Tentang diperbolehkannya menggauli tawanan perang (budak) setelah habis masa iddahnya

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مَيْسَرَةَ الْقَوَارِيْرِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ أَبِي عَرُوْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ صَالِحٍ أَبِي الْخَلِيْلِ عَنْ أَبِي عَلْقَمَةَ الْهَاشِمِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ حُنَيْنٍ بَعَثَ جَيْشًا إِلَى أَوْطَاسَ فَلَقُوْا عَدُوًّا فَقَاتَلُوْهُمْ فَظَهَرُوْا عَلَيْهِمْ وَأَصَابُوْا لَهُمْ سَبَايَا فَكَأَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَرَّجُوْا مِنْ غِشْيَانِهِنَّ مِنْ أَجْلِ أَزْوَاجِهِنَّ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ذَلِكَ { وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ } [4 /النساء/ الآية 24] أَيْ فَهُنَّ لَكُمْ حَلاَلٌ إِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهُنَّ

33 – (1456)

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Umar bin Maisarah Al Qawariri telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu ‘Arubah dari Qatadah dari Shalih Abu Al Khalil dari Abu Alqamah Al Hasyimi dari Abu Sa’id Al Khudri :

Bahwa pada saat perang Hunain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim ekspedisi ke wilayah Authas, kemudian mereka bertemu dengan musuh dan terjadilah pertempuran, akhirnya mereka dapat mengalahkan musuh dan berhasil menawan musuh, di antaranya adalah tawanan wanita, seakan-akan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keberatan menggauli mereka, karena mereka memiliki suami-suami yang masih musyrik. Maka Allah menurunkan ayat mengenai hal itu “Dan di haramkan bagi kamu mengawini wanita-wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kalian miliki, (Allah telah menetapkan hukum itu) sebgai ketetapan-Nya atas kamu.” (QS: An Nisaa’ : 24). Maksudnya, mereka halal bagimu setelah ‘iddah mereka habis.

(Shahih Muslim 1456 -33  )

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا عَبْدُ اْلأَعْلَى عَنْ سَعِيْدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْخَلِيْلِ أَنَّ أَبَا عَلْقَمَةَ اَلْهَاشِمِيَّ حَدَّثَ أَنَّ أَبَا سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيَّ حَدَّثَهُمْ:

أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ يَوْمَ حُنَيْنٍ سَرِيَّةً بِمَعْنَى حَدِيْثِ يَزِيْدَ بْنِ زُرَيْعٍ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ إِلاَّ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْهُنَّ فَحَلاَلٌ لَكُمْ وَلَمْ يَذْكُرْ إِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهُنَّ

34 – (1456)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Al Mutsanna serta Ibnu Basysyar mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Sa’id dari Qatadah dari Abu Khalil bahwa Abu Alqamah Al Hasyimi telah bercerita bahwa Abu Sa’id Al Khudri telah menceritakan kepada mereka:

Bahwa pada saat perang Hunain, Nabi yullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim suatu ekspedisi, dengan makna hadits Yazid bin Zurai’ namun dia menyebutkan; Kecuali budak-budak perempuan yang kalian miliki, maka mereka halal bagi kalian. Dan tidak menyebutkan; Jika telah usai masa ‘iddah mereka.

(Shahih Muslim 1456 -34  )

وَحَدَّثَنِيْهِ يَحْيَى بْنُ حَبِيْبٍ الْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي اِبْنَ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ نَحْوَهُ

(1456)

Dan telah menceritakan kepadaku Yahya bin Habib Al Haritsi telah menceritakan kepada kami Khalid yaitu Ibnu Al Harits telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dengan isnad seperti ini.

(Shahih Muslim 1456 )

وَحَدَّثَنِيْهِ يَحْيَى بْنُ حَبِيْبٍ اَلْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْخَلِيْلِ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ قَالَ:

أَصَابُوْا سَبْيًا يَوْمَ أَوْطَاسَ لَهُنَّ أَزْوَاجٌ فَتَخَوَّفُوْا فَأُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ } [4 /النساء/ الآية 24]

35 – (1456)

Dan telah menceritakan kepadaku Yahya bin Habib Al Haritsi telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dariAbu Al Khalil dari Abu Sa’id dia berkata;

Pada waktu (perang) Authas, mereka (para sahabat) menawan para tawanan wanita yang masih memiliki suami. Maka mereka khawatir (jika menyetubuhinya), lalu turunlah ayat ini: Dan di haramkan bagi kamu mengawini wanita-wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kalian miliki.(QS: An Nisaa’ : 24)

(Shahih Muslim 1456 -35  )

وَحَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَبِيْبٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي اِبْنَ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا سَعِيْدٌ عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ نَحْوَهُ

(1456)

Dan telah menceritakan kepadaku Yahya bin Habib telah menceritakan kepada kami Khalid yaitu Ibnu Al Harits telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dengan isnad seperti ini.

(Shahih Muslim 1456)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: