Ada apa dengan “Kredit”

Membeli dengan cara kredit kini tengah digandrungi semua kalangan. Mulai dari pekerja kasar sampai orang-orang gedongan. Barang yang bisa dibeli dengan kredit sangat berfariasi. Mulai dari kredit pemilikan rumah, kendaraan bermotor sampai dengan peralatan rumah tangga. Membeli dengan cara kredit memang menawarkan kenyamanan tersendiri.
Dengan cara kredit, orang dengan penghasilan pas-pasan pun bisa memiliki barang yang mereka inginkan. Rumah, motor, televisi, kulkas dan bermacam-macam barang elektronik bisa dimiliki walau  dengan sedikit mengencangkan ikat pinggang karena sebagian atau mungkin setengah dari penghasilan mereka digunakan untuk membayar cicilan. Orang-orang berduit juga lebih suka membeli barang mewah kesenangan mereka dengan cara kredit. Rumah mewah, apartemen mewah sampai  mobil mewah siap dimiliki dengan cara kredit.
Seolah tidak mau ketinggalan ibu-ibu rumah tangga pun berbondong-bondong untuk mengkredit barang yang mereka inginkan. Mulai dari pakaian, kosmetika sampai peralatan rumah tangga. Kalau dahulu mereka malu untuk membeli barang dengan cara mengkredit, sekarang justru bangga kalau kreditannya banyak.
Melihat antusiasme masyarakat untuk mngkredit, pihak perbankan berlomba-lomba untuk menawarkan kartu kredit. Orang yang menawarkan kartu kredit dari bank tertentu bisa kita temui hampir di semua pusat perbelanjaan. Asal kita mau, “kartu sakti” itu bisa kita miliki dengan mudah. Dan selanjutnya dengan semangat 45 bermodalkan selembar “kartu sakti” kita pindahkan isi “super market” ke rumah kita. Dengan dalih tidak mengeluarkan uang sepeserpun mereka menjadi lupa diri memborong semua barang, bahkan barang yang kurang perlupun mereka borong.

Tapi benarkah kita tidak perlu mengeluarkan uang?

Setelah menikmati hasil borongan mereka,  sebulan kemudian mereka mendapatkan selembar tagihan kartu yang setelah dilihat ternyata melebihi penghasilan mereka dalam sebulan. Baru terasa sekarang bahwa kartu kredit bukanlah “kartu sakti” seperti yang dibayangkan semula. Kartu kredit tetaplah kartu kredit dalam arti kartu untuk “menghutang”. Kartu yang menghipnotis untuk berbelanja sebanyak yang mereka mau dan tanpa mereka sadari  mereka sedang menumpuk hutang dibank. Hutang yang harus mereka bayar tiap bulan bahkan pada saat mereka tidak punya uang sepeserpun. Kalau mereka nggak membayar, maka “debt collector” sipenagih hutang dari pihak bank bagaikan “malaikat maut” tidak sungkan-sungkan untuk mendatangi rumah mereka. Datang bukan untuk silaturrahim melainkan untuk memaksa menagih hutang. Mulai terasa sekarang nikmatnya dikejar-kejar hutang. Kemana-mana seolah dibayangi  “debt collector” sang malaikat penagih hutang.
Mempunyai kartu kredit bukan berarti lebih “keren” atau lebih “wah” tetapi sebaliknya berarti “siap menghutang”. “Menghutang” yang dulu tabu sekarang menjadi “kudu”.

“Emang kenapa kalau ngutang…, emang kenapa kalau ngredit…??? duit-duit gua… kredit-kredit gua  ” Syirik aja sih luh…

Ya enggak apa-apa sih…! …tapi….
Sekarang mari kita mencoba melihat “system kredit” dari kaca mata agama.
Kenapa harus kita lihat dari kaca mata agama?

Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering kali kita lupakan.
Kita ini adalah orang islam!
Sebagai orang islam yang bertaqwa sudah tentu kalau segala sesuatu harus kita lihat dari kacamata agama, yaitu dari hukum islam. Hukum islam adalah rel kita menuju kebahagian hidup. Bukan saja hidup di dunia melainkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Pertanyaan pertama yang mesti kita ucapkan adalah:
“Bolehkah  ‘system kredit’ ini dalam agama islam?”
Kata ”boleh” disini kita artikan sebagai halal.
Setelah kita buka buku-buku fiqih, tanya sana sini kepada ustadz dan kyai ternyata memang “system kredit” diperbolehkan agama. Asal kredit tersebut sesuai dengan syarat rukunnya. Dan salah satu syaratnya adalah “harga kredit dengan harga tunai adalah sama”.
Sebagai contoh kalau harga sebuah motor cash (tunai) adalah 12.000.000 kalau dibayar secara kredit selama 12 kali (bulan) maka cicilan perbulan adalah 1.000.000. Tidak lebih.
Kalau dibayar selama 24 bulan maka cicilan perbulan adalah 500.000. Tidak lebih
Selama syarat ini terpenuhi, maka Akad kredit tersebut diperbolehkan.

Sekarang kita tengok kembali “system kredit” yang berlaku di sekitar kita.
Hampir semua “system kredit” dinegara kita adalah system ribawi alias system kredit yang riba.
Sebuah rumah dijual tunai seharga 60 juta bila dikredit 5 tahun ansuran perbulan 1.2500.000
Bila dikredit 10 tahun maka ansuran perbulan 750.000
Mari kita hitung
Total pembayaran (5 tahun) = 5 x 12 x 1.250.000 = 75.000.000
Total pembayaran (10 tahun) = 10 x 12 x 750.000 = 90.000.000

Ternyata TIDAK SAMA

Bukan hanya kredit pemilikan rumah saja, ternyata kredit mobil dan sepeda motor pun demikian.
Harga motor tunai 12 juta bisa menjadi 18 juta bila dibayar dengan kredit.
Penjual baju dikampung-kampung pun sama saja. Mereka biasa menawarkan barang dengan harga yang berbeda antara tunai dan kredit, antara kredit jangka pendek dan kredit jangka panjang.

Menjual barang dengan harga yang berbeda antara tunai dan kredit adalah RIBA.

Bisa dibayangkan bahwa sekarang ini kita hidup dilautan riba….
Rumah yang kita tempati mulai dari yang elit sampai yang RSS dibeli dengan kredit. Rumahnya ngredit, isi rumahpun kredit. Meja kursi penghias ruang tamu, televisi di ruang tengah, tempat tidur dan kulkas semuanya dibeli dengan kredit.Baju yang kita pakai sampai-sampai bedak dan gincu yang menempel diwajahpun kredit semua.Tidak ketinggalan kendaraan yang setia mengantar kemana kita pergi dibeli dengan cara riba.
Sungguh mengherankan bahwa negeri kita tercinta ini, negeri dengan penduduk muslim terbesar didunia, negeri yang mayoritas penduduknya muslim ternyata berada dalam balutan riba. Kalau semua yang melanggar larangan Allah berhak untuk mendapat adzab Allah, maka bukankah negeri ini berhak juga untuk diadzab?
Na’udzubillaahi min dzalik….
Terus sekarang Apa yang bisa kita lakukan dengan “system kredit”?
Apa kita harus mengerahkan massa menuju gedung DPR untuk demo “pelarangan system kredit”?
Siapa yang mau diajak demo, “orang sebagian besar kita” adalah tukang “ngredit”. Bisa-bisa mereka mengadakan demo tandingan dengan massa yang beratus kali lebih banyak.
Mungkin kita mesti tahu apa latar belakang mereka meng”kredit”. Apa karena memang nggak tahu hukum kredit adalah riba atau karena apa?
Saya pernah bertanya kepada beberapa orang yang “suka ngredit”: Mengapa membeli barang dengan cara kredit ?
Jawaban mereka bermacam-macam, tapi sebagian besar menjawab: “Yah kalau nggak begini, kapan lagi kita bisa punya rumah”
Atau “Kalau nggak ngredit, nggak bakalan kita punya barang.” Ada lagi yang menjawab: “Enak sih.., nggak terasa ngeluarin duitnya..”

Kalau kita tanyakan “Kenapa nggak nabung dulu aja?”
Jawabannya adalah “Kalo nyimpen duit mah susah, boro-boro terkumpul … yang ada juga kepakai buat belanja…”
Terus kalau ditanya: “Apakah nggak tahu kalau kredit itu dosa”?
Jawaban mereka: “Halah… kyai dan ustadz aja banyak yang ngredit.”
Sebuah jawaban yang tidak berdasar, jawaban yang bisa diartikan “masuk neraka juga nggak apa-apa, kyai dan ustadznya juga masuk meraka”

Memang perlu komitmen yang kuat untuk bisa membeli barang dengan jalan menabung terlebih dahulu. Banyak hambatan dan godaan yang kita temui. Walaupun banyak hambatan tetapi sebenarnya ada nikmat yang tersenbunyi dibaliknya.
Dengan jalan menabung , kita menjadi sering berdo’a dan berharap kepada Allah. Berharap agar Allah selalu menambah rejeki kita dan berharap agar tujuan kita cepat tercapai. Bila barang yang kita inginkan bisa kebeli, kita juga tidak lupa bahwa itu adalah atas pertolongan Allah. Dengan begitu Insya Allah barang yang kita miliki penuh dengan berkah. Berkah karena kita peroleh dengan usaha dan do’a kepada Allah dan dengan pertolongan Allah.

Kembali lagi ke pertanyaan “apa yang mesti bisa kita lakukan tadi”
Sebagai pribadi muslim yang bisa lakukan adalah kita jangan sampai membeli dengan “system kredit” riba. Perlu juga untuk menjaga agar keluarga kita juga “steril” dari kredit. Dan akhirnya ucapkan syukur alhamdulillah bahwa kita masih dijaga oleh Allah dari “mengkredit”.
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ’AALAMIIEN..
Perlu menjadi pegangan kita juga:
Kalau sekarang kita hidup dijaman riba, apakah kita juga mesti ikut-ikutan ber-riba ria… ?
Kalau orang disekeliling kita semua berbondong-bondong meng”kredit” dengan system riba apakah kita juga harus mengkredit… ?
Kalau orang-orang masuk neraka gara-gara kredit apakah kita juga harus ikut keneraka….?
Apa salahnya kalau kita nabung terlebih dulu untuk membeli barang yang kita inginkan.?
Apa salahnya kalau kita menahan diri sementara waktu untuk memiliki barang yang kita inginkan..?
Apa salahnya kita mendahulukan ajaran agama daripada sekedar keinginan terburu-buru untuk memiliki suatu barang..?

Apakah barang tersebut demikian berarti sehingga mampu memalingkan mata kita dari ajaran agama?”

Apakah memang kita sudah tidak takut lagi akan neraka ? Neraka yang diciptakan Allah untuk menghukum hambanya yang tidak menurut perintahNya, hamba yang melanggar laranganNya.
Dan salat satu laranganNya adalah RIBA.

Wallohu A’lam bisshowab

Bahan Kajian

عن جابر، قال:
لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا، وموكله، وكاتبه، وشاهديه، وقال: هم سواء

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba dan dua orang saksinya. Kedudukan mereka itu semuanya sama.” (HR. Muslim)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(QS Albaqoroh:275)

Iklan

17 Tanggapan

  1. ass. ww. saya pernah dengar ceramah ustad ahli sunah waljamaah di siaran radio roja, bahwa hutang/kredit barang dalam waktu (misal : 10 bulan / 12 bulan) dengan mengambil keuntungan sekian persen perjanjian dimuka dengan orang yang menghutang diperbolehkan menurut sar’i, tetapi setelah membaca artikel ini saya jadi bimbang, karena istri saya menghutangkan barang dan mengambil keuntungan berarti ini riba (jika tidak diberi hutang tetangga merasa tidak dipercaya dan timbul marah kepada istri saya). mohon tanggapan atas ceramah ustad ahli sunah waljamaah tersebut di atas. terima kasih wassalamualaikum ww.

  2. Wassalamu’alaykum wr. wb.
    Maaf sekali kalau saya tidak mengikuti ceramah tersebut sehingga tidak tahu persis apa dan bagaimana isi ceramah tersebut.
    Sebenarnya mengkredit atau menghutangkan barang dengan mengambil keuntungan boleh asal harga kredit sama dengan harga cash.
    Sebagai contoh:
    Saya berniat mengkreditkan barang yang ditoko dijual 1juta kepada fulan misalnya.
    Kemudian saya pergi ketoko tsb sendiri atau bersama fulan. Barang tsb saya beli seharga 1 juta dari toko. Setelah akad jual beli dengan toko selesai, saya jual lagi barang tersebut ke fulan seharga 1 juta seratus ribu. Si fulan boleh bayar cash atau kredit.
    Harga cash 1 juta seratus kredit pun sama saja yaitu 1 juta seratus ribu (tinggal dibagi berapa kali kreditan).
    Kalau dikredit 10 kali(bulan) berarti kreditan per bulan 110 ribu.
    Wallahu A’lam bisshowab.
    Wassalamu’alaykum wr. wb.

  3. Assalamualaikum wr wb..
    Mohon maaf saya mau nanyakan apakah ada dalil yang pasti yaitu hadist yang mengatakan kredit mengkredit barang termasuk dalam katagori riba walaupun mengambil untung yg sedikit.. Soalnya banyak pendapat yg bertentangan.. Ada yg melarang tapi ada yg membolehkan..

  4. Ulama berbeda pendapat ulama tentang sistem kredit ini.
    Mungkin perbedaan membawa berkah berlaku pada hal ini. Kita sebagai orang awam tinggal mengikuti paham ulama yang mana, mungkin penulis mengikuti pendapat yang mengharamkan, sedang kalau kita mengikuti pendapat yang menghalalkan juga tidak apa-apa asal kita tahu persis dasar-dasarnya dan mengikuti syarat-syaratnya.

    Coba baca kajian ini:
    http://www.syariahonline.com/v2/ekonomi-islam-a-muamalat/kredit-barang
    http://www.syariahonline.com/v2/ekonomi-islam-a-muamalat/jual-beli-secara-kredit

    semoga bermanfaat

  5. Berarti smua org yang kerja di bank haram dong.sy pernah ngurus pinjaman rumah di bank syariah juga beda hargax lbh mahal kredit.sama dg bank konfensional..

  6. Assalamu’alikum…
    Saya orang awam…
    Kredit = dosa, itu seperti apa?
    Bukankah riba yang diharamkan itu riba dalam transaksi yang persamaan jenis, seperti pinjam uang 1jt dibayar uang 1,5jt. Pinjam uang VS uang (sejenis).
    Apakah kredit barang juga sejenis. Contoh Motor VS Uang.
    Mohon pencerahan! Sukron..

  7. Wa’alaikumussalam..
    Kredit=Dosa , itu tidak betul
    Dalam muamalah islampun di perbolehkan membeli barang dengan cara di cicil alias kredit.
    Misalnya kita beli motor seharga 12 juta kita bayar per bulan 1jt
    selama setahun. Hal ini tidak masalah.

    Lain halnya kalau kita beli motor melalui leasing.
    Kalau kita beli motor secara kas 12 juta
    kalau kita beli dicicil 12 kali harganya jadi sekitar 14 jutaan
    kalau dicicil 24 bulan harganya menjadi 17 jutaan
    Kalau dicicil lebih lama maka jumlahnya akan semakin bertambah karena ada bunga yang harus dibayar oleh pembeli. Ini yang dilarang.

    Walloohu A’lam dishshowab

  8. kalau sy sdh terlanjur mngambil kreditan sepeda bagaimana dong?

  9. Kalau bisa dilunasin lebih baik dilunasi, kalau tidak bisa ya udah yang sudah terlanjur asal jangan diulangi lagi dan banyak memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Pengampun.

  10. 1. Jual beli secara taqsith/kredit adalah mustahab (sunnah,dianjurkan) bila dilakukan dengan maksud memudahkan pembeli sesuai dengan apa yang mencocoki keadaannya. Rasulullah shollallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
    رَحِمَ اللهُ عَبْدًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ , سَمْحًا إِذَا اشْتَرَى , سَمْحًا إِذَا اقْتَضَى
    “Allah merahmati seorang hamba yang samhan (pemurah hati,toleran) bila membeli, samhan bila menjual (dan) samhan bila memberi keputusan”. (HR. Al-Bukhary)

    2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlangsung atas dasar suka sama-suka di antara kamu”. (QS. An-Nisa` : 29)
    Sisi pendalilan : Jual beli dengan cara taqsith adalah transaksi yang berlangsung atas dasar suka sama suka, berarti jual beli secara taqsith ini adalah boleh menurut nash ayat.

    3. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
    مَنْ أَسْلَفَ فِيْ تَمْرِ فَلْيُسْلِفْ فِيْ كَيْلٍ مَعْلُوْمٍ وَوَزْنٍ مَعْلُوْمٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُوْمٍ
    “Siapa yang yang memberi salaf pada korma maka hendaknya memberi salaf pada takaran yang dimaklumi dan timbangan yang dimaklumi sampai waktu yang dimaklumi”. (Lafazh di atas bagi Imam Muslim)
    Hadits diatas menunjukkan bolehnya As-Salam atau As-Salaf yaitu transaksi pada suatu barang yang maklum ; jelas sifatnya dan bentuknya, dibayar didepan kepada si penjual dan diambil pada waktu yang telah disepakati.
    Contoh : Seperti penjual roti yang telah membayar harga 3000 buah roti tertentu kepada pabrik roti dengan perjanjian ia mengambilnya dari pabrik roti sebanyak 100 buah roti setiap harinya selama 30 hari.
    As-Salam atau As-Salaf ini adalah diperbolehkan dalam syari’at Islam menurut kesepakatan para ulama.
    Dari uraian diatas, di tarik suatu pendalilan tentang bolehnya jual beli secara Taqsith karena ia merupakan kebalikan dari As-Salam atau As-Salaf. Dan pada keduanya ada kesamaan jenis dari sisi adanya perbedaan antara harga dan barang, yaitu pada As-Salam atau As-Salaf, pembeli menyerahkan harganya kepada penjual dan mengambil barangnya selang beberapa waktu kemudian sesuai dengan perjanjian guna mendapatkan potongan harga semantara jual beli secara taqsith penjual menyerahkan barang kepada pembeli dan dibayar secara berangsur guna mendapat tambahan harga.

    4. Allah Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ
    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqorah : 282)
    Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma : “Ayat ini turun pada As-Salam secara khusus”.
    Berkata Al-Qurthuby : “Maknanya bahwa Salam penduduk Madinah adalah sebab (turunnya) ayat, kemudian ia mencakup seluruh hutang piutang menurut Ijma’ (kesepakatan ulama,-pent.).”
    Dan Al-Qurthuby juga berkata : “Hakikat hutang adalah sebuah ibarat bagi setiap mu’amalah yang salah satu dari dua barang adalah kontan dan yang lainnya secara berangsur dalam tanggung jawabnya karena barang menurut orang Arab adalah apa-apa yang hadir dan hutang adalah apa yang ghaib (tidak ada di depannya,-pent.)…”.

    5. Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau berkata :
    جَاءَتْ بَرِيْرَةُ فَقَالَتْ إِنِّيْ كَاتَبْتُ أَهْلِيْ عَلَى تِسْعِ أَوَاقٍ فِيْ كُلِّ عَامٍ أَوْقِيَةٌ فَأَعِيْنِيْنِيْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ إِنْ أَحَبَّ أَهْلُكِ أَنْ أُعِدَّهَا لَهُمْ عُدَّةً وَاحِدَةً وَأُعْتِقَكِ فَعَلْتُ وَيَكُوْنُ وَلَاؤُكِ لِيْ فَذَهَبْتُ إِلَى أَهْلِهَا فَأَبَوْا ذَلِكَ عَلَيْهَا فَقَالَتْ إِنِّيْ قَدْ عَرَضْتُ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ فَأَبَوْا إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ الْوَلَاءُ لَهُمْ فَسَمَعَ بِذَلِكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَنِيْ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ خُذِيْهَا فَأَعْتِقِيْهَا وَاشْتَرِطِيْ لَهُمُ الْوَلَاءَ فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ
    “Bariroh datang kepadaku lalu berkata : “Sesungguhnya saya melakukan mukatabah (2) terhadap keluargaku (tuanku,-pent.) dengan sembilan auqiyah, pada tiap tahunnya satu auqiyah (3) maka bantulah saya”. Maka ‘Aisyah berkata : “Kalau keluargamu suka aku akan menyiapkan persiapan sekaligus bagi mereka dan saya membebaskanmu, maka saya akan kerjakan dan hendaknya wala`mu adalah milikku”. Maka ia (Bariroh) pergi kepada keluarganya dan mereka enggan hal tersebut atasnya. Kemudian ia (Bariroh) berkata (kepada Aisyah,pent) : “Saya telah menawarkan hal tersebut pada mereka dan mereka enggan kecuali wala`nya untuk mereka”. Maka hal tersebut didengar oleh Rasulullah shollallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam lalu beliau bertanya kepadaku maka saya kabarkanlah hal tersebut kepadanya maka beliau bersabda : “Ambillah ia dan bebaskanlah serta syaratkan wala` terhadap mereka karena sesungguhnya wala` itu bagi siapa yang membebaskan.”
    Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah : “Dan berdasarkan kisah Bariroh yang tsabit (tetap,pasti) dalam Ash-Shohihain, karena Ia (Bariroh) menebus dirinya dari tuannya dengan (harga) sembilan auqiyah pada setiap tahunnya satu auqiyah dan ini adalah jual beli secara taqsith. Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal tersebut bahkan beliau menetapkannya dan tidak melarang darinya. Dan tidak ada perbedaan antara harganya semisal dengan (harga) barang tersebut dijual dengannya secara kontan atau lebih dari hal tersebut karena (kelonggaran) waktu”. (Dari Fatawa Islamiyah 2/239 dengan perantara kitab Bai’ul Murabah Lil Amiri Bisy Syira` karya DR. Hisamuddin ‘Ifanah.)
    Berkata Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh : “Didalamnya terdapat dalil tentang bolehnya jual beli secara taqsith karena Bariroh menebus dirinya secara taqsith sampai sembilan auqiyah, pada setiap tahun satu auqiyah…”. Dari Syarah Kitabul Buyu’ Bulughul Maram.

    YANG TIDAK BOLEH
    1. Transaksi jual beli secara taqsith yang dibolehkan tentunya bukan pada barang rabawy yang memiliki ‘illat yang sama. Sebab sebagaimana telah dijelaskan dalam volume yang telah lalu bahwa dua barang rabawy yang sama dalam ‘illatnya namun berbeda jenisnya, maka dalam penukaran antara satu jenis dengan yang lainnya disyaratkan harus saling pegang dan pada saat itu juga (kontan). Maka tidak boleh –misalnya- mencicil emas dengan menggunakan mata uang, sebab keduanya adalah barang rabawy dan memiliki ‘illat yang sama yaitu muthlaquts tsamaniyah (mempunyai nilai tukar dalam transaksi jual-beli) sehingga harus kontan tidak boleh secara kredit atau berangsur.

    2. Tidak diperbolehkan penjual menetapkan denda materi terhadap pembeli bila terjadi keterlambatan pembayaran setelah jatuh tempo, sama sekali tidak diperbolehkan walaupun penetapan denda terjadi sebelum akad transaksi karena hal tersebut tergolong riba jahiliyah. Adapun denda yang berkaitan dengan badan seperti dipenjara atau semisalnya maka hal tersebut diperbolehkan, tentunya dengan melalui mahkamah syari’at. Demikian kesimpulan Fatwa Syaikh Syaikh ‘Abdulllah bin ‘Abdurrahman Jibrin dan keputusan Majlis Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy dalam keputusan no. 51 (2/6) pada point ketiga dan keempat.

    3. Tidak boleh seorang penjual memanfaatkan banyaknya kebutuhan manusia untuk meninggikan harga sehingga menjadi sangat mahal.

    Muslim yang paling baik adalah orang yang menerapkan hadits Rasulullah shollallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam berikut ini :
    إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً
    “Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baiknya dalam menunaikan”. (HR. Muslim dari Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu dan Riwayat Al-Bukhary dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

  11. Terimaksih banyak atas uraian panjang lebarnya.
    Semoga bermanfaat. Amien

  12. Bagaimana hukum atas barang yg dibeli menggunakan kartu kredit.contoh beli tv hp pakai kartu krexit bank konvensional…apakah haram…..trus kalau haram apa yg harus dilakukan atas barang tersebut…

  13. Asalkan dibeli dengan kredit tanpa bunga … sepengetahuan saya , boleh-boleh saja digunakan (mungkin saya salah).

    Barang yang telah terlanjur dibeli dengan cara kredit disertai bunga, kalau bisa … langsung di lunasi saja.
    Kalau tidak bisa, barangnya dimanfaatkan saja seperti biasa kemudian bertobat memohon ampunan kepada Allah dan jangan mengambil lagi kredit yang baru.

    Walloohu A’lam

  14. pak mau tanya….ibuk saya kan berdagang pupuk….dengan cara membayar setiap panen tetapi ibuk saya mendapat untung yg lebih.tidak menjual pupuk dengan tunai….itu riba apa g pak

  15. pak mau tanya….ibuk saya kan berdagang pupuk….dengan cara membayar setiap panen tetapi ibuk saya mendapat untung yg lebih.tidak menjual pupuk dengan tunai….itu riba apa g pak
    note……ibuk saya beli di agen pupuk misalnya diagen 100000….dijual dengan harga 120000……tetapi mbayar nya waktu panen itu masuk riba g pak…….

  16. pak mau tanya….ibuk saya kan berdagang pupuk….dengan cara membayar setiap panen tetapi ibuk saya mendapat untung yg lebih.tidak menjual pupuk dengan tunai….itu riba apa g pak
    note……ibuk saya beli di agen pupuk misalnya diagen 100000….dijual dengan harga 120000……tetapi mbayar nya waktu panen itu masuk riba g pak…….
    sedangkan orang desa saya kalo beli diagen itu 100000 tunai……tetapi ibuk saya g jualan secara tunai gimana pak …mohon pencerahannya

  17. Menjual dengan kredit atau tempo diperbolehkan dalam syariat islam.
    contohnya
    Saya punya pupuk 1 kwintal harganya 120rb, silakan mau dibayar sekaligus atau mau dicicil 2 kali 60rb , 60 rb.
    atau
    Saya punya pupuk 1 kwintal harganya 120rb, silakan dibeli bayarnya boleh bulan depan atau nanti ketika panen.

    Kalau ibu saudara menjualnya dengan cara tempo yaitu cara yang kedua, maka tidak ada masalah (bukan riba) walaupun dia menjualnya lebih mahal dari agen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: