Shalat sunnah setelah shalat jum’at

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

67 – (881)

 

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Abdullah dari Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu  ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Jika salah seorang dari kalian telah menunaikan shalat Jum’at, maka hendaklah ia shalat empat raka’at setelahnya.

(Shahih Muslim : 881 – 67)

 

وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ إِدْرِيْسَ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

إِذَا صَلَّيْتُمْ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَصَلُّوْا أَرْبَعًا زَادَ عَمْرٌو فِي رِوَايَتِهِ قَالَ اِبْنُ إِدْرِيْسَ قَالَ سُهَيْلٌ فَإِنْ عَجِلَ بِكَ شَيْءٌ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ فِي الْمَسْجِدِ وَرَكْعَتَيْنِ إِذَا رَجَعْتَ

68 – (881)

 

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Amru An Naqid keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Suhail daribapaknya dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu  ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Jika kalian ingin shalat (sunah) setelah menunaikan shalat Jum’at, maka shalatlah empat raka’at. Amru menambahkan di dalam riwayatnya; Ibnu Idris berkata, Suhail berkata; Jika kamu terburu-buru (karena suatu keperluan), maka shalatlah dua raka’at di Masjid dan dua raka’at di rumah.

(Shahih Muslim : 881 – 68)

 

وَ حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ ح و حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ عَنْ سُفْيَانَ كِلاَهُمَا عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُصَلِّيًا بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا وَلَيْسَ فِي حَدِيْثِ جَرِيْرٍ مِنْكُمْ

69 – (881)

 

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid dan Abu Kuraib keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan keduanya dari Suhail daribapaknya dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu  ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa di antara kalian yang ingin menunaikan shalat setelah shalat Jum’at, maka hendaklah ia shalat empat raka’at. Sedangkan di dalam hadits Jarir tidak terdapat kata, diantara kalian.

(Shahih Muslim : 881 – 69)

 

وَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ قَالاَ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ:

أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ اِنْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ ذَلِكَ

70 – (882)

 

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Muhammad bin Rumh keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Laits -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Laits dari Nafi’ dari Abdullah :

Bahwasanya bila ia telah menunaikan shalat Jum’at, maka ia pulang dan shalat dua raka’at di rumahnya. Kemudian ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa melakukan amalan tersebut.

(Shahih Muslim : 882 – 70)

 

وَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ وَصَفَ تَطَوُّعَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

فَكَانَ لاَ يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ قَالَ يَحْيَى أَظُنُّنِي قَرَأْتُ فَيُصَلِّي أَوْ أَلْبَتَّةَ

71 – (882)

 

Dan Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata; Saya telah membacakan kepada Malik dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar bahwa ia menshifati shalat tathawwu’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata:

Biasanya beliau tidak shalat setelah Shalat Jum’at hingga beliau pulang, kemudian beliau baru shalat dua raka’at di rumahnya. Yahya berkata; saya menduga kuat, bahwa saya telah membacakan; Maka (beliau) shalat atau Al Batah (benar-benar).

(Shahih Muslim : 882 – 71)

 

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيْهِ:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ

72 – (882)

 

Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair -Zhuhair berkata- telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah telah menceritakan kepada kami Amru dari Az Zuhri dari Salim dari bapaknya:

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasanya shalat dua raka’at setelah shalat Jum’at.

(Shahih Muslim : 882 – 72)

 

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ عَطَاءِ بْنِ أَبِي الْخُوَارِ:

أَنَّ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ أَرْسَلَهُ إِلَى السَّائِبِ ابْنِ أُخْتِ نَمِرٍ يَسْأَلُهُ عَنْ شَيْءٍ رَآهُ مِنْهُ مُعَاوِيَةُ فِي الصَّلاَةِ فَقَالَ نَعَمْ صَلَّيْتُ مَعَهُ الْجُمُعَةَ فِي الْمَقْصُوْرَةِ فَلَمَّا سَلَّمَ اْلإِمَامُ قُمْتُ فِي مَقَامِي فَصَلَّيْتُ فَلَمَّا دَخَلَ أَرْسَلَ إِلَيَّ فَقَالَ لاَ تَعُدْ لِمَا فَعَلْتَ إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ فَلاَ تَصِلْهَا بِصَلاَةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ أَنْ لاَ تُوْصَلَ صَلاَةٌ بِصَلاَةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ

73 – (883)

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ghundar dari Ibnu Juraij ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Umar bin Atha` bin Abul Khuwar:

Bahwa Nafi’ bin Jubair mengutusnya kepada Sa`ib putra saudara perempuan Namir untuk menanyakan sesuatu yang pernah dilihat oleh Mu’awiyah dalam shalat, maka Sa`ib berkata, Benar aku pernah shalat Jum’at bersama Mu’awiyah di dalam Maqshurah (suatu ruangan yang dibangun di dalam masjid). Setelah imam salam aku berdiri di tempatku kemudian aku menunaikan shalat sunnah. Ketika Mu’awiyah masuk, ia mengutus seseorang kepadaku dan utusan itu mengatakan, Jangan kamu ulangi perbuatanmu tadi. Jika kamu telah selesai mengerjakan shalat Jum’at, janganlah kamu sambung dengan shalat sunnah sebelum kamu berbincang-bincang atau sebelum kamu keluar dari masjid. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan hal itu kepada kita yaitu Janganlah suatu shalat disambung dengan shalat lain, kecuali setelah kita mengucapkan kata-kata atau keluar dari Masjid.

(Shahih Muslim : 883 – 73)

 

وَ حَدَّثَنَا هَارُوْنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ اِبْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ عَطَاءٍ أَنَّ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ أَرْسَلَهُ إِلَى السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ ابْنِ أُخْتِ نَمِرٍ وَسَاقَ الْحَدِيْثَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فَلَمَّا سَلَّمَ قُمْتُ فِي مَقَامِي وَلَمْ يَذْكُرِ اْلإِمَامَ

(883)

 

Dan telah menceritakan kepada kami Harun bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad ia berkata, Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Umar bin Atha`:

Bahwa Nafi’ bin Jubair telah mengutusnya kepada Sa`ib bin Yazid bin Ukhti Namir. Ia pun menyebutkan hadits yang semisalnya, hanya saja ia mengatakan; Ketika ia salam, saya langsung berdiri di tempatku. Ia tidak menyebutkan kata Imam.

(Shahih Muslim : 883)

 

 

Surat-surat yang dibaca pada hari jum’at

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مُخَوَّلِ بْنِ رَاشِدٍ عَنْ مُسْلِمٍ اَلْبَطِيْنِ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ الم تَنْزِيْلُ السَّجْدَةِ وَهَلْ أَتَى عَلَى اْلإِنْسَانِ حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ الْجُمُعَةِ سُوْرَةَ الْجُمُعَةِ وَالْمُنَافِقِيْنَ

64 – (879)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman dari Sufyan dari Mukhawwal bin Rasyid dari Muslim Al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:

Bahwa biasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengerjakan shalat Shubuh pada hari Jum’at, beliau membaca: ALIF LAAM MIIM TANZIIL (surat As Sajadah) dan, HAL ATAA ‘ALAL INSAANI HIINUM MINAD DAHRI (surat Al Insan). Dan dalam shalat Jum’at beliau membaca surat Al Jumu’ah dan surat Al Munafiqun.

(Shahih Muslim : 879 – 64)

وَ حَدَّثَنَا اِبْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ كِلاَهُمَا عَنْ سُفْيَانَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ مِثْلَهُ

(879)

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku -dalam jalur lain- dan Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Waki’ keduanya dari Sufyan dengan isnad ini.

(Shahih Muslim : 879)

وَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُخَوَّلٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ مِثْلَهُ فِي الصَّلاَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا كَمَا قَالَ سُفْيَانُ

م (879)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Mukhawwal dengan sanad-sanad ini semisalnya pada dua shalat, sebagaimana yang dikatakan Sufyan.

(Shahih Muslim : 879 – m)

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

أَنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ الم تَنْزِيلُ وَهَلْ أَتَى

65 – (880)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Sa’d bin Ibrahim dari Abdurrahman bin Al A’raj dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Bahwa biasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat Shubuh pada hari Jum’at, beliau membaca: ALIF LAAM MIIM TANZIIL (surat As Sajadah) dan, HAL ATAA (surat Al Insan).

(Shahih Muslim : 880 – 65)

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِ الم تَنْزِيْلُ فِي الرَّكْعَةِ اْلأُولَى وَفِي الثَّانِيَةِ هَلْ أَتَى عَلَى اْلإِنْسَانِ حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُوْرًا

66 – (880)

Telah menceritakan kepadaku Abu Thahir telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Ibrahim bin Sa’d dari bapaknya dari Al A’raj dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:

Bahwa dalam shalat Shubuh pada hari Jum’at biasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ALIF LAAM MIIM TANZIIL (surat As Sajadah) pada raka’at pertama, dan pada raka’at kedua, HAL ATAA ‘ALAL INSAANI HIINUM MINAD DAHRI LAM YAKUN SYAI`AN MADZKUURAA. (surat Al Insan).

(Shahih Muslim : 880 – 66)

Surat yang dibaca setelah surat Alfatihah ketika shalat jumat

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ وَهُوَ اِبْنُ بِلاَلٍ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ ابْنِ أَبِي رَافِعٍ قَالَ:

اِسْتَخْلَفَ مَرْوَانُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَلَى الْمَدِيْنَةِ وَخَرَجَ إِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى لَنَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ الْجُمُعَةَ فَقَرَأَ بَعْدَ سُوْرَةِ الْجُمُعَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُوْنَ قَالَ فَأَدْرَكْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ حِينَ اِنْصَرَفَ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّكَ قَرَأْتَ بِسُورَتَيْنِ كَانَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ يَقْرَأُ بِهِمَا بِالْكُوفَةِ فَقَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ

61 – (877)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Ja’far dari bapaknya dari Ibnu Abu Rafi’ ia berkata:

Suatu ketika (khalifah) Marwan meminta kepada Abu Hurairah untuk menggantikannya (sebagai pemimpin) di Madinah, sementara Marwan pergi ke Makkah. Maka pada suatu hari Jum’at, Abu Hurairah mengimami kami shalat Jum’at. Ia membaca surat Al Jumu’ah pada raka’at pertama, dan surat Al Munafiqun pada raka’at kedua. Setelah selesai shalat, kutemui Abu Hurairah dan kukatakan kepadanya, Kedua surat yang Anda baca tadi, pernah dibaca oleh Ali bin Abi Thalib ketika ia berada di Kufah. Abu Hurairah berkata, Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca kedua surat itu pada hari Jum’at.

(Shahih Muslim : 877 – 61)

وَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالاَ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَعِيْلَ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ كِلاَهُمَا عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ قَالَ اِسْتَخْلَفَ مَرْوَانُ أَبَا هُرَيْرَةَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّ فِي رِوَايَةِ حَاتِمٍ فَقَرَأَ بِسُوْرَةِ الْجُمُعَةِ فِي السَّجْدَةِ الْأُولَى وَفِي الْآخِرَةِ إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ وَرِوَايَةُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ مِثْلُ حَدِيْثِ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلاَلٍ

(877)

Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Abu Bakar bin Abu Syaibah keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz yakni Ad Darawardi, keduanya dari Ja’far dari bapaknya dari Ubaidullah bin Abu Rafi’ ia berkata; Marwan meminta kepada Abu Hurairah untuk menggantikannya. Yakni semisalnya. Hanya saja dalam riwayat Hatim; Maka ia pun membaca surat Al Jumu’ah pada sujud yang pertama, sedangkan pada sujud (raka’at) terakhir ia membaca, ‘IDZAA JAA`AKAL MUNAAFIQUUNA..’ Sedangkan pada riwayat Abdul Aziz adalah serupa dengan hadits Sulaiman bin Bilal.

(Shahih Muslim : 877 )

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ جَمِيْعًا عَنْ جَرِيْرٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا جَرِيْرٌ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ حَبِيْبِ بْنِ سَالِمٍ مَوْلَى النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيْدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيْدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلاَتَيْنِ

62 – (878)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ishaq semuanya dari Jarir – Yahya berkata- telah mengabarkan kepada kami Jarir dari Ibrahim bin Muhammad bin Al Muntasyir dari bapaknya dari Habib bin Salim Maula Nu’man bin Basyir, dari Nu’man bin Basyir ia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca surat Al A’la dan surat Al Ghasyiah dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at. Bila shalat Id bertepatan dengan hari Jum’at, beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua shalat itu.

(Shahih Muslim : 878 – 62)

وَ حَدَّثَنَاه قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَوَانَةَ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ

(878)

Dan telah menceritakannya kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Ibrahim bin Muhammad bin Al Muntasyir dengan sanad-sanad ini.

(Shahih Muslim : 878)

وَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ سَعِيْدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ:

كَتَبَ الضَّحَّاكُ بْنُ قَيْسٍ إِلَى النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ يَسْأَلُهُ أَيَّ شَيْءٍ قَرَأَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سِوَى سُورَةِ الْجُمُعَةِ فَقَالَ كَانَ يَقْرَأُ هَلْ أَتَاكَ

63 – (878)

Dan Telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Dlamrah bin Sa’id dari Ubaidullah bin Abdullah ia berkata:

Adh Dhahak bin Qais menulis surat kepada An Nu’man bin Basyir menanyakan tentang surat yang apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Jum’at selain surat Jumu’ah. Maka ia menjawab, “Beliau membaca surat Al Ghasyiah.”

(Shahih Muslim : 878 – 63)

Memberikan pengajaran ketika khutbah ju’mat

وَ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوْخَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيْرَةِ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ هِلاَلٍ قَالَ قَالَ أَبُوْ رِفَاعَةَ:

اِنْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ رَجُلٌ غَرِيْبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِيْنِهِ لاَ يَدْرِي مَا دِيْنُهُ قَالَ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى اِنْتَهَى إِلَيَّ فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ حَسِبْتُ قَوَائِمَهُ حَدِيْدًا قَالَ فَقَعَدَ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ فَأَتَمَّ آخِرَهَا

60 – (876)

Dan Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Humaid bin Hilal ia berkata, Abu Rifa’ah berkata:

Aku tiba di tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berkhutbah. Lalu aku berkata kepada beliau, Wahai Rasulullah, ada orang asing yang sengaja datang kepada Anda untuk bertanya tentang agama, ia tidak tahu apa agamanya.Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendatangiku dan memutuskan khutbahnya. Ketika beliau sampai di dekatku, diberikanlah sebuah kursi -aku memperkirakan kaki-kakinya terbuat dari besi- untuk beliau duduki. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di kursi tersebut dan mengajarkan kepadaku perihal agama yang telah diajarkan Allah kepada beliau. Setelah itu, beliau meneruskan khutbahnya hingga selesai.

(Shahih Muslim : 876 – 60)

Menjalankan shalat tahiyyatul masjid ketika khatib sedang khutbah

وَحَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيْعِ الزَّهْرَانِيُّ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ قَالاَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ وَهُوَ اِبْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِيْنَارٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ:

بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ قَالَ لاَ قَالَ قُمْ فَارْكَعْ

54 – (875)

Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Rabi’ Az Zahrani dan Qutaibah bin Sa’id keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad ia adalah Ibnu Zaid dari Amru bin Dinar dari Jabir bin Abdullah ia berkata:

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya kepadanya:  Apakah kamu telah menunaikan shalat (dua raka’at) wahai Fulan?  laki-laki itu pun menjawab, Belum. Beliau bersabda: Bangun dan shalatlah.

(Shahih Muslim : 875 – 54)

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَيَعْقُوْبُ الدَّوْرَقِيُّ عَنِ ابْنِ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ حَمَّادٌ وَلَمْ يَذْكُرِ الرَّكْعَتَيْنِ

(875)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ya’qub Ad Dauraqi dari Ibnu Ulayyah dari Ayyub dari Amru dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni sebagaimana apa yang dikatakan Hammad, namun ia tidak menyebutkan dua raka’at.

(Shahih Muslim : 875 )

وَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا وَقَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ:

دَخَلَ رَجُلٌ اَلْمَسْجِدَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ قَالَ لاَ قَالَ قُمْ فَصَلِّ الرَّكْعَتَيْنِ وَفِي رِوَايَةِ قُتَيْبَةَ قَالَ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ

55 – (875)

Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Ishaq bin Ibrahim -Qutaibah berkata- telah menceritakan kepada kami -dan Ishaq berkata- telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Amru ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata:

Seorang laki-laki masuk Masjid sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menyampaikan khutbah Jum’at, maka beliau pun bertanya: Apakah kamu telah shalat? Laki-laki itu menjawab,belum. Maka beliau bersabda: Bangun dan shalatlah dua raka’at. dan dalam riwayat Qutaibah,Shalatlah dua raka’at.

(Shahih Muslim : 875 – 55)

وَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ اِبْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ:

جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَخْطُبُ فَقَالَ لَهُ أَرَكَعْتَ رَكْعَتَيْنِ قَالَ لاَ فَقَالَ اِرْكَعْ

56 – (875)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ dan Abdu bin Humaid -Ibnu Rafi’ berkata- telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Amru bin Dinar bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata:

Seorang laki-laki datang, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menyampaikan khutbah Jum’at di atas mimbar. Maka beliau pun bertanya padanya: Apakah kamu telah shalat dua raka’at?  laki-laki itu menjawab, belum. Beliau bersabda: Ruku’lah (shalatlah).

(Shahih Muslim : 875 – 56)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ وَهُوَ اِبْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ:

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ فَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَقَدْ خَرَجَ اْلإِمَامُ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

57 – (875)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru ia berkata:

Saya mendengar Jabir bin Abdulah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah seraya bersabda: “Jika salah seorang dari kalian datang untuk mengerjakan shalat Jum’at, sementara imam telah keluar (naik mimbar), hendaklah ia shalat dua raka’at.

(Shahih Muslim : 875 – 57)

وَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّهُ قَالَ:

جَاءَ سُلَيْكٌ اَلْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَعَدَ سُلَيْكٌ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَكَعْتَ رَكْعَتَيْنِ قَالَ لاَ قَالَ قُمْ فَارْكَعْهُمَا

58 – (875)

Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id Telah menceritakan kepada kami Laits -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh telah mengabarkan kepada kami Laits dari Abu Zubair dari Jabir bahwa ia berkata:

Sulaik Al Ghathafani datang pada hari Jum’at sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di atas mimbar, maka Sulaik pun duduk sebelum ia shalat. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya padanya, Apakah kamu telah shalat dua raka’at ?  ia menjawab, belum. Beliau bersabda: Bangunlah, dan shalatlah dua raka’at.

(Shahih Muslim : 875 – 58)

وَ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ كِلاَهُمَا عَنْ عِيْسَى بْنِ يُوْنُسَ قَالَ اِبْنُ خَشْرَمٍ أَخْبَرَنَا عِيْسَى عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ:

جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ لَهُ يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا ثُمَّ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا

59 – (875)

Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ali bin Khasyram keduanya dari Isa bin Yunus – Ibnu Khasyram berkata- telah mengabarkan kepada kami Isa dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir bin Abdullah ia berkata:

Sulaik Al Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, ia pun duduk, maka beliau pun bertanya padanya: Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan. Kemudian beliau bersabda: Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua raka’at dengan ringan.

(Shahih Muslim : 875 – 59)

Memendekkan khutbah dan Memanjangkan Shalat Jum’at

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ الرَّبِيْعِ وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو اْلأَحْوَصِ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ:

كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

41 – (866)

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Rabi’ dan Abu Bakar  bin Abu Syaibah keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Simak dari Jabir bin Samurah ia berkata:

Saya pernah shalat (Jum’at) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lama shalat dan khutbah beliau pertengahan (tidak terlalu panjang atau terlalu pendek).

(Shahih Muslim : 866 – 41)

وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ حَدَّثَنِي سِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ:

كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتِ فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ زَكَرِيَّاءُ عَنْ سِمَاكٍ

42 – (866)

Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Zakariya telah menceritakan kepadaku Simak bin Harb dari Jabir bin Samurah ia berkata:

Kami telah beberapa kali shalat (Jum’at) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka shalat dan khutbah beliau adalah pertengahan (tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek). Sementara dalam riwayat Abu Bakar bin Zakariya dari Simak.

(Shahih Muslim : 866 – 42)

وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيْدِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ اِحْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُوْلُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُوْلُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُوْلُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ اْلأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ثُمَّ يَقُوْلُ أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ

43 – (867)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Abdul Wahhab bin Abdul Majid dari Ja’far bin Muhammad dari bapaknya dari Jabir bin Abdullah ia berkata:

Bahwasanya,  Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda: Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (yakni jari telunjuk dan jari tengah). Kemudian beliau melanjutkan bersabda: Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat. Kemudian beliau bersabda: Aku lebih utama bagi setiap muslim daripada dirinya sendiri. Karena itu, siapa yang meninggalkan harta, maka harta itu adalah milik keluarganya. Sedangkan siapa yang mati dengan meninggalkan hutang atau keluarga yang terlantar, maka hal itu adalah tanggungjawabku.

(Shahih Muslim : 867 – 43)

وَ حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ كَانَتْ خُطْبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَحْمَدُ اللهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ ثُمَّ يَقُوْلُ عَلَى إِثْرِ ذَلِكَ وَقَدْ عَلاَ صَوْتُهُ ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيْثَ بِمِثْلِهِ

44 – (867)

Dan telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Muhammad dari bapaknya ia berkata; Saya mendengar Jabir bin Abdullah berkata; Isi khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Jum’at adalah, beliau memuji Allah, dan membaca puji-pujian atas-Nya, kemudian berliau menyampaikan khutbah dengan suara yang lantang. Kemudian ia pun menyebutkan hadits.

(Shahih Muslim : 867 – 44)

وَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَحْمَدُ اللهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُوْلُ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَخَيْرُ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيْثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ

45 – (867)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Ja’far dari Bapaknya dari Jabir berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika berkhotbah, beliau memuji Allah dan bersyukur kepadaNya kemudian beliau melanjutkan dengan kata:

Barangsiapa yang Allah memberinya petunjuk, niscaya tidak ada yang akan menyesatkannya, dan barangsiapa yang sesat, niscaya tidak ada yang menunjukinya, dan sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, kemudian hadits sebagaimana hadits Ats Tsaqafi.

(Shahih Muslim : 867 – 45)

وَحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى كِلاَهُمَا عَنْ عَبْدِ اْلأَعْلَى قَالَ اِبْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي عَبْدُ اْلأَعْلَى وَهُوَ أَبُوْ هَمَّامٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ عَمْرِو بْنِ سَعِيْدٍ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ :

أَنَّ ضِمَادًا قَدِمَ مَكَّةَ وَكَانَ مِنْ أَزْدِ شَنُوْءَةَ وَكَانَ يَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيْحِ فَسَمِعَ سُفَهَاءَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يَقُوْلُوْنَ إِنَّ مُحَمَّدًا مَجْنُوْنٌ فَقَالَ لَوْ أَنِّي رَأَيْتُ هَذَا الرَّجُلَ لَعَلَّ اللهَ يَشْفِيْهِ عَلَى يَدَيَّ قَالَ فَلَقِيَهُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيْحِ وَإِنَّ اللهَ يَشْفِي عَلَى يَدِي مَنْ شَاءَ فَهَلْ لَكَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَمَّا بَعْدُ قَالَ فَقَالَ أَعِدْ عَلَيَّ كَلِمَاتِكَ هَؤُلاَءِ فَأَعَادَهُنَّ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ فَقَالَ لَقَدْ سَمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ وَقَوْلَ السَّحَرَةِ وَقَوْلَ الشُّعَرَاءِ فَمَا سَمِعْتُ مِثْلَ كَلِمَاتِكَ هَؤُلاَءِ وَلَقَدْ بَلَغْنَ نَاعُوْسَ الْبَحْرِ قَالَ فَقَالَ هَاتِ يَدَكَ أُبَايِعْكَ عَلَى اْلإِسْلاَمِ قَالَ فَبَايَعَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى قَوْمِكَ قَالَ وَعَلَى قَوْمِي قَالَ فَبَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً فَمَرُّوْا بِقَوْمِهِ فَقَالَ صَاحِبُ السَّرِيَّةِ لِلْجَيْشِ هَلْ أَصَبْتُمْ مِنْ هَؤُلاَءِ شَيْئًا فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أَصَبْتُ مِنْهُمْ مِطْهَرَةً فَقَالَ رُدُّوْهَا فَإِنَّ هَؤُلاَءِ قَوْمُ ضِمَادٍ

46 – (868)

Dan Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya dari Al A’la – Ibnul Mutsanna berkata- telah menceritakan kepadaku Abdul A’la ia adalah Abu Hammam, telah menceritakan kepada kami Dawud dari Amru bin Sa’id dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwasanya

Suatu ketika, Dhimad pernah datang ke Makkah. Dia berasal dari Azdi Syanu`ah, dan pandai meruqyah (mengobati dengan bacaan-bacaan tertentu) seorang yang gila atau terkena gangguan jin. Kemudian pada suatu hari ia mendengar orang-orang bodoh penduduk Makkah mengatakan bahwa Muhammad itu gila. Maka Dhimad berkata, Sekiranya aku dapat melihat laki-laki ini, mudah-mudahan Allah menyembuhkannya melalui tanganku. Maka Dhimad pun menemui beliau, dan berkata, Wahai Muhammad, saya biasa meruqyah penyakit ini, dan Allah akan menyembuhkan melalui tanganku siapa saja yang dikehendakinya. Maukah kamu? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: INNAL HAMDA LILLAHI NAHMADUHU WA NASTA’IINUHU MAN YAHDIHILLAHU FALAA MUDLILLA LAHU WA MAN YUDHLIL FALAA HAADLIYA LAHU WA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH AMMA BA’DU. Dhimad berkata, Ulangilah lagi kata-katamu tadi. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengulanginya kembali hingga tiga kali. Akhirnya Dhimad berkata, Aku telah mendengar kata-kata tukang tenun, kata-kata tukang sihir dan kata-kata tukang sya’ir tetapi aku belum pernah mendengar kata-kata seperti yang Anda ucapkan itu, akupun juga pernah mengarungi lautan. Berikanlah tangan Anda padaku, aku akan bersumpah setia dengan Anda untuk memeluk Islam. Maka beliau pun membai’atnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dan juga untuk kaummu. Dhimad berkata, Ya, juga untuk kaumku. Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Sariyah (pasukan khusus yang ditugaskan utuk operasi tertentu), lalu mereka melewati kaumnya Dhimad. Lalu komandan pasukan itu bertanya kepada para prajuritnya, Adakah kalian mengambil sesuatu dari kampun itu? maka seorang laki-laki menyahut, Ada, saya telah mengambil ember mereka. maka sang komandan pun berkata,Kembalikanlah. Karena mereka adalah kaumnya Dhimad.

(Shahih Muslim : 868 – 46)

حَدَّثَنِي سُرَيْجُ بْنُ يُوْنُسَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبْجَرَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ وَاصِلِ بْنِ حَيَّانَ قَالَ قَالَ أَبُوْ وَائِلٍ:

خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَوْجَزَ وَأَبْلَغَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ طُوْلَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيْلُوْا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوْا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا

47 – (869)

Telah menceritakan kepadaku Suraij bin Yunus telah menceritakan kepada kamiAbdurrahman bin Abdul Malik bin Abjar dari bapaknya dari Washil bin Hayyan ia berkata, Abu Wa`il berkata:

Ammar pernah menyampaikan khutbah Jum’at kepada kami dengan bahasa yang singkat dan padat. Maka ketika ia turun dari mimbar, kami pun berkata kepadanya, Wahai Abu Yaqzhan! Khutbah Anda begitu singkat dan padat. Alangkah baiknya kalau Anda panjangkan lagi. Ammar berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya lamanya shalat dan pendeknya khutbah seseorang itu menunjukkan tentang pemahaman ia tentang agamanya. Karena itu, panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah, karena sebagian dari bayan (penjelasan) adalah sihir

(Shahih Muslim : 869 – 47)

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ تَمِيْمِ بْنِ طَرَفَةَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ :

أَنَّ رَجُلاً خَطَبَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ رَشَدَ وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَقَدْ غَوَى فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِئْسَ الْخَطِيْبُ أَنْتَ قُلْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ قَالَ اِبْنُ نُمَيْرٍ فَقَدْ غَوِيَ

48 – (870)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammd bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Abdul Aziz bin Rufai’ dari Tamim bin Tharafah dari Adi bin Hatim bahwa seorang laki-laki berkhutbah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata:

Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah mendapat petunjuk, dan siapa yang bermaksiat kepada keduanya, maka ia telah tersesat. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seburuk-buruk Khathib adalah kamu. Maka katakanlah, Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Numair mengatakan; Maka ia telah tersesat.

(Shahih Muslim : 870 – 48)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ الْحَنْظَلِيُّ جَمِيْعًا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو سَمِعَ عَطَاءً يُخْبِرُ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ يَعْلَى عَنْ أَبِيهِ :

أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَى الْمِنْبَرِ { وَنَادَوْا يَا مَالِك {

49 – (871)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ishaq Al Hanzhali semuanya dari Ibnu Uyainah – Qutaibah berkata :

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru ia mendengar Atha` mengabarkan kepadanya dari Shafwan bin Ya’la dari bapaknya bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (ayat) di atas mimbar. Dan mereka memanggil, Wahai Malik.

(Shahih Muslim : 871 – 49)

وَحَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيْدٍ عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُخْتٍ لِعَمْرَةَ قَالَتْ:

أَخَذْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيْدِ مِنْ فِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ يَقْرَأُ بِهَا عَلَى الْمِنْبَرِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ

50 – (872)

Dan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Hassan telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Yahya bin Sa’id dari Amrah binti Abdurrahman dari saudara perempuan Amrah, ia berkata:

 Aku menghafal surat Qaaf  langsung dari mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni ketika beliau membacanya beberapa kali di atas mimbar dalam khutbah Jum’at.

(Shahih Muslim : 872 – 50)

و حَدَّثَنِيهِ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوْبَ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيْدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ أُخْتٍ لِعَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَانَتْ أَكْبَرَ مِنْهَا بِمِثْلِ حَدِيثِ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلاَلٍ

(872)

Dan telah menceritakannya kepadaku Abu Thahir telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dari Yahya bin Ayyub dari Yahya bin Sa’id dari Amrah dari saudara perempuan Amrah binti Abdurrahman dan lebih besar darinya. yakni sebagaimana hadits Sulaiman bin Bilal.

(Shahih Muslim : 872 )

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ خُبَيْبٍ عَنْ عَبدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ مَعْنٍ عَنْ بِنْتٍ لِحَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَتْ :

مَا حَفِظْتُ ق إِلاَّ مِنْ فِي رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ بِهَا كُلَّ جُمُعَةٍ قَالَتْ وَكَانَ تَنُّوْرُنَا وَتَنُّوْرُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحِدًا

51 – (873)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Khubaib dari Abdullah bin Muhammad dari salah seorang putri Ma’n binti Haritsah bin Nu’man ia berkata:

Tidaklah saya menghafal surat Qaaf kecuali dari mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membacanya pada setiap kali khutbah Jum’at. Dan tempat pembuatan roti kami dengan pembuatan roti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah satu.

(Shahih Muslim : 873 – 51)

وَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا يَعْقُوْبُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ اَلْأَنْصَارِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ زُرَارَةَ عَنْ أُمِّ هِشَامٍ بِنْتِ حَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَتْ:

لَقَدْ كَانَ تَنُّوْرُنَا وَتَنُّوْرُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحِدًا سَنَتَيْنِ أَوْ سَنَةً وَبَعْضَ سَنَةٍ وَمَا أَخَذْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ إِلاَّ عَنْ لِسَانِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَؤُهَا كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ

52 – (873)

Dan Telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm Al Anshari dari Yahya bin Abdullah bin Abdurrahman bin Sa’d bin Zurarah dari Ummi Hisyam binti Haritsah bin Nu’man ia berkata:

Tempat pembuatan roti kami dan tempat pembuatan roti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sama selama dua atau satu tahun lebih, dan tidaklah saya menghafal surat ‘QAAF WAL QUR`ANIL MAJIID’ kecuali dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membacanya pada setiap hari Jum’at di atas mimbar saat beliau menyampaikan khutbah kepada manusia.

(Shahih Muslim : 873 – 52)

وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ إِدْرِيْسَ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ:

رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيْدُ عَلَى أَنْ يَقُوْلَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ

53 – (874)

Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Hushain dari Umarah bin Ru`aibah

Bahwa suatu ketika ia melihat Bisyra bin Marwan mengangkat kedua tangannya di atas mimbar, maka ia pun berkata; Semoga Allah menjelekkan kedua tangan ini. Sungguh, saya telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak menambah lagi setelah memberikan isyarat dengan tangannya seperti ini -ia pun memberi isyarat dengan jari telunjuknya-.

(Shahih Muslim : 874 – 53)

وَ حَدَّثَنَاه قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَوَانَةَ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ رَأَيْتُ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ يَوْمَ جُمُعَةٍ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فَقَالَ عُمَارَةُ بْنُ رُؤَيْبَةَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ

(874)

Dan telah menceritakannya kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Hushain bin Abdurrahman ia berkata; Saya melihat Bisyra bin Marwan pada hari Jum’at mengangkat kedua tangannya, maka Umarah bin Ru`aibah pun berkata. Kemudian ia pun menyebutkan hadits semisal.

(Shahih Muslim : 874)

Ketika Nabi Muhammad SAW dianggap gila dan akan diruqyah seorang ahli ruqyah

وَحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى كِلاَهُمَا عَنْ عَبْدِ اْلأَعْلَى قَالَ اِبْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي عَبْدُ اْلأَعْلَى وَهُوَ أَبُوْ هَمَّامٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ عَمْرِو بْنِ سَعِيْدٍ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ :

أَنَّ ضِمَادًا قَدِمَ مَكَّةَ وَكَانَ مِنْ أَزْدِ شَنُوْءَةَ وَكَانَ يَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيْحِ فَسَمِعَ سُفَهَاءَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يَقُوْلُوْنَ إِنَّ مُحَمَّدًا مَجْنُوْنٌ فَقَالَ لَوْ أَنِّي رَأَيْتُ هَذَا الرَّجُلَ لَعَلَّ اللهَ يَشْفِيْهِ عَلَى يَدَيَّ قَالَ فَلَقِيَهُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيْحِ وَإِنَّ اللهَ يَشْفِي عَلَى يَدِي مَنْ شَاءَ فَهَلْ لَكَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَمَّا بَعْدُ قَالَ فَقَالَ أَعِدْ عَلَيَّ كَلِمَاتِكَ هَؤُلاَءِ فَأَعَادَهُنَّ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ فَقَالَ لَقَدْ سَمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ وَقَوْلَ السَّحَرَةِ وَقَوْلَ الشُّعَرَاءِ فَمَا سَمِعْتُ مِثْلَ كَلِمَاتِكَ هَؤُلاَءِ وَلَقَدْ بَلَغْنَ نَاعُوْسَ الْبَحْرِ قَالَ فَقَالَ هَاتِ يَدَكَ أُبَايِعْكَ عَلَى اْلإِسْلاَمِ قَالَ فَبَايَعَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى قَوْمِكَ قَالَ وَعَلَى قَوْمِي قَالَ فَبَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً فَمَرُّوْا بِقَوْمِهِ فَقَالَ صَاحِبُ السَّرِيَّةِ لِلْجَيْشِ هَلْ أَصَبْتُمْ مِنْ هَؤُلاَءِ شَيْئًا فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أَصَبْتُ مِنْهُمْ مِطْهَرَةً فَقَالَ رُدُّوْهَا فَإِنَّ هَؤُلاَءِ قَوْمُ ضِمَادٍ

46 – (868)

Dan Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya dari Al A’la – Ibnul Mutsanna berkata- telah menceritakan kepadaku Abdul A’la ia adalah Abu Hammam, telah menceritakan kepada kami Dawud dari Amru bin Sa’id dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwasanya

Suatu ketika, Dhimad pernah datang ke Makkah. Dia berasal dari Azdi Syanu`ah, dan pandai meruqyah (mengobati dengan bacaan-bacaan tertentu) seorang yang gila atau terkena gangguan jin. Kemudian pada suatu hari ia mendengar orang-orang bodoh penduduk Makkah mengatakan bahwa Muhammad itu gila. Maka Dhimad berkata, Sekiranya aku dapat melihat laki-laki ini, mudah-mudahan Allah menyembuhkannya melalui tanganku. Maka Dhimad pun menemui beliau, dan berkata, Wahai Muhammad, saya biasa meruqyah penyakit ini, dan Allah akan menyembuhkan melalui tanganku siapa saja yang dikehendakinya. Maukah kamu? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: INNAL HAMDA LILLAHI NAHMADUHU WA NASTA’IINUHU MAN YAHDIHILLAHU FALAA MUDLILLA LAHU WA MAN YUDHLIL FALAA HAADLIYA LAHU WA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH AMMA BA’DU. Dhimad berkata, Ulangilah lagi kata-katamu tadi. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengulanginya kembali hingga tiga kali. Akhirnya Dhimad berkata, Aku telah mendengar kata-kata tukang tenun, kata-kata tukang sihir dan kata-kata tukang sya’ir tetapi aku belum pernah mendengar kata-kata seperti yang Anda ucapkan itu, akupun juga pernah mengarungi lautan. Berikanlah tangan Anda padaku, aku akan bersumpah setia dengan Anda untuk memeluk Islam. Maka beliau pun membai’atnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dan juga untuk kaummu. Dhimad berkata, Ya, juga untuk kaumku. Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Sariyah (pasukan khusus yang ditugaskan utuk operasi tertentu), lalu mereka melewati kaumnya Dhimad. Lalu komandan pasukan itu bertanya kepada para prajuritnya, Adakah kalian mengambil sesuatu dari kampun itu? maka seorang laki-laki menyahut, Ada, saya telah mengambil ember mereka. maka sang komandan pun berkata,Kembalikanlah. Karena mereka adalah kaumnya Dhimad.

(Shahih Muslim 868-46)