Pengrusakan binatang, kecelakaan dalam tambang dan sumur itu adalah tidak ada pertanggungannya (hadnya)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ قَالَا أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:

اَلْعَجْمَاءُ جَرْحُهَا جُبَارٌ وَالْبِئْرُ جُبَارٌ وَالْمَعْدِنُ جُبَارٌ وَفِي الرِّكَازِ الْخُمْسُ

45 – (1710)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Muhammad bin Rumh keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Laits. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibnu Syihab dari Sa’id bin Musayyab dan Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Bahwa dia bersabda: Binatang ternah yang merusak maka tidak ada denda, sumur yang mencelakai (jatuh ke dalamnya) tidak ada denda, galian barang tambang yang mencelakai (jatuh ke dalamnya) tidak ada denda, dan pada harta yang terpendam  (harta karun) zakatnya adalah seperlima.

(Shahih Muslim : 1710 – 45 )

وَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ كُلُّهُمْ عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ يَعْنِي ابْنَ عِيْسَى حَدَّثَنَا مَالِكٌ كِلَاهُمَا عَنِ الزُّهْرِيِّ بِإِسْنَادِ اللَّيْثِ مِثْلَ حَدِيْثِهِ

(1710)

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Abdul A’la bin Hammad mereka semua dari Ibnu ‘Uyainah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Ishaq -yaitu Ibnu Isa- telah menceritakan kepada kami Malik keduanya dari Az Zuhri dengan sanadnya Laits seperti haditsnya dia juga.

(Shahih Muslim : 1710 )

 و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ قَالَا أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ وَعُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ

2 م – (1710)

Dan telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir dan Harmalah keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Ibnu Musayyab dan ‘Ubaidullah bin Abdullah dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits tersebut.

(Shahih Muslim : 1710 m 2 )

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحِ بْنِ الْمُهَاجِرِ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ أَيُّوْبَ بْنِ مُوْسَى عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:

اَلْبِئْرُ جَرْحُهَا جُبَارٌ وَالْمَعْدِنُ جَرْحُهُ جُبَارٌ وَالْعَجْمَاءُ جَرْحُهَا جُبَارٌ وَفِي الرِّكَازِ الْخُمْسُ

46 – (1710)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir telah mengabarkan kepada kami Laits dari Ayyub bin Musa dari Al Aswad dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

Sumur yang mencelakai (jatuh ke dalamnya) tidak ada denda, galian barang tambang yang mencelakai (jatuh ke dalamnya) tidak ada denda, binatang ternah yang merusak maka tidak ada denda, dan pada harata yang terpenda (harta karun) zakatnya adalah seperlima.

(Shahih Muslim : 1710 – 46 )

وَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَلَّامٍ الْجُمَحِيُّ حَدَّثَنَا الرَّبِيْعُ يَعْنِي اِبْنَ مُسْلِمٍ ح وَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا ابْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ

(1710)

Dan telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Salam Al Jumahi telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ -yaitu Ibnu Muslim-. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami ayahku. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah keduanya dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.

(Shahih Muslim : 1710 )

Hukuman (Had) adalah kafarat (penghapus dosa) bagi pelakunya

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيْمِيُّ وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ وَابْنُ نُمَيْرٍ كُلُّهُمْ عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ وَاللَّفْظُ لِعَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي إِدْرِيْسَ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ

كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ فَقَالَ تُبَايِعُوْنِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئًا وَلَا تَزْنُوْا وَلَا تَسْرِقُوْا وَلَا تَقْتُلُوْا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوْقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَسَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

41 – (1709)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Amru An Naqid dan Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Numair mereka semua dari Ibnu ‘Uyainah, sedangkan lafadznya dari ‘Amru, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Az Zuhri dari Abu Idris dari ‘Ubadah bin Shamit dia berkata:

Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di suatu majlis, beliau bersabda: Berbaiatlah kalian kepadaku bahwa kalian tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak berzina, tidak mencuri dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan hak. Barangsiapa di antara kalian yang memenuhi janji tersebut maka pahalanya ada pada Allah. Barangsiapa melanggar janji tersebut, namun Allah menutupi kesalahannya (tidak diketahui orang lain), maka urusannya terserah Allah; jika Dia menghendaki maka akan diampuni, namun jika Dia menghendaki maka akan disiksa-Nya (di akhirat kelak).

(Shahih Muslim : 1709 – 41 )

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ فِي الْحَدِيْثِ فَتَلَا عَلَيْنَا آيَةَ النِّسَاءِ { أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللهِ شَيْئًا } اَلْآيَةَ [60 /الممتحنة /12].

42 – (1709)

Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dengan isnad seperti ini, dan dalam haditsnya dia menambahkan, Kemudian dia membacakan kepada kami ayat (dalam surat) An Nisa’: ‘(Hendaknya kalian tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun) ‘ (Qs. Al Mumtahanah: 12).

(Shahih Muslim : 1709 – 42 )

وَ حَدَّثَنِي إِسْمَعِيْلُ بْنُ سَالِمٍ أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ :

أَخَذَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا أَخَذَ عَلَى النِّسَاءِ أَنْ لَا نُشْرِكَ بِاللهِ شَيْئًا وَلَا نَسْرِقَ وَلَا نَزْنِيَ وَلَا نَقْتُلَ أَوْلَادَنَا وَلَا يَعْضَهَ بَعْضُنَا بَعْضًا فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَتَى مِنْكُمْ حَدًّا فَأُقِيْمَ عَلَيْهِ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ وَمَنْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ

43 – (1709)

Dan telah menceritakan kepadaku Ismail bin Salim telah mengabarkan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Khalid dari Abu Qilabah dari Abu Al Asy’ats Ash Shan’ani dari ‘Ubadah bin Shamit dia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengambil sumpah setia kepada kami sebagaimana beliau mengambil sumpah setia terhadap kaum wanita, yaitu; hendaknya kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, dan tidak melemparkan kedustaan antara satu dengan yang lain. Barangsiapa menepati janji tersebut maka pahalanya ada bersama Allah, dan barangsiapa melanggar batasan tersebut maka akan ditegakkan had atasnya, yaitu sebagai kafarah (denda). Namun siapa yang Allah tutupi perbuatan tersebut (tidak diperlihatkan kepada orang-orang), maka urusannya terserah kepada Allah; jika menghendaki Allah akan menyiksanya, namun jika menghendaki Allah juga akan mengampuninya.”

(Shahih Muslim : 1709 – 43 )

Ukuran banyak cambukan untuk hukuman ringan

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عِيْسَى حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَشَجِّ قَالَ:

بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ إِذْ جَاءَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جَابِرٍ فَحَدَّثَهُ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا سُلَيْمَانُ فَقَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جَابِرٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ اَلْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَا يُجْلَدُ أَحَدٌ فَوْقَ عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُوْدِ اللهِ

40 – (1708)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Isa telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahib telah mengabarkan kepadaku  ‘Amru dari Bukair bin Al Asyaj dia berkata:

Ketika kami berada di sisi Sulaiman bin Yasar, tiba-tiba Abdurrahman Jabir datang lalu menceritakan (hadits) kepadanya, kemudian Sulaiman menghadapkan wajahnya kepada kami sambil berkata; telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Jabir dari ayahnya dari Abu Burdah Al Anshari, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang tidak boleh didera lebih dari sepuluh kali, melainkan hukuman yang telah jelas ditetapkan oleh Allah.”

(Shahih Muslim : 1708 – 40 )

Had (hukuman) orang yang minum minuman keras (khamer)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ فَجَلَدَهُ بِجَرِيدَتَيْنِ نَحْوَ أَرْبَعِينَ قَالَ وَفَعَلَهُ أَبُو بَكْرٍ فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ اِسْتَشَارَ النَّاسَ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَخَفَّ الْحُدُوْدِ ثَمَانِينَ فَأَمَرَ بِهِ عُمَرُ

35 – (1706)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dia berkata; aku pernah mendengar Qatadah menceritakan dari Anas bin Malik:

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dihadapkan seorang laki-laki yang terbukti meminum khamer, lalu beliau menderanya dengan dua pelepah kurma sebanyak empat puluh kali, hal itu juga dilakukan oleh Abu Bakar. Ketika pada masa pemerintahan Umar, maka ia minta pendapat kepada orang-orang. Abdurrahman berkata,Hukuman dera yang paling ringan adalah delapan puluh kali. Lantas Umar memutuskannya seperti itu.

(Shahih Muslim : 1706 – 35 )

وَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيْبٍ اَلْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي اِبْنَ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُوْلُ أُتِيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ فَذَكَرَ نَحْوَهُ

(1706)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habib Al Haritsi telah menceritakan kepada kami Khalid -yaitu Ibnu Harits- telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Qatadah dia berkata; aku pernah mendengar Anas berkata, Suatu ketika, seorang laki-laki dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam …lalu dia menyebutkan hadits semisalnya.

(Shahih Muslim : 1706 )

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ :

أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَدَ فِي الْخَمْرِ بِالْجَرِيْدِ وَالنِّعَالِ ثُمَّ جَلَدَ أَبُو بَكْرٍ أَرْبَعِيْنَ فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ وَدَنَا النَّاسُ مِنَ الرِّيْفِ وَالْقُرَى قَالَ مَا تَرَوْنَ فِي جَلْدِ الْخَمْرِ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا كَأَخَفِّ الْحُدُوْدِ قَالَ فَجَلَدَ عُمَرُ ثَمَانِينَ

36 – (1706)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku ayahku dari Qatadah dari Anas bin Malik:

Bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendera terhadap orang yang meminum khamer dengan pelepah kurma dan terompah (sebanyak empat puluh kali), kemudian (masa pemerintahan) Abu Bakar juga menderanya sebanyak empat puluh kali. Ketika pemerintahannya Umar, maka orang-orang semakin banyak yang tinggal di daerah pelosok-pelosok dan di daerah pedesaan. Karena itu Umar bertanya, Bagaimana pendapat kalian mengenai hukuman dera bagi peminum khamer? maka Abdurrahman bin Auf berkata,Aku berpendapat bahwa seringan-ringannya hukuman adalah delapan puluh kali dera. Anas berkata, Lantas Umar melaksanakan hukuman dera sebanyak empat puluh kali.

(Shahih Muslim : 1706 – 36 )

وَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ

(1706)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kamiYahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Hisyam dengan isnad seperti ini.

(Shahih Muslim : 1706 )

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَضْرِبُ فِي الْخَمْرِ بِالنِّعَالِ وَالْجَرِيْدِ أَرْبَعِيْنَ ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَ حَدِيْثِهِمَا وَلَمْ يَذْكُرِ الرِّيفَ وَالْقُرَى

37 – (1706)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki’dari Hisyam dari Qatadah dari Anas

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendera peminum khamer dengan menggunakan terompah dan pelepah kurma sebanyak empat puluh kali. Kemudian dia menyebutkan seperti hadits keduanya, dan dia tidak menyebutkan, Daerah pelosok-pelosok dan daerah pedesaan.

(Shahih Muslim : 1706 – 37 )

وَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ وَهُوَ اِبْنُ عُلَيَّةَ عَنِ ابْنِ أَبِي عَرُوْبَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ الدَّانَاجِ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ الْحَنْظَلِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنُ الْمُخْتَارِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ فَيْرُوْزَ مَوْلَى ابْنِ عَامِرٍ الدَّانَاجِ حَدَّثَنَا حُضَيْنُ بْنُ الْمُنْذِرِ أَبُو سَاسَانَ قَالَ:

شَهِدْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ وَأُتِيَ بِالْوَلِيْدِ قَدْ صَلَّى الصُّبْحَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ أَزِيْدُكُمْ فَشَهِدَ عَلَيْهِ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا حُمْرَانُ أَنَّهُ شَرِبَ الْخَمْرَ وَشَهِدَ آخَرُ أَنَّهُ رَآهُ يَتَقَيَّأُ فَقَالَ عُثْمَانُ إِنَّهُ لَمْ يَتَقَيَّأْ حَتَّى شَرِبَهَا فَقَالَ يَا عَلِيُّ قُمْ فَاجْلِدْهُ فَقَالَ عَلِيٌّ قُمْ يَا حَسَنُ فَاجْلِدْهُ فَقَالَ الْحَسَنُ وَلِّ حَارَّهَا مَنْ تَوَلَّى قَارَّهَا فَكَأَنَّهُ وَجَدَ عَلَيْهِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ جَعْفَرٍ قُمْ فَاجْلِدْهُ فَجَلَدَهُ وَعَلِيٌّ يَعُدُّ حَتَّى بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ فَقَالَ أَمْسِكْ ثُمَّ قَالَ جَلَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعِينَ وَجَلَدَ أَبُو بَكْرٍ أَرْبَعِيْنَ وَعُمَرُ ثَمَانِيْنَ وَكُلٌّ سُنَّةٌ وَهَذَا أَحَبُّ إِلَيَّ زَادَ عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ فِي رِوَايَتِهِ قَالَ إِسْمَعِيْلُ وَقَدْ سَمِعْتُ حَدِيْثَ الدَّانَاجِ مِنْهُ فَلَمْ أَحْفَظْهُ

38 – (1707)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ali bin Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il -yaitu Ibnu Ulayyah- dari Ibnu Abu ‘Arubah dari Abdullah Ad Danaj. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali sedangkan lafadznya dari dia, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Mukhtar telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Fairuz bekas budak Ibnu ‘Amir Ad Dannaj, telah menceritakan kepada kami Hudlain bin Mundzir Abu Sasan dia berkata:

Aku pernah melihat Al Walid dihadapkan kepada ‘Utsman bin Affan, setelah melaksanakan shalat subuh dua rakaat, Utsman lalu berkata, Apakah aku boleh menambahkan untuk kalian? Ada dua orang laki-laki yang menjadi saksi atas perbuatannya, salah seorang di antaranya adalah Humran, dia menyaksikan sendiri bagaimana dia meminum khamer, sedangkan yang lainnya bersaksi bahwa dia pernah melihat Al Walid sedang muntah-muntah (setelah meminum khamer). Lalu Utsman berkata, Dia tidak akan muntah kecuali ia minum khamer. Setelah itu, Utsman berkata kepada Ali, Wahai Ali, bangun dan deralah Al Walid. Ali pun berkata kepada Hasan, Wahai Hasan, bangun dan deralah Al Walid. Kemudian Hasan pun berkata, Sebaiknya kita serahkan saja pelaksanaan hukuman dera ini kepada khalifah Utsman dan para aparatnya. Akhirnya dia berkata kepada Abdullah bin Ja’far, Wahai Abdullah, bangun dan laksanakanlah hukuman dera kepada Al Walid. Setelah itu Abdullah bin Ja’far menderanya sedangkan Ali yang menghitungnya, ketika deraan telah sampai pada hitungan ke empat puluh, Ali berseru, Berhentilah. Lalu dia berkata, Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendera peminum khamer sebanyak empat puluh kali, Abu Bakar juga pernah melakukan hal yang sama, sementara Umar bin Khattab pernah melaksanakan hukuman dera sebanyak delapan puluh kali. Sebenarnya semua itu adalah sunnah (pernah dilakukan), dan itulah yang lebih aku sukai. Ali bin Hujr menambahkan dalam riwayatnya, Isma’il berkata,Sungguh aku pernah mendengar hadits Ad Dannaj darinya, namun aku tidak begitu menghafalnya.

(Shahih Muslim : 1707 – 38 )

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ مِنْهَالٍ اَلضَّرِيْرُ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ أَبِي حَصِيْنٍ عَنْ عُمَيْرِ بْنِ سَعِيْدٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ:

مَا كُنْتُ أُقِيْمُ عَلَى أَحَدٍ حَدًّا فَيَمُوْتَ فِيْهِ فَأَجِدَ مِنْهُ فِي نَفْسِي إِلَّا صَاحِبَ الْخَمْرِ لِأَنَّهُ إِنْ مَاتَ وَدَيْتُهُ لِأَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَسُنَّهُ

39 – (1707)

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Minhal Ad Dlarir telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Abu Hashin dari ‘Umair bin Sa’id dari ‘Ali dia berkata:

Aku tidak suka jika menegakkan hukuman kepada seseorang peminum khamer sampai dia meninggal, sebab jika sampai meninggal maka negaralah yang akan membayar diyatnya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan yang demikian itu.

(Shahih Muslim : 1707 – 39 )

Mengakhirkan pelaksanaan had bagi perempuan yang sedang nifas

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَبُوْ دَاوُدَ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنِ السُّدِّيِّ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ:

خَطَبَ عَلِيٌّ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَقِيْمُوْا عَلَى أَرِقَّائِكُمُ الْحَدَّ مَنْ أَحْصَنَ مِنْهُمْ وَمَنْ لَمْ يُحْصِنْ فَإِنَّ أَمَةً لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَنَتْ فَأَمَرَنِي أَنْ أَجْلِدَهَا فَإِذَا هِيَ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِنِفَاسٍ فَخَشِيتُ إِنْ أَنَا جَلَدْتُهَا أَنْ أَقْتُلَهَا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَحْسَنْتَ

34 – (1705)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Bakar Al Muqaddami telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu Daud telah menceritakan kepada kami Zaidah dari As Suddi dari Sa’d bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman dia berkata:

Ali pernah berkata dalam khutbahnya; Wahai sekalian manusia, tegakkanlah hukum kepada sahaya kalian, baik yang sudah menikah atau yang belum menikah, sesungguhnya hal ini pernah dialami oleh sahaya perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berzina, beliau menyuruhku untuk menderanya. Dia (wanita itu) baru saja melahirkan, maka aku khawatir jika menderanya maka ia akan meninggal. Lantas kuberitahukan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Kamu telah berbuat baik (menangguhkan pelaksana had sampai waktu yang sesuai).

(Shahih Muslim : 1705 – 34 )

وَ حَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيْلُ عَنِ السُّدِّيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَلَمْ يَذْكُرْ مَنْ أَحْصَنَ مِنْهُمْ وَمَنْ لَمْ يُحْصِنْ وَزَادَ فِي الْحَدِيْثِ اُتْرُكْهَا حَتَّى تَمَاثَلَ

(1705)

Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Israil dari As Suddi dengan isnad ini, namun dihaditsnya tidak disebutkan, Baik yang sudah menikah ataupun belum. Dan dalam haditsnya juga disebutkan, Tangguhkanlah sampai waktunya sesuai.

(Shahih Muslim : 1705 )

Hukuman (had) bagi hamba sahaya yang berzina

وَ حَدَّثَنِي عِيْسَى بْنُ حَمَّادٍ الْمِصْرِيُّ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِي سَعِيْدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ:

إِذَا زَنَتْ أَمَةُ أَحَدِكُمْ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَجْلِدْهَا الْحَدَّ وَلَا يُثَرِّبْ عَلَيْهَا ثُمَّ إِنْ زَنَتْ فَلْيَجْلِدْهَا الْحَدَّ وَلَا يُثَرِّبْ عَلَيْهَا ثُمَّ إِنْ زَنَتِ الثَّالِثَةَ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَبِعْهَا وَلَوْ بِحَبْلٍ مِنْ شَعَرٍ

30 – (1703)

Dan telah menceritakan kepadaku Isa bin Hammad Al Mishir telah mengabarkan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abu Abu Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa dia mendengarnya berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

Apabila salah seorang dari sahaya perempuan kalian jelas-jelas berzina, maka hukumlah dia dengan hukuman dera, dan jangan sekali-kali kamu memakinya. Kemudian jika dia melakukan zina lagi, maka deralah dia, dan jangan sekali-kali kamu memakinya. Dan jika dia masih melakukan zina pada kali ketiganya, sedangkan tuduhan zina memang terbukti padanya, maka juallah dia walaupun seharga seutas tali rambut.

(Shahih Muslim : 1703 – 30 )

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ جَمِيْعًا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ ح وَ حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ اَلْبُرْسَانِيُّ أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ كِلَاهُمَا عَنْ أَيُّوْبَ بْنِ مُوْسَى ح و حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ح و حَدَّثَنِي هَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ ح وَ حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَبْدَةَ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ كُلُّ هَؤُلَاءِ عَنْ سَعِيْدٍ اَلْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا أَنَّ ابْنَ إِسْحَقَ قَالَ فِي حَدِيْثِهِ عَنْ سَعِيْدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَلْدِ الْأَمَةِ إِذَا زَنَتْ ثَلَاثًا ثُمَّ لِيَبِعْهَا فِي الرَّابِعَةِ

31 – (1703)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Ibnu ‘Uyainah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Bakar Al Bursani telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Hasan keduanya dari Ayyub bin Musa. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dan Ibnu Numair dari Ubaidullah bin Umar. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id Al Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sarri dan Abu Kuraib dan Ishaq bin Ibrahim dari ‘Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin Ishaq semuanya dari Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hanya saja Ibnu Ishaq menyebutkan dalam haditsnya ia menyebutkan; dari Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hendaknya mendera seorang sahaya perempuan sampai tiga kali, jika terbukti berzina, dan menjualnya jika melakukan zina sampai empat kali.

(Shahih Muslim : 1703 – 31 )

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِيُّ حَدَّثَنَا مَالِكٌ ح وَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَاللَّفْظُ لَهُ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الْأَمَةِ إِذَا زَنَتْ وَلَمْ تُحْصِنْ قَالَ إِنْ زَنَتْ فَاجْلِدُوْهَا ثُمَّ إِنْ زَنَتْ فَاجْلِدُوْهَا ثُمَّ إِنْ زَنَتْ فَاجْلِدُوْهَا ثُمَّ بِيْعُوْهَا وَلَوْ بِضَفِيْرٍ قَالَ اِبْنُ شِهَابٍ لَا أَدْرِي أَبَعْدَ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ وَقَالَ الْقَعْنَبِيُّ فِي رِوَايَتِهِ قَالَ اِبْنُ شِهَابٍ وَالضَّفِيْرُ الْحَبْلُ

وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ مَالِكًا يَقُوْلُ حَدَّثَنِي اِبْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدٍ اَلْجُهَنِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الْأَمَةِ بِمِثْلِ حَدِيْثِهِمَا وَلَمْ يَذْكُرْ قَوْلَ اِبْنِ شِهَابٍ وَالضَّفِيرُ الْحَبْلُ

32 – (1703)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah Al Qa’nabi telah menceritakan kepada kami Malik. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya sedangkan lafadz darinya, dia berkata; aku bacakan di hadapan Malik; dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah dari Abu Hurairah,

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sahaya perempuan yang berzina, sedangkan dia belum menikah. Beliau bersabda: Jika dia berzina maka deralah dia, kemudian jika dia berzina maka deralah dia, kemudian jika dia berzina deralah dia, kemudian juallah dia walaupun seharga seutas tali rambut. Ibnu Syihab berkata, Aku tidak tahu, apakah setelah tiga kali (berzina) ataukah sampai empat kali. Sedangkan dalam riwayatnya Al Qa’nabi menyebutkan, Ibnu Syihab mengatakan, Maksud Dlafir adalah seutas tali.

Dan telah menceritakan kepada kami Abu At Thahir telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata; aku pernah mendengar Malik berkata; telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab dariUbaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al Juhani, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai sahaya perempuan yang berzina seperti hadits keduanya, dan tidak menyebutkan perkataannya Ibnu Syihab ‘maksud Dlafir adalah seutas tali’.

(Shahih Muslim : 1703 – 32 )

حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا يَعْقُوْبُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحٍ ح وَ حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ كِلَاهُمَا عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيْثِ مَالِكٍ وَالشَّكُّ فِي حَدِيْثِهِمَا جَمِيْعًا فِي بَيْعِهَا فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ

(1704)

Telah menceritakan kepadaku ‘Amru An Naqid telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepadaku ayahku dari Shalih. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar keduanya dari Az Zuhri dari ‘Ubaidullah dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al Juhani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits riwayat Malik, ternyata riwayat mereka semua juga terdapat keraguan supaya menjualnya, apakah dikali ke tiga atau ke empat.

(Shahih Muslim : 1704 )

Merajam orang Yahudi yang tinggal di negara Islam bila berzina

حَدَّثَنِي الْحَكَمُ بْنُ مُوْسَى أَبُوْ صَالِحٍ حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ إِسْحَقَ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللهِ عَنْ نَافِعٍ:

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِيَهُودِيٍّ وَيَهُودِيَّةٍ قَدْ زَنَيَا فَانْطَلَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَاءَ يَهُوْدَ فَقَالَ مَا تَجِدُوْنَ فِي التَّوْرَاةِ عَلَى مَنْ زَنَى قَالُوْا نُسَوِّدُ وُجُوهَهُمَا وَنُحَمِّلُهُمَا وَنُخَالِفُ بَيْنَ وُجُوْهِهِمَا وَيُطَافُ بِهِمَا قَالَ فَأْتُوْا بِالتَّوْرَاةِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ فَجَاءُوْا بِهَا فَقَرَءُوْهَا حَتَّى إِذَا مَرُّوْا بِآيَةِ الرَّجْمِ وَضَعَ الْفَتَى الَّذِي يَقْرَأُ يَدَهُ عَلَى آيَةِ الرَّجْمِ وَقَرَأَ مَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا وَرَاءَهَا فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ وَهُوَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهُ فَلْيَرْفَعْ يَدَهُ فَرَفَعَهَا فَإِذَا تَحْتَهَا آيَةُ الرَّجْمِ فَأَمَرَ بِهِمَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَا قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ كُنْتُ فِيمَنْ رَجَمَهُمَا فَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَقِيْهَا مِنَ الْحِجَارَةِ بِنَفْسِهِ

26 – (1699)

Telah menceritakan kepadaku Al Hakam bin Musa Abu Shalih telah menceritakan kepada kami Syua’ib bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami ‘Ubaidullah dari Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar telah mengabarkan kepadanya:

Bahwa seorang laki-laki yahudi dan seorang wanita yahudi dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena keduanya dituduh telah berbuat zina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas pergi hingga menemui orang-orang Yahudi, beliau kemudian bertanya: Apa yang kalian ketahui dalam Taurat tentang hukuman bagi orang yang telah berzina? mereka menjawab: Kami lumuri muka mereka dengan arang, kemudian kami naikkan kedua orang tersebut ke atas kendaraan dengan posisi berbelakang-belakangan lalu diarak keliling kota. Beliau bersabda: Jika kalian benar, coba perlihatkan kitab Tauratmu. Lalu mereka bawa kitab Taurat dan mereka membacanya di hadapan beliau. Ketika bacaannya sampai kepada ayat rajam, pemuda yang membacanya meletakkan tangannya agar bisa menutupi ayat tersebut hingga lewat sampai ayat berikutnya. Tetapi Abdullah bin Salam, yang ketika itu mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, Wahai Rasulullah, suruhlah dia mengangkat tangannya. Ketika pemuda itu mengangkat tangannya, ternyata di bawah tangannya terdapat ayat rajam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan supaya keduanya dihukum rajam, akhirnya keduanya dihukum rajam. Abdullah bin Umar berkata, Aku ikut serta merajam keduanya, aku lihat yang laki-laki berusaha melindungi wanitanya dengan tubuhnya dari lemparan-lemparan batu.

(Shahih Muslim : 1696 – 26 )

وَ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ يَعْنِي اِبْنَ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوْبَ ح و َحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي رِجَالٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْهُمْ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ أَنَّ نَافِعًا أَخْبَرَهُمْ عَنِ ابْنِ عُمَرَ

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَمَ فِي الزِّنَى يَهُودِيَّيْنِ رَجُلًا وَامْرَأَةً زَنَيَا فَأَتَتِ الْيَهُودُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهِمَا وَسَاقُوْا الْحَدِيْثَ بِنَحْوِهِ

27 – (1699)

Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma’il -yaitu Ibnu ‘Ulayyah- dari Ayyub. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku tokoh laki-laki dari alim ulama, di antaranya adalah Malik bin Anas, bahwa Nafi’ telah mengabarkan kepada mereka dari Ibnu Umar:

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah merajam laki-laki dan wanita Yahudi yang ketahuan berzina, lalu orang-orang Yahudi menyerahkan keduanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam …lalu mereka melanjutkan hadits seperti hadits di atas.

(Shahih Muslim : 1696 – 27 )

وَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوْنُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مُوْسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ :

أَنَّ الْيَهُوْدَ جَاءُوْا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ مِنْهُمْ وَامْرَأَةٍ قَدْ زَنَيَا وَسَاقَ الْحَدِيْثَ بِنَحْوِ حَدِيْثِ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ نَافِعٍ

(1699)

Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu Umar,

bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa seorang laki-laki dan seorang wanita yang telah berzina…lalu dia menyebutkan sebagaimana hadits Ubaidullah dari Nafi’.

(Shahih Muslim : 1696  )

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُرَّةَ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ:

مُرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَهُودِيٍّ مُحَمَّمًا مَجْلُوْدًا فَدَعَاهُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَكَذَا تَجِدُوْنَ حَدَّ الزَّانِي فِي كِتَابِكُمْ قَالُوْا نَعَمْ فَدَعَا رَجُلًا مِنْ عُلَمَائِهِمْ فَقَالَ أَنْشُدُكَ بِاللهِ الَّذِي أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوْسَى أَهَكَذَا تَجِدُوْنَ حَدَّ الزَّانِي فِي كِتَابِكُمْ قَالَ لَا وَلَوْلَا أَنَّكَ نَشَدْتَنِي بِهَذَا لَمْ أُخْبِرْكَ نَجِدُهُ الرَّجْمَ وَلَكِنَّهُ كَثُرَ فِي أَشْرَافِنَا فَكُنَّا إِذَا أَخَذْنَا الشَّرِيْفَ تَرَكْنَاهُ وَإِذَا أَخَذْنَا الضَّعِيْفَ أَقَمْنَا عَلَيْهِ الْحَدَّ قُلْنَا تَعَالَوْا فَلْنَجْتَمِعْ عَلَى شَيْءٍ نُقِيْمُهُ عَلَى الشَّرِيْفِ وَالْوَضِيْعِ فَجَعَلْنَا التَّحْمِيْمَ وَالْجَلْدَ مَكَانَ الرَّجْمِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَللّهُمَّ إِنِّي أَوَّلُ مَنْ أَحْيَا أَمْرَكَ إِذْ أَمَاتُوْهُ فَأَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ { يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْكُفْرِ } إِلَى قَوْلِهِ { إِنْ أُوتِيتُمْ هَذَا فَخُذُوْهُ } يَقُوْلُ اُئْتُوْا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ أَمَرَكُمْ بِالتَّحْمِيْمِ وَالْجَلْدِ فَخُذُوْهُ وَإِنْ أَفْتَاكُمْ بِالرَّجْمِ فَاحْذَرُوْا فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى { وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ } { وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ } { وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ } فِي الْكُفَّارِ كُلُّهَا

28 – (1700)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah keduanya dari Abu Mu’awiyah, Yahya berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abdullah bin Murrah dari Al Barra` bin ‘Azib dia berkata:

Suatu ketika seorang Yahudi yang dicat hitam dan didera lewat di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau memanggil mereka seraya bersabda: Beginikah hukuman zina yang kalian dapati dalam kitab Taurat kalian? mereka menjawab, Ya benar. Lalu beliau memanggil seorang laki-laki yang tergolong dari ulama mereka, beliau bertanya: Aku mengharap kamu mau bersumpah dengan nama Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, betulkah begini caranya hukuman zina yang kalian dapati dalam kitab tauratmu? dia menjawab, Tidak, seandainya anda tidak menyumpahku dengan nama Allah, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepada anda. Dan yang kami ketahui dalam kitab Taurat, hukumannya adalah rajam, akan tetapi biasanya hukuman itu tidak berlaku bagi pembesar-pembesar kami, jika yang tertangkap itu dari pembesar, maka kami biarkan begitu saja, akan tetapi jika yang tertangkap rakyat kecil maka kami tegakkan hukum sesuai Taurat. Akhirnya kami bermusyawarah, membicarakan hukum yang dapat kami tegakkan bagi pembesar dan rakyat biasa. Lalu kami putuskan untuk membuat hitam tubuh dan mendera pelaku zina sebagai pengganti hukum rajam. Setelah laki-laki itu selesai bicara, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ya Allah, sesungguhnya akulah orang yang pertama-tama menghidupkan kembali sunnah-Mu setelah mereka hapus perintah tersebut. Setelah itu, beliau memerintahkan supaya Yahudi yang berzina itu dihukum rajam, lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: ‘(Wahai rasul, janganlah kamu merasa sedih, karena orang-orang yang bersegera menuju kekafiran -hingga firman-Nya- Jika diberikan ini kepadamu, maka terimalah) ‘ (Qs. Al Maidah: 41).  Orang-orang Yahudi berkata, Datanglah kalian kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, jika beliau memutuskan hukuman kepadamu dengan menghitamkan tubuh dan didera, maka terimalah, namun jika dia berfatwa kepadamu dengan hukuman rajam, maka waspadalah. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: ‘(Barangsiapa tidak berhukum dengan sesuatu yang telah di turunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan barangsiapa tidak berhukum dengan sesuatu yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang Zhalim. Dan barangsiapa tidak berhukum dengan sesuatu yang telah di turunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik’ (Qs. Al Maidah: 44- 47). Hal ini juga berlaku kepada orang-orang kafir semuanya.

(Shahih Muslim : 1700 – 28 )

حَدَّثَنَا اِبْنُ نُمَيْرٍ وَأَبُوْ سَعِيْدٍ الْأَشَجُّ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ إِلَى قَوْلِهِ فَأَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَ وَلَمْ يَذْكُرْ مَا بَعْدَهُ مِنْ نُزُوْلِ الْآيَةِ

(1700)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Abu Sa’id Al Asyaj keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dengan isnad seperti ini sampai kepada perkataannya, Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk merajamnya, akhirnya dia pun dirajam. Dan tidak menyebutkan sesuatu setelahnya seperti turunnya ayat.

(Shahih Muslim : 1700 )

وَ حَدَّثَنِي هَارُوْنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ اِبْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ :

رَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ وَرَجُلًا مِنَ الْيَهُوْدِ وَامْرَأَتَهُ

28 م – (1701)

Dan telah menceritakan kepadaku Harun bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dia berkata; Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Az Zubair bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah merajam seorang laki-laki dan wanita Yahudi yang berzina.

(Shahih Muslim : 1701 – m 28 )

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَامْرَأَةً

(1701)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Rauh bin ‘Ubadah telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dengan isnad seperti ini, namun dia menyebutkan, Dan seorang wanita.

(Shahih Muslim : 1701 )

وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ كَامِلٍ اَلْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ الشَّيْبَانِيُّ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ الشَّيْبَانِيِّ قَالَ:

سَأَلْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى هَلْ رَجَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ قَالَ قُلْتُ بَعْدَ مَا أُنْزِلَتْ سُورَةُ النُّورِ أَمْ قَبْلَهَا قَالَ لَا أَدْرِي

29 – (1702)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Sulaiman Asy Syaibani dia berkata, aku bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa. (dalam jalur lain disebutkan)  Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah sedangkan lafadznya dari dia, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Abu Ishaq Asy Syaibani dia berkata:

Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa, Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melaksanakan hukuman rajam? dia menjawab, Ya, benar. Aku bertanya, Apakah beliau melakukan hal itu setelah turunnya surat An Nuur atau sebelumnya? dia menjawab, Aku tidak tahu.

(Shahih Muslim : 1702 – 29 )

وَ حَدَّثَنِي عِيْسَى بْنُ حَمَّادٍ الْمِصْرِيُّ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِي سَعِيْدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ:

إِذَا زَنَتْ أَمَةُ أَحَدِكُمْ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَجْلِدْهَا الْحَدَّ وَلَا يُثَرِّبْ عَلَيْهَا ثُمَّ إِنْ زَنَتْ فَلْيَجْلِدْهَا الْحَدَّ وَلَا يُثَرِّبْ عَلَيْهَا ثُمَّ إِنْ زَنَتِ الثَّالِثَةَ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَبِعْهَا وَلَوْ بِحَبْلٍ مِنْ شَعَرٍ

30 – (1703)

Dan telah menceritakan kepadaku Isa bin Hammad Al Mishir telah mengabarkan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abu Abu Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa dia mendengarnya berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

Apabila salah seorang dari sahaya perempuan kalian jelas-jelas berzina, maka hukumlah dia dengan hukuman dera, dan jangan sekali-kali kamu memakinya. Kemudian jika dia melakukan zina lagi, maka deralah dia, dan jangan sekali-kali kamu memakinya. Dan jika dia masih melakukan zina pada kali ketiganya, sedangkan tuduhan zina memang terbukti padanya, maka juallah dia walaupun seharga seutas tali rambut.

(Shahih Muslim : 1703 – 30 )

Hukuman bagi orang yang mengaku berzina

وَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ:

أَتَى رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَنَادَاهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي زَنَيْتُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَتَنَحَّى تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَقَالَ لَهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي زَنَيْتُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ حَتَّى ثَنَى ذَلِكَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ فَلَمَّا شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ دَعَاهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبِكَ جُنُوْنٌ قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ أَحْصَنْتَ قَالَ نَعَمْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذْهَبُوْا بِهِ فَارْجُمُوْهُ قَالَ اِبْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِي مَنْ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ فَكُنْتُ فِيمَنْ رَجَمَهُ فَرَجَمْنَاهُ بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا أَذْلَقَتْهُ الْحِجَارَةُ هَرَبَ فَأَدْرَكْنَاهُ بِالْحَرَّةِ فَرَجَمْنَاهُ

16 – (1691)

Telah menceritakan kepadaku Abdul Malik bin Syu’aib bin Laits bin Sa’d telah menceritakan kepadaku ayahku dari kakekku dia berkata; telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’id bin Musayyab dari Abu Hurairah bahwa dia berkata:

Seorang laki-laki Muslim datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di Masjid. Laki-laki itu berkata, Wahai Rasulullah, aku telah berzina! Namun beliau berpaling, lalu laki-laki itu pindah dan menghadap wajah beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah, aku telah berzina! Beliau tetap memalingkan muka ke arah lain hingga hal itu terjadi berulang sampai empat kali, setelah laki-laki itu mengakui sampai empat kali bahwa dirinya telah berzina, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: Apakah kamu gila? Jawab orang itu, Tidak. Beliau bertanya kepadanya lagi: Apakah kamu telah menikah? dia menjawab, Ya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat: Bawa orang ini, kemudian rajamlah dia. Ibnu Syihab berkata; telah menceritakan kepadaku dari orang yang pernah mendengar Jabir bin Abdullah berkata, Dan aku termasuk dari orang yang merajamnya, lalu kami merajamnya di dekat Mushalla, ketika bebatuan menimpanya maka dia berusaha kabur, lalu kami dapatkan dia di bawah terik (matahari), kemudian kami merajamnya lagi.

(Shahih Muslim : 1691 – 16 )

وَرَوَاهُ اللَّيْثُ أَيْضًا عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَالِدِ بْنِ مُسَافِرٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ

(1691)

Dan telah diriwayatkan juga oleh Laits dari Abdurrahman bin Khalid bin Musafir dari Ibnu Syihab dengan isnad seperti ini.

(Shahih Muslim : 1691 )

وَ حَدَّثَنِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ أَيْضًا وَفِي حَدِيْثِهِمَا جَمِيْعًا قَالَ اِبْنُ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي مَنْ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ كَمَا ذَكَرَ عُقَيْلٌ

2 م – (1691)

Dan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah menceritakan kepada kami Syua’ib dari Az Zuhri dengan isnad ini juga, dan dalam hadits keduanya, Ibnu Syihab berkata; telah menceritakan kepada dari orang yang pernah mendengar Jabir bin Abdullah sebagaimana yang telah di sebutkan oleh ‘Uqail.

(Shahih Muslim : 1691 – 2  m)

وَ حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالَا أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ وَابْنُ جُرَيْجٍ كُلُّهُمْ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ رِوَايَةِ عُقَيْلٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيْدٍ وَأَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

3 م – (1691)

Dan telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir dan Harmalah bin Yahya keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepadaku Yunus. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dan Ibnu Juraij semuanya dari Az Zuhri dari Abu salamah dari Jabir bin Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti riwayatnya ‘Uqail dari Az Zuhri dari Sa’id dan Abu Salamah dari Abu Hurairah.

(Shahih Muslim : 1691 – 3 m )

وَ حَدَّثَنِي أَبُوْ كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَوَانَةَ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ رَأَيْتُ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ حِيْنَ جِيءَ بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ قَصِيْرٌ أَعْضَلُ لَيْسَ عَلَيْهِ رِدَاءٌ فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ أَنَّهُ زَنَى فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَعَلَّكَ قَالَ لَا وَاللهِ إِنَّهُ قَدْ زَنَى الْأَخِرُ قَالَ فَرَجَمَهُ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ أَلَا كُلَّمَا نَفَرْنَا غَازِيْنَ فِي سَبِيْلِ اللهِ خَلَفَ أَحَدُهُمْ لَهُ نَبِيْبٌ كَنَبِيْبِ التَّيْسِ يَمْنَحُ أَحَدُهُمُ الْكُثْبَةَ أَمَا وَاللهِ إِنْ يُمْكِنِّي مِنْ أَحَدِهِمْ لَأُنَكِّلَنَّهُ عَنْهُ

17 – (1692)

Telah menceritakan kepadaku Abu Kamil Fudlail bin Hushain Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Simak bin Harb dari Jabir bin Samurah dia berkata,

“Aku melihat Ma’iz bin Malik ketika dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kelihatan olehku bahwa dia adalah orang yang pendek betisnya dan tidak memakai mantel, lalu dia mengaku sampai empat kali bahwa dirinya telah berzina. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Barangkali kamu hanya sekedar mencium.” Namun dia memperkuat pengakuannya dengan disertai sumpah, bahwa dia memang telah berzina.” Jabir melanjutkan, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan supaya merajamnya. Setelah itu beliau berkhutbah: “Ketika kami akan berangkat perang di jalan Allah, ternyata salah seorang dari kalian ada yang tidak ikut serta, lalu dia mempunyai desahan seperti kambing jantan mendesah (saat kawin), lalu dia memberikan sedikit sesuatu (kepada wanita tersebut). Demi Allah, sekiranya aku diberikan kesempatan, niscaya aku akan memberikan hukuman kepadanya sebagai suatu pelajaran.”

(Shahih Muslim : 1692 – 17 )

وَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ يَقُوْلُ

أُتِيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ قَصِيْرٍ أَشْعَثَ ذِي عَضَلَاتٍ عَلَيْهِ إِزَارٌ وَقَدْ زَنَى فَرَدَّهُ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا نَفَرْنَا غَازِيْنَ فِي سَبِيْلِ اللهِ تَخَلَّفَ أَحَدُكُمْ يَنِبُّ نَبِيْبَ التَّيْسِ يَمْنَحُ إِحْدَاهُنَّ الْكُثْبَةَ إِنَّ اللهَ لَا يُمْكِنِّي مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ إِلَّا جَعَلْتُهُ نَكَالًا أَوْ نَكَّلْتُهُ قَالَ فَحَدَّثْتُهُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ فَقَالَ إِنَّهُ رَدَّهُ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ

18 – (1692)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar sedangkan lafadznya dari Ibnu Mutsanna, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak bin Harb dia berkata; aku pernah mendengar Jabir bin Samurah berkata:

Pada suatu hari, seorang laki-laki bertubuh pendek dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia terlihat kusut, dekil dan mengenakan kain sarung, Dia mengaku bahwa dirinya telah berzina, pada awalnya beliau menolak pengakuannya sampai dua kali. Setelah itu, barulah beliau memerintahkan para sahabatnya untuk merajamnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:Ketika kami akan berangkat perang untuk berjihad di jalan Allah, ternyata salah seorang dari kalian ada yang tidak ikut berangkat bersama kami, dia mempunyai desahan seperti desahan hewan dan memberikan sesuatu kepada salah seorang para wanita tersebut. Sekiranya Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk berbuat sesuatu kepadanya, niscaya aku akan memberikan hukuman kepadanya sebagai pelajaran -atau akan aku kasih pelajaran-.

Perawi berkata, Kemudian hal ini aku ceritakan kepada Sa’id bin Jubair maka dia berkata, Beliau menolaknya sampai empat kali.

(Shahih Muslim : 1692 – 18 )

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا أَبُوْ عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ كِلَاهُمَا عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ حَدِيْثِ ابْنِ جَعْفَرٍ وَوَافَقَهُ شَبَابَةُ عَلَى قَوْلِهِ فَرَدَّهُ مَرَّتَيْنِ وَفِي حَدِيْثِ أَبِي عَامِرٍ فَرَدَّهُ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا

(1692)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibahtelah menceritakan kepada kami Syababah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al ‘Aqdi keduanya dari Syu’bah dari Simak dari Jabir bin Samurah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits Ibnu Ja’far. Syababah juga sepakat mengenai perkataannya, Maka beliau menolaknya sampai dua kali. Sedangkan dalam hadits Abu ‘Amir disebutkan, Maka beliau menolaknya dua kali atau tiga kali.

(Shahih Muslim : 1692 )

وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ:

أَحَقٌّ مَا بَلَغَنِي عَنْكَ قَالَ وَمَا بَلَغَكَ عَنِّي قَالَ بَلَغَنِي أَنَّكَ وَقَعْتَ بِجَارِيَةِ آلِ فُلَانٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَشَهِدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ

19 – (1693)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Abu Kamil Al Jahdari sedangkan lafadznya dari Qutaibah, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ma’iz bin Malik:

Apakah benar berita yang telah sampai kepadaku tentangmu? Ma’iz balik bertanya, Berita apa kiranya yang sampai kepada anda tentangku? beliau menjawab: Benarkah kamu telah berzina dengan budak perempuan keluarga fulan? Ma’iz menjawab, Ya, benar. Ibnu Abbas berkata, Kemudian dia bersaksi sampai empat kali persaksian, kemudian beliau memerintahkan untuk merajamnya.

(Shahih Muslim : 1693 – 19 )

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ يُقَالُ لَهُ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي أَصَبْتُ فَاحِشَةً فَأَقِمْهُ عَلَيَّ فَرَدَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِرَارًا قَالَ ثُمَّ سَأَلَ قَوْمَهُ فَقَالُوْا مَا نَعْلَمُ بِهِ بَأْسًا إِلَّا أَنَّهُ أَصَابَ شَيْئًا يَرَى أَنَّهُ لَا يُخْرِجُهُ مِنْهُ إِلَّا أَنْ يُقَامَ فِيْهِ الْحَدُّ قَالَ فَرَجَعَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَنَا أَنْ نَرْجُمَهُ قَالَ فَانْطَلَقْنَا بِهِ إِلَى بَقِيْعِ الْغَرْقَدِ قَالَ فَمَا أَوْثَقْنَاهُ وَلَا حَفَرْنَا لَهُ قَالَ فَرَمَيْنَاهُ بِالْعَظْمِ وَالْمَدَرِ وَالْخَزَفِ قَالَ فَاشْتَدَّ وَاشْتَدَدْنَا خَلْفَهُ حَتَّى أَتَى عُرْضَ الْحَرَّةِ فَانْتَصَبَ لَنَا فَرَمَيْنَاهُ بِجَلَامِيْدِ الْحَرَّةِ يَعْنِي الْحِجَارَةَ حَتَّى سَكَتَ قَالَ ثُمَّ قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيْبًا مِنَ الْعَشِيِّ فَقَالَ أَوَ كُلَّمَا اِنْطَلَقْنَا غُزَاةً فِي سَبِيْلِ اللهِ تَخَلَّفَ رَجُلٌ فِي عِيَالِنَا لَهُ نَبِيْبٌ كَنَبِيْبِ التَّيْسِ عَلَيَّ أَنْ لَا أُوتَى بِرَجُلٍ فَعَلَ ذَلِكَ إِلَّا نَكَّلْتُ بِهِ قَالَ فَمَا اسْتَغْفَرَ لَهُ وَلَا سَبَّهُ

20 – (1694)

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepadaku Abdul A’la telah menceritakan kepada kami Daud dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id,

Bahwa seorang laki-laki dari Bani Aslam yang bernama Ma’iz bin Malik mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, Sesungguhnya aku telah berbuat keji, oleh karena itu luruskanlah daku! Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling darinya, hal itu terjadi sampai berkali-kali. Abu Sa’id berkata, Kemudian beliau bertanya kepada kaumnya, mereka menjawab, Kami tidak melihatnya berbuat keji melainkan dia telah melakukan sesuatu, dan dia tidak bisa keluar dari permasalahan itu kecuali jika telah ditegakkan had atasnya. Abu Sa’id melanjutkan, Lalu dia kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau memerintahkan kami untuk merajamnya. Abu Sa’id melanjutkan, Setelah itu kami pergi ke Baqi’ Gharqad, kami tidak mengikatnya dan tidak pula memendamnya. Abu Sa’id melanjutkan, Lalu kami melemparinya dengan tulang belulang dan tanah liat yang keras. Abu Sa’id berkata, Ma’iz berusaha lari hingga sampai dekat Hurrah, namun kami mengejarnya dan mendapatkannya kembali, lalu kami melemparinya dengan bebatuan yang besar hingga dia diam (mati). Di sore harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkhutbah, sabdanya: Kenapa ketika kami berangkat perang untuk berjihad di jalan Allah, salah seorang dari kalian ada yang tidak ikut berangkat dan bersama keluarga kami, ia memiliki desahan seperti kambing jantan (saat kawin). Maka tidaklah kalian menghadapkan kepadaku orang yang melakukan perbuatan itu melainkan aku akan memberinya sanksi. Abu Sa’id berkata, Maka beliau tidak memintakan ampun untuknya dan tidak pula mencacinya.

(Shahih Muslim : 1694 – 20 )

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَ مَعْنَاهُ وَقَالَ فِي الْحَدِيْثِ

فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْعَشِيِّ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَمَا بَالُ أَقْوَامٍ إِذَا غَزَوْنَا يَتَخَلَّفُ أَحَدُهُمْ عَنَّا لَهُ نَبِيْبٌ كَنَبِيْبِ التَّيْسِ وَلَمْ يَقُلْ فِي عِيَالِنَا

21 – (1694)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Daud dengan sanad ini, seperti makna hadits tersebut. Dalam hadits tersebut ia menyebutkan, Di sore harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, lalu bersabda:

Amma Ba’du. Kenapa sekelompok orang ketika kami berangkat perang lalu salah seorang dari mereka mundur (tidak ikut) bersama kami, ia memiliki desahan seperti desahan kambing jantan (saat kawin) ‘. dan ia tidak menyebutkan, ‘bersama keluarga kami’.

(Shahih Muslim : 1694 – 21 )

وَ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ يُوْنُسَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّاءَ بْنِ أَبِي زَائِدَةَ ح وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كِلَاهُمَا عَنْ دَاوُدَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ بَعْضَ هَذَا الْحَدِيْثِ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيْثِ سُفْيَانَ فَاعْتَرَفَ بِالزِّنَى ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

(1694)

Dan telah menceritakan kepada kami Suraij bin Yunus telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria bin Abu Zaidah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Sufyan keduanya dari Daud dengan isnad sebagian hadits ini, namun dalam hadits Sufyan disebutkan, ‘Jika ia mengakui telah berzina sebanyak tiga kali’.

(Shahih Muslim : 1694 )

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَعْلَى وَهُوَ اِبْنُ الْحَارِثِ الْمُحَارِبِيُّ عَنْ غَيْلَانَ وَهُوَ اِبْنُ جَامِعٍ اَلْمُحَارِبِيُّ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ

جَاءَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ طَهِّرْنِي فَقَالَ وَيْحَكَ اِرْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ قَالَ فَرَجَعَ غَيْرَ بَعِيْدٍ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ طَهِّرْنِي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْحَكَ اِرْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ قَالَ فَرَجَعَ غَيْرَ بَعِيْدٍ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ طَهِّرْنِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى إِذَا كَانَتِ الرَّابِعَةُ قَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ فِيْمَ أُطَهِّرُكَ فَقَالَ مِنَ الزِّنَى فَسَأَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِهِ جُنُوْنٌ فَأُخْبِرَ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَجْنُونٍ فَقَالَ أَشَرِبَ خَمْرًا فَقَامَ رَجُلٌ فَاسْتَنْكَهَهُ فَلَمْ يَجِدْ مِنْهُ رِيحَ خَمْرٍ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَزَنَيْتَ فَقَالَ نَعَمْ فَأَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ فَكَانَ النَّاسُ فِيْهِ فِرْقَتَيْنِ قَائِلٌ يَقُوْلُ لَقَدْ هَلَكَ لَقَدْ أَحَاطَتْ بِهِ خَطِيْئَتُهُ وَقَائِلٌ يَقُوْلُ مَا تَوْبَةٌ أَفْضَلَ مِنْ تَوْبَةِ مَاعِزٍ أَنَّهُ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي يَدِهِ ثُمَّ قَالَ اُقْتُلْنِي بِالْحِجَارَةِ قَالَ فَلَبِثُوْا بِذَلِكَ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً ثُمَّ جَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ جُلُوْسٌ فَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ اِسْتَغْفِرُوْا لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ فَقَالُوْا غَفَرَ اللهُ لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ تَابَ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ أُمَّةٍ لَوَسِعَتْهُمْ قَالَ ثُمَّ جَاءَتْهُ اِمْرَأَةٌ مِنْ غَامِدٍ مِنَ الْأَزْدِ فَقَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ طَهِّرْنِي فَقَالَ وَيْحَكِ اِرْجِعِي فَاسْتَغْفِرِي اللهَ وَتُوْبِي إِلَيْهِ فَقَالَتْ أَرَاكَ تُرِيْدُ أَنْ تُرَدِّدَنِي كَمَا رَدَّدْتَ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ وَمَا ذَاكِ قَالَتْ إِنَّهَا حُبْلَى مِنَ الزِّنَى فَقَالَ آنْتِ قَالَتْ نَعَمْ فَقَالَ لَهَا حَتَّى تَضَعِي مَا فِي بَطْنِكِ قَالَ فَكَفَلَهَا رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ حَتَّى وَضَعَتْ قَالَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ قَدْ وَضَعَتِ الْغَامِدِيَّةُ فَقَالَ إِذًا لَا نَرْجُمُهَا وَنَدَعُ وَلَدَهَا صَغِيْرًا لَيْسَ لَهُ مَنْ يُرْضِعُهُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَالَ إِلَيَّ رَضَاعُهُ يَا نَبِيَّ اللهِ قَالَ فَرَجَمَهَا

22 – (1695)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al ‘Ala Al Hamdani telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ya’la -yaitu Ibnu Al Harits Al Muharibi- dari Ghailan -yaitu Ibnu Jami’ Al Muharibi- dari ‘Alqamah bin Murtsad dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya dia berkata:

Ma’iz bin Malik datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, Wahai Rasulullah, sucikanlah diriku. Rasulullah menjawab: Celaka kamu! Pulang dan mintalah ampun kepada Allah, dan bertaubatlah kepada-Nya. Kemudian Ma’iz pergi, tidak lama kemudian dia kembali lagi sambil berkata: Wahai Rasulullah, sucikanlah daku. Beliau menjawab: Celaka kamu! Pulang dan mintalah ampun kepada Allah, dan bertaubatlah kepada-Nya. Lalu Ma’iz pergi, tetapi belum begitu jauh dia pergi, dia kembali lagi dan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Wahai Rasulullah, sucikanlah daku. Beliau menjawab sebagaimana jawabannya yang pertama, dan hal itu berulang-ulang sampai empat kali. Pada kali yang ke empat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Dari hal apakah kamu harus aku sucikan? Ma’iz menjawab, Dari dosa zina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat yang ada di sekitar beliau: Apakah Ma’iz ini mengidap penyakit gila? lalu beliau diberitahu bahwa dia tidaklah gila. Beliau bertanya lagi: Apakah dia habis minum Khamr? lantas seorang laki-laki langsung berdiri untuk mencium bau mulutnya, namun dia tidak mendapapti bau khamr darinya. Buraidah melanjutkan, Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Betulkah kamu telah berzina? Dia menjawab, Ya, benar. Lantas beliau memerintahkan untuk ditegakkan hukuman rajam atas dirinya, lalu dia pun dirajam. Dalam permasalahan ini, orang-orang berbeda menjadi dua pendapat, yaitu; Ma’iz meninggal dan dosanya terhapuskan karena hukuman itu dijalaninya dengan ikhlas. Dan yang lain mengatakan bahwa Ma’iz bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, tiada taubat yang melebihi taubatnya Ma’iz. Dia datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu tangannya diletakkan di atas tangan beliau kemudian dia berkata, Wahai Rasulullah, rajamlah aku dengan batu. Dan mereka senantiasa dalam perbedaan pendapat seperti itu selama dua atau tiga hari. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, setelah memberi salam beliau duduk bersama-sama dengan mereka, lalu beliau bersabda: Mintakanlah ampun bagi Ma’iz bin Malik. Lalu mereka memohonkan ampun untuknya, Semoga Allah mengampuni Ma’iz bin Malik. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh Ma’iz telah betaubat dengan sempurna, dan seandainya taubat Ma’iz dapat dibagi di antara satu kaum, pasti taubatnya akan mencukupi mereka semua.

(Shahih Muslim : 1695 – 22 )

وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيْثِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا بَشِيْرُ بْنُ الْمُهَاجِرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ:

أَنَّ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ اَلْأَسْلَمِيَّ أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَزَنَيْتُ وَإِنِّي أُرِيْدُ أَنْ تُطَهِّرَنِي فَرَدَّهُ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَاهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَرَدَّهُ الثَّانِيَةَ فَأَرْسَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ أَتَعْلَمُوْنَ بِعَقْلِهِ بَأْسًا تُنْكِرُوْنَ مِنْهُ شَيْئًا فَقَالُوْا مَا نَعْلَمُهُ إِلَّا وَفِيَّ الْعَقْلِ مِنْ صَالِحِيْنَا فِيْمَا نُرَى فَأَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ أَيْضًا فَسَأَلَ عَنْهُ فَأَخْبَرُوْهُ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ وَلَا بِعَقْلِهِ فَلَمَّا كَانَ الرَّابِعَةَ حَفَرَ لَهُ حُفْرَةً ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ قَالَ فَجَاءَتِ الْغَامِدِيَّةُ فَقَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي وَإِنَّهُ رَدَّهَا فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ لِمَ تَرُدُّنِي لَعَلَّكَ أَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا فَوَاللهِ إِنِّي لَحُبْلَى قَالَ إِمَّا لَا فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِي فَلَمَّا وَلَدَتْ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي خِرْقَةٍ قَالَتْ هَذَا قَدْ وَلَدْتُهُ قَالَ اِذْهَبِي فَأَرْضِعِيْهِ حَتَّى تَفْطِمِيْهِ فَلَمَّا فَطَمَتْهُ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي يَدِهِ كِسْرَةُ خُبْزٍ فَقَالَتْ هَذَا يَا نَبِيَّ اللهِ قَدْ فَطَمْتُهُ وَقَدْ أَكَلَ الطَّعَامَ فَدَفَعَ الصَّبِيَّ إِلَى رَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا إِلَى صَدْرِهَا وَأَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوْهَا فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيْدِ بِحَجَرٍ فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا فَسَمِعَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّهُ إِيَّاهَا فَقَالَ مَهْلًا يَا خَالِدُ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ

23 – (1695)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair. (dalam jalur lain disebutkan)  Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair sedangkan lafadz haditsnya saling berdekatan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Basyir bin Muhajir telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dari ayahnya,:

bahwa Ma’iz bin Malik Al Aslami pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, karena aku telah berzina, oleh karena itu aku ingin agar anda berkenan membersihkan diriku. Namun beliau menolak pengakuannya. Keesokan harinya, dia datang lagi kepada beliau sambil berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina. Namun beliau tetap menolak pengakuannya yang kedua kalinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menemui kaumnya dengan mengatakan: Apakah kalian tahu bahwa pada akalnya Ma’iz ada sesuatu yang tidak beres yang kalian ingkari? mereka menjawab, Kami tidak yakin jika Ma’iz terganggu pikirannya, setahu kami dia adalah orang yang baik dan masih sehat akalnya. Untuk ketiga kalinya, Ma’iz bin Malik datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membersihkan dirinya dari dosa zina yang telah diperbuatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengirimkan seseorang menemui kaumnya untuk menanyakan kondisi akal Ma’iz, namun mereka memberitahukan kepada beliau bahwa akalnya sehat dan termasuk orang yang baik. Ketika Ma’iz bin Malik datang keempat kalinya kepada beliau, maka beliau memerintahkan untuk membuat lubang ekskusi bagi Ma’iz. Akhirnya beliau memerintahkan untuk merajamnya, dan hukuman rajam pun dilaksanakan. Buraidah melanjutkan, Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, Wahai Rasulullah, diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku. Tetapi untuk pertama kalinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghiraukan bahkan menolak pengakuan wanita tersebut. Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, Wahai Rasulullah, kenapa anda menolak pengakuanku? Sepertinya anda menolak pengakuan aku sebagaimana pengakuan Ma’iz. Demi Allah, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu.Mendengar pengakuan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sekiranya kamu ingin tetap bertaubat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan. Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada beliau sambil menggendong bayinya yang dibungkus dengan kain, dia berkata, Inilah bayi yang telah aku lahirkan. Beliau lalu bersabda: Kembali dan susuilah bayimu sampai kamu menyapihnya. Setelah mamasuki masa sapihannya, wanita itu datang lagi dengan membawa bayinya, sementara di tangan bayi tersebut ada sekerat roti, lalu wanita itu berkata, Wahai Nabi Allah, bayi kecil ini telah aku sapih, dan dia sudah dapat menikmati makanannya sendiri. Kemudian beliau memberikan bayi tersebut kepada laki-laki muslim, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman rajam. Akhirnya wanita itu ditanam dalam tanah hingga sebatas dada. Setelah itu beliau memerintahkan orang-orang supaya melemparinya dengan batu. Sementara itu, Khalid bin Walid ikut serta melempari kepala wanita tersebut dengan batu, tiba-tiba percikan darahnya mengenai wajah Khalid, seketika itu dia mencaci maki wanita tersebut. Ketika mendengar makian Khalid, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tenangkanlah dirimu wahai Khalid, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang pelaku dosa besar niscaya dosanya akan diampuni. Setelah itu beliau memerintahkan untuk menshalati jenazahnya dan menguburkannya.

(Shahih Muslim : 1695 – 23 )

حَدَّثَنِي أَبُوْ غَسَّانَ مَالِكُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمِسْمَعِيُّ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ يَعْنِي اِبْنَ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيْرٍ حَدَّثَنِي أَبُوْ قِلَابَةَ أَنَّ أَبَا الْمُهَلَّبِ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ اِمْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِيَّ اللهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَيَّ فَدَعَا نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَا فَقَالَ أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي بِهَا فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا  ِللهِ تَعَالَى

24 – (1696)

Telah menceritakan kepadakuu Abu Ghassan Malik bin Abdul Wahid Al Misma’i telah menceritakan kepada kami Mu’adz -yaitu Ibnu Hisyam- telah menceritakan kepadaku ayahku dari Yahya bin Abu Katsir telah menceritakan kepadaku Abu Qilabah bahwa Abu Al Muhallab telah menceritakan kepadanya dari ‘Imran bin Hushain,

bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal dia sedang hamil akibat melakukan zina. Wanita itu berkata, Wahai Rasulullah, aku telah melanggar hukum, oleh karena itu tegakkanlah hukuman itu atasku. Lalu Nabi Allah memanggil wali perempuan itu dan bersabda kepadanya: Rawatlah wanita ini sebaik-baiknya, apabila dia telah melahirkan, bawalah dia ke hadapanku. Lalu walinya melakukan pesan tersebut. setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk merajam wanita tersebut, maka pakaian wanita tersebut dirapikan (agar auratnya tidak terbuka saat dirajam). Kemudian beliau perintahkan agar ia dirajam. Setelah dirajam, beliau menshalatkan jenazahnya, namun hal itu menjadikan Umar bertanya kepada beliau, Wahai Nabi Allah, perlukah dia dishalatkan? Bukankah dia telah berzina? beliau menjawab: Sunnguh, dia telah bertaubat kalau sekiranya taubatnya dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, pasti taubatnya akan mencukupi mereka semua. Adakah taubat yang lebih utama daripada menyerahkan nyawa kepada Allah Ta’ala secara ikhlas?

(Shahih Muslim : 1696 – 24 )

وَ حَدَّثَنَاهُ أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيْرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ

(1696)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami ‘Affan bin Muslim telah menceritakan kepada kami Aban Al ‘Athar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dengan isnad seperti ini.

(Shahih Muslim : 1696 )

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح وَ حَدَّثَنَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُوْدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدٍ اَلْجُهَنِيِّ أَنَّهُمَا قَالَا:

إِنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَعْرَابِ أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنْشُدُكَ اللهَ إِلَّا قَضَيْتَ لِي بِكِتَابِ اللهِ فَقَالَ الْخَصْمُ الْآخَرُ وَهُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ نَعَمْ فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَأْذَنْ لِي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ قَالَ إِنَّ ابْنِي كَانَ عَسِيْفًا عَلَى هَذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ وَإِنِّي أُخْبِرْتُ أَنَّ عَلَى ابْنِي الرَّجْمَ فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَوَلِيْدَةٍ فَسَأَلْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ فَأَخْبَرُوْنِي أَنَّمَا عَلَى ابْنِي جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيْبُ عَامٍ وَأَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هَذَا الرَّجْمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ الْوَلِيْدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيْبُ عَامٍ وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا قَالَ فَغَدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ فَأَمَرَ بِهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَتْ

25 – (1697/1698)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumhin telah mengabarkan kepada kami Laits dari Ibnu Syihab dari ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al Juhani bahwa keduanya berkata,

Seorang laki-laki dari desa datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, Ya Rasulullah, aku memohon supaya anda bersumpah dengan nama Allah, bahwa anda tidak akan menjatuhkan hukuman kepadaku kecuali sesuai dengan Kitabullah. Lawan bicara laki-laki tersebut angkat bicara – dan dia lebih pandai dari laki-laki pertama-, Ya betul, putuskanlah perkara kami sesuai dengan Kitabullah, dan izinkanlah aku bicara lebih dahulu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Katakanlah. Dia berbicara, Anak laki-lakiku bekerja menjadi pegawai orang ini, lalu dia menuduh anakku berzina dengan isterinya. Sesungguhnya aku tahu, bahwa anakku harus dihukum rajam, lalu aku tebus dia dengan seratus ekor kambing dan seorang sahaya perempuan, kemudian aku bertanya kepada alim ulama, mereka mengatakan kalau anakku harus dihukum dera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedangkan yang perempuan mendapatkan hukuman rajam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku akan menjatuhkan hukuman bagi kalian berdua sesuai dengan kitabullah, hamba sahaya dan kambing akan dikembalikan, sementara anakmu harus didera seratus kali lalu diasingkan selama satu tahun. Wahai Unais, besok pagi pergilah kamu kepada isteri orang ini, lalu periksa, apakah dia memang benar berzina, jika dia mengaku berzina, maka rajamlah dia. Abu Hurairah berkata,  Pagi harinya Unes memeriksa wanita itu dan ternyata dia mengaku telah berzina, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan supaya dirajam, akhirnya dia pun dirajam.

(Shahih Muslim : 1697/1698 – 25 )

وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ قَالَا أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ ح و حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا يَعْقُوْبُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ كُلُّهُمْ عَنِ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

(1697/1698)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu At Thahir dan Harmalah keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahib telah mengabarkan kepadakuYunus. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku ‘Amru An Naqid telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami ayahku dari Shalih. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar semuanya dari Az Zuhridengan isnad seperti ini.

(Shahih Muslim : 1697/1698 )

Hukuman ranjam bagi janda yang melakukan zina

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ يَقُوْلُ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى مِنْبَرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ الْكِتَابَ فَكَانَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ قَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا فَرَجَمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ فَأَخْشَى إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُوْلَ قَائِلٌ مَا نَجِدُ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللهِ فَيَضِلُّوْا بِتَرْكِ فَرِيْضَةٍ أَنْزَلَهَا اللهُ وَإِنَّ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللهِ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَى إِذَا أَحْصَنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَلُ أَوِ الِاعْتِرَافُ

15 – (1691)

Telah menceritakan kepada kami Abu At Thahir dan Harmalah bin Yahya keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bahwa dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, Umar bin Khattab berkata sambil duduk di atas mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kebenaran, dan Dia juga telah menurunkan kitab kepadanya, di antara ayat yang diturunkan kepadanya, yang kita semua telah membacanya, mempelajari dan berusaha memahaminya adalah ayat tentang rajam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaksanakan hukuman rajam tersebut, begitu juga kita akan tetap melaksanakan hukum tersebut setelah kepergian beliau. Aku khawatir, jika semakin lama, maka akan ada yang berkata, ‘Di dalam al Qur’an tidak kita dapati ayat mengenai hukum rajam’. Lantas mereka tersesat karena meninggalkan hukum wajib itu yang telah diturunkan oleh Allah Ta’la. Sesungguhnya hukuman rajam yang terdapat dalam kitabullah, wajib dijalankan atas orang laki-laki dan perempuan yang telah menikah melakukan perzinahan apabila ada saksi, ada bukti dan juga ada pengakuan. 

(Shahih Muslim : 1691 – 15 )

وَ حَدَّثَنَاهُ أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالُوْا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

(1691)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Abu Umar mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dengan isnad ini.

(Shahih Muslim : 1691)

Hukuman bagi orang yang berzina

وَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيْمِيُّ أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ مَنْصُوْرٍ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ حِطَّانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الرَّقَاشِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

خُذُوْا عَنِّي خُذُوْا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلًا اَلْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ

12 – (1690)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Manshur dari Al Hasan dari Hiththan bin Abdullah Ar Raqasyi dari ‘Ubadah bin Shamit dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Ikutilah semua ajaranku, ikutilah semua ajaranku. Sungguh, Allah telah menetapkan hukuman bagi mereka (kaum wanita), perjaka dengan perawan hukumannya adalah cambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedangkan laki-laki dan wanita yang sudah menikah hukumannya adalah dera seratus kali dan dirajam.

(Shahih Muslim : 1690 – 12 )

وَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا مَنْصُوْرٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ

 (1690)

Dan telah menceritakan kepada kami ‘Amru An Naqid telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Manshur dengan isnad seperti ini.

(Shahih Muslim : 1690 )

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ جَمِيْعًا عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ اِبْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا سَعِيْدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ حِطَّانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الرَّقَاشِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ:

كَانَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ كُرِبَ لِذَلِكَ وَتَرَبَّدَ لَهُ وَجْهُهُ قَالَ فَأُنْزِلَ عَلَيْهِ ذَاتَ يَوْمٍ فَلُقِيَ كَذَلِكَ فَلَمَّا سُرِّيَ عَنْهُ قَالَ خُذُوْا عَنِّي فَقَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلًا اَلثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ وَالْبِكْرُ بِالْبِكْرِ الثَّيِّبُ جَلْدُ مِائَةٍ ثُمَّ رَجْمٌ بِالْحِجَارَةِ وَالْبِكْرُ جَلْدُ مِائَةٍ ثُمَّ نَفْيُ سَنَةٍ

13 – (1690)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar semuanya dari Abdul A’la, Ibnu Mutsanna berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul A’la telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Al Hasan dari Hiththan bin Abdullah Ar Raqasyi dari ‘Ubadah bin Shamit dia berkata,

Setiap kali turun wahyu kepada Nabi Allah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam, maka beliau terlihat sangat susah dan wajahnya berubah menjadi pucat. ‘Ubadah bin Shamit berkata, Pada suatu ketika wahyu turun kepada beliau, maka beliau terlihat sangat kepayahan, setelah kondisinya tenang kembali, beliau bersabda: Ikutilah semua ajaranku, sungguh Allah telah menetapkan hukum buat mereka. Allah telah menetapkan hukuman bagi mereka (kaum wanita); laki-laki dan wanita yang sudah menikah, dan perjaka dengan perawan. Bagi yang sudah menikah adalah hukuman cambuk seratus kali dan rajam dengan batu, sedangkan bagi yang belum menikah adalah cambuk seratus kali lalu diasingkan selama satu tahun.

(Shahih Muslim : 1690 – 13 )

وَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي كِلَاهُمَا عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيْثِهِمَا

الْبِكْرُ يُجْلَدُ وَيُنْفَى وَالثَّيِّبُ يُجْلَدُ وَيُرْجَمُ لَا يَذْكُرَانِ سَنَةً وَلَا مِائَةً

14 – (1690)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku Ayahku keduanya dari Qatadah dengan isnad ini, namun dalam hadits keduanya disebutkan

Hukuman bagi seorang yang belum menikah adalah dera dan diasingkan, sedangkan bagi orang yang telah menikah adalah dera dan dirajam. Dan tidak disebutkan, Selama setahun, dan tidak seratus kali.

(Shahih Muslim : 1690 – 14 )

%d blogger menyukai ini: