Wajib mengikuti Nabi Muhammad SAW

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ:

أَنَّ رَجُلاً مِنَ اْلأَنْصَارِ خَاصَمَ الزُّبَيْرَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِرَاجِ الْحَرَّةِ الَّتِي يَسْقُونَ بِهَا النَّخْلَ فَقَالَ اْلأَنْصَارِيُّ سَرِّحِ الْمَاءَ يَمُرُّ فَأَبَى عَلَيْهِمْ فَاخْتَصَمُوْا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ اِسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلِ الْمَاءَ إِلَى جَارِكَ فَغَضِبَ اْلأَنْصَارِيُّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ فَتَلَوَّنَ وَجْهُ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا زُبَيْرُ اِسْقِ ثُمَّ احْبِسِ الْمَاءَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى الْجَدْرِ فَقَالَ الزُّبَيْرُ وَاللهِ إِنِّي َلأَحْسِبُ هَذِهِ اْلآيَةَ نَزَلَتْ فِي ذَلِكَ { فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا{[4/النساء/75]

129 – (2357)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id; Telah menceritakan kepada kami Laits; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kamiMuhammad bin Rumh; Telah mengabarkan kepada kami All Laits dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Abdullah bin Az Zubair Radhiyallahu’anhu menceritakan hadits kepadanya ;

Bahwa seorang lelaki Ansar bertengkar dengan Zubair di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mengenai saluran air daerah Harrah yang digunakan untuk mengairi pohon kurma. Lelaki Ansar tersebut berkata: Biarkan air itu mengalir! Ternyata Zubair menolak permintaan mereka. Lalu mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam Berkatalah beliau kepada Zubair: Alirkanlah wahai Zubair dan alirkan juga air itu kepada tetanggamu! Lelaki tersebut marah seraya berkata: Wahai Rasulullah! Apakah karena Zubair itu anak bibimu? Berubahlah warna muka Nabi Shallallahu alaihi wassalam lalu berkata: Wahai Zubair, alirkanlah air itu kemudian tahan agar kembali lagi ke kebun! Lalu Zubair berkata: Demi Allah, aku yakin bahwa ayat ini turun menyinggung percekcokan tadi: Maka demi Tuhan, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS: Annisa’: 75)

(Shahih Muslim 2357-129)

Nabi SAW adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling takut kepada Allah

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:

صَنَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْرًا فَتَرَخَّصَ فِيهِ فَبَلَغَ ذٰلِكَ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِهِ فَكَأَنَّهُمْ كَرِهُوْهُ وَتَنَزَّهُوْا عَنْهُ فَبَلَغَهُ ذٰلِكَ فَقَامَ خَطِيبًا فَقَالَ: مَا بَالُ رِجَالٍ بَلَغَهُمْ عَنِّي أَمْرٌ تَرَخَّصْتُ فِيهِ فَكَرِهُوْهُ وَتَنَزَّهُوْا عَنْهُ فَوَاللهِ َلأَنَا أَعْلَمُهُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا حَفْصٌ يَعْنِي ابْنَ غِيَاثٍ ح و حَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَعْمَشِ بِإِسْنَادِ جَرِيرٍ نَحْوَ حَدِيثِهِ

127 – (2356)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Adh Dhuha dari Masruq dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha , ia berkata:

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pernah melakukan suatu perkara kemudian beliau mengambil keringanan (rukhshah) yang ada di dalamnya. Lalu sampailah berita itu kepada beberapa orang sahabat beliau yang tampak seakan-akan mereka tidak menyukainya dan menjauhkan diri dari perkara tersebut. Dan keadaan itu pun sampai kepada beliau yang langsung berdiri dan berpidato: Kenapa orang-orang yang sampai kepada mereka suatu perkara dari diriku di mana aku melakukan keringanan di dalamnya lalu mereka tidak menyukai dan menjauhkan diri darinya. Demi Allah, sungguh aku lebih mengetahui Allah dan lebih takut kepada-Nya daripada mereka

Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al Asyaj; Telah menceritakan kepada kami Hafsh yaitu Ibnu Ghiyats; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan ‘Ali bin Khasyram keduanya berkata; Telah mengabarkan kepada kami ‘Isa bin Yunus keduanya dari Al A’masymelalui sanad Jarir yang serupa dengan Haditsnya.

(Shahih Muslim 2356-127)

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْ مَسْرُوْقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:

رَخَّصَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَمْرٍ فَتَنَزَّهَ عَنْهُ نَاسٌ مِنَ النَّاسِ فَبَلَغَ ذٰلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ حَتَّى بَانَ الْغَضَبُ فِي وَجْهِهِ ثُمَّ قَالَ:مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْغَبُوْنَ عَمَّا رُخِّصَ لِي فِيهِ فَوَاللهِ َلأَنَا أَعْلَمُهُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً

128 – (2356)

 

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Muslim dari Masruq dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan keringanan kepada kaum muslimin dalam suatu masalah, tetapi mereka tidak mau menerimanya. Akhirnya berita itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hingga membuat beliau marah dan kemarahan itu tampak pada wajah beliau.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Mengapa orang-orang tidak mau menerima keringanan yang telah diberikan kepada mereka melalui perantaraku? Demi Allah, aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan yang paling dekat kepada Nya.’

(Shahih Muslim 2356-128)

Nama-Nama Nabi Muhammad SAW

حَدَّثَنِيْ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ اْلآخَرَانِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِيْ وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

124 – (2354)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Abu ‘Umar dan lafazh ini milik Zuhair. Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami Sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Az Zuhri dia mendengar Muhammad bin Jubair bin Muth’im  Radhiyallahu’anhu dari Bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya saya adalah Muhammad, saya adalah Ahmad, saya adalah al-Mahi yang maknanya Allah menghapus kekufuran denganku, saya adalah al-Hasyir yang maknanya orang-orang akan dikumpulkan mengikuti kakiku, dan saya adalah al-’Aqib yang maknanya tiada nabi sesudahku.”

(Shahih Muslim 2354-124)

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِي أَسْمَاءً أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللهُ بِيَ الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ وَقَدْ سَمَّاهُ اللهُ رَءُوفًا رَحِيمًا

وَحَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ ح وَحَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ ح وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُوْ الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ كُلُّهُمْ عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَفِي حَدِيثِ شُعَيْبٍ وَمَعْمَرٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي حَدِيثِ عُقَيْلٍ قَالَ قُلْتُ لِلزُّهْرِيِّ وَمَا الْعَاقِبُ قَالَ اَلَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ وَفِي حَدِيثِ مَعْمَرٍ وَعُقَيْلٍ اَلْكَفَرَةَ وَفِي حَدِيثِ شُعَيْبٍ اَلْكُفْرَ

125 – (2354)

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im Radhiyallahu’anhu dari bapaknya radliallahu ‘anhu katanya:

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Aku mempunyai beberapa nama: (1) Aku bernama Muhammad. (2) Aku bernama Ahmad. (3) Aku bernama Al Mahi (penumpas), yang artinya Allah menumpas kekufuran denganku. (4) Aku bernama Al-Hasyir (pengumpul) yang artinya Allah mengumpulkan manusia mengikuti langkahku. (5) Aku bernama Al ‘Aqib (penutup), yang artinya tidak ada seorang Nabi pun sesudahku. Dan sesungguhnya, aku juga oleh Allah diberi nama Ra’uf (penyantun) dan Rahim (penyayang).

Dan telah menceritakan kepadaku ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Kakekku; Telah menceritakan kepadaku ‘Uqail; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdu bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaqtelah mengabarkan kepada kami Ma’mar Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman Ad Darimi; Telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman; Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib seluruhnya dari Az Zuhrimelalui jalur ini. Dan di dalam Hadits Syu’aib dan Ma’mar di sebutkan dengan lafazh; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di dalam Hadits Uqail dia berkata; ‘Aku bertanya kepada Az Zuhri, Apa artinya Al ‘Aqib? Dia menjawab; Yaitu yang tidak ada nabi setelahnya. Juga di dalam Hadits Ma’mar dan Uqail menggunakan lafazh ‘Al kafarah’ (kekafiran), sedangkan di dalam Hadits Syu’aib menggunakan lafazh ‘Al Kufra.’

(Shahih Muslim 2354-125)

وَحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى اْلأَشْعَرِيِّ قَالَ:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَمِّي لَنَا نَفْسَهُ أَسْمَاءً فَقَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَالْمُقَفِّي وَالْحَاشِرُ وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ

126 – (2355)

 

Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Handzali; Telah mengabarkan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari ‘Amru bin Murrah dari Abu ‘Ubaidah dari Abu Musa Al Asy’ari  Radhiyallahu’anhu  dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan beberapa nama kepada kami yang merupakan nama beliau pribadi, sabdanya: “Aku bernama Muhammad, Ahmad, Al Muqaffa (sama dengan nama Al Aqib, penutup), Al Hasyir, Nabiyyut-Taubah dan Nabiyyur-Rahmah.

(Shahih Muslim 2355-126)

Masa Keberadaan Rasulullah SAW di Mekah dan Madinah

حَدَّثَنَا أَبُوْ مَعْمَرٍ إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْهُذَلِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِعُرْوَةَ:

كَمْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ قَالَ عَشْرًا قَالَ قُلْتُ فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ ثَلاَثَ عَشْرَةَ

116 – (2350)

Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar Isma’il bin Ibrahim Al Hudzali; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru Radhiyallahu’anhu ia berkata:

Aku pernah bertanya kepadaUrwah: Berapa tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di kota Mekkah? Ia menjawab: Sepuluh tahun. Amru berkata: Aku berkata; ‘sesungguhnya Ibnu Abbas mengatakan bahwa beliau tinggal disana selama tiga belas tahun

(Shahih Muslim 2350-116)

وَحَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ:

قُلْتُ لِعُرْوَةَ كَمْ لَبِثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ قَالَ عَشْرًا قُلْتُ فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ بِضْعَ عَشْرَةَ قَالَ فَغَفَّرَهُ وَقَالَ إِنَّمَا أَخَذَهُ مِنْ قَوْلِ الشَّاعِرِ

116-م – (2350)

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Umar; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru Radhiyallahu’anhu dia berkata:

Aku bertanya kepada ‘Urwah, Berapa lama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Makkah? Dia menjawab; ‘Sepuluh tahun.’ Aku berkata; Sesungguhnya Ibnu Abbas berkata; ‘Sepuluh tahun lebih.’ Amru berkata; ‘Semoga Allah memaafkan Urwah. Dia hanya mengambil dari perkataan seorang ahli Syair.

(Shahih Muslim 2350-116)

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَهَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَنْ رَوْحِ بْنِ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَثَ بِمَكَّةَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَتُوُفِّيَ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ

117 – (2351)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Harun bin ‘Abdillah dari Rauh bin ‘Ubadah; Telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Ishaq dari ‘Amru bin Dinar dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhu:

Sesungguhnya Rasulullah menetap di Makkah selama tiga belas tahun, dan beliau meninggal ketika berusia enam puluh tiga tahun.”

(Shahih Muslim 2351-117)

وَحَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ الضُّبَعِيِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:

أَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ سَنَةً يُوحَى إِلَيْهِ وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرًا وَمَاتَ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ سَنَةً

118 – (2351)

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Umar; Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin As Sari; Telah menceritakan kepada kami Hammad dari Abu Jamrah Adh Dhuba’i dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu dia berkata:

Rasulullah menetap di Makkah setelah menjadi Nabi selama tiga belas tahun, sedangkan di Madinah selama sepuluh tahun dan beliau meninggal ketika berusia enam puluh tiga tahun.

(Shahih Muslim 2351-118)

و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبَانَ الْجُعْفِيُّ حَدَّثَنَا سَلاَّمٌ أَبُو اْلأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ قَالَ:

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ فَذَكَرُوْا سِنِيْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ كَانَ أَبُو بَكْرٍ أَكْبَرَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَبْدُ اللهِ قُبِضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّيْنَ وَمَاتَ أَبُوْ بَكْرٍ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ وَقُتِلَ عُمَرُ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ يُقَالُ لَهُ عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ قَالَ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ مُعَاوِيَةَ فَذَكَرُوْا سِنِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ قُبِضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ اِبْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ سَنَةً وَمَاتَ أَبُو بَكْرٍ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ وَقُتِلَ عُمَرُ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ

119 – (2352)

Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Muhammad bin Aban Al Ju’fi; Telah menceritakan kepada kami Sallam Abu Al Ahwash dari Abu Ishaq Radhiyallahu’anhu  dia berkata:

Aku pernah duduk-duduk bersama Abdullah bin ‘Utbah, lalu orang-orang saling membicarakan usia Rasulullah. Sebagian kaum berkata; ‘Abu Bakr lebih tua dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Abdullah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat pada usia enam puluh tiga tahun, Abu Bakr meninggal pada usia enam puluh tiga tahun, dan Umar dibunuh pada usia enam puluh tiga tahun. Lalu seseorang yang biasa dipanggil‘Amir bin Sa’ad dari kaum tersebut berkata; Telah menceritakan kepada kami Jarir dia berkata; Kami pernah duduk di samping Mu’awiyah. Lalu orang-orang saling membicarakan umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mu’awiyah berkata; ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat pada usia enam puluh tiga tahun, Abu Bakr meninggal pada usia enam puluh tiga tahun, dan Umar dibunuh pada usia enam puluh tiga tahun

(Shahih Muslim 2352-119)

وَحَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ ِلابْنِ الْمُثَنَّى قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ:

سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَقَ يُحَدِّثُ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ اَلْبَجَلِيِّ عَنْ جَرِيرٍ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ يَخْطُبُ فَقَالَ مَاتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَأَنَا اِبْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ

120 – (2352)

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna dan Ibnu Basysyar dan lafazh ini milik Ibnu Al Mutsanna berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah Radhiyallahu’anhu Aku mendengar Abu Ishaq bercerita dari ‘Amir bin Sa’d Al Bajali dari Jarir

Bahwa dia mendengar Mu’awiyah berkhutbah seraya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat pada usia enam puluh tiga tahun, demikian juga Abu Bakr, dan Umar. Dan aku pun sepertinya akan meninggal pada usia enam puluh tiga tahun.

(Shahih Muslim 2352-120)

وَحَدَّثَنِي ابْنُ مِنْهَالٍ اَلضَّرِيرُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ عَمَّارٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ قَالَ:

سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَمْ أَتَى لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ فَقَالَ مَا كُنْتُ أَحْسِبُ مِثْلَكَ مِنْ قَوْمِهِ يَخْفَى عَلَيْهِ ذَاكَ قَالَ قُلْتُ إِنِّي قَدْ سَأَلْتُ النَّاسَ فَاخْتَلَفُوا عَلَيَّ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَعْلَمَ قَوْلَكَ فِيهِ قَالَ أَتَحْسُبُ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَمْسِكْ أَرْبَعِينَ بُعِثَ لَهَا خَمْسَ عَشْرَةَ بِمَكَّةَ يَأْمَنُ وَيَخَافُ وَعَشْرَ مِنْ مُهَاجَرِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ

وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يُونُسَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ نَحْوَ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ زُرَيْعٍ

121 – (2353)

Dan telah menceritakan kepadaku Ibnu Minhal Adh Dharir; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’; Telah menceritakan kepada kami Yunus bin ‘Ubaid dari ‘Ammar Radhiyallahu’anhu budak Bani Hasyim dia berkata:

Saya pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, berapa usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika wafat? Ibnu Abbas menjawab; Saya tidak menduga bahwasannya orang yang sepertimu ini tidak mengetahui hal itu. Saya berkata; Sebenarnya saya pernah bertanya kepada para sahabat yang lain. Tetapi, jawaban mereka saling berbeda. oleh karena itu, saya ingin mengetahui jawaban tersebut darimu? Ibnu Abbas bertanya lagi, benarkah seperti itu? Saya menjawab; ‘Ya benar.’ Ibnu Abbas berkata; ‘Baiklah.’ Sekarang hitunglah! Beliau diutus sebagai Nabi pada usia empat puluh tahun. Setelah itu, selamalima belas tahun, beliau menetap dikota Makkah dengan perasaan harap-harap cemas. Akhirnya, beliau menetap dikota Madinah selama sepuluh tahun Hijrah.

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’; Telah menceritakan kepada kami Syababah bin Sawwar; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yunus melalui jalur ini yang serupa dengan Hadits Yazid bin Zurai

(Shahih Muslim 2353-121)

وَحَدَّثَنِي نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا بِشْرٌ يَعْنِي اِبْنَ مُفَضَّلٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ الْحَذَّاءُ حَدَّثَنَا عَمَّارٌ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُوُفِّيَ وَهُوَ ابْنُ خَمْسٍ وَسِتِّيْنَ

وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ خَالِدٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ

122 – (2353)

Dan telah menceritakan kepadaku Nashr bin ‘Ali; Telah menceritakan kepada kami Bisyr yaitu Ibnu MuFadhldlal; Telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hadzdza; Telah menceritakan kepada kami ‘Ammar Radhiyallahu’anhu -seorang budak- Bani Hasyim:

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat pada usia enam puluh lima tahun. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah dari Khalid melalui jalur ini.

(Shahih Muslim 2353-122)

وَحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:

أَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً يَسْمَعُ الصَّوْتَ وَيَرَى الضَّوْءَ سَبْعَ سِنِينَ وَلاَ يَرَى شَيْئًا وَثَمَانَ سِنِينَ يُوحَى إِلَيْهِ وَأَقَامَ بِالْمَدِينَةِ عَشْرًا

123 – (2353)

Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Handzali; Telah mengabarkan kepada kami Rauh; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamahdari ‘Ammar bin Abu ‘Ammar dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhu dia berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Makkah selamalimabelas tahun. Selama tujuh tahun beliau mendengar suara dan melihat sinar. Dan delapan tahun diwahyukan kepada beliau. Dan beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun.

(Shahih Muslim 2353-123)

Usia Rasulullah SAW, Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar

حَدَّثَنِي أَبُوْ غَسَّانَ الرَّازِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ زَائِدَةَ عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:

قُبِضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ وَعُمَرُ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ

114 – (2348)

Telah menceritakan kepadaku Abu Ghassan Ar Razi Muhammad bin ‘Amru; Telah menceritakan kepada kami Hakkam bin Salm; Telah menceritakan kepada kami‘Utsman bin Zaidah dari Az Zubair bin ‘Adi dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu dia berkata;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat pada usia enam puluh tiga tahun, Abu Bakar pada usia enam puluh tiga tahun, dan ‘Umar pada usia enam puluh tiga tahun juga

(Shahih Muslim 2348-114)

وَحَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُوُفِّيَ وَهُوَ ابْنُ ثَلاَثٍ وَسِتِّيْنَ سَنَةً

وَقَالَ ابْنُ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ بِمِثْلِ ذَلِكَ

وَحَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَبَّادُ بْنُ مُوسَى قَالاَ حَدَّثَنَا طَلْحَةُ بْنُ يَحْيَى عَنْ يُونُسَ بْنِ يَزِيدَ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ بِاْلإِسْنَادَيْنِ جَمِيعًا مِثْلَ حَدِيثِ عُقَيْلٍ

115 – (2349)

Dan telah menceritakan kepadaku ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits; Telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Kakekku dia berkata; Telah menceritakan kepadaku‘Uqail bin Khalid dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha:

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat pada usia enam puluh tiga tahun.

Dan telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab dengan Hadits yang serupa.

Dan telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah dan ‘Abbad bin Musa keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Thalhah bin Yahya dari Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab melalui dua jalur ini, secara keseluruhan seperti Hadits ‘Uqail.

(Shahih Muslim 2349-115)

Sifat-sifat (ciri) Nabi SAW

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلاَ بِالْقَصِيرِ وَلَيْسَ بِاْلأَبْيَضِ اْلأَمْهَقِ وَلاَ بِاْلآدَمِ وَلاَ بِالْجَعْدِ الْقَطَطِ وَلاَ بِالسَّبِطِ بَعَثَهُ اللهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ سَنَةً فَأَقَامَ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ وَتَوَفَّاهُ اللهُ عَلَى رَأْسِ سِتِّيْنَ سَنَةً وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ

وحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ ح و حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ كِلَاهُمَا عَنْ رَبِيعَةَ يَعْنِي ابْنَ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ بِمِثْلِ حَدِيثِ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَزَادَ فِي حَدِيثِهِمَا كَانَ أَزْهَرَ

113 – (2347)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya aku membaca Hadits Malikdari Rabi’ah bin Abu ‘Abdur Rahman dari Anas bin Malik; Anas Radhiyallahu’anhu berkata; dia mendengar:

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam adalah orang yang tingginya sedang, tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi, tidak terlalu putih dan tidak terlalu coklat. Rambutnya berombak, tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutusnya pada umur empat puluh, beliau tinggal di Makkah sepuluh tahun dan di Madinah sepuluh tahun juga. Dan Wafat pada umur enam puluh tahun, jumlah uban di kepala dan jenggotnya tidak lebih dari dua puluh.

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa’id dan ‘Ali bin Hujr berkata; Telah menceritakan kepada kamiIsma’il yaitu Ibnu Ja’far; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Al Qasim bin Zakaria; Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad; Telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Bilal keduanya dari Rabi’ah yaitu Ibnu ‘Abdur Rahman dari Anas bin malik dengan Hadits yang serupa Malik bin Anas, hanya ada tambahan pada Hadits keduanya; ‘beliau putih bercahaya.’

(Shahih Muslim 2347-113)

Tanda Kenabian, dan letaknya di badan Nabi SAW

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكٍ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ قَالَ:

رَأَيْتُ خَاتَمًا فِي ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّهُ بَيْضَةُ حَمَامٍ و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا حَسَنُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ سِمَاكٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ مِثْلَهُ

110 – (2344)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak Radhiyallahu’anhu dia berkata:

Aku mendengar Jabir bin Samurah berkata; Aku melihat sebuah cap (stempel) di punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kira-kira sebesar telor merpati.

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa Telah mengabarkan kepada kami Hasan bin Shalih dari Simak melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa.

(Shahih Muslim 2344-110)

وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ قَالاَ حَدَّثَنَا حَاتِمٌ وَهُوَ ابْنُ إِسْمَعِيلَ عَنِ الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ:

سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ

111 – (2345)

Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin ‘Abbad keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hatim yaitu Ibnu Isma’il dari Al Ja’ad bin ‘Abdur Rahman Radhiyallahu’anhu, dia berkata:

Aku mendengar As Saib bin Yazid berkata; “Aku dan Bibiku pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bibi berkata kepada beliau; “Ya Rasulullah, keponakanku sakit.” Maka beliau mengusap kepalaku, kemudian beliau mendoakan keberkahan bagiku. Sesudah itu beliau berwudlu lalu kuminum sisa air wudlunya. Kemudian aku berdiri di belakang beliau. Aku melihat cap kenabian beliau terletak antara kedua bahu kira-kira sebesar telor burung.”

(Shahih Muslim 2345-111)

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ ح و حَدَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ كِلاَهُمَا عَنْ عَاصِمٍ اْلأَحْوَلِ ح و حَدَّثَنِي حَامِدُ بْنُ عُمَرَ الْبَكْرَاوِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ يَعْنِي ابْنَ زِيَادٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَرْجِسَ قَالَ:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَكَلْتُ مَعَهُ خُبْزًا وَلَحْمًا أَوْ قَالَ ثَرِيدًا قَالَ فَقُلْتُ لَهُ أَسْتَغْفَرَ لَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: نَعَمْ وَلَكَ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الْآيَةَ { وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ }[47/محمد/19].

قَالَ ثُمَّ دُرْتُ خَلْفَهُ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِ النُّبُوَّةِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ عِنْدَ نَاغِضِ كَتِفِهِ الْيُسْرَى جُمْعًا عَلَيْهِ خِيلاَنٌ كَأَمْثَالِ الثَّآلِيلِ

112 – (2346)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil; Telah menceritakan kepada kamiHammad yaitu Ibnu Zaid; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa’id; Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir seluruhnya dari‘Ashim Al Ahwal; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Hamid bin ‘Umar Al Bakrawi dan lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid yaitu Ibnu Ziyad; Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dari ‘Abdullah bin Sarjis Radhiyallahu’anhu , dia berkata:

Saya pernah melihat dan makan roti serta daging (Atau dia berkata; bubur daging) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perawi berkata; ‘Saya bertanya kepada ‘Abdullah bin Sarjis, ‘Apakah Nabi Muhammad memohonkan ampun untukmu? ‘ Kemudian Abdullah bin Sarjis menjawab; Ya, dan untuk kamu juga. Lalu dia membaca ayat yang berbunyi:

Mohonlah ampunan (hai Muhammad) atas dosamu dan dosa orang mukmin laki-laki dan perempuan. (QS: Muhammad: 19).

Abdullah bin Sarjis berkata; ‘Lalu saya berputar ke belakang Rasulullah dan saya melihat tanda kenabian di antara dua pundak beliau, yaitu dekat punuk pundak kirinya. Pada tanda kenabian itu ada tahi lalat sebesar kutil.’

(Shahih Muslim 2346-112)

Uban Nabi SAW

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ جَمِيعًا عَنِ ابْنِ إِدْرِيسَ قَالَ عَمْرٌو حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ إِدْرِيسَ اْلأَوْدِيُّ عَنْ هِشَامٍ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ:

سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ هَلْ خَضَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ رَأَى مِنَ الشَّيْبِ إِلاَّ قَالَ ابْنُ إِدْرِيسَ كَأَنَّهُ يُقَلِّلُهُ وَقَدْ خَضَبَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ

100 – (2341)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Numairserta ‘Amru bin An Naqid seluruhnya dari Ibnu IdrisAmru berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris Al Audi dari Hisyam dari Ibnu Sirin Radhiyallahu’anhu , dia berkata:

Anas bin Malik ditanya, Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelup rambut beliau? Jawab Anas; Beliau tidak kelihatan beruban, kecuali -Ibnu Idris berkata; – sepertinya dia menyebutkan ‘sedikit.’ Sedangkan Abu Bakr dan Umar telah mencelup rambutnya dengan inai dan yang sejenisnya.

(Shahih Muslim 2341-100)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ الرَّيَّانِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عَاصِمِ اْلأَحْوَلِ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ:

سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ هَلْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَضَبَ فَقَالَ لَمْ يَبْلُغِ الْخِضَابَ كَانَ فِي لِحْيَتِهِ شَعَرَاتٌ بِيضٌ قَالَ قُلْتُ لَهُ أَكَانَ أَبُوْ بَكْرٍ يَخْضِبُ قَالَ فَقَالَ نَعَمْ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ

101 – (2341)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayyan Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Zakaria dari ‘Ashim Al Ahwal dari Ibnu Sirin Radhiyallahu’anhu , dia berkata

Aku bertanya kepada Anas bin Malik, pernahkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelup rambut beliau? Jawab Anas; Beliau tidak kelihatan beruban, kecuali di jenggotnya tampak beberapa helai rambut putih. Ibnu Sirin bertanya lagi; Apakah Abu Bakar mencelup rambutnya? Jawab Anas; Ya, dengan inai dan yang sejenisnya.

(Shahih Muslim 2341-101)

و حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا وُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ:

سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَخَضَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يُرَ مِنْ الشَّيْبِ إِلاَّ قَلِيلاً

102 – (2341)

Dan telah menceritakan kepadaku Hajjaj Ibnu Sya’ir Telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Usud Telah menceritakan kepada kami Wuhaib bin Khalid dari Ayyub dari Muhammad bin Sirin Radhiyallahu’anhu , dia berkata:

Aku bertanya kepada Anas bin Malik, “pernahkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelup rambut beliau?” Jawab Anas; “Beliau tidak kelihatan beruban, kecuali sedikit.”

(Shahih Muslim 2341-102)

حَدَّثَنِي أَبُوْ الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ قَالَ:

سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ خِضَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَوْ شِئْتُ أَنْ أَعُدَّ شَمَطَاتٍ كُنَّ فِي رَأْسِهِ فَعَلْتُ وَقَالَ لَمْ يَخْتَضِبْ وَقَدِ اخْتَضَبَ أَبُوْ بَكْرٍ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ وَاخْتَضَبَ عُمَرُ بِالْحِنَّاءِ بَحْتًا

103 – (2341)

Telah menceritakan kepadaku Abu Ar Rabi’ Al ‘Ataki; Telah menceritakan kepada kami Hammad; Telah menceritakan kepada kami Tsabit Radhiyallahu’anhu,

Anas bin Malik ditanya tentang apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam rambutnya dicelup, dia menjawab; Seandainya saya mau menghitung jumlah rambut putih yang berada di antara jumlah rambut hitam beliau, tentu saya bisa menghitungnya. Dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mencelupnya. Adapun Abu Bakr dan Umar, maka sungguh keduanya mencelup rambut mereka dengan Inai dan sejenisnya.

(Shahih Muslim 2341-103)

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيِّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:

يُكْرَهُ أَنْ يَنْتِفَ الرَّجُلُ الشَّعْرَةَ الْبَيْضَاءَ مِنْ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ قَالَ وَلَمْ يَخْتَضِبْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا كَانَ الْبَيَاضُ فِي عَنْفَقَتِهِ وَفِي الصُّدْغَيْنِ وَفِي الرَّأْسِ نَبْذٌ و حَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بِهَذَا اْلإِسْنَادِ

104 – (2341)

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Ali Al Jahdhami; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna bin Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:

Makruh seorang laki-laki mencabut rambut putih di kepala dan di jenggotnya. Dia juga berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyemir rambut dan jenggotnya. Uban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya ada di bawah bibir, di antara mata dan telinga, serta di rambut kepala yang jarang tumbuhnya.

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna Telah menceritakan kepada kami Abdus Shamad Telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna melalui jalur ini

(Shahih Muslim 2341-104)

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ وَأَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ وَهَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللهِ جَمِيعًا عَنْ أَبِي دَاوُدَ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةٌ عَنْ خُلَيْدِ بْنِ جَعْفَرٍ سَمِعَ أَبَا إِيَاسٍ عَنْ أَنَسٍ:

أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ شَيْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا شَانَهُ اللهُ بِبَيْضَاءَ

105 – (2341)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basysyar dan Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqi dan Harun bin ‘Abdillah seluruhnya dari Abu DawudAl Mutsanna berkata; Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Khulaid bin Ja’far bahwa dia mendengar Abu Iyas dari Anas Radhiyallahu’anhu ,

Dia ditanya tentang Uban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dia menjawab; Allah tidak mencemari rambut beliau dengan warna putih.

(Shahih Muslim 2341-105)

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُوْ إِسْحَقَ ح وحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُوْ خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ مِنْهُ بَيْضَاءَ وَوَضَعَ زُهَيْرٌ بَعْضَ أَصَابِعِهِ عَلَى عَنْفَقَتِهِ قِيْلَ لَهُ مِثْلُ مَنْ أَنْتَ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ أَبْرِي النَّبْلَ وَأَرِيْشُهَا

106 – (2342)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus; Telah menceritakan kepada kami Zuhair; Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya; Telah mengabarkan kepada kami Abu Khaitsamah dari Abu Ishaq dari Abu Juhaifah Radhiyallahu’anhu , dia berkata:

Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sininya berwarna putih. -Zuhair sambil meletakan sebagian jari jemarinya di bawah bibirnya.- di katakan kepadanya; Apa yang kamu lakukan pada waktu itu?dia menjawab; Aku sedang meraut busur panah dan bulunya

(Shahih Muslim 2342-106)

حَدَّثَنَا وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ اْلأَعْلَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ قَدْ شَابَ كَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ يُشْبِهُهُ و حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ وَخَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ح وحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ كُلُّهُمْ عَنْ إِسْمَعِيلَ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ بِهَذَا وَلَمْ يَقُولُوا أَبْيَضَ قَدْ شَابَ

107 – (2343)

Telah menceritakan kepada kami Washil bin ‘Abdul A’laa; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Isma’il bin Abu Khalid dari Abu Juhaifah Radhiyallahu’anhu , dia berkata:

Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkulit putih dan sudah beruban. Yang mirip dengan beliau adalah Hasan bin Ali.’ Dan telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Khalid bin ‘Abdillah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr seluruhnya dari Isma’il dari Abu Juhaifahdengan Hadits yang serupa. Namun dia tidak menyebutkan; berkulit putih dan sudah beruban.’

(Shahih Muslim 2343-107)

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا أَبُوْ دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ:

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ سُئِلَ عَنْ شَيْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَ إِذَا دَهَنَ رَأْسَهُ لَمْ يُرَ مِنْهُ شَيْءٌ وَإِذَا لَمْ يَدْهُنْ رُئِيَ مِنْهُ

108 – (2344)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna; Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Sulaiman bin Dawud; Telah menceritakan kepada kamiSyu’bah; dari Simak bin Harb Radhiyallahu’anhu ,dia berkata:

Aku mendengar Jabir bin Samurah ditanya tentang uban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia menjawab; ‘Apabila beliau telah meminyaki rambutnya maka ubannya sama sekali tidak kelihatan. Namun apabila beliau tidak memakai minyak, maka ubannya kelihatan hanya sedikit

(Shahih Muslim 2344-108)

و حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ سِمَاكٍ:

أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ شَمِطَ مُقَدَّمُ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ وَكَانَ إِذَا اِدَّهَنَ لَمْ يَتَبَيَّنْ وَإِذَا شَعِثَ رَأْسُهُ تَبَيَّنَ وَكَانَ كَثِيرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ فَقَالَ رَجُلٌ وَجْهُهُ مِثْلُ السَّيْفِ قَالَ لاَ بَلْ كَانَ مِثْلَ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَكَانَ مُسْتَدِيْرًا وَرَأَيْتُ الْخَاتَمَ عِنْدَ كَتِفِهِ مِثْلَ بَيْضَةِ الْحَمَامَةِ يُشْبِهُ جَسَدَهُ

109 – (2344)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah dari Israil dari Simak dia mendengar Jabir bin Samurah Radhiyallahu’anhu berkata:

Rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kelihatan bercampur putih di kepala bagian muka dan di jenggot beliau, tetapi apabila telah beliau minyaki maka tidak kelihatan. Apabila rambut beliau kusut, barulah jelas kelihatan, dan jenggot beliau tebal. Lalu seseorang bertanya; Apakah wajah beliau seperti pedang? Jawab Jabir; Tidak! Bahkan bundar seperti matahari dan bulan. Dan aku melihat sebuah cap di bahunya, kira-kira sebesar telor merpati. Dia serupa dengan warna tubuh beliau

(Shahih Muslim 2344-109)

Rasulullah SAW berkulit putih dan manis wajahnya

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَنِ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ قَالَ:

قُلْتُ لَهُ أَرَأَيْتَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ كَانَ أَبْيَضَ مَلِيحَ الْوَجْهِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا مَاتَ أَبُو الطُّفَيْلِ سَنَةَ مِائَةٍ وَكَانَ آخِرَ مَنْ مَاتَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

98 – (2340)

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur; Telah menceritakan kepada kami Khalid bin ‘Abdillah dari Al Jurairi dari Abu Ath Thufail Radhiyallahu’anhu , dia berkata:

Aku bertanya kepadanya; ‘Apakah kamu pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Dia menjawab; ‘Ya.’ Dia orangnya berkulit putih, manis wajahnya, yang Allah ta’ala telah meridhainya. Abu Thufail meninggal pada tahun seratus Hijriyah, dia adalah orang yang terakhir kali meninggal dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Shahih Muslim 2340-98)

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ اَلْقَوَارِيرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اْلأَعْلَى بْنُ عَبْدِ اْلأَعْلَى عَنِ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ قَالَ:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ رَجُلٌ رَآهُ غَيْرِي قَالَ فَقُلْتُ لَهُ فَكَيْفَ رَأَيْتَهُ قَالَ كَانَ أَبْيَضَ مَلِيحًا مُقَصَّدًا

99 – (2340)

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al Qawariri; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa bin ‘Abdul A’la dari Al Jurairi dari Abu Ath Thufail Radhiyallahu’anhu , dia berkata:

Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada orang lain selain saya (setelah dia tidak ada sahabat lagi) yang pernah melihat beliau. Perawi berkata; ‘Saya bertanya kepadanya, bagaimana kamu melihatnya? Dia menjawab; ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu berkulit putih, manis dan bertubuh sedang.’

(Shahih Muslim 2340-99)

Bentuk mulut, mata dan tumit Rasulullah SAW

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ ِلابْنِ الْمُثَنَّى قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ قَالَ:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَلِيعَ الْفَمِ أَشْكَلَ الْعَيْنِ مَنْهُوسَ الْعَقِبَيْنِ قَالَ قُلْتُ لِسِمَاكٍ مَا ضَلِيعُ الْفَمِ قَالَ عَظِيمُ الْفَمِ قَالَ قُلْتُ مَا أَشْكَلُ الْعَيْنِ قَالَ طَوِيلُ شَقِّ الْعَيْنِ قَالَ قُلْتُ مَا مَنْهُوسُ الْعَقِبِ قَالَ قَلِيلُ لَحْمِ الْعَقِبِ

97 – (2339)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar dan lafazh ini milik Ibnu Al Mutsanna dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak bin HarbAku mendengar Jabir bin Samurah Radhiyallahu’anhu berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu bermulut dhali’, bermata asykal, dan bertumit manhus. Perawi berkata; ‘Saya bertanya kepada Simak; ‘Apa yang dimaksud dengan bermulut dhali’? ‘ Simak menjawab; ‘Bentuk mulutnya besar.’ Saya bertanya pula kepadanya; ‘Apa yang dimaksud dengan bermata asykal? ‘ Simak menjawab; ‘Yaitu mata yang satu dengan yang lain letaknya tidak tampak berdekatan.’ Saya bertanya lagi kepadanya; ‘Lalu, apa yang dimaksud dengan bertumit manhus? ‘ Simak menjawab; ‘Yaitu daging tumitnya sedikit.’

(Shahih Muslim 2339-97)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.