Ketika shalatku hanya sekedar rutinitas untuk setor muka kehadapan illahi

Sebenarnya ini rahasia lhooo…namun dengan sangat terpaksa saya menceritakannya padamu…hanya padamu….

 

Shalat yang mana …???

 

Ya shalat fardhu…….

Shalat yang merupakan rukun islam kedua.

Shalat yang kita lakukanlimakali dalam sehari semalam.

Itulah shalat yang saya maksud.

 

Kalau shalat yang itu , ya memang sebuah rutinitas yang kita lakukanlimakali sehari. Memang ada yang salah…?

 

Ga ada siih…

 

Kalau ga ada … kenapa ngomongin eh nulis masalah rutinitas segala…, jangan sok tahu dong !!

Emang situ tahu kalau shalat saya tidak lebih hanya untuk setor muka saja..?

 

Enggak…dan enggak sok tahu…. Sebenarnya saya hanya mengaca pada pribadi saya sendiri dan sesekali membandingkannya dengan orang lain. Dan ternyata …. shalat saya itu kebanyakan hanya sekedar setor muka saja dan sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Sekedar takut dicap sebagai orang yang enggak pernah shalat doing….thok…titik.

 

Bagaimana tidak….???

 

Sssst saya mau cerita dikit yaaa… tapi jangan bilang siapa-siapa yaa…

Ini pengalaman saya berkenaan dengan shalat…tapi jangan diikuti yaa..

 

Seriiiiing sekali saya menjalankan shalat ketika adzan telah berkumandang satu jam sebelumnya bahkan tidak jarang saya menjalankan shalat isya’ ketika malam sudah menjelang pagi kemudian disambung dengan shalat subuh.

 

Mungkin ada yang nanya (Koq bisa…???)

 

Soalnya ketika adzan sedang berkumandang seringkali saya sedang diperjalanan dan begonya (eh bego saya) ….mau mbelokin kendaraan ke masjid atau musholla koq yaaa beratnya minta ampun.

Adaaja alasannya…..

ahh sebentar lagi nyampe lah…

ahh ntar sepatuku ilang  kalau mampir ke masjid…atau parahnya mobilku motorku yang ilang..

ntar aja lah shalat di rumah.. biar lebih khusyu’..

Begitu sampai di tujuan (rumah)… ehh ternyata masih ada aja (alasan) yang menghambat untuk segera shalat

Masihcapelah, masih keringatan lah, ngaso sebentar lah, laper lah, ngopi dulu lah …

 

Dannn…Ketika waktu shalat mendekati finish baru aku bergegas mengambil air wudlu…itupun dengan setengah hati dan kemudian mulai shalat.

Allooohu Akbar bacaan takbirotul ihrom keluar dengan lancar dari mulutku… setelah itu bacaan demi bacaan shalat meluncur dari mulutku seperti mobil melaju kencang dijalan tol saking apalnya. Gerakan shalat di lanjutkan dengan gerakan berikutnya mengalir bagai air sungai Cisadane.

Seperti biasa …karena sudah terlalu hapal bacaan dan gerakannya …, anganku langsung melayang begitu takbirotul ihrom selesai kuucapkan. Pikiranku mengembara bagai burung yang lepas dari sangkarnya. Melayang membayangkan betapa sibuknya aku hari ini…, begitu menariknya acara TV tadi , begitu serunya pertandingan olah raga semalam…, bagitu asyiknya tadi bersenda gurau dengan kawan ketika istirahat…begitu enaknya ketika makan tadi…begitu eneknya ketika diomelin atasan tadi…dan tanpa terasa aku sudah selasai membaca tahiyat akhir… maka aku akhiri shalatku dengan mengucapkan salam. Assalaamu’alaikum warohmatulloohh.

Selesailah shalatku kali ini dan selesai juga pengembaraan pikiranku membayangkan kejadian-kejadian dihari ini.

 

Mendengar ceritaku tadi mungkin ada yang komentar begini:

 

Emang kamu enggak pernah ngaji !! shalat koq macam “kutu kupret”  begitu……

Heehehehe….  kutu kupret itu makanan apaan sih…

 

Sebenarnya sih sudah sering aku mengikuti pengajian tentang shalat bahkan sudah banyak buku yang saya baca tentangnya.

Aku masih inget pak ustadz :

Waktu yang paling afdhal (utama) untuk menjalankan shalat ialah di awal waktu. Maka bersegeralah untuk shalat ketika adzan sudah dikumandangkan.

Rasanya sudah hapal aku akan bab ini.…tetapi anehnya …kenapa yaa shalat saya masih menjelang garis finish melulu.

 

Pak ustadz juga sering ngomong bahwa supaya bisa menjalankan shalat dengan khusyu’ hendaklah memulai dengan berwudhu secara lahir bathin.

Berwudhu secara lahir ialah wudhu seperti biasa kita lakukan yaitu untuk membersihkan anggota badan kita dari hadats kecil.

Wudhu bathin ialah untuk membersihkan dosa-dosa dari seluruh anggota badan kita. Ketika sedang membasuh muka kita mohon ampunan dari segala dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh yang ada di muka. Dosa dari penglihatan , pendengaran, dosa dari penciuman dan  perkataan-perkataan. Ketika membasuh tangan kita memohon ampunan dari dosa yang dilakukan tangan kita begitu seterusnya sampai membasuh kaki.

 

Dilain waktu saya juga pernah mendengar seorang kyai membacakan sebuah hadits yang mengatakan bahwa shalat adalah mi’rojnya seorang mukmin.

Dalam penjelasanya kyai tersebut mengatakan bahwa shalat itu mempunyai nilai yang sangat luar biasa. Ketika kita sedang shalat berarti kita sedang menemui Allah dan menghadap-Nya seolah-olah kita sedang berbicara langsung kepada-Nya.

Shalat seolah menjadi media bagi kita untuk bisa langsung bercakap-cakap dengan Sang Maha Penguasa alam semesta. Sungguh hebat sekali ibadah shalat ini.

Saya juga pernah mendengar penjelasan tentang ihsan yaitu hendaknya kita beribadah (shalat) seolah-olah kita sedang melihat Allah atau setidaknya Allah pasti melihat kita sedang melakukan shalat.

Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dengan berbekal ini saja seharusnya shalat kita bisa lebih bernilai.

Bayangkan betapa indahnya shalat kita, apabila ketika kita mengucap takbir kita bisa merasakan bahwa Allah mendengar takbir kita. Ketika kita membaca Fatihah, kita merasa Allah mendengarkan dan memperhatikan shalat kita. Ketika kita ruku’ , I’tidal sujud, duduk, tahiyat dan salam kita bisa merasa bahwa Allah mendengar bacaan kita dan mengetahui isi hati kita serta segala gerakan kita.

Ooohhhh…….sunguh indah dan dahsyat rasanya….

Coba bayangkan apa yang bakal terjadi…..Ketika kita sedang melakukan perbuatan apapun, rasa tadi……perasaan bahwa Allah mendengar dan mengetahui perbuatan kita bisa selalu menemani kita.

Sungguh sangat sulit merangkai kata-kata untuk menggambarkannya.

……………………………………….

……………………………………..

 

Tapi sayang…sungguh…sayang sekali..

Pengetahuan yang sedikit tadi seakan menguap sirna ketika tiba waktunya untuk menjalankan shalat…Entah setan mana yang menggoda dan menghilangkan segala pengetahuan tadi… aku enggak tahu.

 

Itulah sedikit rahasiaku yang sebenarnya “SANGAT MEMALUKAN” untuk diceritakan…

Namun dari pada aku nanti lebih malu ketika amalan shalatku di hisab di hadapan Tuhan Robbul ‘Izzati lebih baik aku malu sekarang mengungkapkannya padamu…

Tapi tolong yaa…jangan diceritakan pada orang lain…biarlah menjadi rahasia kita berdua…

 

 

Mengintip Kesengsaraan Ahli Neraka beserta Makanan dan Minumannya

Ngapain ngintip makanan ahli neraka…?
Pasti aja nggak enak. Buang-buang waktu aja…
“Hehehe…, kalau buang-buang waktu yaa udah jangan ngintip!, tapii..
Yang namanya ngintip itu tetep aja lebih nikmat….., nggak percaya..?”

Makanya ayo kita ngintip dulu… ,ntar baru komentar…!

Ahli neraka digiring masuk kedalam neraka denagn wajah yang hitam legam, mata melotot dan mulut terkunci. Diam seribu bahasa mereka melangkah diiringi suara deru api neraka yang berkobar-kobar. Sesampai dipintu neraka, mereka disambut oleh Malaikat Zabaniyah dengan wajah yang garang lengkap dengan senjata penyiksanya. Ditangannya terlihat rantai-rantai yang merah membara, palu godam yang sangat besar dan tidak ketinggalan borgol yang sangat berat. Semuanya berwarna merah membara , merah kebiru-biruan menggambarkanbetapa panasnya.
Rantai tersebut bakal dimasukkan pada mulut orang-orang kafir dan ditariknya dari lubang  kamaluannya. Entah… bagaimana rasanya, yang jelas kedengaran hanyalah suara jeritan kesakitan yang memilukan.
Ooooaaaaaahhh…. Raungan kesakitan keluar dari mulut mereka.
Seakan tak mendengar… malaikat Zabaniyah menarik tangan kiri mereka dengan sangat kasar, dipelintirnya ke atas tengkuk dan dipasanglah  borgol  yang merah membara. Tangan kanan mereka dengan paksa dimasukkan kedalam dada dan ditarik keluar dari tulang belikatnya. Sungguh pemandangan sadis yang menggiriskan hati.
Raungan kesakitan semakin menyayat hati…..
Tampak sebagian dari mereka satu persatu diseret dengan wajah menyapu tanah sambil dipukuli dengan palu godam yang besar dan panas tiada terkira…Wajah mereka hancur, kulit muka mengelupas memperlihatkan tulang-tulang tengkorak yang remuk redam. Badan merekapun tidak lebih baik dari pada wajahnya. Sekujur badan memar membengkak , kulit pecah-pecah mengucurkan darah dan sekuat tenaga mereka berusaha untuk lari menghindar, tapi apa daya… setiap mereka berusaha lari,  mereka ditarik dan dilempar kembali kedalam api neraka..Sungguh suatu pemandangan yang tiada duanya didunia ini. Tapi apa mau dikata ? Itulah balasan bagi kesombongan mereka yang tidak mau beriman.
Disisi yang lain kelihatan orang-orang muslim yang berdosa. Wajah mereka tidak selegam kafirin dan mereka tidak dirantai bersama setan pendampingnya.
Para wanita dimasukkan kedalam neraka dengan ditarik  rambutnya yang panjang. Rambut yang pada waktu didunia dibangga-banggakannya, seolah tiada rambut  seindah rambutnya.  Sekarang apakah dia masih bisa berbangga ketika malaikat Zabaniyah menariknya dengan paksa. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa sakit yang takterhingga. Orang-orang tua  ditarik paksa dengan ubannya. Uban yang pada waktu didunia tidak bisa mengingatkannya akan kematian dan api neraka. Para pemuda ditarik dengan jenggotnya yang menjadi simbol ketampanan dan kegagahan didunia.
Mereka menangis pilu dan baru menyadari bahwa kecantikan, ketampanan dan kegagahan yang tidak dibarengi dengan ketaqwaan dan keimanan hanya akan menyeretnya kedalam api neraka.
Mereka menangis sampai air matanya mengering dan keluarlah air mata darah.
Tapi sayang … , sungguh sayang …..
tangisan dan penyesalan mereka datang dengan sangat…sangat terlambat. Kenapa tangisan tersebut baru datang setelah pintu tobat tertutup rapat, kenapa baru datang setelah api neraka berkobar-kobar dihadapannya bukan pada waktu didunia… dimana kesempatan masih terbuka lebar untuk bertaubat dan beramal baik.
Sayang sekali memang..….
Demikian mereka mengalami siksaan malaikat Zabaniyah selama beribu-ribu tahun. Hari-hari mereka penuh dengan tangisan , ratapan dan penyesalan yang tiada henti-hentinya. Hari-hari penuh derita dan berjalan dengan sangat lambat, apa lagi satu hari disana adalah sama dengan setahun didunia.
Mereka merasakan kesakitan, kepanasan, kelaparan dan kehausan yang tak tertahankan. Setiap hari selama bertahun-tahun mereka mohon diturunkan hujan, tapi sayang…. Hujan yang mereka nanti-nantikan itu tidak kunjung datang. Suatu hari, disaat mereka memohon hujan, langit mendadak gelap gulita dipenuhi dengan mendung.
Ahli neraka dengan harap-harap cemas menanti hujan itu turun.
“Lihat, Itu adalah hujan yang bakal diturunkan oleh Allah Yang Maha Pengasih” kata sebagian dari mereka.
Kemudian hujan turun dengan dahsyatnya…. Air hujan yang mereka nantikan tapi yang turun adalah hujan batu berapi. Ketika batu jatuh di atas kepala mereka maka ia akan langsung menembus ke badan dan keluar melalui dubur mereka. Bukan kesegaran air hujan yang mereka dapatkan melainkan batu panas yang membakar tenggorokan dan menyisakan kepedihan yang mereka rasakan.
Tidak kapok-kapoknya mereka memohon hujan kepada Allah. Dan baru setelah seribu tahun, permohonan mereka dikabulkan. Maka kembali mendung yang gelap menyelimuti langit diikuti dengan petir yang menyambar-nyambar.
Mereka pada berkata: “Itu…barulah hujan yang sebenarnya”
Maka turunlah hujan yang diharap-harapkan tersebut. Sayang sekali, lagi-lagi bukan air yang turun melainkan ular-ular sebesar leher onta. Sekali menggigit, maka rasa sakitnya tidak akan hilang selama seribu tahun. Maka Allah tambahkan siksaan demi siksaan diatas siksaan mereka.
Setelah hampir putus asa, mereka teringat bahwa penjaga neraka adalah malaikat Malik. Maka mereka memanggil-manggil malaikat Malik memohon belas kasihan. Selama tujuh puluh ribu tahun mereka memanggil, suara mereka sudah hampir habis, tenggorokan sudah kering tapi tiada jawaban dari malaikat Malik. Baru kemudian Allah menyuruh malaikat Malik untuk menjawab panggilan mereka.
“Hei Ahli neraka, Kamu mau apa hei orang-orang yang dimurkai Allah?” kata malaikat Malik
“Hai malaikat Malik, berilah kami seteguk air untuk melepaskan dahaga kami” pinta mereka dengan suara yang sangat menghiba.
“Api telah memakan daging dan tulang-tulang kami, kulit kami sudah pecah-pecah dan terkelupas dan tulang-tulang kami telah hancur lebur menyisakan kesakitan yang tiada terkila, maka berilah kami seteguk air biar kami merasa sedikit segar” kata mereka memilukan.
Berbahagialah mereka karena malaikat Malik berkenan memberikan minuman kepada mereka.
Dengan segera dituangkannya air panas diatas kepala mereka…. dan dengan penuh suka cita mereka menerima air tersebut dengan menengadahkan kedua tangannya. Begitu  air sampai ditangan, maka rontoklah jari-jemarinya karena kepanasan. Walau begitu , mereka masih juga meminum air panas tersebut bagai unta yang kehausan. Ketika air mengenai wajah dan masuk keperut mereka, mata mereka  menjadi buta seketika , kulit wajah mengelupas dan putuslah usus-usus dalam perut mereka. Air yang mereka harapkan kesegarannya, ternyata justru menambah haus dahaga dan penderitaan.
Mereka pun merasa lapar yang sangat luar biasa. Kelaparan yang mampu menghabiskan berbakul-bakul makanan. Maka mereka memohon diberi makanan..
Dengan segera malaikat Malik memberi  zaqqumkepada mereka.
Suatu makanan yang berduri dan panas luar biasa, mereka makan  dengan sangat lahapnya. Ketika mereka memakannya,  perut  serasa  mendidih sampai  otakpun ikut mendidih,  api menjilat-jilat keluar dari mulutnya  dan  satu persatu rontoklah setiap anggota badannya.

Itulah balasan ahli neraka.
Lain orang didunia lain pula ahli neraka.
Bila orang didunia sakit, maka kesembuhanlah yang dimintanya. Bila telanjang maka pakaianlah yang dicarinya. Bila haus maka minumlah yang diinginkannya dan bila lapar maka makanlah yang diharapkannya. Tetapi ahli neraka Bila mereka telanjang karena pakaiannya habis terbakar, bukan pakaian yang ia minta karena pakaian mereka terbuat dari lelehan aspal. Nggak make pakaian, tubuhnya langsung terbakar api neraka, make pakaian justru panasnya tak terkirakan. Bila mereka lapar, bukan makanan yang mereka harapkan karena makanan mereka adalah zaqqum yang berduri dan panas membara mendidihkan perutnya. Bila mereka haus bukan juga minuman yang mereka inginkan karena sekalinya mereka dikasih minuman yang panasnya tak tertahankan, merontokkan usus-usus dalam perut mereka.
Mereka hidup kesakitan tetapi bukan kesembuhan yang mereka harapkan melainkan kematian yang diidamkannya. Tetapi sayang kematian takkan bisa diharapkannya karena mereka bakal hidup selama-lamanya tanpa kematian.

Bahan Kajian:

QS Al Waaqi’ah 41:56
41. dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?
42. dalam (siksaan) angin yang Amat panas, dan air panas yang mendidih,
43. dan dalam naungan asap yang hitam.
44. tidak sejuk dan tidak menyenangkan.
45. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan.
46. dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar.
47. dan mereka selalu mengatakan: “Apakah bila Kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, Apakah Sesungguhnya Kami akan benar-benar dibangkitkan kembali?
48. Apakah bapak-bapak Kami yang terdahulu (juga)?”
49. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian,
50. benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.
51. kemudian Sesungguhnya kamu Hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan,
52. benar-benar akan memakan pohon zaqqum,
53. dan akan memenuhi perutmu dengannya.
54. sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.
55. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum.
56. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan”.

Surat Waqi’ah dan Misteri Kekayaan

Sering kita mendengar dari seorang Kyai atau Ustadz : “Kalau ingin kaya baca saja Surat Waqi’ah”
Lha koq baca Surat Waqi’ah ?
Bukannya lebih logis  : “Kalau ingin kaya kerja yang giat dan rajin menabung”
Saya (Ana) sendiri tidak tahu mengapa sering kali para kyai dan ustadz berkata demikian. Bahkan para paranormal-pun mengatakan yang sama persis plus ditambah pula bumbu-bumbu puasa serta ritualnya.
Udah plus koq masih ada ditambah dan pula lagi ? (hehehe) biarin lah abisnya udah terlanjur diketik…

Memang ada beberapa riwayat yang menceritakan tentang Surat Waqi’ah antara lain:

“Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka kemiskinan tidak akan menimpa dirinya untuk selamanya “

“Surat Al-Waqi’ah adalah surat kekayaan, maka bacalah surat itu dan ajarkan kepada anak-anak kalian”

“Ajarkanlah istri kalian surat Al-Waqi’ah, karena sesungguhnya surat itu adalah surat kekayaan.”

Kalau dilihat isinya emang ketiganya berisi tentang “mengentaskan kemiskinan” sesuai dengan slogan-slogan pemerintah yang selalu didengung-dengungkan dari tahun ke tahun.
Sayang sekali sampai saat ini yang namanya kemiskinan itu masih menghiasi sebagian besar wajah perkotaan dan pedesaan di Negara kita tercinta ini.
Kekayaan dan kemewahan baru sebatas pemerah bibir wajah ibukota dan terutama disinetorn-sinetron. Mobil-mobil mewah menari-nari diantara bajaj dan biskota, gedung-gedung seolah berlomba-lomba untuk mencakar matahari.
Dari jauh kelihatan merah mempesona, tetapi ternyata dibaliknya terdapat bopeng-bopeng berupa ratusan bahkan ribuan orang kekurangan makan. Untuk sekedar sesuap nasi mereka rela membanting tulang bahkan meregang nyawa nggak peduli halal dan haram. Sungguh suatu ironi yang mengiris hati.
Coba kalau “pemerintah” tahu tentang keistimewaan Surat Waqi’ah diatas, mungkin mereka akan mengganti slogannya dengan :
“Mari Entaskan Kemiskinan dengan Membaca Surat Waqi’ah”
Keren thoo ? mengentaskan kemiskinan dengan jalan ibadah
Top Markotop, Good Marsigud kata (almarhum) Basuki

Mungkin beberapa orang akan bilang:
“Itu bid’ah”
“Riwayat itu lemah”
“Ibadah koq ngarepin kekayaan” dll…..dll…..dllll..
Terus gimana dong..? aku kan pengen kaya…?
“ kerja dong…”
Walah , udah matian-matian aku kerja dari bedug subuh sampe bedug isya’….
“Itulah salahnya , kamu kerjanya matian-matian sih…”
“lha wong orang males-malesan aja nggak digaji apa lagi mati-matian….”
Maaf sekedar intermezzo aja..
Okelah kalo begitu…
Kalau memang riwayat diatas adalah riwayat yang lemah… dalam arti mungkin ada beberapa perawi (periwayat hadits) yang diragukan. Ini berarti ada indikasi bahwa mungkin riwayat ini bukan datang dari Rosulullah. Dan mungkin juga memang benar-benar dari Rosulullah.
Kalau kita enggak mau baca Surat Waqi’ah dan kenyataannya riwayat ini memang datang dari Rosulullah, kita rugi dooong. Tapi kalau sebaliknya “kita udah baca Waqi’ah dan ternyata bukan riwayat dari Rosulullah”, kita nanti dikatain bid’ah.. ?
Yaa udah lah kita ambil jalan tengah saja
Kita tetep baca Surat Waqiah dengan niat baca Alqur’an (tentu saja surat-surat yang lain juga kudu dibaca)
Habis baca Waqi’ah (Alqur’an) kita berdoa memohon kekayaan (yang lain juga boleh) kepada Allah.
Bukannya berdo’a setelah melakukan ibadah itu salah satu do’a yang maqbul (dikabulkan)?
Dan yang paling penting kita tetep berusaha (kerja)…..
Ibadah yang wajib harus dikerjakan… biar lebih enak… ibadah sunnahnya jangan sampai ketinggalan….
Dan yakin bahwa Allah akan memberi kita kekayaan….
Karena Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi :
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku”… Alhadits
Wallahu A’lam bisshowab (Hanya Allah yang tahu Kebenarannya)

“Si Teteh” dan Rahasia Sholat Malam

Nggak biasanya si “teteh” minta dibangunin jam tiga malam. Tapi malam ini dia bilang ke “umi” untuk dibangunin jam tiga tepat.Kata teteh sebelum tidur “Umiii, ntar malem teteh dibangunin jam tiga tepat ya mii !”. Jawab si umi : “Emang teteh mau ngapain jam tiga malem?” “Ada dehh, pokoknya bangunin aja. Jangan sampe telat ya mii” jawab teteh sok main rahasia-rahasiaan. Agak heran juga si umi melihat tingkah teteh yang enggak biasanya ini. Dalam pikiranya tergambar beberapa hal yang kira-kira mau dilakukan anak umur tujuh tahun ini ditengah malam. Malam harinya si umi sempat ragu-ragu mau ngebangunin si teteh. Mau dibangunin kasihan, karena dia sedang tidur pulas-pulasnya sedang cuaca agak gerimis sehingga udara menjadi semakin dingin. Mau tidak dibangunin takut mengecewakannya. Akhirnya dengan berat hati umi membangunkan si teteh. Karena enggak biasa bangun tengah malam, agak susah juga si teteh dibangunin dan dengan setengah terpaksa dia bangun juga. Kata si teteh sambil mengucek matanya yang masih agak mengantuk: “Mii.., kenapa teteh dibangunin?”. “Kan teteh yang yang minta” kata umi. “Oh iya mii, teteh lupa” kata teteh sambil bergegas bangun. “Teteh mau kemana?” Tanya umi lagi. “Mau ke kamar mandi” sahut teteh sambil berlalu. Ternyata teteh kekamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian dia kembali kekamar tidur sambil membawa sajadah yang diambilnya dari tempat sholat. Digelarnya sajadah, mukena dipakai dengan rapi dan akhirnya dia sholat sebanyak dua rekaat. Sehabis sholat tampak dia menengadahkan tangannya yang mungil berdoa. Entah apa yang diucapkannya karena suaranya hanya terdengar samara-samar. Setelah berdo’a dilepaskannya mukena kemudian dilipat dan ditaruh dalam lipatan sajadah. Diletakkanya sajadah disamping tempat tidurnya dan dia kembali terlelap sampai pagi. Karena penasaran akan tingkahnya semalam, saya menanyakannya sewaktu sarapan, sebelum dia berangkat sekolah. “Teeh… , teteh semalam ngapain malem-malem udah bangun.” “Kan, kata bu ustadzah…” dengan bergaya seorang ustadzah si teteh bercerita.. “…kalau kita pengen diangkat derajatnya oleh Allah, kita harus rajin sholat tahajud yaah (ayah maksudnya)…, habis sholat tahajud terus berdo’a supaya do’anya dikabulkan oleh Allah…., karena teteh pengen pangkat yang tinggiiii… maka teteh mau rajin sholat tahajud yaah…” Oh itu sebabnya kata saya dalam hati. Ternyata siteteh dengerin ceramah ustadzah dipengajian kemaren yang salah satunya adalah ngebahas tentang sholat tahajud.

Kata Ustadzah: “Allah berfirman dalam Alqur’an Surat Al Isro’ ayat 79 :

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

” dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.”

Kalau kalian ingin menjadi orang yang derajatnya tinggi didunia dan akherat, jangan tinggalkan sholat tahajud barang semalampun. Kemudian beliau menuturkan:

Shalat Tahajud mempunyai keuatamaan antara lain :

“Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”

Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :

1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.

2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.

3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh semua manusia.

4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.

5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :

1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.

2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.

3. Ketika menyeberang jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti kilat yang menyambar.

4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.

Kisah Asal Usul Hajar Aswad

Ketika Nabi Ibrahim a.s bersama anaknya membina Kaabah banyak kekurangan yang dialaminya. Pada mulanya Kaabah itu tidak ada bumbung dan pintu masuk. Nabi Ibrahim a.s bersama Nabi Ismail bertungkus kumus untuk menjayakan pembangunannya  dengan mengangkut batu dari berbagai gunung. Dalam sebuah kisah disebutkan apabila pembangunan Kaabah itu selesai, ternyata Nabi Ibrahim masih merasakan kekurangan sebuah batu lagi untuk diletakkan di Kaabah. Nabi Ibrahim berkata kepada Nabi Ismail:, “Pergilah engkau mencari sebuah batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia.” Kemudian Nabi Ismail a.s pun pergi dari satu bukit ke satu bukit untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika Nabi Ismail a.s sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril a.s memberikan sebuah batu yang cantik. Nabi Ismail dengan segera membawa batu itu kepada Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s. merasa gembira melihat batu yang sungguh cantik itu, beliau menciumnya beberapa kali. Kemudian Nabi Ibrahim a.s bertanya, “Dari mana kamu dapat batu ini?” Nabi Ismail berkata, “Batu ini kuterima daripada yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril).” Nabi Ibrahim mencium lagi batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail a.s. Sehingga sekarang Hajar Aswad itu dicium oleh orang-orang yang pergi ke Baitullah. Siapa saja yang bertawaf di Kaabah disunnahkan mencium Hajar Aswad. Beratus ribu kaum muslimin berebut ingin mencium Hajar Aswad itu, yang tidak mencium cukuplah dengan memberikan isyarat lambaian tangan saja. Ada riwayat menyatakan bahwa dulunya batu Hajar Aswad itu putih bersih, tetapi akibat dicium oleh setiap orang yang datang menziarahi Kaabah, ia menjadi hitam seperti terdapat sekarang. Wallahu a’alam. Apabila manusia mencium batu itu maka timbullah perasaan seolah-olah mencium ciuman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ingatlah wahai saudara-saudaraku, Hajar Aswad itu merupakan tempat diperkenan doa. Bagi yang ada kelapangan, berdoalah di sana, Insya Allah doanya akan dikabulkan oleh Allah. Jagalah hati kita sewaktu mencium Hajar Aswad supaya tidak menyengutukan Allah, sebab tipu daya syaitan kuat di Tanah Suci Mekah. Ingatlah kata-kata Khalifah Umar bin Al-Khattab apabila beliau mencium batu itu (Hajar Aswad) : “Aku tahu, sesungguhnya engkau hanyalah batu biasa. Andaikan aku tidak melihat Rasulullah S.A.W menciummu, sudah tentu aku tidak akan melakukan (mencium Hajar Aswad).”

Kisah Tiga Orang yang Terkurung dalam Gua

Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu:
Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Ketika tiga orang pemuda sedang berjalan, tiba-tiba turunlah hujan lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong-konyong jatuhlah sebuah batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua yang akhirnya mengurung mereka. Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ingatlah amal saleh yang pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal tersebut agar Allah berkenan menggeser batu besar itu. Salah seorang dari mereka berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua orang tua yang telah lanjut usia, seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil di mana akulah yang memelihara mereka. Setelah aku mengandangkan hewan-hewan ternakku, aku segera memerah susunya dan memulai dengan kedua orang tuaku terdahulu untuk aku minumkan sebelum anak-anakku. Suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu (bakar) sehingga tidak dapat kembali kecuali pada sore hari di saat aku menemui kedua orang tuaku sudah lelap tertidur. Aku pun segera memerah susu seperti biasa lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala kedua orang tuaku karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur namun aku pun tidak ingin meminumkan anak-anakku sebelum mereka berdua padahal mereka menjerit-jerit kelaparan di bawah telapak kakiku. Dan begitulah keadaanku bersama mereka sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar kami dapat melihat langit. Lalu Allah menciptakan sebuah celahan sehingga mereka dapat melihat langit. Yang lainnya kemudian berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai saudara seorang puteri paman yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang lelaki terhadap seorang wanita. Aku memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya tetapi ia menolak kecuali kalau aku memberikannya seratus dinar. Aku pun bersusah payah sampai berhasillah aku mengumpulkan seratus dinar yang segera aku berikan kepadanya. Ketika aku telah berada di antara kedua kakinya (selangkangan) ia berkata: Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan pernikahan yang sah terlebih dahulu. Seketika itu aku pun beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami. Kemudian Allah pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka. Yang lainnya berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah enam belas ritel beras (padi). Ketika ia sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata: Berikanlah upahku! Lalu aku pun menyerahkan upahnya yang sebesar enam belas ritel beras namun ia menolaknya. Kemudian aku terus menanami padinya itu sehingga aku dapat mengumpulkan beberapa ekor sapi berikut penggembalanya dari hasil padinya itu. Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu menzalimi hakku! Aku pun menjawab: Hampirilah sapi-sapi itu berikut penggembalanya lalu ambillah semuanya! Dia berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olokku! Aku pun berkata lagi kepadanya: Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, ambillah sapi-sapi itu berikut penggembalanya! Lalu ia pun mengambilnya dan dibawa pergi. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa. Akhirnya Allah membukakan celahan yang tersisa itu

Kisah Pemuda Pahlawan

Diriwayatkan dari Shuhaib :

Bahwa Rasulullah SAW menceritakan : Pada masa dahulu ada seorang raja, dia mempunyai seorang ahli sihir. Setelah Ahli sihir tersebut berusia lanjut, dia mengatakan kepada raja: “Sesungghunya saya telah berusia lanjut, oleh karena itu kirimlah kepada saya seorang pemuda untuk saya ajarkan ilmu sihir kepadanya.” Lalu Sang raja mengirim seorang pemuda untuk di ajari ilmu sihir oleh si ahli sihir. (Maka berangkatlah si pemuda untuk belajar sihir) Di pinggir jalan yang dilaluinya, dia melewati seorang Pendeta. Kemudian duduklah Pemuda di dekatnya dan mendengarkan perkataan pendeta tersebut, maka tertariklah hati akan ajaran Pendeta. Setiap waktu pemuda tersebut datang ke rumah Tukang sihir maka dia menyempatkan diri untuk singgah di situ. Tatkala sampai di rumah Tukang sihir, maka dipukullah si pemuda oleh tukang sihir. Kemudian dia mengadukan hal itu kepada Pendeta. Pendeta itu mengatakan kepadanya: “Kalau engkau takut (akan dihukum) oleh Tukang Sihir, katakanlah kepadanya bahwa engkau terlambat karena tertahan oleh keluargamu dan kalau engkau takut (akan dihukum) oleh keluargamu, katakanlah bahwa engkau tertahan oleh Tukang sihir.”
Berlangsunglah keadaan tersebut beberapa lama, Pada suatu hari kebetulan dia bertemu dengan seekor binatang yang sangat besar yang mengganggu orang-orang yang lewat. Lalu Pemuda itu berkata (dalam hatinya) : “Pada hari ini, saya dapat mengetahui apakah Tukang Sihir yang lebih utama ataukah Pendeta yang lebih utama?” Lalu dia berdo’a: “ Ya Allah! Kalau seandainya urusan (keadaan) Pendeta lebih Engkau sukai dari pada Tukang Sihir, maka bunuhlah binatang ini supaya orang-orang bisa melanjutkan perjalanan!” Lalu dipanahnya binatang itu sehingga mati terbunuh dan orang-orang bisa berlalu. Kemudian dia datang kepada Pendeta dan menceritakan hal itu kepadanya. Pendeta itu lantas menjawab: “ Hai anakku ! Hari ini Engkau sudah lebih utama dari pada aku! Sesungguhnya keadaanmu telah sampai (tinggi) sebagaimana yang aku lihat. Dan Engkau tentu akan mendapat ujian (cobaan) nantinya. Kalau kiranya engkau menghadapi cobaan itu, maka janganlah menunjukkan akan diriku.” Pada waktu itu pemuda tersebut sudah mampu mengobati orang bisu, orang yang kena penyakit kusta dan mengobati orang-orang dari segala macam penyakit.
Maka sampailah berita tersebut kepada seorang pejabat kerajaan yang buta matanya. Lalu dia datang kepada Pemuda sambil membawa hadiah yang sangat banyak dan mengatakan : “Semua hadiah ini adalah untukmu, kalau engkau mampu menyembuhkan saya.” Pemuda itu menjawab : “Saya tidak bisa menyembuhkan siapapun. Hanya Allah yang bisa menyembuhkan. Kalau Engkau beriman kepada Allah, saya akan mendo’akan kepadaNya supaya engkau disembuhkanNya.” Pejabat itu beriman kepada Allah, lalu dia disembuhkan oleh Allah. Kemudian orang itu datang menghadap raja dan duduk dekat raja sebagaimana biasanya. Lalu Raja menanyakan kepadanya: “Siapakah yang mengembalikan pemandangan engkau?” Dia menjawab “Tuhanku” Raja bertanya: “Engkau mempunyai Tuhan selain aku?” Dia menjawab: “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah!” Lalu orang itu disiksa terus menerus sampai dia menunjukkan raja kepada si Pemuda .”
Atas perintah raja , “Maka di bawalah si Pemuda kehadapan sang raja, lalu raja mengatakan kepadanya: “Hai anakku! Sesungguhnya kepandaian sihirmu telah sanggup mengobati orang bisu dan orang sakit kusta serta memperbuat ini dan memperbuat itu.” Pemuda itu menjawab: “Sesungguhnya saya tidak sanggup mengobati siapapun, hanya Allah yang sanggup mengobati.” Lalu pemuda itu disiksa secara terus menerus sampai dia menunjukkan Pendeta. Lalu Pendeta itu dibawa kehadapan Raja dan dikatakan kepadanya : “Kembalilah (keluarlah) engkau dari agama engkau!” Pendeta itu menolak. Lalu Raja menyuruh mengambil gergaji dan gergaji itu diletakkan diatas batok kepala pendeta dan kemudian dibelah menjadi dua bagian. Kemudian si pejabat raja di hadapkan kepada raja dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah (keluarlah) engkau dari agama engkau!” Pejabat itu menolak, lalu gergaji diletakkan pula diatas batok kepalanya dan dibelahlah sampai jatuh terbelah.
Kemudian dihadapkan pula Pemuda itu dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah (keluarlah) engkau dari agama engkau!” Dia menolak. Lalu pemuda itu diserahkan oleh raja kepada beberapa orang pegawainya dan memerintahkan: “Bawalah pemuda ini ke bukit ini dan itu, naikkan ke atas dan setelah sampai ke puncak bukit, kalau dia mau kembali (keluar) dari agamanya (jangan diapa-apakan). Tetapi kalau dia tidak mau, lemparkanlah dia ke bawah!” Lalu pegawai-pegawai raja membawa pemuda itu naik ke atas bukit. Dia berdo’a: “Ya Allah! Peliharalah diriku dari kejahatan mereka, menurut cara yang Engkau kehendaki!” Maka bukit tersebut bergoncang keras, sehingga pegawai-pegawai raja itu jatuh semuanya, sedang si pemuda itu datang kembali menemui raja dengan berjalan kaki. Raja bertanya :”Apakah yang diperbuat oleh kawan-kawanmu?” Dia menjawab : “Allah memelihara saya dari kejahatan mereka.”
“Kemudian Raja menyerahkan pemuda tadi kepada pegawai-pegawainya dan memerintahkan :”Bawalah pemuda ini, naikkan ke sebuah perahu dan berlayarlah ketengah lautan, kalau dia mau keluar dari agamanya (jangan diapa-apakan), tetapi kalau dia menolak, maka buanglah dia (ke laut)!” Lalu pemuda itu mereka bawa dan dia berdo’a : “Ya Allah! Peliharalah diriku dari kejahatan mereka, menurut cara yang Engkau kehendaki!” Lalu perahu tersebut terbalik dan pegawai-pegawai raja tenggelam, sedang pemuda tadi datang kembali menemui raja dengan berjalan kaki. Lalu raja menanyakan kepadanya: “Apakah yang telah diperbuat oleh kawan-kawan engkau?” Dia menjawab :”Allah memelihara aku dari kejahatan mereka.”
Kemudian Pemuda itu mengatakan kepada raja :”Sesungguhnya engkau tidak bisa membunuh saya, kecuali kalau engkau berbuat seperti apa yang saya perintahkan kepadamu.” Raja bertanya : “Apakah itu?” Dia menjawab : “Engkau kumpulkan orang banyak dalam suatu lapangan dan saya engkau salib pada suatu pohon. Kemudian engkau ambil sebatang anak panah dari tempat anak panah saya. Kemudian letakkan anak panah itu dengan tetpat pada busurnya dan bacalah: “Dengan nama Allah, Tuhan Pemuda ini. Kemudian lepaskanlah anak panah it udari busurnya!. Kalau engkau berbuat begitu, barulah engkau dapat membunuh saya.” Lalu Raja mengumpulkan orang banyak pada suatu lapangan yang luas dan menyalib pemuda itu pada suatu pohon, kemudian Raja mengambil anak panah dari tempat anak panah pemuda itu. Kemudian meletakkan anak panah pada busurnya dan mengucapkan : “Dengan nama Allah, Tuhan Pemuda ini.” Lalu pemuda itu dipanahnya, lantas anak panah itu mengenai pelipisnya. Kemudian pemuda itu meletakkan tangannya ditempat yang kena anak panah, lantas dia meninggal dunia. Kejadian selanjutnya, Orang-orang yang hadir dilapangan itu bersama-sama mengucapkan : “Kami beriman (mempercayai) Tuhan Pemuda itu, kami mempercayai Tuhan Pemuda itu, kami mempercayai Tuhan Pemuda itu!”
Maka datanglah orang kepada Raja, mengatakan : “Adakah engkau tahu, bahwa apa yang dahulunya engkau cemaskan, sesungguhnya demi Allah, telah terjadi apa yang engkau cemaskan itu. Sesungguhnya orang-orang telah beriman (kepada Allah).” Lalu Raja memerintahkan membuat parit di pintu-pintu jalan. Maka dibuatlah parit dan dinyalakan api didalamnya. Raja memerintahkan, supaya siapa yang tidak mau kembali (keluar) dari agamanya , supaya dibakar dalam parit tersebut atau disuruh masuk kedalam parit tersebut. Lalu mereka melaksanakan perintah raja. Sampailah giliran kepada seorang perempuan bersama anaknya yang masih kecil, dia maju mundur (ragu-ragu) untuk masuk ke dalam parit tersebut. Lalu anaknya berkata: “Hai Ibuku! Bersabarlah (Teguhkanlah hatimu), karena sesungguhnya Engkau dijalan yang benar!.”