Doa yang dibaca ketika masuk WC

حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ صُهَيْبٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُوْلُ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ تَابَعَهُ اِبْنُ عَرْعَرَةَ عَنْ شُعْبَةَ وَقَالَ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ إِذَا أَتَى الْخَلَاءَ وَقَالَ مُوْسَى عَنْ حَمَّادٍ إِذَا دَخَلَ وَقَالَ سَعِيْدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ
[142]

Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul ‘Aziz bin Shuhaib berkata, aku mendengar Anas berkata
Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam WC, maka beliau berdo’a: ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan) ‘. Dan hadits ini dikuatkan oleh Ibnu ‘Ar’arah dari Syu’bah, dan Ghundar berkata dari Syu’bah ia berkata, Jika mendatangi WC. Dan Musa dari Hammad, Jika masuk. Dan Sa’id bin Zaid berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul ‘Aziz, Jika mau masuk.
(HR : Imam Bukhori: 142)

Iklan

Do’a shalat istisqo’

وَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوْبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الْآخَرُوْنَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شَرِيْكِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ:

أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ جُمُعَةٍ مِنْ بَابٍ كَانَ نَحْوَ دَارِ الْقَضَاءِ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا ثُمَّ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلَكَتِ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِثْنَا قَالَ فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اَللّهُمَّ أَغِثْنَا اَللّهُمَّ أَغِثْنَا اَللّهُمَّ أَغِثْنَا قَالَ أَنَسٌ وَلَا وَاللهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَلَا قَزَعَةٍ وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَلَا دَارٍ قَالَ فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ فَلَمَّا تَوَسَّطَتِ السَّمَاءَ اِنْتَشَرَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ قَالَ فَلَا وَاللهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سَبْتًا قَالَ ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ فِي الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلَكَتِ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُمْسِكْهَا عَنَّا قَالَ فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اَللّهُمَّ حَوْلَنَا وَلَا عَلَيْنَا اَللّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ فَانْقَلَعَتْ وَخَرَجْنَا نَمْشِي فِي الشَّمْسِ قَالَ شَرِيْكٌ فَسَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَهُوَ الرَّجُلُ الْأَوَّلُ قَالَ لَا أَدْرِي

8 – (897)

Dan Telah meceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr -Yahya berkata- telah mengabarkan kepada kami -sementara yang lain berkata- Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far dari Syarik bin Abu Namir dari Anas bin Malik bahwasanya;

Ada seorang laki-laki yang masuk Masjid pada hari Jum’at dari pintu yang menghadap Darul Qadla`, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri sedang menyampaikan khutbah. Kemudian laki-laki itu segera menghadap ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan pun telah terputus. Karena itu, berdo’alah kepada Allah agar menurunkan hujan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a: ALLAHUMMA AGHITSNAA ALLAHUMMA AGHITSNAA, ALLAHUMMA AGHITSNAA (Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami). Anas berkata, Tidak, demi Allah, kami tidak melihat mendung maupun gumpalan awan sedikitpun di langit, juga tidak ada di antara kami ataupun di antara celah meski satu rumah maupun tempat tinggal. Ia berkata, Maka datanglah dari arah belakangnya segumpalan awan yang menyerupai sebuah perisai. Setelah memenuhi langit, awan tersebut menyebar lalu turunlah hujan. Ia berkata, Tidak, demi Allah kami tidak dapat melihat matahari kala itu. Ia berkata, Kemudian ada seorang laki-laki yang masuk melalui pintu tersebut pada hari Jum’at selanjutnya, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbah, maka ia menghampiri beliau dengan berdiri dan mengatakan, Wahai Rasulullah, harta benda kami telah lenyap dan jalan-jalan pun sudah buntu, maka berdo’alah kepada Allah supaya Dia menahannya bagi kami. Ia mengatakan, Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya lalu berdo’a, Ya Allah! Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah! Berilah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan. Maka kami segera berdiri dan keluar berjalan di bawah sinar matahari. Syarik berkata; Lalu aku pun bertanya kepada Anas bin Malik, Apakah laki-laki itu adalah laki-laki yang pertama? Ia menjawab, Saya tidak tahu.

(Shahih Muslim : 897 – 8 )

وَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ

أَصَابَتِ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ وَسَاقَ الْحَدِيْثَ بِمَعْنَاهُ وَفِيْهِ قَالَ اَللّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا قَالَ فَمَا يُشِيْرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ إِلَّا تَفَرَّجَتْ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَدِيْنَةَ فِي مِثْلِ الْجَوْبَةِ وَسَالَ وَادِي قَنَاةَ شَهْرًا وَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا أَخْبَرَ بِجَوْدٍ

9 – (898)

Dan telah meceritakan kepada kami Dawud bin Rusyaidin telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik ia berkata;

Orang-orang tertimpa musim paceklik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menyampaikan khutbah kepada orang banyak di atas mimbar pada hari Jum’at, tiba-tiba berdirilah seorang Arab pegunungan dan berkata, Wahai Rasulullah, harta telah binasa dan sanak keluarga kami pun kelaparan. Ia pun menuturkan hadits yang semakna dengan hadits di atas. Dan di dalamnya ia menyebutkan do’a: ALLAHUMMA HAWAALAINAA WALAA ‘ALAINAA (Ya Allah, hujanilah sekitar kami dan jangan kepada kami). Dan tidaklah beliau memberi isyarat dengan tangannya, kecuali terlihat (gumpalan awan), hingga aku melihat kota Madinah bagaikan lobang. Dan lembah Qanath mengalirkan airnya selama satu bulan, dan tidaklah seseorang datang dari seberang, kecuali dengan membawa berita terjadinya hujan yang lebat.

(Shahih Muslim : 897 – 9 )

وَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَامَ إِلَيْهِ النَّاسُ فَصَاحُوْا وَقَالُوْا يَا نَبِيَّ اللهِ قَحَطَ الْمَطَرُ وَاحْمَرَّ الشَّجَرُ وَهَلَكَتْ الْبَهَائِمُ وَسَاقَ الْحَدِيْثَ وَفِيْهِ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ الْأَعْلَى فَتَقَشَّعَتْ عَنِ الْمَدِيْنَةِ فَجَعَلَتْ تُمْطِرُ حَوَالَيْهَا وَمَا تُمْطِرُ بِالْمَدِيْنَةِ قَطْرَةً فَنَظَرْتُ إِلَى الْمَدِيْنَةِ وَإِنَّهَا لَفِي مِثْلِ الْإِكْلِيلِ

10 – (897)

Dan telah menceritakan kepadaku Abdul A’la bin Hammad dan Muhammad bin Abu Bakar Al Muqaddami keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Tsabit Al Bunani dari Anas bin Malik ia berkata;

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah pada hari Jum’at, kemudian orang-orang datang kepada beliau dengan berteriak seraya berkata, Wahai Nabi Allah, hujan tak lagi turun, pepohonan telah memerah dan hewan ternak pun telah binasa. Ia pun menuturkan hadits. Dan di dalamnya -dari riwayatnya Abdul A’la- tercantum; Kemudian (awan itu pun) menyebar dari Madinah, hingga hujan pun turun membasahi sekelilingnya, sementara di kota Madinah tak turun hujan setetes pun. Sesudah itu, aku melihat Madinah, ternyata kota Madinah saat itu benar-benar seperti mahkota (lantaran hujan telah merata membasahinya).

(Shahih Muslim : 897 – 10 )

وَ حَدَّثَنَاهُ أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ بِنَحْوِهِ وَزَادَ فَأَلَّفَ اللهُ بَيْنَ السَّحَابِ وَمَكَثْنَا حَتَّى رَأَيْتُ الرَّجُلَ الشَّدِيْدَ تَهُمُّهُ نَفْسُهُ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ

11- (897)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Sulaiman bin Al Mughirah dari Tsabit dari Anassemisalnya. Dan ia menambahkan; Maka Allah menyatukan gumpalan-gumpalan awan itu, lalu kami tinggal di situ sejenak hingga aku melihat laki-laki itu tak sanggup lagi menahan keinginannya untuk segera mendatangi keluarganya.

(Shahih Muslim : 897 – 11 )

وَ حَدَّثَنَا هَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدٍ اَلْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ أَنَّ حَفْصَ بْنَ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ:

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَاقْتَصَّ الْحَدِيْثَ وَزَادَ فَرَأَيْتُ السَّحَابَ يَتَمَزَّقُ كَأَنَّهُ الْمُلَاءُ حِيْنَ تُطْوَى

12- (897)

Dan Telah menceritakan kepada kamiHarun bin Sa’id Al Aili Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab telah menceritakan kepadaku Usamah bahwa Hafsh bin Ubaidullah bin Anas bin Malik telah menceritakan kepadanya, bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata;

Ada seorang A’rabi (Arab pegunungan) datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Jum’at saat beliau berada di atas mimbar. Ia pun menuturkan hadits itu, dan ia menambahkan; Maka aku pun melihat awan yang saling memisah bagaikan air saat dituangkan.

(Shahih Muslim : 897 – 12 )

وَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ ثَابِتٍ اَلْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَنَسٌ

أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ قَالَ فَحَسَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا قَالَ لِأَنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

13 – (898)

Dan Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Sulaiman dari Tsabit Al Bunani dari Anas ia berkata;

Kami diguyur hujan ketika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membuka pakaiannya sehingga terkena hujan, lalu kami pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan hal itu?” beliau menjawab: “Karena hujan ini merupakan rahmat yang diberikan oleh Allah ta’ala.”

(Shahih Muslim : 898 – 13 )

Do’a ketika masuk / melewati kuburan

َدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيْمِيُّ وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوْبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ قَالَ يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا و قَالَ اْلآخَرَانِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شَرِيْكٍ وَهُوَ اِبْنُ أَبِي نَمِرٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُوْلُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ وَأَتَاكُمْ مَا تُوْعَدُوْنَ غَدًا مُؤَجَّلُوْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ اللّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِْ الْغَرْقَدِ وَلَمْ يُقِمْ قُتَيْبَةُ قَوْلَهُ وَأَتَاكُمْ

102 – (974)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi dan Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa’id -Yahya berkata- telah mengabarkan kepada kami -sementara dua orang yang lain berkata- Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far dari Syarik, yaitu anaknya Abu Namir dari Atha` bin Yasar dari Aisyah bahwa ia berkata:

Pada malam gilirannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di akhir malam beliau keluar ke Bagi’ dan mengucapkan: Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni (kuburan) dari kaum mu’minin. Apa yang dijanjikan Allah kepada kalian niscaya akan kalian dapati esok (pada hari kiamat), dan kami Insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah ampunilah penduduk Baqi’ yang mati tenggelam. Qutaibah tidak menyebutkan; Wa Ataakum.

(Shahih Muslim : 974 – 102)

وَحَدَّثَنِي هَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدٍ اَلْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَثِيْرِ بْنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ قَيْسٍ يَقُوْلُ :

سَمِعْتُ عَائِشَةَ تُحَدِّثُ فَقَالَتْ أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنِّي قُلْنَا بَلَى ح و حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ حَجَّاجًا الْأَعْوَرَ وَاللَّفْظُ لَهُ قَالَ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللهِ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ قَيْسِ بْنِ مَخْرَمَةَ بْنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ قَالَ يَوْمًا أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ أُمِّي قَالَ فَظَنَنَّا أَنَّهُ يُرِيْدُ أُمَّهُ الَّتِي وَلَدَتْهُ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا بَلَى قَالَ قَالَتْ لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِي الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهَا عِنْدِي اِنْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِي فِي رَأْسِي وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِي ثُمَّ اِنْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيْعَ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ اِنْحَرَفَ فَانْحَرَفْتُ فَأَسْرَعَ فَأَسْرَعْتُ فَهَرْوَلَ فَهَرْوَلْتُ فَأَحْضَرَ فَأَحْضَرْتُ فَسَبَقْتُهُ فَدَخَلْتُ فَلَيْسَ إِلاَّ أَنْ اِضْطَجَعْتُ فَدَخَلَ فَقَالَ مَا لَكِ يَا عَائِشُ حَشْيَا رَابِيَةً قَالَتْ قُلْتُ لاَ شَيْءَ قَالَ لَتُخْبِرِيْنِي أَوْ لَيُخْبِرَنِّي اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي فَأَخْبَرْتُهُ قَالَ فَأَنْتِ السَّوَادُ الَّذِي رَأَيْتُ أَمَامِي قُلْتُ نَعَمْ فَلَهَدَنِي فِي صَدْرِي لَهْدَةً أَوْجَعَتْنِي ثُمَّ قَالَ أَظَنَنْتِ أَنْ يَحِيْفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ مَهْمَا يَكْتُمِ النَّاسُ يَعْلَمْهُ اللهُ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّ جِبْرِيْلَ أَتَانِي حِيْنَ رَأَيْتِ فَنَادَانِي فَأَخْفَاهُ مِنْكِ فَأَجَبْتُهُ فَأَخْفَيْتُهُ مِنْكِ وَلَمْ يَكُنْ يَدْخُلُ عَلَيْكِ وَقَدْ وَضَعْتِ ثِيَابَكِ وَظَنَنْتُ أَنْ قَدْ رَقَدْتِ فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَكِ وَخَشِيْتُ أَنْ تَسْتَوْحِشِي فَقَالَ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيْعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ قَالَتْ قُلْتُ كَيْفَ أَقُوْلُ لَهُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ قُولِي اَلسَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ

103 – (974)

Dan telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id Al Aili telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari Abdullah bin Katsir bin Muthallib bahwa ia mendengar Muhammad bin Qais berkata, saya mendengar Aisyah menceritakan, ia berkata:

Maukah kalian aku ceritakan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga dariku?  Kami menjawab, “Ya.”  -dalam jalur lain-  Dan telah menceritakan kepadaku seorang yang mendengar Hajjaj Al A’war, dan lafazh juga miliknya, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abdullah -seorang laki-laki dari Qurais- dari Muhammad bin Qais bin Makhramah bin Al Muthallib bahwa pada suatu hari ia berkata, “Maukah kalian aku ceritakan (hadits) dariku dan dari ibuku?”  -maka kami pun menyangka bahwa yang ia maksud dengan ibunya adalah Ibu yang telah melahirkannya- Ia berkata; Aisyah berkata, “Maukah kalian aku ceritakan hadits dariku dan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” kami menjawab, “Ya, mau.” Aisyah berkata;

Pada suatu malam ketika giliran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahku, setelah beliau menanggalkan pakaiannya, meletakkan terompahnya dekat kaki dan membentangkan pinggir jubahnya di atas kasur, beliau lantas berbaring. Setelah beberapa lama kemudian dan barangkali beliau menyangkaku telah tidur, beliau mengambil baju dan terompahnya, dibukanya pintu perlahan-lahan dan kemudian ditutupnya kembali perlahan-lahan. Menyaksikan beliau seperti itu, kukenakan pula bajuku dan kututup kepalaku dengan kain, kemudian aku mengikuti beliau dari belakang hingga sampai di Baqi’. Ketika sampai di sana beliau berdiri agak lama, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali, sesudah itu beliau berbalik pulang. Aku pun berbalik pula mendahului beliau. Kalau beliau berjalan cepat, maka aku pun berjalan cepat-cepat. Bila beliau berlari kecil, aku pun demikian. Ketika beliau sampai, aku pun sudah sampai lebih dulu dari beliau. Kemudian aku masuk ke dalam rumah dan langsung tidur. Setelah itu, beliau masuk dan bertanya: “Kenapa kamu wahai Aisyah? Kudengar nafasmu kembang kempis.?” Jawabku, “Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Ceritakanlah kepadaku atau kalau tidak Allah -Yang Maha Lembut dan Mengetahui- akan menceritakannya padaku.” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku.” Lalu kuceritakanlah kepada beliau apa yang sebenarnya terjadi. Beliau berkata, “Kalau begitu, kamulah kiranya bayangan hitam yang saya lihat di depanku tadi?” Saya menjawab, “Ya, benar wahai Rasulullah.” Maka beliau pun mendorong dadaku dengan keras hingga terasa sakit bagiku. Kemudian beliau berkata, “Apakah kamu masih curiga, Allah dan Rasul-Nya akan berbuat curang kepadamu?” jawabku, “Setiap apa yang dirahasiakan manusia, pasti Allah mengetahuinya pula.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kenapa beliau sampai keluar. Beliau bercerita: “Tadi Jibril datang, tapi karena ia melihat ada kamu, dia memanggilku perlahan-lahan sehingga tidak terdengar olehmu. Aku menjawab panggilannya tanpa terdengar pula olehmu. Dia tidak masuk ke rumah, karena kamu menanggalkan pakaianmu. Dan aku pun mengira bahwa kamu telah tidur, karena itu aku segan membangunkanmu khawatir engkau akan merasa kesepian. Jibril berkata padaku, ‘Allah memerintahkan agar Tuan datang ke Baqi’ dan memohonkan ampunan bagi para penghuninya.’ Aku berkata, ‘Lalu apa yang kubaca sesampai di sana wahai rasulullah? ‘ Jibril menjawab, ‘Bacalah: ASSALAAMU ‘ALA AHLID DIYAAR MINAL MUKMINIIN WAL MUSLIMIIN WA YARHAMULLAHUL MUSTAQDIMIINA MINNAA WAL MUSTA`KHIRIINA WA INNAA INSYAA`ALLAHU BIKUM LALAAHIQUUN (Semoga keselamatan tercurah bagi penduduk kampung orang-orang mukmin dan muslim ini. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang kemudian, dan kami insya Allah sunnguh akan menyusul kalian semua).’

(Shahih Muslim : 974 – 103)

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْأَسَدِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوْا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُوْلُ فِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ اَلسَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ وَفِي رِوَايَةِ زُهَيْرٍ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

104 – (975)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Asadi dari Sufyan dari Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya ia berkata;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada mereka apa yang mesti mereka kerjakan apabila mereka hendak keluar ziarah kubur. Maka salah seorang dari mereka membaca do’a sebagaimana yang tertera dalam riwayat Abu Bakar; “ASSALAAMU ‘ALA AHLID DIYAAR -sementara dalam riwayat Zuhair- ASSALAAMU ‘ALAIKUM AHLAD DIYAARI MINAL MUKMINIINA WAL MUSLIMIINA WA INNAA INSYAA ALLAAHU BIKUM LALAAHIQUUN AS ALULLAHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH (Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyusul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al ‘Afiyah (keselamatan).”

(Shahih Muslim : 975 – 104)

Mendo’akan mayit dalam shalat jenazah

وَ حَدَّثَنِي هَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدٍ اَلْأَيْلِيُّ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ حَبِيْبِ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ سَمِعَهُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ:

صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

قَالَ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُوْنَ أَنَا ذَلِكَ الْمَيِّتَ

85 – (963)

Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id Al Aili telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih dari Habib bin Ubaid dari Jubair bin Nufair ia mendengarnya berkata, saya mendengar Auf bin Malik berkata:

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkan jenazah, dan saya hafal do’a yang beliau ucapkan:

ALLOOHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA ‘AAFIHI WA’FU ‘ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI’ MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARODI WA NAQQIHI MINAL KHOTHOOYAA KAMAA NAQQOITATS TSAUBAL ABYADLO MINAD DANASI WA ABDILHU DAARON KHAIRON MIN DAARIHI WA AHLAN KHOIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHOIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A’IDZHU MIN ‘ADZAABIL QOBRI AU MIN ‘ADZAABIN NAAR

(Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya – di dunia-. Masukkanlah ia ke dalam surga dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).

Hingga saya berangan-angan seandainya saya saja yang menjadi mayit itu.

(Shahih Muslim : 963 – 85  )

قَالَ وَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جُبَيْرٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِ هَذَا الْحَدِيْثِ أَيْضًا

(963)

Dan telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Jubair telah menceritakan kepadanya dari bapaknya dari Auf bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits yang serupa dengan ini juga.

(Shahih Muslim : 963)

وَ حَدَّثَنَاهُ إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ بِاْلإِسْنَادَيْنِ جَمِيْعًا نَحْوَ حَدِيْثِ ابْنِ وَهْبٍ

م (963)

Dan Telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih dengan dua isnad itu, sebagaimana hadits Ibnu Wahb.

(Shahih Muslim : 963 m )

وَحَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ اَلْجَهْضَمِيُّ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ كِلاَهُمَا عَنْ عِيْسَى بْنِ يُوْنُسَ عَنْ أَبِي حَمْزَةَ اَلْحِمْصِيِّ ح و حَدَّثَنِي أَبُوْ الطَّاهِرِ وَهَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدٍ اَلْأَيْلِيُّ وَاللَّفْظُ لِأَبِي الطَّاهِرِ قَالاَ حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي حَمْزَةَ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ اَلْأَشْجَعِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ يَقُوْلُ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ

قَالَ عَوْفٌ فَتَمَنَّيْتُ أَنْ لَوْ كُنْتُ أَنَا الْمَيِّتَ لِدُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ذَلِكَ الْمَيِّتِ

86 – (963)

Telah menceritakan kepada kami Nashru bin Ali Al Jahdlami dan Ishaq bin Ibrahim keduanya dari Isa bin Yunus dari Abu Hamzah Al Himshi -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepadaku Abu Thahir dan Harun bin Sa’id Al Aili -dan lafazhnya milik Abu Thahir- keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Amru bin Harits dari Abu Hamzah bin Sulaim dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari bapaknya dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i ia berkata:

Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca do’a dalam shalat jenazah:

ALLOOHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA’FU ‘ANHU WA ‘AAFIHI WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI’ MUDKHOLAHU WAGHSILHU BI MAA`IN WA TSALJIN WA BARODIN WA NAQQIHI MINAL KHOTHOOYAA KAMAA YUNAQQOTS TSAUBUL ABYADLU MINAD DANASI WA ABDILHU DAARON KHOIRAN MIN DAARIHI WA AHLAN KHOIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHOIRAN MIN ZAUJIHI WA QIHI FITNATAL QOBRI WA ‘ADZAABAN NAARI.

(Ya Allah, Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, maafkanlah dia dan selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air, air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan jagalah dia dari fitnah kubur dan siksa neraka).

Auf berkata; Hingga saya berangan-angan seandainya saya saja yang menjadi mayit itu, karena do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mayit tersebut.

(Shahih Muslim : 963 – 86)

Do’a dan ucapan yang di baca ketika mendapatkan musibah

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوْبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ جَمِيْعًا عَنْ إِسْمَعِيْلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ اِبْنُ أَيُّوْبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ أَخْبَرَنِي سَعْدُ بْنُ سَعِيْدٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ كَثِيْرِ بْنِ أَفْلَحَ عَنْ اِبْنِ سَفِيْنَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ { إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ } اَللّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُوْ سَلَمَةَ قُلْتُ أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللهُ لِي رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أَرْسَلَ إِلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاطِبَ بْنَ أَبِي بَلْتَعَةَ يَخْطُبُنِي لَهُ فَقُلْتُ إِنَّ لِي بِنْتًا وَأَنَا غَيُوْرٌ فَقَالَ أَمَّا اِبْنَتُهَا فَنَدْعُوْ اللهَ أَنْ يُغْنِيَهَا عَنْهَا وَأَدْعُوْ اللهَ أَنْ يَذْهَبَ بِالْغَيْرَةِ

3 – (918)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr semuanya dari Isma’il bin Ja’far – Ibnu Ayyub berkata- telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepadaku Sa’ad bin Sa’id dari Umar bin Katsir bin Aflah dari Ibnu Safinah dari Ummu Salamah bahwa ia berkata:

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya). melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik. Ummu Salamah berkata; Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya,Orang muslim manakah yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama-tama hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian akupun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ummu Salamah mengkisahkan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Hatib bin Abu Balta’ah melamarku untuk beliau sendiri. Maka saya pun menjawab,Bagaimana mungkin, aku telah mempunyai seorang anak wanita, dan aku sendiri adalah seorang pencemburu. Selanjutnya beliau pun menjawab: Adapun anaknya, maka kita do’akan semoga Allah mencukupkan kebutuhannya, dan aku mendo’akan pula semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya itu.

(Shahih Muslim : 918 – 3 )

 

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ عَنْ سَعْدِ بْنِ سَعِيْدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ كَثِيْرِ بْنِ أَفْلَحَ قَالَ سَمِعْتُ اِبْنَ سَفِيْنَةَ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ

{ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } اَللّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

إِلاَّ أَجَرَهُ اللهُ فِي مُصِيْبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُوْ سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْلَفَ اللهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

4 – (918)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Sa’ad bin Sa’id ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Umar bin Katsir bin Aflah ia berkata, saya mendengar Ibnu Safinah menceritakan bahwa ia mendengar Ummu Salamah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya). melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik. Ummu Salamah berkata: Ketika Abu Salamah meninggal, maka saya pun membaca sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Allah pun menggantikannya untukku dengan yang lebih baik darinya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Shahih Muslim : 918 – 4 )

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ سَعِيْدٍ أَخْبَرَنِي عُمَرُ يَعْنِي اِبْنَ كَثِيْرٍ عَنْ اِبْنِ سَفِيْنَةَ مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ بِمِثْلِ حَدِيْثِ أَبِي أُسَامَةَ وَزَادَ قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُوْ سَلَمَةَ قُلْتُ مَنْ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ صَاحِبِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عَزَمَ اللهُ لِي فَقُلْتُهَا قَالَتْ فَتَزَوَّجْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

5 – (918)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Sa’ad bin Abu Sa’id telah mengabarkan kepadaku Umar bin Katsir dari Ibnu Safinah Maula Ummu Salamah, dari Ummu Salamah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata:

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yakni serupa dengan haditsnya Abu Usamah, dan ia menambahkan; (Ummu Salamah) berkata, Siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Allah pun mengokohkan hatiku untuk mengucapkannya. Lalu aku pun menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Shahih Muslim : 918 – 5 )

 

 

Doa Iftitah (Bacaan setelah takbirotul ihrom)

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلاَةِ سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَرَأَيْتَ سُكُوْتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيْرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُوْلُ قَالَ أَقُوْلُ اَللّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ

147 – (598)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari ‘Umarah bin Qa’qa’ dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dia berkata:

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika shalat, maka beliau diam sejenak sebelum membaca Al Fatihah, lalu aku bertanya: Wahai Rasulullah, demi ayahku , engkau dan ibuku, apa yang engkau baca saat engkau diam antara takbir dan membaca Al Fatihah? beliau menjawab: ALLOOHUMMA BAA’ID BAINII WABAINA KHOTHOOYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIBI, ALLOOHUMMA NAQQINII MIN KHOTHOOYAAYA KAMAA YUNAQQOTS-TSAUBUL ABYADHU MINAD DANASI, ALLOOHUMMAGH SIL NII MIN KHOTHOOYAAYA BITS-TSALJI WALMAA I  WALBARODI (Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat, Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran, Ya Allah, cucilah aku dari kesalahanku dengan es, air dan embun).

(Shahih Muslim 598-147)

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا اِبْنُ فُضَيْلٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُوْ كَامِلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ يَعْنِي اِبْنَ زِيَادٍ كِلاَهُمَا عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ نَحْوَ حَدِيْثِ جَرِيْرٍ

 (598)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail (Dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid yaitu Ibnu Ziyad, keduanya dari ‘Umarah bin Qa’qa’ dengan isnad ini seperti hadis Jarir.

(Shahih Muslim 598)

قَالَ مُسْلِمٌ وَحُدِّثْتُ عَنْ يَحْيَى بْنِ حَسَّانَ وَيُوْنُسَ الْمُؤَدِّبِ وَغَيْرِهِمَا قَالُوْا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُمَارَةُ بْنُ الْقَعْقَاعِ حَدَّثَنَا أَبُوْ زُرْعَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ اِسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ بِ { اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ } وَلَمْ يَسْكُتْ

148 – (599)

Kata Muslim, Dan aku diceritakan hadits dari Yahya bin Hassan dan Yunus Al Mu`addib dan yang lainnya, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad dia berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Umarah bin Qa’qa’ telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah katanya, Aku mendengar Abu Hurairah Radhiyallaahu’anhu mengatakan:

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dari rekaat kedua, beliau membuka bacaannya dengan Alhamdu lillaahi robbil’aalamin, dan tidak diam.

(Shahih Muslim 599-148)

وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا قَتَادَةُ وَثَابِتٌ وَحُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ:

أَنَّ رَجُلاً جَاءَ فَدَخَلَ الصَّفَّ وَقَدْ حَفَزَهُ النَّفَسُ فَقَالَ اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ قَالَ أَيُّكُمُ الْمُتَكَلِّمُ بِالْكَلِمَاتِ فَأَرَمَّ الْقَوْمُ فَقَالَ أَيُّكُمُ الْمُتَكَلِّمُ بِهَا فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا فَقَالَ رَجُلٌ جِئْتُ وَقَدْ حَفَزَنِي النَّفَسُ فَقُلْتُهَا فَقَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ اِثْنَيْ عَشَرَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَرْفَعُهَا

149 – (600)

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengabarkan kepada kami Qatadah dan Tsabit dan Humaid dari Anas Radhiyallaahu’anhu :

Bahwa seorang laki-laki datang dan masuk shaff (barisan) sementara nafasnya masih terengah-engah, lalu mengucapkan ALHAMDU LILLAAHI HAMDAN KATSIIRON THOYYIBAN MUBAAROKAN FIIHI (Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, yang baik, dan yang diberkahi). Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Siapakah diantara kalian yang mengucapkan kalimat tadi?.  Parasahabat terdiam. Beliau mengulangi pertanyaannya: Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi, karena hal itu bukan perkataaan yang jelek. Lantas seorang sahabat berkata: Aku tadi datang, sementara napasku masih ternegah-engah, maka kuucapkan kalimat itu (maksudnya pendek dan ringkas). Beliau bersabda: Tadi aku melihat dua belas malaikat berebut mengangkat ucapan itu.

(Shahih Muslim 600-149)

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ ابْنُ عُلَيَّةَ أَخْبَرَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:

بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ قَالَ اِبْنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ ذَلِكَ

150 – (601)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma`il bin ‘Ulayyah telah mengabarkan kepadaku Al Hajjaj bin Abu Usman dari Abu Zubair dari ‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah dari Ibnu Umar Radhiyallaahu’anhu, dia berkata:

Ketika kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seseorang mengucapkan ALLOOHU AKBAR KABIROW WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIROW WASUBHAANALLOOHI BUKROTAW WA ASHIILAN (Maha Besar Allah, dan segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah, baik di waktu pagi dan petang). Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi? Seorang sahabat menjawab: Saya , wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sungguh aku sangat kagum dengan ucapan tadi, sebab pintu-pintu langit dibuka karena kalimat itu.

Kata Ibnu Umar: Maka aku tak pernah lagi meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan hal itu.

(Shahih Muslim 601-150)

Sunnah ber-Dzikir setelah shalat

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو قَالَ أَخْبَرَنِي بِذَا أَبُوْ مَعْبَدٍ ثُمَّ أَنْكَرَهُ بَعْدُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:

كُنَّا نَعْرِفُ اِنْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيْرِ

120 – (583)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ‘Amru, dia berkata; Abu Ma’bad pernah mengabariku dengan ini, namun setelah itu ia memungkirinya, dari Ibnu Abbas Radhiyallaahu ‘anhu , dia berkata:

Kami pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah shalat beliau mengakhirinya dengan takbir.

(Shahih Muslim 583-120)

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِيْنَارٍ عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ سَمِعَهُ يُخْبِرُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:

مَا كُنَّا نَعْرِفُ اِنْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ بِالتَّكْبِيْرِ قَالَ عَمْرٌو فَذَكَرْتُ ذَلِكَ ِلأَبِي مَعْبَدٍ فَأَنْكَرَهُ وَقَالَ لَمْ أُحَدِّثْكَ بِهَذَا قَالَ عَمْرٌو وَقَدْ أَخْبَرَنِيْهِ قَبْلَ ذَلِكَ

121 – (583)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ‘Amru bin Dinar dari Abu Ma’bad mantan budak Ibnu Abbas, bahwa dia pernah mendengar Abu Ma’bad mengabarkan dari Ibnu Abbas Radhiyallaahu’anhu katanya:

Kami tidak mengetahui usai shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selain dengan takbir. ‘Amru mengatakan; kemudian aku sebutkan kepada Abu Ma’bad, namun dia memungkirinya seraya berujar: Aku belum pernah menceritakan kepadamu seperti ini. Kata ‘Amru; Padahal sebelum itu, sungguh ia pernah mengabariku tentang hal itu.

(Shahih Muslim 583-121)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ ح وَحَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُوْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِيْنَارٍ أَنَّ أَبَا مَعْبَدٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ قَالَ قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا اِنْصَرَفُوْا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعَهُ

122 – (583)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibn Juraij katanya: (Dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur dan lafadz darinya, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibn Juraij telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar, bahwa Abu Ma’bad mantan budak Ibn Abbas mengabarinya, bahwa Ibn Abbas Radhiyallaahu’anhu pernah mengabarinya:

Bahwa mengeraskan suara dzikir sehabis shalat wajib, pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. kata Abu Ma’bad; Ibn Abbas mengatakan; Akulah yang paling tahu tentang hal itu, ketika mereka telah selesai (mengerjakan shalat), kalau dia pernah mendengarnya.

(Shahih Muslim 583-122)

حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ عَنِ اْلأَوْزَاعِيِّ عَنْ أَبِي عَمَّارٍ اِسْمُهُ شَدَّادُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِنْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اِسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا وَقَالَ اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيْدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ اْلاِسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ

135 – (591)

Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Rusyaid telah menceritakan kepada kami Al Walid dari Auza’i dari Abu ‘Ammar namanya Syaddad bin Abdullah dari Abu Asma`dari Tsauban dia berkata:

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat, beliau akan meminta ampunan (membaca istighfar) tiga kali dan memanjatkan doa ALLOOHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKASSALAAM TABAARAKTA DZAL JALAALI WAL IKROOM (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan. Kata Walid:  maka kukatakan kepada Auza’i.  Lalu bagaimana cara meminta ampunan? Jawabnya: Engkau ucapkan saja Astaghfirullah, Astaghfirullah.

(Shahih Muslim 591-135)

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ إِلاَّ مِقْدَارَ مَا يَقُوْلُ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

136 – (592)

وَحَدَّثَنَاه ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ خَالِدٍ يَعْنِي اَلأَحْمَرَ عَنْ عَاصِمٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَقَالَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ

(592)

وحَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ وَخَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ كِلاَهُمَا عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

(592)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari ‘Ashim dari Abdullah bin Harits dari ‘Aisyah Radhiyallaahu’anhu , dia berkata:

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam, beliau tidak duduk selain seukuran membaca bacaan ALLOOHUMMA ANTAS SALAAM, WAMINKAS SALAAM, TABAARAKTA DZAL JALAALI WAL IKROOMI (Ya Allah, Engkau adalah Dzat Pemberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan).

Dan dalam riwayat Ibn Numair disebutkan YA DZAL JALAALI WAL IKROOMI (Wahai Dzat pemilik kebesaran dan kemuliaan).

(Shahih Muslim 592-136)

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Abu Khalid yaitu Al Ahmar dari ‘Ashim dengan isnad ini, yaitu beliau bersabda dengan redaksi YA DZAL JALAALI WAL IKROOMI (Wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan).

(Shahih Muslim 592)

Dan telah menceritakan kepada kami Abdul Warits bin Abdusshamad telah menceritakan kepadaku bapakku dari Syu’bah dari ‘Ashim dari Abdullah bin Al Harits dan Khalid dari Abdullah bin Al Harits keduanya dari ‘Aisyah Radhiyallaahu’anha :

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana di atas. Hanya saja dengan tambahan redaksi YA DZAL JALAALI WAL IKROOMI (Wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan).

(Shahih Muslim 592)

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا جَرِيْرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنِ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ وَرَّادٍ مَوْلَى الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ كَتَبَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ إِلَى مُعَاوِيَةَ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ اَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

137 – (593)

وَحَدَّثَنَاه أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ وَأَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنِ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ وَرَّادٍ مَوْلَى الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنِ الْمُغِيْرَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ فِي رِوَايَتِهِمَا قَالَ فَأَمْلاَهَا عَلَيَّ الْمُغِيْرَةُ وَكَتَبْتُ بِهَا إِلَى مُعَاوِيَةَ

(593)

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ أَخْبَرَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَبْدَةُ بْنُ أَبِي لُبَابَةَ أَنَّ وَرَّادًا مَوْلَى الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ:

كَتَبَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ إِلَى مُعَاوِيَةَ كَتَبَ ذٰلِكَ الْكِتَابَ لَهُ وَرَّادٌ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِينَ سَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيْثِهِمَا إِلاَّ قَوْلَهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْ

(593)

و حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ عُمَرَ الْبَكْرَاوِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرٌ يَعْنِي اِبْنَ الْمُفَضَّلِ قَالَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي أَزْهَرُ جَمِيْعًا عَنِ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ عَنْ وَرَّادٍ كَاتِبِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيْرَةِ بِمِثْلِ حَدِيْثِ مَنْصُوْرٍ وَاْلأَعْمَشِ

(593)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Jarir dari Manshur dari Musayyab bin Rafi’ dari Warrad mantan budak Mughirah bin Syu’bah ,  dia berkata:

Mughirah bin Syu’bah pernah berkirim surat kepada Muawiyah, bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat dan mengucapkan salam, beliau memanjatkan doa: LAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR, ALLOOHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU (Tiada sesembahan selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, dan akan bermanfaat kekayaan seorang kaya kecuali atas kehendak-Mu).

(Shahih Muslim 593-137)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib dan Ahmad bin Sinan mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Al A’masy dari Musayyab bin Rafi’ dari Warrad mantan budak Mughirah bin Syu’bah dari Al Mughirah dari  Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas. Abu Bakar dan Abu Kuraib berkata dalam riwayatnya; Lalu Mughirah mendiktekannya kepadaku dan aku tulis untuk Muawiyah.

(Shahih Muslim 593)

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abdah bin Abu Lubabah, bahwa Warrad mantan budak Mughirah bin Syu’bah mengatakan:

Mughirah bin Syu’bah berkirimsuratkepada Mu’awiyah. Yang menulissurattersebut adalah Warrad, (bunyinya) aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seusai mengucapkan salam mengucapkan… seperti hadis keduanya, hanya ia tidak menyebutkan sabdanya WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR.

(Shahih Muslim 593)

Dan telah menceritakan kepada kami Hamid bin Umar Al Bakrawi telah menceritakan kepada kami Bisyr yaitu Ibnu Mufadldlal katanya, (Diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepadaku Azhar, semuanya dari Ibnu ‘Aun dari Abu Sa’id dari Warrad sekretaris Mughirah bin Syu’bah, katanya; Muawiyah berkirim surat kepada Mughirah … seperti hadis Manshur dan Al A’masy.

(Shahih Muslim 593)

وَحَدَّثَنَا اِبْنُ أَبِي عُمَرَ اَلْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ أَبِي لُبَابَةَ وَعَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ سَمِعَا وَرَّادًا كَاتِبَ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ يَقُولُ:

كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيْرَةِ اُكْتُبْ إِلَيَّ بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَكَتَبَ إِلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ اَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

138 – (593)

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar Al Makki telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Abu Lubabah dan Abdul Malik bin Umair, keduanya mendengar Warrad juru tulis Mughirah bin Syu’bah berkata:

Muawiyah berkirimsuratkepada Mughirah, katanya: Tulislah untukku sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!. Lantas Mughirah menulis untuknya:  Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seusai shalat memanjatkan doa: LAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIRUN, ALLOOHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU (Tiada Tuhan (yang berhak untuk disembah) selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, akan bermanfaat kekayaan seorang kaya kecuali atas kehendak-Mu).”

(Shahih Muslim 593-138)

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ:

كَانَ اِبْنُ الزُّبَيْرِ يَقُوْلُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ حِينَ يُسَلِّمُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَقَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ

139 – (594)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Abu Zubair katanya:

Seusai shalat setelah salam, Ibnu Zubair sering memanjatkan do’a: LAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIRUN, LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHI, LAA ILAAHA ILALLOOHU WALAA NA’BUDU ILLAA IYYAAHU, LAHUN NI’MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS-TSANAA’UL HASANU, LAA ILAAHA ILLALLOOHU MUKHLISHIINA LAHUDDIINA WALAU KARIHAL KAAFIRUUNA. (Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, Hanya milik-Nya lah segala keni’matan, milik-Nya lah keutamaan dan milik-Nya lah pujian yang baik. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengeraskan suara dengan kalimat ini setiap selesai shalat.

(Shahih Muslim 594-139)

وَحَدَّثَنَاه أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ مَوْلًى لَهُمْ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ يُهَلِّلُ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ بِمِثْلِ حَدِيْثِ اِبْنِ نُمَيْرٍ وَقَالَ فِي آخِرِهِ ثُمَّ يَقُوْلُ اِبْنُ الزُّبَيْرِ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ

140 – (594)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Abu Sulaiman dari Hisyam bin ‘Urwah dari Abu Zubair mantan budak mereka, bahwa Abdullah bin Zubair biasa bertahlil (membaca dengan suara keras) sehabis shalat dengan seperti hadis Ibnu Numair, dan di akhir beliau berkata. Kemudian Ibnu Zubair mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan suaranya dengan kalimat ini sehabis shalat.

(Shahih Muslim 594-140)

وحَدَّثَنِي يَعْقُوْبُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ اَلدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ حَدَّثَنِي أَبُوْ الزُّبَيْرِ قَالَ:

سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ يَخْطُبُ عَلَى هٰذَا الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا سَلَّمَ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ أَوِ الصَّلَوَاتِ فَذَكَرَ بِمِثْلِ حَدِيْثِ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ

(594)

Dan telah menceritakan kepadaku Ya’kub bin Ibrahim Ad Dauraqi telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Abu Usman telah menceritakan kepadaku Abu Zubair katanya:

Aku mendengar Abdullah bin Zubair berkhutbah diatas mimbar ini seraya berkata: Apabila Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai salam yaitu sehabis shalat, atau beberapa shalat… lalu ia menyebutkan seperti hadis Hisyam bin ‘Urwah.

(Shahih Muslim 594)

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ أَنَّ أَبَا الزُّبَيْرِ الْمَكِّيَّ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ وَهُوَ يَقُوْلُ فِي إِثْرِ الصَّلاَةِ إِذَا سَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيْثِهِمَا وَقَالَ فِي آخِرِهِ وَكَانَ يَذْكُرُ ذَلِكَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

141-(594)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Salamah Al Muradi telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Yahya bin Abdullah bin Salim dari Musa bin ‘Uqbah, bahwa Abu Az Zubair Al Makki menceritakan bahwa ia mendengar Abdulah bin Zubair mengatakan, Yaitu Seusai shalat setelah mengucapkan salam, seperti hadis keduanya. Dan ia katakan di akhir haditsnya. Abu Zubair selalu membaca bacaan ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

(Shahih Muslim 594-141)

حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ النَّضْرِ التَّيْمِيُّ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ قَالَ ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ كِلاَهُمَا عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهَذَا حَدِيْثُ قُتَيْبَةَ:

أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِيْنَ أَتَوْا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيْمِ الْمُقِيْمِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوْا يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُوْنَ وَلاَ نُعْتِقُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلاَ أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُوْنَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُوْنَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَكُوْنُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ قَالُوْا بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ تُسَبِّحُوْنَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُوْنَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ مَرَّةً

قَالَ أَبُوْ صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِيْنَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ اْلأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوْا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَزَادَ غَيْرُ قُتَيْبَةَ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ عَنِ اللَّيْثِ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ قَالَ سُمَيٌّ فَحَدَّثْتُ بَعْضَ أَهْلِي هَذَا الْحَدِيْثَ فَقَالَ وَهِمْتَ إِنَّمَا قَالَ تُسَبِّحُ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَتَحْمَدُ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَتُكَبِّرُ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ فَرَجَعْتُ إِلَى أَبِي صَالِحٍ فَقُلْتُ لَهُ ذَلِكَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَقَالَ اَللهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ اَللهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ حَتَّى تَبْلُغَ مِنْ جَمِيْعِهِنَّ ثَلاَثَةً وَثَلاَثِيْنَ قَالَ اِبْنُ عَجْلاَنَ فَحَدَّثْتُ بِهَذَا الْحَدِيْثِ رَجَاءَ بْنَ حَيْوَةَ فَحَدَّثَنِي بِمِثْلِهِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

142 – (595)

Telah menceritakan kepada kami Ashim bin Nadhir At Tamimi telah menceritakan kepada kami Al Mu’tamir telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah dia berkata  ( Dan diriwayatkan dari jalur lain ) telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibn ‘Ajlan , keduanya dari Sumay dari Ibnu Shalih dari Abu Hurairah Radhiyallaahu’anhu -dan ini adalah hadis Qutaibah- :

Bahwa orang-orang fakir Muhajirin menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata: Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Maksud kalian? Mereka menjawab: Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa memerdekakan budak dan kami tidak bisa melakukannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kalian dan yang dapat membuat kalian mendahului orang-orang yang sesudah kalian? dan tak seorang pun lebih utama dari pada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan? Mereka menjawab: Baiklah wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Kalian baca tasbih (subhaanallooh) , takbir (Alloohu Akbar), dan tahmid (Alhamdu lillah) setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.

Abu shalih berkata: Tidak lama kemudian para fuqara’ Muhajirin kembali ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya! Dan selain Qutaibah menambahkan dalam hadis ini dari Al Laits dari Ibn ‘Ajlan. Sumay mengatakan: Lalu aku ceritakan hadits ini kepada beberapa keluargaku, maka keluargaku berkata: Engkau salah, yang benar beliau bersabda: Engkau bertasbih kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertakbir kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali. Aku lalu kembali menemui Abu Shalih dan aku katakan kepadanya, Abu Shalih menarik tanganku dan berkata: Allahu akbar- subhanallah- Alhamdulillah,  Allahu akbar, subhanallah, Alhamdulillah, sehingga sampai berjumlah tiga puluh tiga. Kata Ibn ‘Ajlan; Lalu kuceritakan hadis ini kepada Raja` bin Haiwah, ia menceritakan kepadaku hadits seperti di atas dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

(Shahih Muslim 595-142)

 و حَدَّثَنِي أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ الْعَيْشِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيْمِ الْمُقِيْمِ بِمِثْلِ حَدِيْثِ قُتَيْبَةَ عَنِ اللَّيْثِ إِلاَّ أَنَّهُ أَدْرَجَ فِي حَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ قَوْلَ أَبِي صَالِحٍ ثُمَّ رَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِيْنَ إِلَى آخِرِ الْحَدِيْثِ وَزَادَ فِي الْحَدِيْثِ يَقُوْلُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيْعُ ذَلِكَ كُلِّهِ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُوْنَ

143 – (595)

Dan telah menceritakan kepadaku Umayyah bin Bustham Al ‘Aisyi, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Rauh dari Suhail dari Ayahnya dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa para sahabat berkata; Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong derajat tinggi dan kenikmatan yang tiada habis… seperti hadis Qutaibah dari Al Laits, hanya ia memudrajkan ucapan Abu Shalih dalam hadits Abu Hurairah “Kemudian orang faqir muhajirin kembali, hingga akhir hadits”. Dalam hadis itu ia tambahkan, Suhail mengatakan; Sebelas sebelas, hingga semuanya berjumlah tiga puluh tiga.

(Shahih Muslim 595-143)

وَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عِيْسَى أَخْبَرَنَا اِبْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ قَالَ سَمِعْتُ الْحَكَمَ بْنَ عُتَيْبَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

مُعَقِّبَاتٌ لاَ يَخِيْبُ قَائِلُهُنَّ أَوْ فَاعِلُهُنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ ثَلاَثٌ وَثَلاَثُوْنَ تَسْبِيْحَةً وَثَلاَثٌ وَثَلاَثُوْنَ تَحْمِيْدَةً وَأَرْبَعٌ وَثَلاَثُوْنَ تَكْبِيْرَةً

144 – (596)

Dan telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Isa telah mengabarkan kepada kami Ibnul Al Mubarak telah mengabarkan kepada kami Malik bin Mighwal katanya: Aku mendengar Al Hakam bin ‘Utaibah menceritakan dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ka’ab bin ‘Ujrah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

Beberapa amalan penyerta, siapa saja yang mengucapkan dan mengamalkannya, maka dirinya tidak akan merugi, yaitu mengucapkan tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh empat kali setiap usai shalat wajib.

(Shahih Muslim 596-144)

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيِّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُوْ أَحْمَدَ حَدَّثَنَا حَمْزَةُ الزَّيَّاتُ عَنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مُعَقِّبَاتٌ لاَ يَخِيْبُ قَائِلُهُنَّ أَوْ فَاعِلُهُنَّ ثَلاَثٌ وَثَلاَثُوْنَ تَسْبِيْحَةً وَثَلاَثٌ وَثَلاَثُوْنَ تَحْمِيْدَةً وَأَرْبَعٌ وَثَلاَثُوْنَ تَكْبِيْرَةً فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ

145 – (596)

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdاami telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Hamzah Az Zayat dari Al Hakam dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ka’ab bin ‘Ujrah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Ada amalan penyerta, siapa yang mengucapkan dan melakukannya, maka dirinya tidak akan merugi, yaitu mengucapkan tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid dan tiga puluh empat kali takbir setiap kali sehabis shalat.

(Shahih Muslim 596-145)

 حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ اَلْمُلاَئِيُّ عَنِ الْحَكَمِ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ مِثْلَهُ

(596)

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim, telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Qais Al Mula’i dari Al Hakam dengan isnad seperti ini.

(Shahih Muslim 596)

حَدَّثَنِي عَبْدُ الْحَمِيْدِ بْنُ بَيَانٍ الْوَاسِطِيُّ أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ الْمَذْحِجِيِّ قَالَ مُسْلِمٌ أَبُوْ عُبَيْدٍ مَوْلَى سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيْدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَكَبَّرَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

146 – (597)

Telah menceritakan kepadaku Abdul Hamid bin Bayan Al Wasithi telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Abdullah dari Suhail dari Abu ‘Ubaid Al Madzhiji. -Muslim menjelaskan bahwa Abu Ubaid adalah mantan budak Sulaiman bin Abdul Malik- dari’Atha` bin Yazid Al Laitsi dari Abu Hurairah Radhiyallaahu’anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Barangsiapa bertasbih kepada Allah sehabis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali, dan bertakbir kepada Allah tiga puluh tiga kali, hingga semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, -dan beliau menambahkan- dan kesempurnaan seratus adalah membaca Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiirun, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan.

(Shahih Muslim 597-146)

 وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ

(597)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shabah telah menceritakan kepada kami Ismail bin Zakariya dari Suhail dari Abu ‘Ubaid dari Atha` dari Abu Hurairah Radhiyallaahu’anhu dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda seperti hadits di atas.

(Shahih Muslim 597)

%d blogger menyukai ini: