Jamarat (Jumroh) dulu dan kini

Jamarat-Jamaraat-Hajj

 

 

 

 

 

 

 

 

 

jamarat1

 

 

 

 

 

 

 

 

jamarat2

 

 

 

 

 

 

 

jamarat3

 

 

 

 

 

 

 

jamarat4

 

 

 

 

 

 

 

jamarat8

 

 

 

 

 

jamarat5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

jamarat10

 

 

 

 

 

 

 

jamarat9

 

 

Ketika shalatku hanya sekedar rutinitas untuk setor muka kehadapan illahi

Sebenarnya ini rahasia lhooo…namun dengan sangat terpaksa saya menceritakannya padamu…hanya padamu….

 

Shalat yang mana …???

 

Ya shalat fardhu…….

Shalat yang merupakan rukun islam kedua.

Shalat yang kita lakukanlimakali dalam sehari semalam.

Itulah shalat yang saya maksud.

 

Kalau shalat yang itu , ya memang sebuah rutinitas yang kita lakukanlimakali sehari. Memang ada yang salah…?

 

Ga ada siih…

 

Kalau ga ada … kenapa ngomongin eh nulis masalah rutinitas segala…, jangan sok tahu dong !!

Emang situ tahu kalau shalat saya tidak lebih hanya untuk setor muka saja..?

 

Enggak…dan enggak sok tahu…. Sebenarnya saya hanya mengaca pada pribadi saya sendiri dan sesekali membandingkannya dengan orang lain. Dan ternyata …. shalat saya itu kebanyakan hanya sekedar setor muka saja dan sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Sekedar takut dicap sebagai orang yang enggak pernah shalat doing….thok…titik.

 

Bagaimana tidak….???

 

Sssst saya mau cerita dikit yaaa… tapi jangan bilang siapa-siapa yaa…

Ini pengalaman saya berkenaan dengan shalat…tapi jangan diikuti yaa..

 

Seriiiiing sekali saya menjalankan shalat ketika adzan telah berkumandang satu jam sebelumnya bahkan tidak jarang saya menjalankan shalat isya’ ketika malam sudah menjelang pagi kemudian disambung dengan shalat subuh.

 

Mungkin ada yang nanya (Koq bisa…???)

 

Soalnya ketika adzan sedang berkumandang seringkali saya sedang diperjalanan dan begonya (eh bego saya) ….mau mbelokin kendaraan ke masjid atau musholla koq yaaa beratnya minta ampun.

Adaaja alasannya…..

ahh sebentar lagi nyampe lah…

ahh ntar sepatuku ilang  kalau mampir ke masjid…atau parahnya mobilku motorku yang ilang..

ntar aja lah shalat di rumah.. biar lebih khusyu’..

Begitu sampai di tujuan (rumah)… ehh ternyata masih ada aja (alasan) yang menghambat untuk segera shalat

Masihcapelah, masih keringatan lah, ngaso sebentar lah, laper lah, ngopi dulu lah …

 

Dannn…Ketika waktu shalat mendekati finish baru aku bergegas mengambil air wudlu…itupun dengan setengah hati dan kemudian mulai shalat.

Allooohu Akbar bacaan takbirotul ihrom keluar dengan lancar dari mulutku… setelah itu bacaan demi bacaan shalat meluncur dari mulutku seperti mobil melaju kencang dijalan tol saking apalnya. Gerakan shalat di lanjutkan dengan gerakan berikutnya mengalir bagai air sungai Cisadane.

Seperti biasa …karena sudah terlalu hapal bacaan dan gerakannya …, anganku langsung melayang begitu takbirotul ihrom selesai kuucapkan. Pikiranku mengembara bagai burung yang lepas dari sangkarnya. Melayang membayangkan betapa sibuknya aku hari ini…, begitu menariknya acara TV tadi , begitu serunya pertandingan olah raga semalam…, bagitu asyiknya tadi bersenda gurau dengan kawan ketika istirahat…begitu enaknya ketika makan tadi…begitu eneknya ketika diomelin atasan tadi…dan tanpa terasa aku sudah selasai membaca tahiyat akhir… maka aku akhiri shalatku dengan mengucapkan salam. Assalaamu’alaikum warohmatulloohh.

Selesailah shalatku kali ini dan selesai juga pengembaraan pikiranku membayangkan kejadian-kejadian dihari ini.

 

Mendengar ceritaku tadi mungkin ada yang komentar begini:

 

Emang kamu enggak pernah ngaji !! shalat koq macam “kutu kupret”  begitu……

Heehehehe….  kutu kupret itu makanan apaan sih…

 

Sebenarnya sih sudah sering aku mengikuti pengajian tentang shalat bahkan sudah banyak buku yang saya baca tentangnya.

Aku masih inget pak ustadz :

Waktu yang paling afdhal (utama) untuk menjalankan shalat ialah di awal waktu. Maka bersegeralah untuk shalat ketika adzan sudah dikumandangkan.

Rasanya sudah hapal aku akan bab ini.…tetapi anehnya …kenapa yaa shalat saya masih menjelang garis finish melulu.

 

Pak ustadz juga sering ngomong bahwa supaya bisa menjalankan shalat dengan khusyu’ hendaklah memulai dengan berwudhu secara lahir bathin.

Berwudhu secara lahir ialah wudhu seperti biasa kita lakukan yaitu untuk membersihkan anggota badan kita dari hadats kecil.

Wudhu bathin ialah untuk membersihkan dosa-dosa dari seluruh anggota badan kita. Ketika sedang membasuh muka kita mohon ampunan dari segala dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh yang ada di muka. Dosa dari penglihatan , pendengaran, dosa dari penciuman dan  perkataan-perkataan. Ketika membasuh tangan kita memohon ampunan dari dosa yang dilakukan tangan kita begitu seterusnya sampai membasuh kaki.

 

Dilain waktu saya juga pernah mendengar seorang kyai membacakan sebuah hadits yang mengatakan bahwa shalat adalah mi’rojnya seorang mukmin.

Dalam penjelasanya kyai tersebut mengatakan bahwa shalat itu mempunyai nilai yang sangat luar biasa. Ketika kita sedang shalat berarti kita sedang menemui Allah dan menghadap-Nya seolah-olah kita sedang berbicara langsung kepada-Nya.

Shalat seolah menjadi media bagi kita untuk bisa langsung bercakap-cakap dengan Sang Maha Penguasa alam semesta. Sungguh hebat sekali ibadah shalat ini.

Saya juga pernah mendengar penjelasan tentang ihsan yaitu hendaknya kita beribadah (shalat) seolah-olah kita sedang melihat Allah atau setidaknya Allah pasti melihat kita sedang melakukan shalat.

Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dengan berbekal ini saja seharusnya shalat kita bisa lebih bernilai.

Bayangkan betapa indahnya shalat kita, apabila ketika kita mengucap takbir kita bisa merasakan bahwa Allah mendengar takbir kita. Ketika kita membaca Fatihah, kita merasa Allah mendengarkan dan memperhatikan shalat kita. Ketika kita ruku’ , I’tidal sujud, duduk, tahiyat dan salam kita bisa merasa bahwa Allah mendengar bacaan kita dan mengetahui isi hati kita serta segala gerakan kita.

Ooohhhh…….sunguh indah dan dahsyat rasanya….

Coba bayangkan apa yang bakal terjadi…..Ketika kita sedang melakukan perbuatan apapun, rasa tadi……perasaan bahwa Allah mendengar dan mengetahui perbuatan kita bisa selalu menemani kita.

Sungguh sangat sulit merangkai kata-kata untuk menggambarkannya.

……………………………………….

……………………………………..

 

Tapi sayang…sungguh…sayang sekali..

Pengetahuan yang sedikit tadi seakan menguap sirna ketika tiba waktunya untuk menjalankan shalat…Entah setan mana yang menggoda dan menghilangkan segala pengetahuan tadi… aku enggak tahu.

 

Itulah sedikit rahasiaku yang sebenarnya “SANGAT MEMALUKAN” untuk diceritakan…

Namun dari pada aku nanti lebih malu ketika amalan shalatku di hisab di hadapan Tuhan Robbul ‘Izzati lebih baik aku malu sekarang mengungkapkannya padamu…

Tapi tolong yaa…jangan diceritakan pada orang lain…biarlah menjadi rahasia kita berdua…

 

 

Mengapa kita masih membohongi Allah

Allah koq di bohongi.. siapa yang berani ?

bila kita menjawab dengan logika (hati nurani) kita,    tentu saja enggak ada yang berani.

Selain enggak ada yang berani tentu saja enggak ada yang bisa dan enggak mungkin untuk membohongiNya karena Dia adalah Dzat yang Maha Mengetahui.

 

Kaya gitu aja ditulis……., semua orang juga tahu…

hehehe… maaf yaa..  udah terlanjur ketulis , masa dihapus lagi …

 

Memang.., kalau kita menggunakan logika (hati nurani) kita , kita tidak akan pernah membohongi Allah dan tidak akan berani berbohong kepada Allah. Apalagi kita termasuk hamba Allah yang bertaqwa yang selalu mengerjakan perintahNya dan selalu menjauhi laranganNya (kalau enggak sedang lupa)

Tiap hari kita ngaji (belajar , ta’lim…  red ), membaca Alqur’an tidak pernah ketinggalan.. , puasa sunah rajin… sholat wajib enggak pernah ketinggalan,…sholat sunah pun jarang ketinggalan. Membayar zakat, infaq dan  sodaqoh tidak pernah lupa .. bagaimana mungkin kita membohongi Allah?

 

Sebagai orang yang bertaqwa, segala macam ibadah memang sudah masuk dalam urat nadi kita. Nggak ada istilah males apalagi terpaksa, semua sudah berjalan mengalir bagai aliran air di sungai….

Oleh karena itu judul tulisan saya “Mengapa kita masih membohongi Allah” jangan diambil hati.

 

Yaa diambil hati dong… kan hati saya tersinggung… makanya kalau nulis hati-hati..

 

Koq sampai ke hati – hati segala sih….tadi kan kita bicara tentang membohongi Allah ?

Kenapa sampai ke masalah hati ?

Yaa elu sih… asal nulis  aja .

 

OK deh karena udah terlanjur bikin judul tentang “membohongi Allah” , maka saya akan mencoba meneruskannya…. (jangan marah yaa…. )

 

Sekarang !  mari kita tanyakan pada hati kita “apakah kita tidak pernah membohongi Allah ?”

Hati kita pasti akan memberi jawaban dengan jujur ….

Dan jawaban itu akan menjadi rahasia pribadi kita masing-masing…

Banyak dari kita yang menjawab dengan tegas tidak pernah berbohong kepada Allah.

Sebagian dari kita mungkin akan menyangkal bahwa kita pernah membohongi Allah, sebagian lagi mungkin ragu-ragu dan mungkin juga ada yang mengakui dengan terus-terang bahwa kita pernah dan bahkan ada yang sering membohongi Allah ….

 

Lho koq….. (jangan ngada-ada  luuh …!)

 

Kalau kita mau jujur sejujur hati kita, mungkin kita akan mengakui bahwa kita sering membohongiNya, bahkan sampai lima kali sehari…

?????….???

 

Iya betul… lima kali dalam sehari semalam dan anehnya hal itu terjadi pada waktu kita sedang beribadah yaitu pada waktu sholat.

Setiap kita sholat kita selalu membaca do’a iftitah. Do’a yang pertama kali kita baca didalam shalat sekaligus do’a yang berisi tentang pengakuan kita sebagai hamba Allah.

 

Bacaan kita pertama kali adalah Allahu Akbar kabiiroo …………..

Dengan mengucapkan kalimat ini berarti kita mengagungkan Allah. Allah Maha Besar tidak ada sesuatupun yang melebihi kebesaran Allah.

Kita perlu bertanya kembali pada hati kita “benarkah kita sudah me-Maha Besarkan Allah?”

Apakah kita sudah mengucapkan takbir tersebut dengan setulus hati atau….  hanya sebatas ucapan dimulut saja.?  Mulut kita bertakbir tetapi hati dan pikiran kita sibuk mengerjakan tugas kita yang belum selesai. Mulut bertakbir tetapi hati dan pikiran kita terbang melayang berbelanja ke mall. Mulut bertakbir tetapi hati dan pikiran kita sedang nonton TV atau ngobrol dengan teman kita. Atau lebih parah dari itu,  mulut kita bertakbir tetapi hati dan pikiran kita sedang berzina dengan para artis dan selebritis. Na’udzu billah.

”Apakah ini namanya bukan membohongi Allah?” atau malah bisa dikatakan mengejek Allah atau mempermainkan Allah.

 

tapi kan …..?????

 

Itu baru kebohongan kita saat kita mengucap takbir saja.

Belum lagi  kalau dilihat dari keseharian kita…… Kita berikrar bahwa Allah Maha Besar tetapi kita masih mengagung-agungkan pangkat, jabatan dan kedudukan,   masih membangga-banggakan status sosial, kepandaian, kekayaan, masih suka meremehkan orang lain apalagi yang statusnya dibawah kita. Padahal mereka semua adalah sama-sama ciptaan Allah…. Yang tidak menutup kemungkinan bahwa mereka lebih mulia daripada kita disisiNya.

Belum cukupkah bukti bahwa kita ini seorang pembohong?

Hanya hati kita yang bisa menjawabnya….

 

Selanjutnya kita mengucapkan : Walhamdulillahi katsiroo

Dan segala puji (dengan pujian yang sangat banyak ) bagi Allah …

Dengan ucapan pujian ini,  kita seakan mengungkapkan rasa terimakasih kita kepada Sang Khaliq dengan pujian yang tiada habis-habisnya atas segala ni’mat yang telah dilimpahkan kepada kita.

Tapi benarkah kita telah benar-benar mensyukuri segala ni’matNya ?

atau lagi-lagi hanya sebagai ucapan kosong tiada arti … ?

 

Setelah memuji Allah kita me-MahasucikanNya dengan ucapan:  Wasub haanalloohi bukrotawwa ashiila….

Kita mengatakan bahwa kita me-Mahasucikan Allah diwaktu pagi dan petang, tetapi kenyataannya ….. setiap pagi dan petang kita asyik nonton TV melihat berita-berita yang enggak jelas benar salahnya atau melihat berita gunjingan dan ghibah dari para artis dan selebritis ….

 

Selanjutnya kita juga mengikrarkan bahwa : Inna sholaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillahi robbil ’aalamin

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Suatu ikrar yang bisa membuat merinding sekujur badan kita saking hebatnya….

Tapi benarkah kita sudah memegang ikrar kita …?

Benarkah shalat kita hanya untuk Allah?

Kalau benar mengapa selagi kita shalat kita masih sempat memikirkan tugas dan kerjaan kita, kita masih sempat memikirkan belanja ke mal, masih sempat mengingat acara-acara TV, masih sempat merencanakan acara-acara yang akan kita lakukan …….. Sedangkan bacaan dan perbuatan shalat kita hanya sebatas ucapan orang mengigau yang tidak ada artinya sama sekali dan gerakan shalat kita hanya menjadi gerakan senam rutin lima kali sehari.

Bukankah shalat kita mirip sekali dengan gedebong pisang yang sedang ditebang…?  Bagai jenazah tanpa nyawa… bagai mayat hidup yang tidak mempunyai ruh….

Sekali lagi hanya hati kita yang tahu …

Sudah cukupkah kebohongan kita..?

 

Ternyata belum… Kita berikrar bahwa ibadahku hanya untuk Allah.

Kalau ditanyakan kebenarannya kepada hati kita , mungkin kita akan malu untuk yang kesekian kalinya

 

Tetapi lebih baik malu sekarang selagi masih berada didunia dari pada malu nanti ketika video amal ibadah   yang ternyata penuh dengan kepalsuan karena riya’ , diputar kembali di hadapan Allah SWT.

 

Atau mungkin kita enggak perlu merasa malu karena ibadah kita memang sudah benar hanya untuk Allah…

 

Kalau ibadah kita sudah benar hanya untuk Allah…, mengapa kalau kita shalat sendirian hanya makan  waktu dua atau tiga menit sedangkan bila kita shalat didekat kyai, didekat calon mertua (bagi yang masih bujangan) atau didepan pejabat bisa memakan waktu sampai sepuluh atau lima belas menit.

Kenapa kita sering bersodaqoh dan berinfaq hanya bila diketahui oleh orang lain. Dan mengapa suara bacaan Alqur’an kita akan menjadi lebih merdu dan lebih indah bila kita membaca ditempat umum dari pada kita membacanya sendirian didalam kamar?

Kembali hanya hati kita yang bisa jujur menjawabnya…

 

Ikrar kita yang terakhir: hidup dan mati kita hanya untuk Allah

Suatu ikrar yang sangat dahsyat…

Yang membuat malu diri kita ketika menyadari bahwa sebenarnya kita kita hidup dan mati hanya untuk diri kita sendiri,  lebih tepatnya mungkin untuk hawa nafsu kita sendiri.

Bagaimana tidak ?

Kalau memang hidup dan mati kita untuk Allah mengapa kita sering mencari nafkah dengan cara yang tidak diridhoi Allah (haram), kita masih mau menipu orang hanya untuk mendapatkan laba sedikit lebih banyak. Masih mau menyuap hanya untuk menjadi karyawan perusahaan atau pegawai negeri. Masih mau menyuap hanya untuk naik jabatan atau memuluskan usaha kita. Masih mau menjatuhkan saingan kita dengan cara-cara yang kotor. Masih mau menyuap agar anak kita bisa masuk sekolah atau universitas terentu…..

 

Selain menyuap,  kita juga dengan senang hati mau menerima sedikit uang suap untuk memuluskan usaha seseorang, bahkan menjadi kebanggaan tersendiri kalau bisa menikmati hidup dengan hasil suap dan korupsi. Apakah ini yang dinamakan hidup hanya untuk Allah?

Sudah lupakah kita akan ajaran para ustadz dan kyai?

Kita tidak lupa akan ajaran mereka tetapi kita hanya sering mengesampingkan ajaran mereka demi untuk meraih tujuan kita. Ajaran agama yang seharusnya menjadi rel kehidupan kita, terkadang hanya penghias  omongan dan tidak jarang hanya menjadi bahan perdebatan untuk menunjukkan betapa tinggi ilmu agama kita. Ilmu agama yang dijadikan sebagai kebanggaan bukan sebagai tuntunan.

 

Lho lho lho…..lohh koq jadi serius begini sih..?

Ehh.. iya yaa… hehehe… jadi kebablasan..

Maaf yaa… tapi dikit lagi yaa…

 

Saya yakin bahwa sebenarnya hati kita , hati sanubari yang paling dalam tidak menginginkan kita berbohong kepada Allah hanya kekhilafan kitalah menyebabkannya. Untuk mengurangi kebohongan-kebohongan, ada baiknya kalau kita selalu menyertakan hati kita dalam segala perbuatan kita terutama dalam shalat.

Jangan lupa pula untuk sering-sering berkonsultasi dan bertanya pada hati kita tentang amal perbuatan yang sudah, sedang dan akan kita lakukan.

 

Mohon maaf atas segala salah dan khilaf

Bukan bermaksud menggurui, hanya sebagai bahan instropeksi

Wallahu A’lam bishshowab..

 

Jangan Memaksa Allah

Mmembaca judul diatas, seolah ada yang menggelitik hati kita. Mungkin ada yang bertanya seperti ini:
“Siapa yang berani maksa Allah?”
“Ah ente ngada-ada aja… Siapa yang bisa memaksa Allah?”
Orang betawi akan bilang: “Elu udah gile kali, masa Allah mau elu paksa” dan lain-lainnya.
Memang kita nggak bisa memaksa Allah karena Allah adalah Sang Khaliq, Sang Penguasa dari Segala Yang Berkuasa dan Allah adalah Tuhan yang Maha Gagah Perkasa.
Kalau kita nanya “Siapa yang bisa memaksa Allah?”
Jawabannya pasti “tidak ada.”
Tapi kalau kita nanya “Siapa yang berani memaksa Allah?”
Kalau kita jawab secara spontan Jawabannya pasti “Nggak ada” atau “Orang gila aja yang berani maksa Allah”
Tapi kalau kita jawab dengan tidak tergesa-gesa dengan dilandasi pikiran yang jernih dan panjang, ternyata jawabannya bisa seperti ini : “Banyak…! Banyak yang berani memaksa Allah… dan mungkin kita termasuk salah satu diantaranya..”
Lho ! , Koq bisa…?
Iya… memang begitu kenyataannya…, walaupun mungkin… tanpa kita sadari.
Masa iya sih…?
Masih nggak percaya?
Pernah meminta pada Allah nggak?
Pernah dong… bahkan sering, berdo’a kan berarti “meminta kepada Allah”
Nah disitulah.., pada saat kita berdo’a kita sering memaksa Allah untuk memenuhi “nafsu” (do’a) kita. Kita sering minta kepada Allah untuk sesuatu yang paling kita inginkan. Sesuatu yang menurut kita adalah yang paling “penting” saat ini dan kalau tidak terpenuhi maka “langit akan runtuh”.
Koq sampai “langit runtuh” segala, emang langit kaya genting…? bisa runtuh
Itulah nafsu dan pikiran kita. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, bisa mencari konotasi yang sangat dahsyat. “Langit runtuh”, “bumi pecah”, “kiamat” adalah sedikit konotasi yang sering muncul.
Sebuah contoh doa kita:
”Ya Allah…, Ya Robbul ‘Izzati…, Ya Arhamarroohimien… berilah hambaMu ini sebuah mobil “avanza baru” untuk kendaraan kami sehari-hari. Berat rasanya kalau kami terus mengandalkan motor yang telah bertahun-tahun mengantar kami. Anak kami telah semakin besar…, keluarga kami pun telah bertambah sehingga tidak memungkinkan beramai-ramai naik motor lagi. Ya Allah.. Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Penyayang…Kabulkanlah permohonan kami karena hanya dengan mobil itulah, kami masih tetap bisa ngaji mingguan sekeluarga dan kegiatan sehari-hari kami bisa lancar…”
Sebuah do’a untuk memohon “mobil avanza baru” kepada Allah.
Tanpa kenal lelah kita memanjatkan do’a . Siang malam, setiap habis sholat fardhu, sehabis sholat tahajjud selalu kita panjatkan do’a tersebut..Waktu demi waktu…,Hari demi hari berganti, tidak terasa waktu setahun telah berlalu. Sudah ratusan kali bahkan ribuan kali kita memanjatkan do’a yang sama. Mulailah kita merasa bahwa do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah. Keragu-ragu lalu menghampiri jiwa kita.
“Ya Allah mengapa Engkau tidak mengabulkan do’a kami, padahal kami sudah memohon kepadaMu ribuan kali. Kami sudah berusaha memperbaiki Ibadah kami. Ibadah wajib kami perbaiki, ibadah sunnah pun kami perbanyak. Tetapi kenapa Engkau belum juga mengabulkan permohonan kami. Padahal Engkau telah berkata dalam kitab suciMu : “Berdo’alah kepadaKu, Niscaya akan Aku Kabulkan.” Apakah Engkau mengingkari janjiMu sendiri?…. Kami tahu bahwa Itu tidak mungkin…. karena Engkau adalah Dzat yang tidak akan pernah mengingkari janji. Lantas kenapa do’a kami belum Engkau kabulkan juga Ya Robb. Sampai kapan kami harus memohon kepadaMu… , Sampai kapan kami harus menunggu janjiMu padahal hati kami seolah telah capee meminta kepadaMu tanpa hasil…”
Itu mungkin yang akan kita keluhkan kepada Allah kalau permohonan kita belum terkabul juga.
Tapi benarkah bahwa do’a kita nggak terkabul sama sekali?
Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kalau kita me”review” apa yang telah terjadi pada kita dalam setahun terakhir. Pada waktu kita pertama kali memanjatkan do’a diatas kita sudah punya sebuah motor, kemudian rumah tipe tiga enam, anak kita dua orang sekolah di SD.
Dalam setahun ini memang kita belum dikasih “mobil avanza”, dengan tukar tambah motor kita yang sudah berumur delapan tahun ditukar dengan motor yang lebih baru. Dapur rumah yang tadinya masih menyatu dengan ruangan tengah, kini sudah terpisah karena “ada rizqi” untuk membuat dapur di tanah belakang yang masih kosong. Asap dari dapur ketika memasak tidak mengganggu anak-anak lagi. Anak-anak yang tadinya gampang sakit, sekarang nampak sehat dan sedikit lebih gemuk.
Nah itulah gambaran yang terjadi selama setahun belakangan.
Kita memang meminta mobil avanza kepada Allah dan sampai saat ini belum terkabulkan. Ini bukan berarti Allah tidak mengabulkan do’a kita, malainkan Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hambaNya. Baik menurut Allah belum tentu baik menurut kita dan sebaliknya baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah.
Menurut kita yang terbaik adalah “mobil avanza baru” untuk kendaraan sehari-hari dan untuk mengaji setiap minggu.
Dengan anggapan bahwa “itulah” yang terbaik buat kita, maka kita paksa Allah untuk memberi kita “mobil avanza”. Kalau mobil belum kebeli kita merasa bahwa Allah mengabaikan kita, Allah tidak mengabulkan do’a kita.
Tapi sekali lagi “Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana.” Yang mengetahui yang terbaik buat kita.
Dari gambaran diatas yang terbaik menurut Allah mungkin adalah membangun dapur terlebih dahulu supaya aktifitas memasak tidak mengganggu kegiatan lain. Kemudian motor yang tadinya udah kurang nyaman dipakai diganti dengan yang lebih baru. Anak-anak yang waktu istirahatnya sering terganggu dengan asap dapur sekarang menjadi lebih tenang dan sebagai akibatnya sekarang tumbuh lebih sehat. Pikiran kita pun menjadi tenang dan ibadah menjadi lebih khusyu’.
Itulah hasil do’a kita. Kita berdo’a memohon “mobil avanza”, yang menurut kita adalah yang terbaik buat kita saat ini. Berdo’a dengan dibarengi usaha dan ibadah. Tetapi bukan mobil yang kita dapatkan karena mungkin bukan itu yang terbaik buat kita. Kenyataannya memang memiliki mobil belum begitu “urgent” maka Allah “hanya” mengganti motor kita dengan yang lebih bagus. Memberi kita rizqi untuk membuat dapur baru yang memberi imbas kepada kesehatan anak-anak kita. Ibadah kita yang tadinya sering terganggu karena anak-anak sakit, sekarang bisa bertambah khusyu’. Hati kita yang sering suntukpun menjadi lebih tenang dan nyaman.
Coba kalau Allah langsung memberi apa yang kita minta yaitu “mobil avanza”. Begitu mobil avanza datang, kita buru-buru bikin garasi. Tidak punya uangpun , kita bela-belain ngutang kiri kanan. Dapur masih menyatu sama ruang tengah. Asap ketika memasak masih sering mengganggu istirahat anak kita. Ibadah kita yang tadinya kurang khusyu’ karena sering terganggu anak sakit, sekarang tambah nggak khusyu’ karena beban tambahan yaitu mikirin hutang. Belum lagi mikirin mobil, takut kalau mobilnya dicuri orang.
Memang kita tambah nyaman ketika bepergian dengan mengendarai mobil. Tetapi kalau pikiran kita jadi kurang nyaman karena anak sakit atau ibadah kurang khusyu’ karena tambahnya beban pikiran.
Apakah ini yang kita harapkan?
Tentu bukan kan…?
Kita boleh saja minta “apa saja” kepada Allah atau menentukan kapan hal tersebut harus tercapai. Tetapi kita jangan memaksa Allah untuk memenuhi permintaan kita. Berdo’alah kepada Allah dengan lebih bijaksana yaitu meminta “Yang terbaik bagi kita menurut Allah”.
Sebagai contoh:
”Ya Allah…, Ya Robbul ‘Izzati…, Ya Arhamarroohimien… berilah hambaMu ini sebuah mobil “avanza baru” untuk keperluanku sehari-hari. Berat rasanya kalau kami terus mengandalkan motor yang telah bertahun-tahun mengantar kami kemana-mana. Anak kami telah semakin besar…, keluarga kami pun telah bertambah sehingga tidak memungkinkan beramai-ramai naik motor lagi. Ya Allah.. Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Penyayang…Kabulkanlah permohonan kami sekiranya “mobil tersebut” adalah baik bagi kami. Kalau “hal itu “ kurang baik bagi kami, maka berilah kami yang terbaik. Baik bagi dunia kami dan baik bagi akherat kami…Amien Ya Robbal’Alamien..”
Dengan permohonan yang demikian, hati kita akan selalu “bersyukur” menerima “apapun” yang Allah berikan kepada kita. Karena kita berkeyakinan bahwa Allah memberi yang terbaik buat kita. Walaupun permohonan utama kita “misalnya mobil avanza” tidak atau belum terkabul, kita masih selalu bisa mensyukuri “apa” yang Allah berikan. Dan dengan mensyukuri ni’matNya, maka Allah akan senantiasa menambahkan ni’matNya kepada kita.
Wallohu A’lam bisshowab.

Ada apa dengan “Kredit”

Membeli dengan cara kredit kini tengah digandrungi semua kalangan. Mulai dari pekerja kasar sampai orang-orang gedongan. Barang yang bisa dibeli dengan kredit sangat berfariasi. Mulai dari kredit pemilikan rumah, kendaraan bermotor sampai dengan peralatan rumah tangga. Membeli dengan cara kredit memang menawarkan kenyamanan tersendiri.
Dengan cara kredit, orang dengan penghasilan pas-pasan pun bisa memiliki barang yang mereka inginkan. Rumah, motor, televisi, kulkas dan bermacam-macam barang elektronik bisa dimiliki walau  dengan sedikit mengencangkan ikat pinggang karena sebagian atau mungkin setengah dari penghasilan mereka digunakan untuk membayar cicilan. Orang-orang berduit juga lebih suka membeli barang mewah kesenangan mereka dengan cara kredit. Rumah mewah, apartemen mewah sampai  mobil mewah siap dimiliki dengan cara kredit.
Seolah tidak mau ketinggalan ibu-ibu rumah tangga pun berbondong-bondong untuk mengkredit barang yang mereka inginkan. Mulai dari pakaian, kosmetika sampai peralatan rumah tangga. Kalau dahulu mereka malu untuk membeli barang dengan cara mengkredit, sekarang justru bangga kalau kreditannya banyak.
Melihat antusiasme masyarakat untuk mngkredit, pihak perbankan berlomba-lomba untuk menawarkan kartu kredit. Orang yang menawarkan kartu kredit dari bank tertentu bisa kita temui hampir di semua pusat perbelanjaan. Asal kita mau, “kartu sakti” itu bisa kita miliki dengan mudah. Dan selanjutnya dengan semangat 45 bermodalkan selembar “kartu sakti” kita pindahkan isi “super market” ke rumah kita. Dengan dalih tidak mengeluarkan uang sepeserpun mereka menjadi lupa diri memborong semua barang, bahkan barang yang kurang perlupun mereka borong.

Tapi benarkah kita tidak perlu mengeluarkan uang?

Setelah menikmati hasil borongan mereka,  sebulan kemudian mereka mendapatkan selembar tagihan kartu yang setelah dilihat ternyata melebihi penghasilan mereka dalam sebulan. Baru terasa sekarang bahwa kartu kredit bukanlah “kartu sakti” seperti yang dibayangkan semula. Kartu kredit tetaplah kartu kredit dalam arti kartu untuk “menghutang”. Kartu yang menghipnotis untuk berbelanja sebanyak yang mereka mau dan tanpa mereka sadari  mereka sedang menumpuk hutang dibank. Hutang yang harus mereka bayar tiap bulan bahkan pada saat mereka tidak punya uang sepeserpun. Kalau mereka nggak membayar, maka “debt collector” sipenagih hutang dari pihak bank bagaikan “malaikat maut” tidak sungkan-sungkan untuk mendatangi rumah mereka. Datang bukan untuk silaturrahim melainkan untuk memaksa menagih hutang. Mulai terasa sekarang nikmatnya dikejar-kejar hutang. Kemana-mana seolah dibayangi  “debt collector” sang malaikat penagih hutang.
Mempunyai kartu kredit bukan berarti lebih “keren” atau lebih “wah” tetapi sebaliknya berarti “siap menghutang”. “Menghutang” yang dulu tabu sekarang menjadi “kudu”.

“Emang kenapa kalau ngutang…, emang kenapa kalau ngredit…??? duit-duit gua… kredit-kredit gua  ” Syirik aja sih luh…

Ya enggak apa-apa sih…! …tapi….
Sekarang mari kita mencoba melihat “system kredit” dari kaca mata agama.
Kenapa harus kita lihat dari kaca mata agama?

Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering kali kita lupakan.
Kita ini adalah orang islam!
Sebagai orang islam yang bertaqwa sudah tentu kalau segala sesuatu harus kita lihat dari kacamata agama, yaitu dari hukum islam. Hukum islam adalah rel kita menuju kebahagian hidup. Bukan saja hidup di dunia melainkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Pertanyaan pertama yang mesti kita ucapkan adalah:
“Bolehkah  ‘system kredit’ ini dalam agama islam?”
Kata ”boleh” disini kita artikan sebagai halal.
Setelah kita buka buku-buku fiqih, tanya sana sini kepada ustadz dan kyai ternyata memang “system kredit” diperbolehkan agama. Asal kredit tersebut sesuai dengan syarat rukunnya. Dan salah satu syaratnya adalah “harga kredit dengan harga tunai adalah sama”.
Sebagai contoh kalau harga sebuah motor cash (tunai) adalah 12.000.000 kalau dibayar secara kredit selama 12 kali (bulan) maka cicilan perbulan adalah 1.000.000. Tidak lebih.
Kalau dibayar selama 24 bulan maka cicilan perbulan adalah 500.000. Tidak lebih
Selama syarat ini terpenuhi, maka Akad kredit tersebut diperbolehkan.

Sekarang kita tengok kembali “system kredit” yang berlaku di sekitar kita.
Hampir semua “system kredit” dinegara kita adalah system ribawi alias system kredit yang riba.
Sebuah rumah dijual tunai seharga 60 juta bila dikredit 5 tahun ansuran perbulan 1.2500.000
Bila dikredit 10 tahun maka ansuran perbulan 750.000
Mari kita hitung
Total pembayaran (5 tahun) = 5 x 12 x 1.250.000 = 75.000.000
Total pembayaran (10 tahun) = 10 x 12 x 750.000 = 90.000.000

Ternyata TIDAK SAMA

Bukan hanya kredit pemilikan rumah saja, ternyata kredit mobil dan sepeda motor pun demikian.
Harga motor tunai 12 juta bisa menjadi 18 juta bila dibayar dengan kredit.
Penjual baju dikampung-kampung pun sama saja. Mereka biasa menawarkan barang dengan harga yang berbeda antara tunai dan kredit, antara kredit jangka pendek dan kredit jangka panjang.

Menjual barang dengan harga yang berbeda antara tunai dan kredit adalah RIBA.

Bisa dibayangkan bahwa sekarang ini kita hidup dilautan riba….
Rumah yang kita tempati mulai dari yang elit sampai yang RSS dibeli dengan kredit. Rumahnya ngredit, isi rumahpun kredit. Meja kursi penghias ruang tamu, televisi di ruang tengah, tempat tidur dan kulkas semuanya dibeli dengan kredit.Baju yang kita pakai sampai-sampai bedak dan gincu yang menempel diwajahpun kredit semua.Tidak ketinggalan kendaraan yang setia mengantar kemana kita pergi dibeli dengan cara riba.
Sungguh mengherankan bahwa negeri kita tercinta ini, negeri dengan penduduk muslim terbesar didunia, negeri yang mayoritas penduduknya muslim ternyata berada dalam balutan riba. Kalau semua yang melanggar larangan Allah berhak untuk mendapat adzab Allah, maka bukankah negeri ini berhak juga untuk diadzab?
Na’udzubillaahi min dzalik….
Terus sekarang Apa yang bisa kita lakukan dengan “system kredit”?
Apa kita harus mengerahkan massa menuju gedung DPR untuk demo “pelarangan system kredit”?
Siapa yang mau diajak demo, “orang sebagian besar kita” adalah tukang “ngredit”. Bisa-bisa mereka mengadakan demo tandingan dengan massa yang beratus kali lebih banyak.
Mungkin kita mesti tahu apa latar belakang mereka meng”kredit”. Apa karena memang nggak tahu hukum kredit adalah riba atau karena apa?
Saya pernah bertanya kepada beberapa orang yang “suka ngredit”: Mengapa membeli barang dengan cara kredit ?
Jawaban mereka bermacam-macam, tapi sebagian besar menjawab: “Yah kalau nggak begini, kapan lagi kita bisa punya rumah”
Atau “Kalau nggak ngredit, nggak bakalan kita punya barang.” Ada lagi yang menjawab: “Enak sih.., nggak terasa ngeluarin duitnya..”

Kalau kita tanyakan “Kenapa nggak nabung dulu aja?”
Jawabannya adalah “Kalo nyimpen duit mah susah, boro-boro terkumpul … yang ada juga kepakai buat belanja…”
Terus kalau ditanya: “Apakah nggak tahu kalau kredit itu dosa”?
Jawaban mereka: “Halah… kyai dan ustadz aja banyak yang ngredit.”
Sebuah jawaban yang tidak berdasar, jawaban yang bisa diartikan “masuk neraka juga nggak apa-apa, kyai dan ustadznya juga masuk meraka”

Memang perlu komitmen yang kuat untuk bisa membeli barang dengan jalan menabung terlebih dahulu. Banyak hambatan dan godaan yang kita temui. Walaupun banyak hambatan tetapi sebenarnya ada nikmat yang tersenbunyi dibaliknya.
Dengan jalan menabung , kita menjadi sering berdo’a dan berharap kepada Allah. Berharap agar Allah selalu menambah rejeki kita dan berharap agar tujuan kita cepat tercapai. Bila barang yang kita inginkan bisa kebeli, kita juga tidak lupa bahwa itu adalah atas pertolongan Allah. Dengan begitu Insya Allah barang yang kita miliki penuh dengan berkah. Berkah karena kita peroleh dengan usaha dan do’a kepada Allah dan dengan pertolongan Allah.

Kembali lagi ke pertanyaan “apa yang mesti bisa kita lakukan tadi”
Sebagai pribadi muslim yang bisa lakukan adalah kita jangan sampai membeli dengan “system kredit” riba. Perlu juga untuk menjaga agar keluarga kita juga “steril” dari kredit. Dan akhirnya ucapkan syukur alhamdulillah bahwa kita masih dijaga oleh Allah dari “mengkredit”.
ALHAMDULILLAAHI ROBBIL ’AALAMIIEN..
Perlu menjadi pegangan kita juga:
Kalau sekarang kita hidup dijaman riba, apakah kita juga mesti ikut-ikutan ber-riba ria… ?
Kalau orang disekeliling kita semua berbondong-bondong meng”kredit” dengan system riba apakah kita juga harus mengkredit… ?
Kalau orang-orang masuk neraka gara-gara kredit apakah kita juga harus ikut keneraka….?
Apa salahnya kalau kita nabung terlebih dulu untuk membeli barang yang kita inginkan.?
Apa salahnya kalau kita menahan diri sementara waktu untuk memiliki barang yang kita inginkan..?
Apa salahnya kita mendahulukan ajaran agama daripada sekedar keinginan terburu-buru untuk memiliki suatu barang..?

Apakah barang tersebut demikian berarti sehingga mampu memalingkan mata kita dari ajaran agama?”

Apakah memang kita sudah tidak takut lagi akan neraka ? Neraka yang diciptakan Allah untuk menghukum hambanya yang tidak menurut perintahNya, hamba yang melanggar laranganNya.
Dan salat satu laranganNya adalah RIBA.

Wallohu A’lam bisshowab

Bahan Kajian

عن جابر، قال:
لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا، وموكله، وكاتبه، وشاهديه، وقال: هم سواء

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba dan dua orang saksinya. Kedudukan mereka itu semuanya sama.” (HR. Muslim)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(QS Albaqoroh:275)

Belajar “Bersyukur”

“Syukur”, suatu kata yang sangat mudah diucapkan dan karena saking  mudahnya maka tidak mengherankan kalau sudah pernah kita ucapkan  ribuan kali.  Suatu kata yang akan mengundang tambahan ni’mat Allah kepada kita. Tentu saja kalau kita mau menerimanya.

Emang ada yang nggak mau menerima tambahan ni’mat?

Menerima tambahan ni’mat…. , semua orang pasti mau.  Kalau bersyukur?

Wah kalau ini entar dulu…. sebabnya saya enggak tahu caranya..
Memang suatu yang mudah diucapkan belum tentu mudah pula dijalankan. Kita mau “bersyukur” tetapi sering tidak tahu bagaimana caranya.

Lantas kita bertanya pada diri sendiri:

” Sebenarnya bagaimana sih cara “bersyukur” itu?”

“Apakah dengan mengucapkan “Alhamdulillah” sudah berarti bahwa kita bersyukur?”

“Atau harus bagaimana ?”
Sebelum berbicara mengenai cara bersyukur, alangkah lebih indah kalau kita menyamakan persepsi tentang arti “syukur” terlebih dahulu.
Syukur secara umum bisa diartikan sebagai “berterimakasih”
Ada juga yang mengartikan syukur sebagai “menasarufkan ni’mat yang telah Allah berikan untuk menjalankan ibadah kepada Allah.”
Kalau kata “menasarufkan” kita ganti dengan kata “menggunakan”, maka definisi diatas menjadi “menggunakan ni’mat yang telah Allah berikan untuk menjalankan ibadah kepada Allah”
Dengan batasan definisi tersebut , akan lebih mudah membahas “cara bersyukur”.
Maaf bagi yang mempunyai definisi lain, silakan pake definisinya masing-masing. Dengan adanya perbedaan justru akan memperkaya perbendaharaan pengertian masing-masing.
Selanjutnya saya akan membahas “belajar bersyukur” dari kaca mata saya.
Sebenarnya saya nggak make kacamata lhooo….
Lebih tepatnya (barang kali) , dari sudut pandang saya.
Sudut pandang yang mana?
Ya sudut pandang yang tadi… alias sudut pandang berdasar definisi saya tadi. (Definisi yang masih perlu dibetulkan lagi)
Saya akan mulai “proses belajar” saya dari waktu bangun pagi (tidur)
Setiap hari kita bangun tidur. (Ya ialah.. kalau nggak bangun ya nggak sempat baca tulisan ini lagi dong)
Begitu bangun tidur disunnahkan untuk membaca do’a bangun tidur.
Arti do’a ini ialah “Segala puji bagi Allah, Dzat yang menghidupkan kita setelah mematikan kita. Dan hanya kepadaNya lah kita dikumpulkan”
Menilik dari arti do’a tersebut. Kita disunnahkan memuji Allah begitu bangun tidur. Pujian berarti ungkapan rasa terima kasih dan “terima kasih” berarti “syukur”.
Lantas kenapa kita perlu bersyukur setelah bangun tidur?
Bukankah bangun tidur sudah menjadi kebiasaan kita setiap hari jadi untuk apa kita mesti mensyukurinya?
Saya ga akan menjawabnya. Tetapi saya akan balik bertanya. Kalau nyawa atau ruh kamu tetap digenggam Allah dan tidak dikembalikan ke tubuhmu Apakah kamu masih bisa bangun?
Oh iya yaa….
Setelah waktu Subuh datang, kita bergegas untuk melaksanakan sholat subuh. Kewajiban sholat yang sering “membebani” kita. Tapi benarkah kewajiban sholat ini suatu beban?

Karena kita  sedang dalam proses “belajar bersyukur” , mari kita menjalankan sholat subuh sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah karena Allah telah mengembalikan ruh ke dalam jasad kita dan Allah masih memberikan kesehatan serta kesempatan kepada kita untuk menghadapNya. Bukankah sholat adalah “mi’roj” nya orang-orang yang beriman?

Selain sebagai ungkapan rasa “syukur”, kita mesti mengetahui bahwa di dalam melakukan  sholat , kita seolah bercakap-cakap langsung kepada Allah layaknya Rosulullah pada waktu melakukan “mi’roj”. Di dalam sholat ternyata berisi sanjungan dan do’a kepada Allah SWT. Dengan mengetahui bahwa isi sholat adalah sanjungan dan do’a maka marilah kita melakukan sholat dengan “hati yang rela dan lapang”
Dilandasi dengan kerelaan hati.. maka
Plong…. Rasa malas dan terbebani seketika hilang dari dada kita. Sebaliknya kita bisa menjalankan sholat subuh dengan penuh rasa hikmat dan khusyu’.
Alhamdulillah……..
Sungguh jarang sekali kita menyadari bahwa bersyukur itu mudah, kenapa mudah?

Karena Allah selalu menyediakan kesempatan untuk mensykuri ni’matNya setiap saat. Dari bangun tidur sampai kita mau tidur kembali. Sehari semalam yang penuh dengan ni’mat Allah untuk disyukuri.
Suatu contoh ni’mat Allah yang sering terlupakan
Nabi SAW selalu mengajarkan kepada kita untuk berdo’a dalam setiap kesempatan. Bahkan sewaktu masuk kamar kecil pun, Nabi mengajarkan untuk berdo’a. Doa perlindungan dari gangguan setan. Ketika keluar kamar kecil juga dibarengi dengan doa. Doa yang isinya pujian kepada Allah yang telah menghilangkan penyakit dari diri kita dan telah memberikan kesehatan kepada kita.
Subhanallah……….
Lagi-lagi Nabi mengajarkan kepada kita untuk mengungkapkan rasa syukur dan terimaksih kita kepada Allah.
Ketika mau makan kita berdoa memohon agar Allah memberikan keberkahan atas rizqi yang telah diberikanNya kepada kita dan mohon perlindungan dari api neraka. Setelah makan kita berdo’a dengan memuji Dzat yang telah memberi kita makan, minum dan rizqi. Lagi-lagi pujian atau ungkapan rasa terimaksih yang diajarkan Nabi kepada kita.
Bahkan Nabi mengajarkan kepada untuk memulai setiap perbuatan baik dengan ucapan Basmalah dan mengakhirinya dengan bacaan Hamdalah.
Dengan hati yang lapang,  kita bisa mengkaji bahwa sebenarnya ini adalah pembelajaran kepada kita untuk selalu mengaitkan segala kebaikan kepada Allah. Kebaikan yang berupa kesehatan, rizqi, kabar baik, peluang usaha, kesempatan beramal dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kita sebutkan satu-persatu.  Setiap kebaikan yang kita terima adalah atas kehendak Allah yang berarti bahwa Allah peduli dengan kita, Allah menyayangi kita dan Allah selalu bersama dengan kita.

Kalau Allah selalu mempedulikan kita,  Adakah amal yang lebih patut kita lakukan selain  “mengungkapkan rasa syukur”  kita kepadaNya?  Ungkapan rasa syukur dengan hati yang tulus.

Jangan hanya ucapan Hamdalah di mulut tanpa dibarengi perasaan terima kasih dihati. Ucapan yang tidak diiringi ketulusan hati adalah “bagai tubuh tanpa jiwa”. Kosong melompong bagai kepompong.
Apakah kita bisa menipu Allah dengan ucapan Hamdalah di mulut kita? Sedang Allah Maha Mengetahui yang dhohir dan yang batin. Yang kita ucapkan maupun yang kita simpan didalam hati.
Kalau rasa syukur kita adalah syukur yang palsu, maka jangan harap bahwa ni’mat Allah akan ditambahkan kepada kita sesuai janjiNya:
“Jikalau engkau bersyukur, maka akan Aku tambahkan (ni’mat) kepadamu. Dan jikalau engkau kufur (akan ni’matKu), maka sesungguhnya adzabKu adalah sangat pedih”
Buka mata hati, maka jalan “bersyukur” kepada Allah akan selalu terlihat. Kalau ungkapan syukur kita sudah mendarah daging maka mari kita tunggu janji Allah yang akan menambahkan ni’matNya kepada kita, hamba-hamba Allah yang mau “mensyukuri ni’matNya” dengan  hati yang tulus ikhlash.

Sedekah, Mana Balasannya….?

Banyak sekali ayat Alqur’an yang menganjurkan untuk sedekah atau sodaqoh. Selain menganjurkan untuk berinfaq dan bersedekah, Allah juga menyediakan balasan bagi orang yang melakukannya yaitu dengan balasan yang berlipat ganda. Demi mengetahui balasan yang akan diberikan kepada orang yang bersedekah, aku mencoba dan berusaha untuk menambah jumlah sedekah yang kukeluarkan dengan harapan bahwa Allah akan melipatgandakan sedekah yang aku keluarkan. Sempet juga terlintas dalam hatiku: ”Sedekah koq… dengan mengharap balasan, mana keikhlashanmu ? “ demikian protes hatiku..
”Wallohu A’lam, ini ikhlash apa enggak aku enggak tahu, aku hanya menuruti perintah Allah dalam Alqur’an dan aku tahu bahwa Allah tidak akan mengingkari janjiNya” jawab dari lubuk hatiku juga…
Wal hasil: lanjutlah acara sedekahku dibarengi dengan memperbaiki sholat fardhu, yaitu berusaha untuk melakukan sholat diawal waktu dan berusaha melakukannya berjamaah dimasjid. Sholat-sholat sunnah semacam qobliyah dan ba’diyah mulai kulakukan dengan rutin.
Tidak lupa kupanjatkan do’a kepadaNya hampir setiap selesai melakukan sholat.
Sambil terus beribadah dan berdo’a secara rutin, hatiku tak berhenti selalu mengharap-harap balasan Allah sesuai dengan janjiNya…Kuitung-itung kira-kira berapa balasan yang akan aku dapat dalam sebulan. Kalau aku sodaqoh misalnya setiap hari seribu rupiah, maka aku akan mendapat tigaratus ribu sebagai balasannya. Itu kalau seribu, padahal aku sodaqoh lebih dari 200 ribu, jadi minimal dua juta rupiah akan aku terima sebagai balasannya. Sungguh suatu perhitungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Setelah berjalan beberapa bulan, ternyata balasan Allah atas sedekahku belum kelihatan juga, mulailah timbul pertanyaan dihatiku. Mana janji Allah, koq belum dibalas juga sedekahku.? Apakah Allah melupakan janjiNya ?
Suatu pertanyaan yang selalu menggelitik dan lama-lama mulai menimbulkan keraguan dihati….
Harapan akan balasan Allah semakin lama semakin menipis karena tidak kunjung tiba juga, akhirnya mulailah aku mengkaji ulang semua amalku selama beberapa bulan terakhir ini…
Apakah karena aku selalu mengharapkan balasan dariNya sehingga dinilaiNya enggak ikhlash dan akhirnya malah enggak dibalas sama sekali…
Apakah karena kurang banyak jumlahnya atau karena hal yang lainnya…
Mulailah kuputar ulang kejadian-kejadian beberapa bulan terakhir semenjak aku memperbanyak sedekah..
Pada waktu itu aku bekerja di perusahaan swasta sama seperti sekarang dan belum ada perubahan gaji , berarti dari sektor ini belum ada perubahan sama sekali..
Penghasilan dari bidang lain memang ada sedikit penambahan yaitu ada kerjaan lain dengan kontrak senilai tiga juta rupiah dengan pembayaran perbulan 200 ribu.
Selain itu enggak ada lagi, kalau balasan sedekah adalah 10 kali lipat, maka penghasilan tambahan ini kalau dihitung hanya senilai sedekah 20 ribu sebulan, lantas sisanya kemana…?
Aku mencoba merenung kembali….
Tahun ini kebetulan anakku yang pertama sudah berumur enam tahun jadi sudah waktunya masuk sekolah SD. Pada akhir bulan April, aku mendaftarkannya kesebuah SDN yang menurut beberapa kawan adalah yang paling bagus disekitar tempat tinggalku. Ternyata anakku ditolak masuk SD tersebut dengan alasan tidak memenuhi syarat. (Syarat masuk SD: Bagi lulusan TK, minimal umur 5 tahun 8 bulan. Bagi yang tidak sekolah TK minimal umur 6 tahun 8 bulan, itupun harus melalui test terlebih dahulu)
Padahal anakku tidak sekolah di TK karena selama dia belajar di TPA, dia sudah bisa baca tulis bahkan hitung-hitungan perkalian. Oleh karena itu, aku memutuskan tidak memasukkannya ke TK.
Pada waktu mendaftar, aku sudah mencoba mengemukakan alasanku tersebut dan mempersilahkan untuk mengetesnya. Tapi ternyata mereka (sekolah) tidak bergeming dan katanya peraturan tetap peraturan jadi walaupun anaknya sepintar apapun tetap saja enggak bisa mendaftar. Akhirnya aku coba mendaftarkannya disekolah yang lain, tidak disangka semua sekolah sudah menutup waktu pendaftaran. Subhanallah, mesti bagaimana ini? Apa mesti nunggu setahun lagi baru anakku bisa sekolah?
Lewat Ashar pada waktu itu istriku dianter kakaknya pergi kerumah salah seorang guru SD-nya yang sampai sekarang masih ngajar di salah satu SD dekat rumah, untuk minta tolong supaya anakku bisa diterima disitu. Setelah beramah-tamah sebentar, istriku mengungkapkan maksud kedatangannya. Alhamdulillah beliau bersedia memasukkan anakku ke SD nya walaupun tadinya beliau agak berkebaratan karena sebenarnya kelasnya sudah penuh. Beliau mewanti-wanti agar jangan bilang ke yang lainnya supaya tidak pada ngiri. Dia bisa memasukkan anakku karena emang dia yang ngajar dikelas satu kata dia. Alhamdulillah sekarang anakku sudah bisa masuk SD, walaupun bukan di SD yang tadinya kami inginkan.
Selama ini, aku mengajar seminggu tiga kali, yaitu dua kali ngajar pengajian dikantor tempatku bekerja dan sekali pada akhir minggu di yayasan ponpes seorang temen. Alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan. Dalam dua-tiga bulan terakhir ini, jadwal ngajar bertambah padat. Karena permintaan dari beberapa tetangga, sekarang tiap malam ada jadwal pengajian dirumah.
Apakah ini balasan dari sedekahku, Wallohu A’lam..?
Setelah kurenungkan kembali kehidupanku beberapa bulan terakhir, ternyata banyak perubahan yang aku alami. Memang kalau dihitung secara materi malah ada kemunduran karena bertambahnya jadwal pengajian berarti tambah pengeluaran untuk listrik, kemudian menyediakan air minum (biasanya teh dan kopi) buat peserta belum lagi waktu dan tenaga yang tersita.
Namun kalau dinilai dari non materi, maka sungguh suatu kemajuan yang sangat besar. Kalau sebelumnya banyak waktu kosong yang seolah-olah terbuang percuma, sekarang penuh dengan keberkahan dan kemanfaatan. Rumah yang tadinya hanya sebagai tempat tinggal, sekarang berfungsi ganda sekaligus sebagai majlis ta’liem yang penuh dengan ibadah.
Dengan adanya pengajian setiap hari, memudahkanku dalam melaksanakan sedekah setiap hari walaupun mungkin hanya berupa air minum kepada para peserta pengajian. Dan yang paling penting mungkin hidupku bisa lebih bermanfaat bagi orang lain terutama bagi keluargaku dan tetangga-tetanggaku. Alhamdulillahi Robbil ‘Alamien.
Aku enggak tahu apakah ini balasan Allah atas sedekahku yang enggak seberapa atau apa?
Cuman aku berbaik sangka pada Allah dan mencoba mengerti bahwa balasan Allah atas sedekah itu enggak semata-mata berupa materi. Tetapi bisa saja berupa karunia panjang umur, kesehatan, kemudahan dalam urusan dan keberkahan dalam hidup. Atau bisa juga sebagai penebus dari dosa-dosa yang pernah kulakukan. Wallohu A’lam.
Itu semua hanya persangkaanku semata sedang hal yang sebenarnya hanya Allah Yang Maha Tahu. Akupun enggak tahu apakah benar sedekahku bakal dibalas oleh Allah atau enggak memperoleh balasan sama sekali karena kurang ikhlash. Atau mungkin juga sudah diberi balasannya tanpa aku sadari. Semuanya aku serahkan kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengampuni segala kekhilafanku.