Sekelumit tentang Iman , Islam dan Ihsan

Iman, Islam dan Ihsan
Tiga kata yang tidak asing bagi kuping kita, tetapi sangat sulit (kalau ga dikatakan sangat sulit sulit sekali untuk menjabarkannya.
Iman adalah suatu keyakinan dalam hati untuk meyakini dan membenarkan akan adanya Allah, Malaikat-malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rosul-rosul utusan Allah, mempercayai bahwa akan ada hari qiyamat dan akan kepastian dari Allah yaitu kepastian baik dan kepastian buruk. Setelah kita meyakini akan adanya Allah yaitu Dzat yang menciptakan dunia ini dengan segala isinya, maka keyakinan tersebut harus kita ucapkan dengan lisan kita yaitu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan mengucap syahadat berarti kita bersaksi bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak untuk disembah dan bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Apakah cukup hanya diyakini dan diucapkan saja?
Tentu masih kurang sempurna jika anggota badan kita tidak turut mengekspresikannya dengan perbuatan yang nyata. Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).” Dari uraian tersebut bisa diambil suatu kesimpulan bahwa iman adalah satu kesatuan antara hati, lisan dan anggota badan. Keyakinan dalam hati kita akan tercermin dalam ucapan kita dan perbuatan anggota badan kita pun akan menindak lanjuti ucapan yang keluar dari lisan kita. Kalau perbuatan tidak sesuai dengan lisan dan apalagi keyakinan, maka berarti keimanan kita masih dikotori oleh sifat kemunafikan.
Kalau kita yakin bahwa Allah ada, maka menjadi kewajiban kita untuk menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Tindak perbuatan yang menjadi kewajiban kita tergambar dalam rukun islam yang terdiri dari lima macam yaitu:
1. Bersaksi (mengakui) bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah (dua kalimat syahadat.)
2. Mendirikan Sholat.
3. Membayar zakat.
4. Mengerjakan puasa di bulan Romadhon.
5. Berhaji jika mampu.
Iman dan Islam ialah saling melengkapi satu sama lain, kalau kita beriman maka belum sempurnalah keimanan kita sebelum menjalankan kelima rukun islam diatas. Demikian juga kislaman dalam arti menjalankan semua rukun islam, tanpa di landasi dengan keimanan, maka akan sia-sialah perbuatan tersebut. Keislaman tersebut seakan-akan seperti sebuah badan tanpa ruh yang bila dilihat dari luar kelihatan bagus tapi didalamnya kosong melompong tanpa isi bagai boneka tanpa jiwa.
Agar keimanan dan keislaman kita lebih sempurna lagi, maka lakukan ibadah kita seolah-olah kita melihat Allah. Kalau kita tidak bisa melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihat kita. Ibadah yang dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah sedang melihat kita akan terasa lebih khusyu’ dan lebih ikhlash. Kesadaran ini akan menjauhkan kita dari sifat riya’ kepada manusai. Buat apa riya’ pada manusia yang ga ada apa-apanya bila ada yang perlu lebih di riya’i yaitu Dzat yang Maha Agung, Dzat yang Maha Kuasa, Dzat yang Maha segala-gala kebaikannya yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.

2 Tanggapan

  1. mkasih ilmu nya ,.

  2. mksih ilmunya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: