Ketika Wanita-wanita Keluar rumah untuk buang hajat

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنَّ يَخْرُجْنَ بِاللَّيْلِ إِذَا تَبَرَّزْنَ إِلَى الْمَنَاصِعِ وَهُوَ صَعِيْدٌ أَفْيَحُ فَكَانَ عُمَرُ يَقُوْلُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُحْجُبْ نِسَاءَكَ فَلَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ فَخَرَجَتْ سَوْدَةُ بِنْتُ زَمْعَةَ زَوْجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنَ اللَّيَالِي عِشَاءً وَكَانَتْ اِمْرَأَةً طَوِيْلَةً فَنَادَاهَا عُمَرُ أَلَا قَدْ عَرَفْنَاكِ يَا سَوْدَةُ حِرْصًا عَلَى أَنْ يَنْزِلَ الْحِجَابُ فَأَنْزَلَ اللهُ آيَةَ الْحِجَابِ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أُذِنَ أَنْ تَخْرُجْنَ فِي حَاجَتِكُنَّ قَالَ هِشَامٌ يَعْنِي الْبَرَازَ
[146]

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Urwah dari ‘Aisyah,
Bahwa jika isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingin buang hajat, mereka keluar pada waktu malam menuju tempat buang hajat yang berupa tanah lapang dan terbuka. Umar pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Hijabilah isteri-isteri Tuan. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya. Lalu pada suatu malam waktu Isya` Saudah binti Zam’ah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, keluar (untuk buang hajat). Dan Saudah adalah seorang wanita yang berpostur tinggi. ‘Umar lalu berseru kepadanya, Sungguh kami telah mengenalmu wahai Saudah! ‘ Umar ucapkan demikian karena sangat antusias agar ayat hijab diturunkan. Maka Allah kemudian menurunkan ayat hijab. Telah menceritakan kepada kami Zakaria berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Allah telah mengizinkan kalian (isteri-isteri Nabi) keluar untuk menunaikan hajat kalian. Hisyam berkata, Yakni buang air besar.
(HR : Imam Bukhori: 146)

Boleh menghadap kiblat atau baitul maqdis ketika buang hajat di dalam bangunan atau berada diantara dua dinding

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حِبَّانَ عَنْ عَمِّهِ وَاسِعِ بْنِ حَبَّانَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ
إِنَّ نَاسًا يَقُوْلُوْنَ إِذَا قَعَدْتَ عَلَى حَاجَتِكَ فَلَا تَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَلَا بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ لَقَدْ اِرْتَقَيْتُ يَوْمًا عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ لَنَا فَرَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى لَبِنَتَيْنِ مُسْتَقْبِلًا بَيْتَ الْمَقْدِسِ لِحَاجَتِهِ وَقَالَ لَعَلَّكَ مِنَ الَّذِيْنَ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَوْرَاكِهِمْ فَقُلْتُ لَا أَدْرِي وَاللهِ قَالَ مَالِكٌ يَعْنِي اَلَّذِي يُصَلِّي وَلَا يَرْتَفِعُ عَنِ الْأَرْضِ يَسْجُدُ وَهُوَ لَاصِقٌ بِالْأَرْضِ
[145]

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah menceritakan kepada kami Malik telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari pamannya Wasi’ bin Hibban dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA bahwa ia berkata:
Orang-orang berkata, Jika kamu duduk menunaikan hajatmu maka janganlah menghadap kiblat atau menghadap ke arah Baitul Maqdis. ‘Abdullah bin ‘Umar lalu berkata, Pada suatu hari aku pernah naik atap rumah milik kami, lalu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam buang hajat menghadap Baitul Maqdis di antara dua dinding. Lalu ada seseorang yang berkata, Barangkali kamu termasuk dari orang-orang yang shalat dengan mendekatkan paha (ke tanah)? Maka aku jawab, Demi Allah, aku tidak tahu. Malik berkata, Yaitu orang yang shalat namun tidak mengangkat (paha) dari tanah ketika sujud, yakni menempel tanah.
(HR : Imam Bukhori: 145)

Jangan buang air kecil atau besar sambil menghadap kiblat, kecuali didalam bangunan

حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا اِبْنُ أَبِي ذِئْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيْدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوْبَ اَلْأَنْصَارِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَلَا يُوَلِّهَا ظَهْرَهُ شَرِّقُوْا أَوْ غَرِّبُوْا
[144]

Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi’b berkata, telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari ‘Atha’ bin Yazid Al Laitsi dari Abu Ayyub Al Anshari, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian hendak buang hajat, maka janganlah menghadap ke arah kiblat dan jangan membelakanginya. Hendaklah ia menghadap ke arah timur atau barat.”
(HR : Imam Bukhori: 144)

nb: Bila arah kiblat bukan di arah timur atau barat

Menyediakan air ketika akan masuk WC

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي يَزِيْدَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْخَلَاءَ فَوَضَعْتُ لَهُ وَضُوءًا قَالَ مَنْ وَضَعَ هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَالَ اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
[143]

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Warqa’ dari ‘Ubaidullah bin Abu Yazid dari Ibnu ‘Abbas
Bahwa pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk kedalam WC, lalu aku letakkan bejana berisi air. Beliau lantas bertanya: “Siapa yang meletakkan ini?” Aku lalu memberitahukannya, maka beliau pun bersabda: “Ya Allah pandaikanlah dia dalam agama.”
(HR : Imam Bukhori: 143)

Doa yang dibaca ketika masuk WC

حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ صُهَيْبٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُوْلُ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ تَابَعَهُ اِبْنُ عَرْعَرَةَ عَنْ شُعْبَةَ وَقَالَ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ إِذَا أَتَى الْخَلَاءَ وَقَالَ مُوْسَى عَنْ حَمَّادٍ إِذَا دَخَلَ وَقَالَ سَعِيْدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ
[142]

Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul ‘Aziz bin Shuhaib berkata, aku mendengar Anas berkata
Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam WC, maka beliau berdo’a: ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan) ‘. Dan hadits ini dikuatkan oleh Ibnu ‘Ar’arah dari Syu’bah, dan Ghundar berkata dari Syu’bah ia berkata, Jika mendatangi WC. Dan Musa dari Hammad, Jika masuk. Dan Sa’id bin Zaid berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul ‘Aziz, Jika mau masuk.
(HR : Imam Bukhori: 142)

Membaca basmalah dalam segala hal termasuk ketika akan bersetubuh

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ عَنْ مَنْصُوْرٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ كُرَيْبٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَبْلُغُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَقُضِيَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرُّهُ
[141]

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas dan sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian ingin mendatangi isterinya (untuk bersetubuh), maka hendaklah ia membaca; ‘ALLAHUMMA JANNIBNASYSYAITHOONA WA JANNIBISYSYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rizkikan (anak) kepada kami) ‘. Jika dikaruniai anak dari hubungan keduanya maka setan tidak akan dapat mencelakakan anak itu.”
(HR : Imam Bukhori: 141)

Membasuh wajah dengan dua tangan dari satu cidukan

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيْمِ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُوْ سَلَمَةَ الْخُزَاعِيُّ مَنْصُوْرُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا اِبْنُ بِلَالٍ يَعْنِي سُلَيْمَانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّهُ تَوَضَّأَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَمَضْمَضَ بِهَا وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَجَعَلَ بِهَا هَكَذَا أَضَافَهَا إِلَى يَدِهِ الْأُخْرَى فَغَسَلَ بِهِمَا وَجْهَهُ ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُمْنَى ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَرَشَّ عَلَى رِجْلِهِ الْيُمْنَى حَتَّى غَسَلَهَا ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً أُخْرَى فَغَسَلَ بِهَا رِجْلَهُ يَعْنِي الْيُسْرَى ثُمَّ قَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ
[140]

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdurrahman berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Salamah Al Khaza’i Manshur bin Salamah berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Bilal -yaitu Sulaiman- dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha’ bin Yasar dari Ibnu ‘Abbas
Bahwa dia berwudlu’, ia mencuci wajahnya, lalu mengambil air satu cidukan tangan dan menggunakannya untuk berkumur dan istinsyaq, lalu ia kembali mengambil satu cidukan tangannya dan menjadikannya begini -menuangkan pada tangannya yang lain-, lalu dengan kedua tangannya ia membasuh wajahnya, lalu mengambil air satu cidukan dan membasuh tangan kanannya, lalu kembali mengambil air satu cidukan dan membasuh tangannya yang sebelah kiri. Kemudian mengusap kepala, lalu mengambil air satu cidukan dan menyela-nyela kaki kanannya hingga membasuhnya, lalu mengambil air satu cidukan lagi dan membasuh kaki kirinya. Setelah itu ia berkata, Seperti inilah aku lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu
(HR : Imam Bukhori: 140)