Tentang Firman Allah : Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih (QS Al Furqon :48)

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نُصِرْتُ بِالصَّبَا وَأُهْلِكَتْ عَادٌ بِالدَّبُوْرِ
[3033]

Telah bercerita kepada kami Adam telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Aku ditolong dengan perantaraan angin yang berhembus dari timur (belakang pintu Ka’bah) sedangkan kaum ‘Aad dibinasakan dengan angin yang berhembus dari barat.
[ HR Bukhori 3033 ]

 

حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ حَدَّثَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَخِيْلَةً فِي السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّيَ عَنْهُ فَعَرَّفَتْهُ عَائِشَةُ ذَلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَدْرِي لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ { فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ } الْآيَةَ
[3034]

Telah bercerita kepada kami Makkiy bin Ibrahim telah bercerita kepada kami Ibnu Juraij dari ‘Atha’ dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata;
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat awan mendung di langit, Beliau memandangnya lalu membelakanginya, mondar-mandir antara keluar-masuk rumah dengan wajah yang berubah. Kemudian ‘Aisyah minta penjelasan hal itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Aku tidak tahu pasti barangkali kejadiannya bisa seperti kaum yang berkata (sebagaimana firman Allah dalam QS al-Ahqaf ayat 24) yang artinya: Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.
[ HR Bukhori 3034 ]

Iklan

Mencuci dua kaki hingga dua mata kaki (ketika wudhu)

حَدَّثَنَا مُوْسَى قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ عَمْرٍو عَنْ أَبِيْهِ
شَهِدْتُ عَمْرَو بْنَ أَبِي حَسَنٍ سَأَلَ عَبْدَ اللهِ بْنَ زَيْدٍ عَنْ وُضُوْءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ فَتَوَضَّأَ لَهُمْ وُضُوءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكْفَأَ عَلَى يَدِهِ مِنَ التَّوْرِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثَ غَرَفَاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأْسَهُ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
[184]

Telah menceritakan kepada kami Musa berkata, telah menceritakan kepada kami Wuhhaib dari ‘Amru dari Bapaknya berkata,
Aku pernah menyaksikan ‘Amru bin Abu Hasan bertanya kepada ‘Abdullah bin Zaid tentang wudlunya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia minta diambilkan satu gayung air, kemudian ia memperlihatkan kepada mereka cara wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menuangkan air dari gayung ke telapak tangannya lalu mencucinya tiga kali, kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu berkumur-kumur, lalu memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali dengan tiga kali cidukan, kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangannya dua kali sampai ke siku. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu mengusap kepalanya dengan tangan; mulai dari bagian depan ke belakang dan menariknya kembali sebanyak satu kali, lalu membasuh kedua kakinya hingga mata kaki.
(HR : Imam Bukhori: 184).

Memakai minyak wangi (misik), dan kemakruhan menolak wewangian dan minyak wangi

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنِي خُلَيْدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ قَصِيْرَةٌ تَمْشِي مَعَ اِمْرَأَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ فَاتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٌ مُطْبَقٌ ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا وَهُوَ أَطْيَبُ الطِّيْبِ فَمَرَّتْ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ فَلَمْ يَعْرِفُوْهَا فَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا وَنَفَضَ شُعْبَةُ يَدَهُ

18- (2252)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Syu’bah; Telah menceritakan kepadaku Khulaid bin Ja’far dariAbu Nadhr dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Pada masa bani Isra`il ada seorang wanita yang pendek badannya berjalan bersama dua orang wanita yang tinggi badannya. lalu ia membuat kaki palsu dari kayu untuk kedua kakinya, dan memakai cincin emas yang dia buatnya. Lalu diberi minyak wangi kesturi (misik) , sebaik-baik minyak wangi. Kemudian dia berjalan di antara dua wanita tersebut hingga orang-orang pun tidak mengenalnya. Dia berkata sambil kedua tangannya seperti ini. Syu’bah sambil menggerak-gerakkan tangannya.

(Shahih Muslim : 2252 – 18 )

 

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ خُلَيْدِ بْنِ جَعْفَرٍ وَالْمُسْتَمِرِّ قَالاَ سَمِعْنَا أَبَا نَضْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ امْرَأَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ حَشَتْ خَاتَمَهَا مِسْكًا وَالْمِسْكُ أَطْيَبُ الطِّيْبِ

19- (2252)

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru An Naqid; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Syu’bah dari Khulaid bin Ja’far dan Al Mustamir keduanya berkata; Aku mendengar Abu Nadhrah bercerita dari Abu Sa’id Al Khudri

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang wanita dari bani Israil yang memberi minyak kesturi pada cincinnya. Minyak kesturi adalah sebaik-baik minyak wangi.

(Shahih Muslim : 2252 – 19 )

 

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ كِلاَهُمَا عَنِ الْمُقْرِئِ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِي أَيُّوْبَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ رَيْحَانٌ فَلاَ يَرُدُّهُ فَإِنَّهُ خَفِيْفُ الْمَحْمِلِ طَيِّبُ الرِّيْحِ

20- (2253)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb keduanya dari Al Muqri. Abu Bakr berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdur Rahman Al Muqri dari Sa’id bin Abu Ayyub; Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Abu Ja’far dari ‘Abdur Rahman Al A’raj dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa ditawarkan kepadanya wewangian maka janganlah menolaknya, karena sesungguhnya wangian-wangian ringan bebannya dan harum baunya.

(Shahih Muslim : 2253 – 19 )

 

حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيْدٍ اْلأَيْلِيُّ وَأَبُوْ طَاهِرٍ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيْسَى قَالَ أَحْمَدُ حَدَّثَنَا و قَالَ اْلآخَرَانِ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مَخْرَمَةُ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ نَافِعٍ قَالَ

كَانَ اِبْنُ عُمَرَ إِذَا اسْتَجْمَرَ اِسْتَجْمَرَ بِالْأَلُوَّةِ غَيْرَ مُطَرَّاةٍ وَبِكَافُوْرٍ يَطْرَحُهُ مَعَ الْأَلُوَّةِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ يَسْتَجْمِرُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

21-   (2254)

Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id Al Aili dan Abu Thahir dan Ahmad bin ‘Isa. Ahmad berkata; Telah menceritakan kepada kami. Dan yang lainnya berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab Telah mengabarkan kepadaku Makhramah dari Bapaknya dari Nafi’ dia berkata:

Jika Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu ingin menggunakan wewangian, ia memakai Al aluwwah (kayu wangi yang dibakar) tanpa campuran, terkadang juga memakai kapur yang dicampur dengan Al aluwwah. Lalu ia berkata, Beginilah kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat memakai minyak wangi.

(Shahih Muslim : 2254 – 21 )

 

 

 

 

Pujian Orang Tidak Mengurangi Pahala Suatu Amal

حدثنا يحيى بن يحيى التميمي وأبو الربيع وأبو كامل، فضيل بن حسين – واللفظ ليحيى – (قال يحيى: أخبرنا. وقال الآخران: حدثنا) حماد بن زيد عن أبي عمران الجوني، عن عبدالله بن الصامت، عَنْ أَبِي ذَرٍّ. قَالَ:

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ، وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ؟ قَالَ “تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ”.

166 – (2642)

Hadits riwayat AbuDzar Radhiyallahu’anhu,iaberkata:

Adayang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam katanya: “Bagaimana pendapat engkau terhadap seseorang yang mengerjakan suatu pekerjaan baik dan orang banyak memujinya karena perbuatanya itu?” Nabi menjawab: “Pujian itu adalah pendahuluan dari berita gembira untuk orang-orang yang beriman.”

(Hadits Shahih Muslim : 2642-166)

Pada Hari Kiamat Seseorang Akan Bersama-sama dengan Orang Yang Dicintainya

حدثنا عبدالله بن مسلمة بن قعنب. حدثنا مالك عن إسحاق بن عبدالله بن أبي طلحة، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ؛

أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “مَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟” قَالَ: حَبُّ اللهِ وَرَسُوْلِهِ. قَالَ “أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ”.

161 – (2639)

Hadits riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:

Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam: Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai

(Hadits Shahih Muslim : 2639-161)

حدثنا عثمان بن أبي شيبة وإسحاق بن إبراهيم (قال إسحاق: أخبرنا. وقال عثمان: حدثنا) جرير عن الأعمش، عن أبي وائل، عَنْ عَبْدُاللهِ قَالَ:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! كَيْفَ تَرَى فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ”.

165 – (2640)

Hadits riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata:

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun dia belum dapat bertemu dengan mereka? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: Seorang akan bersama orang yang dicintai

(Hadits Shahih Muslim : 2640-165)

Jiwa manusia Berkumpul Dengan Jiwa Yang Sejenis

حدثنا قتيبة بن سعيد. حدثنا عبدالعزيز (يعني ابن محمد) عن سهيل، عن أبيه، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ “اَلأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ. فَمَا تَعَارَفُ مِنْهَا اِئْتَلَفَ. وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اِخْتَلَفَ”.

159 – (2638)

Hadits riwayat AbuHurairah Radhiyallahu’anhu,iaberkata:

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda : Arwah (nyawa manusia) itu kumpulan yang berbeda-beda. Mana diantaranya yang sesuai, dia bersatu dan mana yang berlainan, dia berpisah.

(Hadits Shahih Muslim : 2638-159)

Hamba Yang Dicintai Allah dan Yang Dibenci Allah

حدثنا زهير بن حرب. حدثنا جرير عن سهيل، عن أبيه، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. قَالَ:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا، دَعَا جَبْرِيْلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ فُلاَناً فَأَحِبَّهُ. قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ. ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوْهُ. فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ. قَالَ ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي اْلأَرْضِ. وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيْلَ فَيَقُوْلُ: إِنِّي أُبْغِضُ فُلاَناً فَأَبْغِضُهُ. قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيْلُ. ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ فُلاَناً فَأَبْغِضُوْهُ. قَالَ فَيُبْغِضُوْنَهُ. ثُمَّ تُوْضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي اْلأَرْضِ”.

157 – (2637)

Hadits riwayat AbuHurairah Radhiyallahu’anhu,iaberkata:

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si pulan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si pulan, maka cintailah dia!Parapenghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si pulan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si pulan, maka bencilah kepadanya.Parapenghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi.

(Hadits Shahih Muslim : 2637-157)

%d blogger menyukai ini: