggung hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya adalah sedekah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam juga bersabda: Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dikerahkan menuju shalat adalah sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah

(Hadits Shahih Muslim : 1914-127)

حدثنا يحيى بن يحيى. قال: قرأت على مالك عن سمي، مولى أبي بكر، عن أبي صالح، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيْقٍ، وَجَدَ غَصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيْقِ، فَأَخَّرَهُ. فَشَكَرَ اللهُ لَهُ. فَغَفَرَ لَهُ”.

127 – (1914)

Hadits riwayat AbuHurairah Radhiyallahu’anhu,iaberkata:

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda :Pada suatu ketika seseorang berlalu dijalan raya dan didapatinya sepotong ranting berduri lalu disingkirkannya. Maka karena hal tersebut Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya.

(Hadits Shahih Muslim : 1914-127)

حدثني زهير بن حرب. حدثنا جرير عن سهيل، عن أبيه، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. قَالَ:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “مَرَّ رَجُلٌ بِغَصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ. فَقاَلَ: وَاللهِ! َلأُنَحِّيَنَّ هٰذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ لاَ يُؤْذِيْهِمْ. فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ”.

128 – (1914)

Hadits riwayat AbuHurairah Radhiyallahu’anhu,iaberkata:

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Seorang laki-laki bertemu dengan sepotong ranting berduri ditengah jalan. Lalu dia berkata: Demi Allah akan aku buang ranting ini supaya jangan membahayakan kepada kaum Muslimin. Karenanya, orang itu dimasukkan kedalam surga.

(Hadits Shahih Muslim : 1914-128)

Iklan

Jangan Memaksa Allah

Mmembaca judul diatas, seolah ada yang menggelitik hati kita. Mungkin ada yang bertanya seperti ini:
“Siapa yang berani maksa Allah?”
“Ah ente ngada-ada aja… Siapa yang bisa memaksa Allah?”
Orang betawi akan bilang: “Elu udah gile kali, masa Allah mau elu paksa” dan lain-lainnya.
Memang kita nggak bisa memaksa Allah karena Allah adalah Sang Khaliq, Sang Penguasa dari Segala Yang Berkuasa dan Allah adalah Tuhan yang Maha Gagah Perkasa.
Kalau kita nanya “Siapa yang bisa memaksa Allah?”
Jawabannya pasti “tidak ada.”
Tapi kalau kita nanya “Siapa yang berani memaksa Allah?”
Kalau kita jawab secara spontan Jawabannya pasti “Nggak ada” atau “Orang gila aja yang berani maksa Allah”
Tapi kalau kita jawab dengan tidak tergesa-gesa dengan dilandasi pikiran yang jernih dan panjang, ternyata jawabannya bisa seperti ini : “Banyak…! Banyak yang berani memaksa Allah… dan mungkin kita termasuk salah satu diantaranya..”
Lho ! , Koq bisa…?
Iya… memang begitu kenyataannya…, walaupun mungkin… tanpa kita sadari.
Masa iya sih…?
Masih nggak percaya?
Pernah meminta pada Allah nggak?
Pernah dong… bahkan sering, berdo’a kan berarti “meminta kepada Allah”
Nah disitulah.., pada saat kita berdo’a kita sering memaksa Allah untuk memenuhi “nafsu” (do’a) kita. Kita sering minta kepada Allah untuk sesuatu yang paling kita inginkan. Sesuatu yang menurut kita adalah yang paling “penting” saat ini dan kalau tidak terpenuhi maka “langit akan runtuh”.
Koq sampai “langit runtuh” segala, emang langit kaya genting…? bisa runtuh
Itulah nafsu dan pikiran kita. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, bisa mencari konotasi yang sangat dahsyat. “Langit runtuh”, “bumi pecah”, “kiamat” adalah sedikit konotasi yang sering muncul.
Sebuah contoh doa kita:
”Ya Allah…, Ya Robbul ‘Izzati…, Ya Arhamarroohimien… berilah hambaMu ini sebuah mobil “avanza baru” untuk kendaraan kami sehari-hari. Berat rasanya kalau kami terus mengandalkan motor yang telah bertahun-tahun mengantar kami. Anak kami telah semakin besar…, keluarga kami pun telah bertambah sehingga tidak memungkinkan beramai-ramai naik motor lagi. Ya Allah.. Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Penyayang…Kabulkanlah permohonan kami karena hanya dengan mobil itulah, kami masih tetap bisa ngaji mingguan sekeluarga dan kegiatan sehari-hari kami bisa lancar…”
Sebuah do’a untuk memohon “mobil avanza baru” kepada Allah.
Tanpa kenal lelah kita memanjatkan do’a . Siang malam, setiap habis sholat fardhu, sehabis sholat tahajjud selalu kita panjatkan do’a tersebut..Waktu demi waktu…,Hari demi hari berganti, tidak terasa waktu setahun telah berlalu. Sudah ratusan kali bahkan ribuan kali kita memanjatkan do’a yang sama. Mulailah kita merasa bahwa do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah. Keragu-ragu lalu menghampiri jiwa kita.
“Ya Allah mengapa Engkau tidak mengabulkan do’a kami, padahal kami sudah memohon kepadaMu ribuan kali. Kami sudah berusaha memperbaiki Ibadah kami. Ibadah wajib kami perbaiki, ibadah sunnah pun kami perbanyak. Tetapi kenapa Engkau belum juga mengabulkan permohonan kami. Padahal Engkau telah berkata dalam kitab suciMu : “Berdo’alah kepadaKu, Niscaya akan Aku Kabulkan.” Apakah Engkau mengingkari janjiMu sendiri?…. Kami tahu bahwa Itu tidak mungkin…. karena Engkau adalah Dzat yang tidak akan pernah mengingkari janji. Lantas kenapa do’a kami belum Engkau kabulkan juga Ya Robb. Sampai kapan kami harus memohon kepadaMu… , Sampai kapan kami harus menunggu janjiMu padahal hati kami seolah telah capee meminta kepadaMu tanpa hasil…”
Itu mungkin yang akan kita keluhkan kepada Allah kalau permohonan kita belum terkabul juga.
Tapi benarkah bahwa do’a kita nggak terkabul sama sekali?
Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kalau kita me”review” apa yang telah terjadi pada kita dalam setahun terakhir. Pada waktu kita pertama kali memanjatkan do’a diatas kita sudah punya sebuah motor, kemudian rumah tipe tiga enam, anak kita dua orang sekolah di SD.
Dalam setahun ini memang kita belum dikasih “mobil avanza”, dengan tukar tambah motor kita yang sudah berumur delapan tahun ditukar dengan motor yang lebih baru. Dapur rumah yang tadinya masih menyatu dengan ruangan tengah, kini sudah terpisah karena “ada rizqi” untuk membuat dapur di tanah belakang yang masih kosong. Asap dari dapur ketika memasak tidak mengganggu anak-anak lagi. Anak-anak yang tadinya gampang sakit, sekarang nampak sehat dan sedikit lebih gemuk.
Nah itulah gambaran yang terjadi selama setahun belakangan.
Kita memang meminta mobil avanza kepada Allah dan sampai saat ini belum terkabulkan. Ini bukan berarti Allah tidak mengabulkan do’a kita, malainkan Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hambaNya. Baik menurut Allah belum tentu baik menurut kita dan sebaliknya baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah.
Menurut kita yang terbaik adalah “mobil avanza baru” untuk kendaraan sehari-hari dan untuk mengaji setiap minggu.
Dengan anggapan bahwa “itulah” yang terbaik buat kita, maka kita paksa Allah untuk memberi kita “mobil avanza”. Kalau mobil belum kebeli kita merasa bahwa Allah mengabaikan kita, Allah tidak mengabulkan do’a kita.
Tapi sekali lagi “Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana.” Yang mengetahui yang terbaik buat kita.
Dari gambaran diatas yang terbaik menurut Allah mungkin adalah membangun dapur terlebih dahulu supaya aktifitas memasak tidak mengganggu kegiatan lain. Kemudian motor yang tadinya udah kurang nyaman dipakai diganti dengan yang lebih baru. Anak-anak yang waktu istirahatnya sering terganggu dengan asap dapur sekarang menjadi lebih tenang dan sebagai akibatnya sekarang tumbuh lebih sehat. Pikiran kita pun menjadi tenang dan ibadah menjadi lebih khusyu’.
Itulah hasil do’a kita. Kita berdo’a memohon “mobil avanza”, yang menurut kita adalah yang terbaik buat kita saat ini. Berdo’a dengan dibarengi usaha dan ibadah. Tetapi bukan mobil yang kita dapatkan karena mungkin bukan itu yang terbaik buat kita. Kenyataannya memang memiliki mobil belum begitu “urgent” maka Allah “hanya” mengganti motor kita dengan yang lebih bagus. Memberi kita rizqi untuk membuat dapur baru yang memberi imbas kepada kesehatan anak-anak kita. Ibadah kita yang tadinya sering terganggu karena anak-anak sakit, sekarang bisa bertambah khusyu’. Hati kita yang sering suntukpun menjadi lebih tenang dan nyaman.
Coba kalau Allah langsung memberi apa yang kita minta yaitu “mobil avanza”. Begitu mobil avanza datang, kita buru-buru bikin garasi. Tidak punya uangpun , kita bela-belain ngutang kiri kanan. Dapur masih menyatu sama ruang tengah. Asap ketika memasak masih sering mengganggu istirahat anak kita. Ibadah kita yang tadinya kurang khusyu’ karena sering terganggu anak sakit, sekarang tambah nggak khusyu’ karena beban tambahan yaitu mikirin hutang. Belum lagi mikirin mobil, takut kalau mobilnya dicuri orang.
Memang kita tambah nyaman ketika bepergian dengan mengendarai mobil. Tetapi kalau pikiran kita jadi kurang nyaman karena anak sakit atau ibadah kurang khusyu’ karena tambahnya beban pikiran.
Apakah ini yang kita harapkan?
Tentu bukan kan…?
Kita boleh saja minta “apa saja” kepada Allah atau menentukan kapan hal tersebut harus tercapai. Tetapi kita jangan memaksa Allah untuk memenuhi permintaan kita. Berdo’alah kepada Allah dengan lebih bijaksana yaitu meminta “Yang terbaik bagi kita menurut Allah”.
Sebagai contoh:
”Ya Allah…, Ya Robbul ‘Izzati…, Ya Arhamarroohimien… berilah hambaMu ini sebuah mobil “avanza baru” untuk keperluanku sehari-hari. Berat rasanya kalau kami terus mengandalkan motor yang telah bertahun-tahun mengantar kami kemana-mana. Anak kami telah semakin besar…, keluarga kami pun telah bertambah sehingga tidak memungkinkan beramai-ramai naik motor lagi. Ya Allah.. Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Penyayang…Kabulkanlah permohonan kami sekiranya “mobil tersebut” adalah baik bagi kami. Kalau “hal itu “ kurang baik bagi kami, maka berilah kami yang terbaik. Baik bagi dunia kami dan baik bagi akherat kami…Amien Ya Robbal’Alamien..”
Dengan permohonan yang demikian, hati kita akan selalu “bersyukur” menerima “apapun” yang Allah berikan kepada kita. Karena kita berkeyakinan bahwa Allah memberi yang terbaik buat kita. Walaupun permohonan utama kita “misalnya mobil avanza” tidak atau belum terkabul, kita masih selalu bisa mensyukuri “apa” yang Allah berikan. Dan dengan mensyukuri ni’matNya, maka Allah akan senantiasa menambahkan ni’matNya kepada kita.
Wallohu A’lam bisshowab.

Ada apa dengan “Kredit”

Membeli dengan cara kredit kini tengah digandrungi semua kalangan. Mulai dari pekerja kasar sampai orang-orang gedongan. Barang yang bisa dibeli dengan kredit sangat berfariasi. Mulai dari kredit pemilikan rumah, kendaraan bermotor sampai dengan peralatan rumah tangga. Membeli dengan cara kredit memang menawarkan kenyamanan tersendiri.
Dengan cara kredit, orang dengan penghasilan pas-pasan pun bisa memiliki barang yang mereka inginkan. Rumah, motor, televisi, kulkas dan bermacam-macam barang elektronik bisa dimiliki walau  dengan sedikit mengencangkan ikat pinggang karena sebagian atau mungkin setengah dari penghasilan mereka digunakan untuk membayar cicilan. Orang-orang berduit juga lebih suka membeli barang mewah kesenangan mereka dengan cara kredit. Rumah mewah, apartemen mewah sampai  mobil mewah siap dimiliki dengan cara kredit.
Seolah tidak mau ketinggalan ibu-ibu rumah tangga pun berbondong-bondong untuk mengkredit barang yang mereka inginkan. Mulai dari pakaian, kosmetika sampai peralatan rumah tangga. Kalau dahulu mereka malu untuk membeli barang dengan cara mengkredit, sekarang justru bangga kalau kreditannya banyak.
Melihat antusiasme masyarakat untuk mngkredit, pihak perbankan berlomba-lomba untuk menawarkan kartu kredit. Orang yang menawarkan kartu kredit dari bank tertentu bisa kita temui hampir di semua pusat perbelanjaan. Asal kita mau, “kartu sakti” itu bisa kita miliki dengan mudah. Dan selanjutnya dengan semangat 45 bermodalkan selembar “kartu sakti” kita pindahkan isi “super market” ke rumah kita. Dengan dalih tidak mengeluarkan uang sepeserpun mereka menjadi lupa diri memborong semua barang, bahkan barang yang kurang perlupun mereka borong.

Tapi benarkah kita tidak perlu mengeluarkan uang?

Setelah menikmati hasil borongan mereka,  sebulan kemudian mereka mendapatkan selembar tagihan kartu yang setelah dilihat ternyata melebihi penghasilan mereka dalam sebulan. Baru terasa sekarang bahwa kartu kredit bukanlah “kartu sakti” seperti yang dibayangkan semula. Kartu kredit tetaplah kartu kredit dalam arti kartu untuk “menghutang”. Kartu yang menghipnotis untuk berbelanja sebanyak yang mereka mau dan tanpa mereka sadari  mereka sedang menumpuk hutang dibank. Hutang yang harus mereka bayar tiap bulan bahkan pada saat mereka tidak punya uang sepeserpun. Kalau mereka nggak membayar, maka “debt collector” sipenagih hutang dari pihak bank bagaikan “malaikat maut” tidak sungkan-sungkan untuk mendatangi rumah mereka. Datang bukan untuk silaturrahim melainkan untuk memaksa menagih hutang. Mulai terasa sekarang nikmatnya dikejar-kejar hutang. Kemana-mana seolah dibayangi  “debt collector” sang malaikat penagih hutang.
Mempunyai kartu kredit bukan berarti lebih “keren” atau lebih “wah” tetapi sebaliknya berarti “siap menghutang”. “Menghutang” yang dulu tabu sekarang menjadi “kudu”.

“Emang kenapa kalau ngutang…, emang kenapa kalau ngredit…??? duit-duit gua… kredit-kredit gua  ” Syirik aja sih luh…

Ya enggak apa-apa sih…! …tapi….
Sekarang mari kita mencoba melihat “system kredit” dari kaca mata agama.
Kenapa harus kita lihat dari kaca mata agama?

Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering kali kita lupakan.
Kita ini adalah orang islam!
Sebagai orang islam yang bertaqwa sudah tentu kalau segala sesuatu harus kita lihat dari kacamata agama, yaitu dari hukum islam. Hukum islam adalah rel kita menuju kebahagian hidup. Bukan saja hidup di dunia melainkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Pertanyaan pertama yang mesti kita ucapkan adalah:
“Bolehkah  ‘system kredit’ ini dalam agama islam?”
Kata ”boleh” disini kita artikan sebagai halal.
Setelah kita buka buku-buku fiqih, tanya sana sini kepada ustadz dan kyai ternyata memang “system kredit” diperbolehkan agama. Asal kredit tersebut sesuai dengan syarat rukunnya. Dan salah satu syaratnya adalah “harga kredit dengan harga tunai adalah sama”.
Sebagai contoh kalau harga sebuah motor cash (tunai) adalah 12.000.000 kalau dibayar secara kredit selama 12 kali (bulan) maka cicilan perbulan adalah 1.000.000. Tidak lebih.
Kalau dibayar selama 24 bulan maka cicilan perbulan adalah 500.000. Tidak lebih
Selama syarat ini terpenuhi, maka Akad kredit tersebut diperbolehkan.

Sekarang kita tengok kembali “system kredit” yang berlaku di sekitar kita.
Hampir semua “system kredit” dinegara kita adalah system ribawi alias system kredit yang riba.
Sebuah rumah dijual tunai seharga 60 juta bila dikredit 5 tahun ansuran perbulan 1.2500.000
Bila dikredit 10 tahun maka ansuran perbulan 750.000
Mari kita hitung
Total pembayaran (5 tahun) = 5 x 12 x 1.250.000 = 75.000.000
Total pembayaran (10 tahun) = 10 x 12 x 750.000 = 90.000.000

Ternyata TIDAK SAMA

Bukan hanya kredit pemilikan rumah saja, ternyata kredit mobil dan sepeda motor pun demikian.
Harga motor tunai 12 juta bisa menjadi 18 juta bila dibayar dengan kredit.
Penjual baju dikampung-kampung pun sama saja. Mereka biasa menawarkan barang dengan harga yang berbeda antara tunai dan kredit, antara kredit jangka pendek dan kredit jangka panjang.

Menjual barang dengan harga yang berbeda antara tunai dan kredit adalah RIBA.

Bisa dibayangkan bahwa sekarang ini kita hidup dilautan riba….
Rumah yang kita tempati mulai dari yang elit sampai yang RSS dibeli dengan kredit. Rumahnya ngredit, isi rumahpun kredit. Meja kursi penghias ruang tamu, televisi di ruang tengah, tempat tidur dan kulkas semuanya dibeli dengan kredit.Baju yang kita pakai sampai-sampai bedak dan gincu yang menempel diwajahpun kredit semua.Tidak ketinggalan kendaraan yang setia mengantar kemana kita pergi dibeli dengan cara riba.
Sungguh mengherankan bahwa negeri kita tercinta ini, negeri dengan penduduk muslim terbesar didunia, negeri yang mayoritas penduduknya muslim ternyata berada dalam balutan riba. Kalau semua yang melanggar larangan Allah berhak untuk mendapat adzab Allah, maka bukankah negeri ini berhak juga untuk diadzab?
Na’udzubillaahi min dzalik….
Terus sekarang Apa yang bisa kita lakukan dengan “system kredit”?
Apa kita harus mengerahkan massa menuju gedung DPR untuk demo “pelarangan system kredit”?
Siapa yang mau diajak demo, “orang sebagian besar kita” adalah tukang “ngredit”. Bisa-bisa mereka mengadakan demo tandingan dengan massa yang beratus kali lebih banyak.
Mungkin kita mesti tahu apa latar belakang mereka meng”kredit”. Apa karena memang nggak tahu hukum kredit adalah riba atau karena apa?
Saya pernah bertanya kepada beberapa orang yang “suka ngredit”: Mengapa membeli barang dengan cara kredit ?
Jawaban mereka bermacam-macam, tapi sebagian besar menjawab: “Yah kalau nggak begini, kapan lagi kita bisa punya rumah”
Atau “Kalau nggak ngredit, nggak bakalan kita punya barang.” Ada lagi yang menjawab: “Enak sih.., nggak terasa ngeluarin duitnya..”

Kalau kita tanyakan “Kenapa nggak nabung dulu aja?”
Jawabannya adalah “Kalo nyimpen duit mah susah, boro-boro terkumpul … yang ada juga kepakai buat belanja…”
Terus kalau ditanya: “Apakah nggak tahu kalau kredit itu dosa”?
Jawaban mereka: “Halah… kyai dan ustadz aja banyak yang ngredit.”
Sebuah jawaban yang tidak berdasar, jawaban yang bisa diartikan “masuk neraka juga nggak apa-apa, kyai dan ustadznya juga masuk meraka”

Memang perlu komitmen yang kuat untuk bisa membeli barang dengan jalan menabung terlebih dahulu. Banyak hambatan dan godaan yang kita temui. Walaupun banyak hambatan tetapi sebenarnya ada nikmat yang tersenbunyi dibaliknya.
Dengan jalan menabung , kita menjadi sering berdo’a dan berharap kepada Allah. Berharap agar Allah selalu menambah rejeki kita dan berharap agar tujuan kita cepat tercapai. Bila barang yang kita inginkan bisa kebeli, kita juga tidak lupa bahwa itu adalah atas pertolongan Allah. Dengan begitu Insya Allah barang yang kita miliki penuh dengan berkah. Berkah karena kita peroleh dengan usaha dan do’a kepada Allah dan dengan pertolongan Allah.

Kembali lagi ke pertanyaan “apa yang mesti bisa kita lakukan tadi”
Sebagai pribadi muslim yang bisa lakukan adalah kita jangan sampai membeli dengan “system kredit” riba. Perlu juga untuk menjaga agar keluarga kita juga “steril” dari kredit. Dan akhirnya ucapkan syukur alhamdulillah bahwa kita masih dijaga oleh Allah dari “mengkredit”.
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ’AALAMIIEN..
Perlu menjadi pegangan kita juga:
Kalau sekarang kita hidup dijaman riba, apakah kita juga mesti ikut-ikutan ber-riba ria… ?
Kalau orang disekeliling kita semua berbondong-bondong meng”kredit” dengan system riba apakah kita juga harus mengkredit… ?
Kalau orang-orang masuk neraka gara-gara kredit apakah kita juga harus ikut keneraka….?
Apa salahnya kalau kita nabung terlebih dulu untuk membeli barang yang kita inginkan.?
Apa salahnya kalau kita menahan diri sementara waktu untuk memiliki barang yang kita inginkan..?
Apa salahnya kita mendahulukan ajaran agama daripada sekedar keinginan terburu-buru untuk memiliki suatu barang..?

Apakah barang tersebut demikian berarti sehingga mampu memalingkan mata kita dari ajaran agama?”

Apakah memang kita sudah tidak takut lagi akan neraka ? Neraka yang diciptakan Allah untuk menghukum hambanya yang tidak menurut perintahNya, hamba yang melanggar laranganNya.
Dan salat satu laranganNya adalah RIBA.

Wallohu A’lam bisshowab

Bahan Kajian

عن جابر، قال:
لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا، وموكله، وكاتبه، وشاهديه، وقال: هم سواء

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba dan dua orang saksinya. Kedudukan mereka itu semuanya sama.” (HR. Muslim)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(QS Albaqoroh:275)

Belajar “Bersyukur”

“Syukur”, suatu kata yang sangat mudah diucapkan dan karena saking  mudahnya maka tidak mengherankan kalau sudah pernah kita ucapkan  ribuan kali.  Suatu kata yang akan mengundang tambahan ni’mat Allah kepada kita. Tentu saja kalau kita mau menerimanya.

Emang ada yang nggak mau menerima tambahan ni’mat?

Menerima tambahan ni’mat…. , semua orang pasti mau.  Kalau bersyukur?

Wah kalau ini entar dulu…. sebabnya saya enggak tahu caranya..
Memang suatu yang mudah diucapkan belum tentu mudah pula dijalankan. Kita mau “bersyukur” tetapi sering tidak tahu bagaimana caranya.

Lantas kita bertanya pada diri sendiri:

” Sebenarnya bagaimana sih cara “bersyukur” itu?”

“Apakah dengan mengucapkan “Alhamdulillah” sudah berarti bahwa kita bersyukur?”

“Atau harus bagaimana ?”
Sebelum berbicara mengenai cara bersyukur, alangkah lebih indah kalau kita menyamakan persepsi tentang arti “syukur” terlebih dahulu.
Syukur secara umum bisa diartikan sebagai “berterimakasih”
Ada juga yang mengartikan syukur sebagai “menasarufkan ni’mat yang telah Allah berikan untuk menjalankan ibadah kepada Allah.”
Kalau kata “menasarufkan” kita ganti dengan kata “menggunakan”, maka definisi diatas menjadi “menggunakan ni’mat yang telah Allah berikan untuk menjalankan ibadah kepada Allah”
Dengan batasan definisi tersebut , akan lebih mudah membahas “cara bersyukur”.
Maaf bagi yang mempunyai definisi lain, silakan pake definisinya masing-masing. Dengan adanya perbedaan justru akan memperkaya perbendaharaan pengertian masing-masing.
Selanjutnya saya akan membahas “belajar bersyukur” dari kaca mata saya.
Sebenarnya saya nggak make kacamata lhooo….
Lebih tepatnya (barang kali) , dari sudut pandang saya.
Sudut pandang yang mana?
Ya sudut pandang yang tadi… alias sudut pandang berdasar definisi saya tadi. (Definisi yang masih perlu dibetulkan lagi)
Saya akan mulai “proses belajar” saya dari waktu bangun pagi (tidur)
Setiap hari kita bangun tidur. (Ya ialah.. kalau nggak bangun ya nggak sempat baca tulisan ini lagi dong)
Begitu bangun tidur disunnahkan untuk membaca do’a bangun tidur.
Arti do’a ini ialah “Segala puji bagi Allah, Dzat yang menghidupkan kita setelah mematikan kita. Dan hanya kepadaNya lah kita dikumpulkan”
Menilik dari arti do’a tersebut. Kita disunnahkan memuji Allah begitu bangun tidur. Pujian berarti ungkapan rasa terima kasih dan “terima kasih” berarti “syukur”.
Lantas kenapa kita perlu bersyukur setelah bangun tidur?
Bukankah bangun tidur sudah menjadi kebiasaan kita setiap hari jadi untuk apa kita mesti mensyukurinya?
Saya ga akan menjawabnya. Tetapi saya akan balik bertanya. Kalau nyawa atau ruh kamu tetap digenggam Allah dan tidak dikembalikan ke tubuhmu Apakah kamu masih bisa bangun?
Oh iya yaa….
Setelah waktu Subuh datang, kita bergegas untuk melaksanakan sholat subuh. Kewajiban sholat yang sering “membebani” kita. Tapi benarkah kewajiban sholat ini suatu beban?

Karena kita  sedang dalam proses “belajar bersyukur” , mari kita menjalankan sholat subuh sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah karena Allah telah mengembalikan ruh ke dalam jasad kita dan Allah masih memberikan kesehatan serta kesempatan kepada kita untuk menghadapNya. Bukankah sholat adalah “mi’roj” nya orang-orang yang beriman?

Selain sebagai ungkapan rasa “syukur”, kita mesti mengetahui bahwa di dalam melakukan  sholat , kita seolah bercakap-cakap langsung kepada Allah layaknya Rosulullah pada waktu melakukan “mi’roj”. Di dalam sholat ternyata berisi sanjungan dan do’a kepada Allah SWT. Dengan mengetahui bahwa isi sholat adalah sanjungan dan do’a maka marilah kita melakukan sholat dengan “hati yang rela dan lapang”
Dilandasi dengan kerelaan hati.. maka
Plong…. Rasa malas dan terbebani seketika hilang dari dada kita. Sebaliknya kita bisa menjalankan sholat subuh dengan penuh rasa hikmat dan khusyu’.
Alhamdulillah……..
Sungguh jarang sekali kita menyadari bahwa bersyukur itu mudah, kenapa mudah?

Karena Allah selalu menyediakan kesempatan untuk mensykuri ni’matNya setiap saat. Dari bangun tidur sampai kita mau tidur kembali. Sehari semalam yang penuh dengan ni’mat Allah untuk disyukuri.
Suatu contoh ni’mat Allah yang sering terlupakan
Nabi SAW selalu mengajarkan kepada kita untuk berdo’a dalam setiap kesempatan. Bahkan sewaktu masuk kamar kecil pun, Nabi mengajarkan untuk berdo’a. Doa perlindungan dari gangguan setan. Ketika keluar kamar kecil juga dibarengi dengan doa. Doa yang isinya pujian kepada Allah yang telah menghilangkan penyakit dari diri kita dan telah memberikan kesehatan kepada kita.
Subhanallah……….
Lagi-lagi Nabi mengajarkan kepada kita untuk mengungkapkan rasa syukur dan terimaksih kita kepada Allah.
Ketika mau makan kita berdoa memohon agar Allah memberikan keberkahan atas rizqi yang telah diberikanNya kepada kita dan mohon perlindungan dari api neraka. Setelah makan kita berdo’a dengan memuji Dzat yang telah memberi kita makan, minum dan rizqi. Lagi-lagi pujian atau ungkapan rasa terimaksih yang diajarkan Nabi kepada kita.
Bahkan Nabi mengajarkan kepada untuk memulai setiap perbuatan baik dengan ucapan Basmalah dan mengakhirinya dengan bacaan Hamdalah.
Dengan hati yang lapang,  kita bisa mengkaji bahwa sebenarnya ini adalah pembelajaran kepada kita untuk selalu mengaitkan segala kebaikan kepada Allah. Kebaikan yang berupa kesehatan, rizqi, kabar baik, peluang usaha, kesempatan beramal dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kita sebutkan satu-persatu.  Setiap kebaikan yang kita terima adalah atas kehendak Allah yang berarti bahwa Allah peduli dengan kita, Allah menyayangi kita dan Allah selalu bersama dengan kita.

Kalau Allah selalu mempedulikan kita,  Adakah amal yang lebih patut kita lakukan selain  “mengungkapkan rasa syukur”  kita kepadaNya?  Ungkapan rasa syukur dengan hati yang tulus.

Jangan hanya ucapan Hamdalah di mulut tanpa dibarengi perasaan terima kasih dihati. Ucapan yang tidak diiringi ketulusan hati adalah “bagai tubuh tanpa jiwa”. Kosong melompong bagai kepompong.
Apakah kita bisa menipu Allah dengan ucapan Hamdalah di mulut kita? Sedang Allah Maha Mengetahui yang dhohir dan yang batin. Yang kita ucapkan maupun yang kita simpan didalam hati.
Kalau rasa syukur kita adalah syukur yang palsu, maka jangan harap bahwa ni’mat Allah akan ditambahkan kepada kita sesuai janjiNya:
“Jikalau engkau bersyukur, maka akan Aku tambahkan (ni’mat) kepadamu. Dan jikalau engkau kufur (akan ni’matKu), maka sesungguhnya adzabKu adalah sangat pedih”
Buka mata hati, maka jalan “bersyukur” kepada Allah akan selalu terlihat. Kalau ungkapan syukur kita sudah mendarah daging maka mari kita tunggu janji Allah yang akan menambahkan ni’matNya kepada kita, hamba-hamba Allah yang mau “mensyukuri ni’matNya” dengan  hati yang tulus ikhlash.

Berpakaian tapi masih “telanjang”

Pakaian menggambarkan identitas pemakainya. Seorang muslim sejati pasti memakai pakaian yang bisa menutupi auratnya demikian juga seorang muslimah sejati. Pakaian yang bisa menjaga martabatnya sebagai seorang muslim muslimah.
Lantas bagaimana kalau auratnya masih terbuka, apakah berarti bukan muslim sejati?
“Ya betul…. Betul…. betul… “ kata si Ipin
Muslim sejati berarti muslim yang kaffah alias muslim seutuhnya, muslim yang tulen, luar dalam muslim, bukan muslim imitasi.

Koq bicara “dalam-dalam” segala sih…, Maksudnya “dalam” apaan tuh ?
Mangsudnya eh maksudnya ialah dalam hatinya. Bukan dalam perutnya……

Sekarang timbul pertanyaan “Apakah seorang muslim yang sudah berpakaian islami, sudah pasti islami juga “dalamnya” ?

“berpakaian islami” yang bagaimana ? Memakai jubah, sarung, peci dan sorban kaya orang arab begitu maksudnya?
Nggak harus segitunya sih, yang penting berpakaian sopan, rapi yang menutupi auratnya dan kalau wanita memakai jilbab atau lebih jauh lagi memakai cadar…. Gitu loh..

Belum tentu juga sih…
Koq belum tentu, katanya pakaian menggambarkan identitas pemakainya?
Iya juga yaa?
Tapi memang demikian faktanya. Sering kita menjumpai seorang muslim memakai pakaian yang rapi sopan, tetapi ketika adzan berkumandang dia berlagak tidak mendengarnya. Dia masih asyik dengan kesibukannya. Bahkan ketika jam bergulir memasuki waktu sholat berikutnya, dia masih setia menemani kesibukannya tadi. Akhirnya lewatlah waktu sholat tanpa menjalankan sholat. Orang seperti ini tentu saja “dalamnya” belum islami.
Ada lagi orang berpakaian sangat rapi hanya kalau ketemu klien atau pejabat. Sesekali atau mungkin sering kali kita juga berlaku demikian. Ketika akan ketemu lurah, camat, bupati atau presiden kita persiapkan baju yang paling bagus. Tidak jarang kita membeli baju yang baru khusus untuk pertemuan dengan pak pejabat. Baju dan celana yang sudah licin, masih kita gosok untuk membuatnya tetap licin. Sebentar sebelum pertemuan tiba, kita ngaca didepan cermin sepuluh kali bolak-balik. Semua sanak keluarga dipanggil untuk memberi penilaian. Tidak ketinggalan, minyak wangi sebotol habis dalam sekali kesempatan. Begitu pertemuan tiba, seolah tiada yang lebih penting dari pertemuan itu. Sebuah pertemuan yang akan dikenang dan dibanggakan seumur hidupnya.
Sungguh Ironis……………
Ketika adzan berkumandang bersahut-sahutan dari masjid-masjid dan musholla. Adzan sebagai pertanda waktu pertemuan dengan Sang Khaliq, Sang Penguasa alam semesta, Dzat Yang yang memguasai jiwa kita, umur kita, rizqi kita dan yang mengatur seluruh alam semesta.
Dengan bermalas-malasan kita mendatanginya seolah kaki kita dibanduli besi beratus-ratus kilogram. Tidak jarang kita menggerutu memprotes waktu pertemuan yang begitu cepat datang ini. Hati yang penuh gerutu menemani kita menghadap Sang Khaliq. Sarung butut dan kaos oblong lusuh cukup sering menghias tubuh kita. Parfum alami alias bau kecut keringat dengan setia menemani kita, seakan tidak rela untuk dihilangkan dengan mandi atau memakai minyak wangi.
Astaghfirullohal ‘adziem….
Apakah kelebihan pejabat dibanding Sang Khaliq, sehingga kita begitu mengistimewakannya ?

Itu tadi hanyalah sedikit gambaran orang yang identitasnya tidak nampak dari cara berpakaiannya.
Apakah hanya itu saja…?
Mari kita membuka mata dan hati….. , ternyata masih banyak contoh yang bisa kita temukan. Tetapi biarlah itu hanya menjadi rahasia kita masing-masing….
Sekarang kita mencoba mencermati hal lain yang masih berhubungan dengan pakaian..
Kalau kita berjalan di pasar, di mal atau saat menghadiri undangan, sering kita melihat ibu-ibu yang berpakaian rapi. Berkerudung jilbab menunjukkan mereka adalah muslimah. Membuat kita yang melihatnya mengucapkan syukur Alhamdulillah bahwa sebagian besar saudara kita masih peduli akan pakaian muslimah. Tapi sangat disayangkan pakaian muslimah tersebut hanya mereka pakai kalau sedang bepergian saja. Begitu sampai dirumah masing-masing, mereka kembali kehabitatnya semula. Cukup memakai baju daster tanpa kerudung. Atau yang lebih parah lagi, cukup memakai celana pendek dan kaos lekmong. Subhanalloh…..
Bila mereka sedang bepergian, seolah mereka adalah muslimah sejati yang taat ajaran agama. Yang mampu menyejukkan pandangan ditengah-tengah krisis kepribadian. Sungguh disayangkan itu hanyalah kamuflase semata. Bagai bunglon yang berubah-rubah warna kulitnya sesuai lingkungannya. Mereka memakai pakaian muslimah hanya sebatas pakaian saja. Jiwa mereka masih belum muslimah sejati. Ibarat emas mereka bukan emas 24 karat. Kadar mereka masih 22 karat, 10 karat bahkan ada yang hanya emas sepuhan saja .
Koq emas sepuhan….?
Iya emas sepuhan karena mereka hanya bagus dipakaian saja yang berarti hanya bagus diluarnya, sedang didalamnya palsu sama sekali.
Koq ke “dalam-dalam” lagi sih…
Mereka memakai pakaian muslimah kemana-mana, tapi tingkah-laku muslimah tidak pernah keluar dari padanya. Jangankan memberi salam, sholat yang menjadi kewajiban utama, yang bisa membedakan antara seorang kafir dan mu’min, yang nati bakal dihisab pertama di hari kiamat, tidak pernah dikerjakan sama sekali.
Ya Allah…, Ya Rosulallah…. Apakah ini awal dari kehancuran agamaMu atau pertanda apa?
Hanya Engkaulah yang tahu
Memang tidak semua orang “begitu” ….
Tetapi… Prosentasi yang “begitu” sungguh besar.
Apakah kita dan keluarga kita masih akan menambah prosentasi mereka?
Atau…
Kita berusaha memakai pakaian yang menutupi aurat kita sekaligus menyesuaikan tingkah laku kita dengan cara berpakaian kita yang sudah bagus. Sehingga Pakaian kita benar-benar menggambarkan identitas kita sebagai muslim dan muslimah yang bakal memenuhi surga Allah SWT di akherat.

Faithfreedom.org yang menggelikan

Anda kenal Faithfreedom.org ?
Suatu forum yang katanya bukan forum Kristen, tetapi apa kenyataannya…
Isi forum ini semuanya adalah tentang menjelek-jelekkan agama islam, Nabi Muhammad, Alqur’an dan Hadits…
Bagi temen-temen yang akan mengunjungi situs tersebut, mohon persiapkan diri dengan baik, jangan terpancing tulisan-tulisan mereka…
Mereka sengaja membuat tulisan kemudian di replay oleh anggota yang seolah-olah adalah orang muslim (atau memang muslim beneran),  kemudian di replay oleh user lainnya yang kristen yang akhirnya seolah-olah yang muslim kalah argument…dan tidak bisa membalas lagi. Tapi itu hanya akal-akalan mereka karena argument si muslim yang mereka tampilkan jauh sekali dari kebenaran syariat islam yang sebenarnya..
Mereka memang sengaja merusak islam dengan menyebar fitnah yang kebanyakan memang keterlaluan, tapi sebagai seorang muslim yang baik, lebih baik jangan mereplay postingan mereka…
Karena akan Percuma saja, Nggak ada manfaatnya buat kita dam juga buat mereka..
Kalau postingan atau sanggahan kita kuat (dalam arti memojokkan mereka), mereka (admin) akan menghapusnya …
Apalagi kalau sampai meng-KO mereka, sebagai contoh menyertakan ayat-ayat injil untuk menkover serangan fitnahan mereka, maka user kita langsung dihapus oleh adminnya   😀
Saya pernah punya username di Faithfreedom.org dan alhamdulillah dalam waktu 2 jam user saya udah dihapus….  😀  dan semua postingan saya juga sudah dihapus …
Ini Form registrasi saya

form-reg

Sekedar info .

Semoga bermanfaat

Sekelumit tentang Iman , Islam dan Ihsan

Iman, Islam dan Ihsan
Tiga kata yang tidak asing bagi kuping kita, tetapi sangat sulit (kalau ga dikatakan sangat sulit sulit sekali untuk menjabarkannya.
Iman adalah suatu keyakinan dalam hati untuk meyakini dan membenarkan akan adanya Allah, Malaikat-malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rosul-rosul utusan Allah, mempercayai bahwa akan ada hari qiyamat dan akan kepastian dari Allah yaitu kepastian baik dan kepastian buruk. Setelah kita meyakini akan adanya Allah yaitu Dzat yang menciptakan dunia ini dengan segala isinya, maka keyakinan tersebut harus kita ucapkan dengan lisan kita yaitu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan mengucap syahadat berarti kita bersaksi bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak untuk disembah dan bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Apakah cukup hanya diyakini dan diucapkan saja?
Tentu masih kurang sempurna jika anggota badan kita tidak turut mengekspresikannya dengan perbuatan yang nyata. Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).” Dari uraian tersebut bisa diambil suatu kesimpulan bahwa iman adalah satu kesatuan antara hati, lisan dan anggota badan. Keyakinan dalam hati kita akan tercermin dalam ucapan kita dan perbuatan anggota badan kita pun akan menindak lanjuti ucapan yang keluar dari lisan kita. Kalau perbuatan tidak sesuai dengan lisan dan apalagi keyakinan, maka berarti keimanan kita masih dikotori oleh sifat kemunafikan.
Kalau kita yakin bahwa Allah ada, maka menjadi kewajiban kita untuk menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Tindak perbuatan yang menjadi kewajiban kita tergambar dalam rukun islam yang terdiri dari lima macam yaitu:
1. Bersaksi (mengakui) bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah (dua kalimat syahadat.)
2. Mendirikan Sholat.
3. Membayar zakat.
4. Mengerjakan puasa di bulan Romadhon.
5. Berhaji jika mampu.
Iman dan Islam ialah saling melengkapi satu sama lain, kalau kita beriman maka belum sempurnalah keimanan kita sebelum menjalankan kelima rukun islam diatas. Demikian juga kislaman dalam arti menjalankan semua rukun islam, tanpa di landasi dengan keimanan, maka akan sia-sialah perbuatan tersebut. Keislaman tersebut seakan-akan seperti sebuah badan tanpa ruh yang bila dilihat dari luar kelihatan bagus tapi didalamnya kosong melompong tanpa isi bagai boneka tanpa jiwa.
Agar keimanan dan keislaman kita lebih sempurna lagi, maka lakukan ibadah kita seolah-olah kita melihat Allah. Kalau kita tidak bisa melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihat kita. Ibadah yang dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah sedang melihat kita akan terasa lebih khusyu’ dan lebih ikhlash. Kesadaran ini akan menjauhkan kita dari sifat riya’ kepada manusai. Buat apa riya’ pada manusia yang ga ada apa-apanya bila ada yang perlu lebih di riya’i yaitu Dzat yang Maha Agung, Dzat yang Maha Kuasa, Dzat yang Maha segala-gala kebaikannya yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.