Memejamkan mata orang yang meninggal dan mendo’akannya

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُوْ إِسْحَقَ الْفَزَارِيُّ عَنْ خَالِدٍ اَلْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ عَنْ قَبِيْصَةَ بْنِ ذُؤَيْبٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ

دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوْحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُوْنَ عَلَى مَا تَقُوْلُوْنَ ثُمَّ قَالَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ

7 – (920)

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Mua’wiyah bin Amru telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al Fazari dari Khalid Al Hadzdza` dari Abu Qilabah dari Qabishah bin Dzu`aib dari Ummu Salamah ia berkata:

Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke rumah kami untuk menjenguk jenazahnya. Saat itu, mata Abu Salamah tengah terbeliak, maka beliau pun memejamkannya. Kemudian beliau bersabda: Apabila ruh telah dicabut, maka penglihatan akan mengikutinya dan keluarganya pun meratap hiteris. Dan janganlah sekali-kali mendo’akan atas diri kalian kecuali kebaikan, sebab ketika itu malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan. Setelah itu, beliau berdo’a: ALLOHUMMAGHFIR LIABI SALAMAH WARFA’ DAROJAATAHU FIL MAHDIYYIIN WAKHLUFHU FI ‘AQIBIHI FIL GHOOBIRIIN, WAGHFIR LANAA WALAHU YAA ROBBAL ‘AALAMIIN, WAFSAH LAHU FII QOBRIHI WA NAWWIR LAHU FIIHI (Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan petunjuk-Mu dan gantilah ia bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Ampunilah kami dan ampunilah dia. Wahai Rabb semesta alam. Lapangkanlah kuburnya dan terangilah dia di dalam kuburnya).

(Shahih Muslim : 920 – 7 )

 

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوْسَى الْقَطَّانُ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بْنُ مُعَاذِ بْنِ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ الْحَسَنِ حَدَّثَنَا خَالِدٌ اَلْحَذَّاءُ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ نَحْوَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَاخْلُفْهُ فِي تَرِكَتِهِ وَقَالَ اَللّهُمَّ أَوْسِعْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَلَمْ يَقُلْ اِفْسَحْ لَهُ وَزَادَ قَالَ خَالِدٌ اَلْحَذَّاءُ وَدَعْوَةٌ أُخْرَى سَابِعَةٌ نَسِيْتُهَا

8 – (920)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Musa Al Qaththan Al Wasithi telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Al Hasan telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hadzdza` dengan Isnad ini dan serupa dengannya. Hanya saja, ia mengatakan; Dan gantikanlah ia bagi keluarganya. Ia juga mengatakan; Ya Allah, lapangkanlah kuburannya. Dan ia tidak mengatakan; IFSAH LAHU (lapangkanlah baginya). Dan ia menambahkan lagi; Khalid Al Hadzdza` berkata; Dan do’a lain yang ketujuh saya lupa.

(Shahih Muslim : 920 – 8 )

 

 

 

Sunnah mengucapkanlah perkataan dan do’a yang baik ketika menjenguk orang sakit atau orang yang meninggal

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ شَقِيْقٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيْضَ أَوِ الْمَيِّتَ فَقُوْلُوْا خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُوْنَ عَلَى مَا تَقُوْلُوْنَ قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُوْ سَلَمَةَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ قَدْ مَاتَ قَالَ قُولِي اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَأَعْقِبْنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً قَالَتْ فَقُلْتُ فَأَعْقَبَنِي اللهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ لِي مِنْهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

6 – (919)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Syaqiq dari Ummu Salamah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Apabila kamu menjenguk orang sakit atau orang yang meninggal, maka ucapkanlah (do’a) yang baik, karena malaikat mengaminkan ucapan kalian. Ummu Salamah mengkisahkan; Ketika Abu Salamah meninggal, saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal. Maka beliau pun bersabda: Ucapkanlah, ALLAHUMMAGHFIR LII WA LAHU WA`A’QIBNII MINHU UQBAA HASANAH (Ya Allah, ampunilah aku dan ampunilah dia. Dan berilah ganti kematiannya itu bagiku dengan ganti yang lebih baik). maka saya pun membacanya, sehingga Allah menggantikan dengan yang lebih baik darinya, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Shahih Muslim : 919 – 6 )

 

 

 

Do’a dan ucapan yang di baca ketika mendapatkan musibah

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوْبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ جَمِيْعًا عَنْ إِسْمَعِيْلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ اِبْنُ أَيُّوْبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ أَخْبَرَنِي سَعْدُ بْنُ سَعِيْدٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ كَثِيْرِ بْنِ أَفْلَحَ عَنْ اِبْنِ سَفِيْنَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ { إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ } اَللّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُوْ سَلَمَةَ قُلْتُ أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللهُ لِي رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أَرْسَلَ إِلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاطِبَ بْنَ أَبِي بَلْتَعَةَ يَخْطُبُنِي لَهُ فَقُلْتُ إِنَّ لِي بِنْتًا وَأَنَا غَيُوْرٌ فَقَالَ أَمَّا اِبْنَتُهَا فَنَدْعُوْ اللهَ أَنْ يُغْنِيَهَا عَنْهَا وَأَدْعُوْ اللهَ أَنْ يَذْهَبَ بِالْغَيْرَةِ

3 – (918)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr semuanya dari Isma’il bin Ja’far – Ibnu Ayyub berkata- telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepadaku Sa’ad bin Sa’id dari Umar bin Katsir bin Aflah dari Ibnu Safinah dari Ummu Salamah bahwa ia berkata:

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya). melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik. Ummu Salamah berkata; Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya,Orang muslim manakah yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama-tama hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian akupun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ummu Salamah mengkisahkan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Hatib bin Abu Balta’ah melamarku untuk beliau sendiri. Maka saya pun menjawab,Bagaimana mungkin, aku telah mempunyai seorang anak wanita, dan aku sendiri adalah seorang pencemburu. Selanjutnya beliau pun menjawab: Adapun anaknya, maka kita do’akan semoga Allah mencukupkan kebutuhannya, dan aku mendo’akan pula semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya itu.

(Shahih Muslim : 918 – 3 )

 

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ عَنْ سَعْدِ بْنِ سَعِيْدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ كَثِيْرِ بْنِ أَفْلَحَ قَالَ سَمِعْتُ اِبْنَ سَفِيْنَةَ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ

{ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } اَللّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

إِلاَّ أَجَرَهُ اللهُ فِي مُصِيْبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُوْ سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْلَفَ اللهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

4 – (918)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Sa’ad bin Sa’id ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Umar bin Katsir bin Aflah ia berkata, saya mendengar Ibnu Safinah menceritakan bahwa ia mendengar Ummu Salamah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya). melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik. Ummu Salamah berkata: Ketika Abu Salamah meninggal, maka saya pun membaca sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Allah pun menggantikannya untukku dengan yang lebih baik darinya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Shahih Muslim : 918 – 4 )

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ سَعِيْدٍ أَخْبَرَنِي عُمَرُ يَعْنِي اِبْنَ كَثِيْرٍ عَنْ اِبْنِ سَفِيْنَةَ مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ بِمِثْلِ حَدِيْثِ أَبِي أُسَامَةَ وَزَادَ قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُوْ سَلَمَةَ قُلْتُ مَنْ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ صَاحِبِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عَزَمَ اللهُ لِي فَقُلْتُهَا قَالَتْ فَتَزَوَّجْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

5 – (918)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Sa’ad bin Abu Sa’id telah mengabarkan kepadaku Umar bin Katsir dari Ibnu Safinah Maula Ummu Salamah, dari Ummu Salamah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata:

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yakni serupa dengan haditsnya Abu Usamah, dan ia menambahkan; (Ummu Salamah) berkata, Siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Allah pun mengokohkan hatiku untuk mengucapkannya. Lalu aku pun menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Shahih Muslim : 918 – 5 )

 

 

Manalqin orang yang sekarat dengan Tahlil

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ كَامِلٍ اَلْجَحْدَرِيُّ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ كِلاَهُمَا عَنْ بِشْرٍ قَالَ أَبُوْ كَامِلٍ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ غَزِيَّةَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عُمَارَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيَّ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

1 – (916)

وَحَدَّثَنَاهُ قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ ح و حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ جَمِيْعًا بِهَذَا اْلإِسْنَادِ

(916)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al Jah ari Fudlail bin Husain dan Utsman bin Abu Syaibah keduanya dari Bisyr – Abu Kamil berkata- Telah menceritakan kepada kami Umarah bin Ghaziyyah telah menceritakan kepada kami Yahya bin Umarah ia berkata, saya mendengar Abu Sa’id Al Khudri berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tuntunlah orang yang sedang berada di penghujung ajalnya agar membaca (kalimat), LAA ILAAHA ILLALLAH.

(Shahih Muslim : 916 – 1 )

 

Dan telah menceritakannya kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Ad Darawardi -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal semuanya menggunakan isnad ini.

(Shahih Muslim : 916  )

 

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرٍ وَعُثْمَانُ ابْنَا أَبِي شَيْبَةَ ح و حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ قَالُوْا جَمِيْعًا حَدَّثَنَا أَبُوْ خَالِدٍ اَلْأَحْمَرُ عَنْ يَزِيْدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ

2 – (917)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dan Utsman -keduanya adalah anak dari Abu Syaibah- -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepadaku Amru An Naqid semuanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar dari Yazid bin Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tuntunlah orang yang sedang berada di penghujung ajalnya dengan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH.

(Shahih Muslim : 916 – 2 )

 

Memakai minyak wangi (misik), dan kemakruhan menolak wewangian dan minyak wangi

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنِي خُلَيْدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ قَصِيْرَةٌ تَمْشِي مَعَ اِمْرَأَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ فَاتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٌ مُطْبَقٌ ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا وَهُوَ أَطْيَبُ الطِّيْبِ فَمَرَّتْ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ فَلَمْ يَعْرِفُوْهَا فَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا وَنَفَضَ شُعْبَةُ يَدَهُ

18- (2252)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Syu’bah; Telah menceritakan kepadaku Khulaid bin Ja’far dariAbu Nadhr dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Pada masa bani Isra`il ada seorang wanita yang pendek badannya berjalan bersama dua orang wanita yang tinggi badannya. lalu ia membuat kaki palsu dari kayu untuk kedua kakinya, dan memakai cincin emas yang dia buatnya. Lalu diberi minyak wangi kesturi (misik) , sebaik-baik minyak wangi. Kemudian dia berjalan di antara dua wanita tersebut hingga orang-orang pun tidak mengenalnya. Dia berkata sambil kedua tangannya seperti ini. Syu’bah sambil menggerak-gerakkan tangannya.

(Shahih Muslim : 2252 – 18 )

 

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ خُلَيْدِ بْنِ جَعْفَرٍ وَالْمُسْتَمِرِّ قَالاَ سَمِعْنَا أَبَا نَضْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ امْرَأَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ حَشَتْ خَاتَمَهَا مِسْكًا وَالْمِسْكُ أَطْيَبُ الطِّيْبِ

19- (2252)

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru An Naqid; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Syu’bah dari Khulaid bin Ja’far dan Al Mustamir keduanya berkata; Aku mendengar Abu Nadhrah bercerita dari Abu Sa’id Al Khudri

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang wanita dari bani Israil yang memberi minyak kesturi pada cincinnya. Minyak kesturi adalah sebaik-baik minyak wangi.

(Shahih Muslim : 2252 – 19 )

 

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ كِلاَهُمَا عَنِ الْمُقْرِئِ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِي أَيُّوْبَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ رَيْحَانٌ فَلاَ يَرُدُّهُ فَإِنَّهُ خَفِيْفُ الْمَحْمِلِ طَيِّبُ الرِّيْحِ

20- (2253)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb keduanya dari Al Muqri. Abu Bakr berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdur Rahman Al Muqri dari Sa’id bin Abu Ayyub; Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Abu Ja’far dari ‘Abdur Rahman Al A’raj dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa ditawarkan kepadanya wewangian maka janganlah menolaknya, karena sesungguhnya wangian-wangian ringan bebannya dan harum baunya.

(Shahih Muslim : 2253 – 19 )

 

حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيْدٍ اْلأَيْلِيُّ وَأَبُوْ طَاهِرٍ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيْسَى قَالَ أَحْمَدُ حَدَّثَنَا و قَالَ اْلآخَرَانِ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مَخْرَمَةُ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ نَافِعٍ قَالَ

كَانَ اِبْنُ عُمَرَ إِذَا اسْتَجْمَرَ اِسْتَجْمَرَ بِالْأَلُوَّةِ غَيْرَ مُطَرَّاةٍ وَبِكَافُوْرٍ يَطْرَحُهُ مَعَ الْأَلُوَّةِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ يَسْتَجْمِرُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

21-   (2254)

Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id Al Aili dan Abu Thahir dan Ahmad bin ‘Isa. Ahmad berkata; Telah menceritakan kepada kami. Dan yang lainnya berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab Telah mengabarkan kepadaku Makhramah dari Bapaknya dari Nafi’ dia berkata:

Jika Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu ingin menggunakan wewangian, ia memakai Al aluwwah (kayu wangi yang dibakar) tanpa campuran, terkadang juga memakai kapur yang dicampur dengan Al aluwwah. Lalu ia berkata, Beginilah kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat memakai minyak wangi.

(Shahih Muslim : 2254 – 21 )

 

 

 

 

Makruh mengatakan sial aku

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ح وَحَدَّثَنَا أَبُوْ كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ كِلاَهُمَا عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ خَبُثَتْ نَفْسِي وَلَكِنْ لِيَقُلْ لَقِسَتْ نَفْسِي هَذَا حَدِيْثُ أَبِي كُرَيْبٍ و قَالَ أَبُو بَكْرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ لَكِنْ و حَدَّثَنَاهُ أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

16- (2250)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah, Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al A’la, Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah keduanya dari Hisyam dari Bapaknya dari ‘Aisyah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah sekali-kali salah seorang kamu berkata: Khabusat nafsi (diriku buruk), tetapi katakanlah: Laqisat nafsi (diriku kurang).

Ini adalah Hadits Abu Kuraib. Abu Bakr berkata; dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun dia tidak menyebutkan kata; Wa laakin. (akan tetapi). Dan Telah menceritakannya kepada kami Abu Kuraib Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah melalui jalur ini.

(Shahih Muslim : 2250 – 16 )

وَ حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ قَالاَ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ عَنْ اِبْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ خَبُثَتْ نَفْسِي وَلْيَقُلْ لَقِسَتْ نَفْسِي

17-   (2251)

Dan telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir dan Harmalah keduanya berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif dari Bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah salah seorang kamu berkata: Khabusat nafsi (diriku buruk), tetapi katakanlah: Laqisat nafsi’ (diriku kurang mampu).

(Shahih Muslim : 2251 – 17 )

Hukum menggunakan lafal “budak lelaki”, “budak perempuan”, “baginda” dan “tuan”

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوْبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ وَهُوَ اِبْنُ جَعْفَرٍ عَنِ الْعَلاَءِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ عَبْدِي وَأَمَتِي كُلُّكُمْ عَبِيْدُ اللهِ وَكُلُّ نِسَائِكُمْ إِمَاءُ اللهِ وَلَكِنْ لِيَقُلْ غُلاَمِي وَجَارِيَتِي وَفَتَايَ وَفَتَاتِي

13- (2249)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah serta Ibnu Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far dari Al’Ala dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu berkata; ‘Abdi (hai budakku) atau Amati (hai budak perempuanku/sahayaku), karena kamu semua adalah ‘Abiidullah (budak atau hamba Allah) dan kaum wanita adalah Imaaullah (hamba sahaya Allah). Tetapi katakanlah; Ghulaami (pelayanku) dan Jariyati (pelayan perempuanku) atau Faataya (pemudaku) dan Fataati (pemudiku).

(Shahih Muslim : 2249 – 13 )

 

وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ عَبْدِي فَكُلُّكُمْ عَبِيْدُ اللهِ وَلَكِنْ لِيَقُلْ فَتَايَ وَلاَ يَقُلِ اَلْعَبْدُ رَبِّي وَلَكِنْ لِيَقُلْ سَيِّدِي

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُوْ سَعِيْدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ كِلاَهُمَا عَنِ اْلأَعْمَشِ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَفِي حَدِيْثِهِمَا وَلاَ يَقُلِ الْعَبْدُ لِسَيِّدِهِ مَوْلاَيَ وَزَادَ فِي حَدِيْثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ فَإِنَّ مَوْلاَكُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

14- (2249)

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu berkata; ‘Abdi (hai budakku) karena kamu semua adalah ‘Abiidullah (budak atau hamba Allah)  Tetapi katakanlah: Faataya (pemudaku). Dan jangan pula seorang pelayan memanggil majikannya: Robbi (Tuhanku), tetapi ucapkanlah: Sayyidi (majikanku atau tuanku).

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al Asyaj; Telah menceritakan kepada kami Waki’ keduanya dari Al A’masy melalui jalur ini. Dan di dalam Hadits keduanya disebutkan:

‘Dan janganlah seorang pelayan memanggil tuannya dengan kalimat ‘Maulaaya’ karena di dalam Hadits Abu Mu’awiyah di sebutkan; ‘Sesungguhnya ‘Maulaakum’ (pelindungmu) adalah Allah Azza wa Jalla.

(Shahih Muslim : 2249 – 14 )

 

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيْثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ اِسْقِ رَبَّكَ أَطْعِمْ رَبَّكَ وَضِّئْ رَبَّكَ وَلاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ رَبِّي وَلْيَقُلْ سَيِّدِي مَوْلاَيَ وَلاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ عَبْدِي أَمَتِي وَلْيَقُلْ فَتَايَ فَتَاتِي غُلاَمِي

15- (2248)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi'; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Hammam bin Munabih dia berkata; Inilah yang telah diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian dia menyebutkan beberapa Hadits di antaranya; dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah salah seorang dari kalian berkata; Beri minum robmuu, beri makan robmu, wudlukan robmu,  dan janganlah salah seorang dari kalian berkata; Robby akan tetapi hendaklah ia berkata; Tuanku, majikanku,  dan janganlah salah seorang dari kalian berkata; Hamba laki-lakiku dan hamba perempuanku, akan tetapi katakanlah, Anak mudaku, dan anak mudiku serta anak laki-lakiku.

(Shahih Muslim : 2248 – 15 )

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.725 pengikut lainnya.