Sifat-Sifat Iblis dan bala tentaranya

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ مُوْسَى أَخْبَرَنَا عِيْسَى عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ
سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّيْثُ كَتَبَ إِلَيَّ هِشَامٌ أَنَّهُ سَمِعَهُ وَوَعَاهُ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَدَعَا ثُمَّ قَالَ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللهَ أَفْتَانِي فِيْمَا فِيْهِ شِفَائِي أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوْبٌ قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيْدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَ فِيْمَا ذَا قَالَ فِي مُشُطٍ وَمُشَاقَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِيْنَ رَجَعَ نَخْلُهَا كَأَنَّهُ رُءُوْسُ الشَّيَاطِيْنِ فَقُلْتُ اِسْتَخْرَجْتَهُ فَقَالَ لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللهُ وَخَشِيتُ أَنْ يُثِيْرَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا ثُمَّ دُفِنَتِ الْبِئْرُ
[3095]

Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami ‘Isa dari Hisyam dari bapaknya dari ‘Aisyah Radliallahu ‘anha berkata:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tekah disihir. Dan berkata Al Laits; Hisyam menulis surat kepadaku bahwa dia mendengarnya, dia anggap dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah disihir hingga terbayang oleh beliau seolah-olah berbuat sesuatu padahal tidak. Hingga pada suatu hari Beliau memanggil-manggil kemudian berkata: Apakah kamu menyadari bahwa Allah telah memutuskan tentang kesembuhanku?. Telah datang kepadaku dua orang, satu diantaranya duduk dekat kepalaku dan yang satu lagi duduk di dekat kakiku. Yang satu bertanya kepada yang lainnya; Sakit apa orang ini?. Yang lain menjawab; Kena sihir. Yang satu bertanya lagi; Siapa yang menyihirnya?. Yang lain menjawab; Labid bin Al A’sham. Yang satu bertanya lagi; Dengan cara apa?. DIjawab; Dengan cara melalui sisir, rambut yang rontok saat disisir dan putik kembang kurma jantan. Yang satu bertanya lagi; Sekarang sihir itu diletakkan dimana?. Yang lain menjawab; Di sumur Dzarwan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pergi mendatangi tempat tersebut kemudian kembali dan berkata kepada ‘Aisyah setelah kembali; Putik kurmanya bagaikan kepala-kepala syetan. Aku bertanya; Apakah telah baginda keluarkan?. Beliau berkata: Tidak, karena Allah telah menyembuhkan aku. Namun aku khawatir bekasnya itu dapat mempengaruhi manusia maka sumur itu aku urug (timbun) .
[ HR Bukhori 3095 ]

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَخِي عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيْدٍ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ مَكَانَهَا عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اِسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى اِنْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا فَأَصْبَحَ نَشِيْطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
[3096]

Telah bercerita kepada kami Isma’il bin Abu Uwais berkata telah bercerita kepadaku saudaraku dari Sulaiman bin Bilal dari Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Syaitan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga ikatan, syaitan mengikatnya sedemikian rupa sehingga setiap ikatan diletakkan pada tempatnya lalu (dikatakan) “Kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudlu’ maka lepaslah tali yang lainnya dan bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan dan pada pagi harinya ia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa tidak segar dan menjadi malas beraktifitas.
{HR Bukhori 3096}

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ عَنْ مَنْصُوْرٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ نَامَ لَيْلَهُ حَتَّى أَصْبَحَ قَالَ ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنَيْهِ أَوْ قَالَ فِي أُذُنِهِ
[3097]

Telah bercerita kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah telah bercerita kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wa’il dari ‘Abdullah radliallahu ‘anhu berkata:
Dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seseorang yang tertidur melewati malamnya hingga pagi, maka Beliau bersabda: Itulah orang yang dikencingi syaitan pada kedua telinganya, atau dia berkata: pada telinganya.
{HR Bukhori 3097}

حَدَّثَنَا مُوْسَى بْنُ إِسْمَاعِيْلَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ مَنْصُوْرٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ كُرَيْبٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ وَقَالَ بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَرُزِقَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ
[3098]

Telah bercerita kepada kami Musa bin Isma’il telah bercerita kepada kami Hammam dari Manshur dari Salim bin Abi Al Ja’di dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Seseorang dari kalian apabila mendatangi istrinya (untuk berjima’) kemudian membaca do’a; Allahumma jannibnasy syaithaana wa jannibisy syaithaana maa rozaqtanaa (Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah pula dari anak yang kelak Engkau karuniakan kepada kami), kemudian bila keduanya dikaruniai anak maka setan tidak akan dapat mencelakakan anak itu.
{HR Bukhori 3098}

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا طَلَعَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوْا الصَّلَاةَ حَتَّى تَبْرُزَ وَإِذَا غَابَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوْا الصَّلَاةَ حَتَّى تَغِيْبَ وَلَا تَحَيَّنُوْا بِصَلَاتِكُمْ طُلُوْعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ أَوِ الشَّيْطَانِ. لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَ هِشَامٌ
[3099]

Telah bercerita kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Jika alis (bagian lingkar luar) matahari mulai terbit janganlah kalian shalat hingga terang (selesai masa terbitnya), dan jika alis matahari mulai terbenam janganlah kalian shalat hingga benar-benar telah hilang (terbenam), dan janganlah kalian menunggu untuk shalat saat terbitnya matahari atau saat terbenamnya, karena saat seperti itu dia terbit pada dua tanduk syaitan, (‘Abdah bin Sulaiman) berkata; atau asy-syaitan , aku tidak tahu mana yang dikatakan oleh Hisyam.
{HR Bukhori 3099}

حَدَّثَنَا أَبُوْ مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا يُوْنُسُ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا مَرَّ بَيْنَ يَدَيْ أَحَدِكُمْ شَيْءٌ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَمْنَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيَمْنَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَليُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ
[3100]

Telah bercerita kepada kami Abu Ma’mar telah bercerita kepada kami ‘Abdul Warits telah bercerita kepada kami Yunus dari Humaid bin Hilal dari Abu Shalih dari Abu Sa’id berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Jika ada seseorang lewat di hadapan salah seorang dari kalian yang sedang shalat, hendaklah dicegahnya. Jika tidak mau dicegahnya lagi dan jika tetap tidak mau, maka perangilah karena dia adalah syetan.
{HR Bukhori 3100}

وَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيْرِيْنَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ وَكَّلَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُوْ مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوْبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ
[3101]

Dan ‘Utsman bin Al Haitsam berkata telah bercerita kepada kami ‘Auf dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadlan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan; Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Abu Hurairah radliallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata; Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursiy karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syaitan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syaitan.
{HR Bukhori 3101}

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُوْلُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُوْلَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ
[3102]

Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair telah bercerita kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az Zubair, berkata Abu Hurairah radliallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Syaitan senantiasa mendatangi salah seorang dari kalian seraya berkata; siapa yang menciptakan ini dan siapa yang menciptakan itu hingga akhirnya dia bertanya ‘Lantas siapa yang menciptakan Tuhanmu?. Bila sudah sampai seperti itu maka hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dan menghentikannya.
{HR Bukhori 3102}

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي اِبْنُ أَبِي أَنَسٍ مَوْلَى التَّيْمِيِّيْنَ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ
[3103]

Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair telah bercerita kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab berkata telah bercerita kepadaku Ibnu Abi Anas, mantan budak at-Taymiyyin bahwa bapaknya bercerita kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu.
{HR Bukhori 3103}

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَمْرٌو قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ حَدَّثَنَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ
إِنَّ مُوْسَى قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا { قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيْتُ الْحُوْتَ وَمَا أَنْسَانِيْهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ } وَلَمْ يَجِدْ مُوْسَى النَّصَبَ حَتَّى جَاوَزَ الْمَكَانَ الَّذِي أَمَرَ اللهُ بِهِ
[3104]

Telah bercerita kepada kami Al Humaidiy telah bercerita kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami ‘Amru berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Jubair berkata; Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma, lalu dia menjawab, telah bercerita kepada kami Ubay bin Ka’ab bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Musa Alaihissalam berkata kepada muridnya; Hidangkanlah makanan siang kita. Muridnya berkata; (Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi?. Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan). Maka Musa Alaihissalam tidak mendapatkan jatah makan hingga mereka menemukan tempat yang diperintahkan Allah Ta’ala. (Kisah dalam QS al-Kahfi ayat 62 – 63)
{HR Bukhori 3104}

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِيْنَارٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ
رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيْرُ إِلَى الْمَشْرِقِ فَقَالَ هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
[3105]

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata;
Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk ke arah timur lalu bersabda: Fitnah itu akan timbul dari sana. Fitnah timbul dari tempat terbitnya tanduk syaitan.
{HR Bukhori 3105}

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِذَا اِسْتَجْنَحَ اللَّيْلُ أَوْ قَالَ جُنْحُ اللَّيْلِ فَكُفُّوْا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْتَشِرُ حِيْنَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ الْعِشَاءِ فَخَلُّوْهُمْ وَأَغْلِقْ بَابَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ وَأَطْفِئْ مِصْبَاحَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ وَأَوْكِ سِقَاءَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ وَخَمِّرْ إِنَاءَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ وَلَوْ تَعْرُضُ عَلَيْهِ شَيْئًا
[3106]

Telah bercerita kepada kami Yanya bin Ja’far telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshariy telah bercerita kepada kami Ibnu Juraij berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Atha’ dari Jabir radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Jika malam sudah datang atau sabda Beliau, malam sudah gelap, maka tahanlah bayi-bayi kalian karena pada saat itu setan sedang berkeliaran. Jika telah berlalu beberapa waktu dari waktu ‘isya’, bolehlah kalian biarkan mereka dan tutuplah pintu rumah dan sebutlah nama Allah dan padamkanlah lampu-lampu kamu dan sebutlah nama Allah dan tutup tempat minum serta tutup pula bejana (tempat makanan) kamu, walaupun kamu hanya sekedar melintangkan sesuatu di atasnya, dan sebutlah nama Allah.
{HR Bukhori 3106}

حَدَّثَنِي مَحْمُوْدُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ قَالَتْ
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُوْرُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِي لِيَقْلِبَنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا سُوءًا أَوْ قَالَ شَيْئًا
[3107]

Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ghaylan telah bercerita kepada kami ‘Abdur Razaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari ‘Ali bin Husain dari Shafiyyah binti Huyay berkata:
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang melaksanakan i’tikaf aku datang menemui Beliau di malam hari, lalu aku berbincang-bincang sejenak dengan Beliau, kemudian aku berdiri hendak pulang, Beliau juga ikut berdiri bersama aku untuk mengantar aku. Saat itu Shafiyyah tingal di rumah Usamah bin Zaid. (Ketika kami sedang berjalan berdua itu) ada dua orang laki-laki yang lewat, dan tatkala melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keduanya bergegas. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Kalian tenang saja. Sungguh wanita ini adalah Shofiyah binti Huyay. Maka keduanya berkata: Maha suci Allah, wahai Rasulullah. Lalu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: Sesungguhnya setan berjalan lewat aliran darah dan aku khawatir setan telah memasukkan perkara yang buruk pada hati kalian berdua. Atau memasukkan sesuatu .
{HR Bukhori 3107}

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ عَنْ أَبِي حَمْزَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ
كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلَانِ يَسْتَبَّانِ فَأَحَدُهُمَا اِحْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ الشَّيْطَانِ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ فَقَالُوْا لَهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَوَّذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ فَقَالَ وَهَلْ بِي جُنُوْنٌ
[3108]

Telah bercerita kepada kami ‘Abdan dari Abu Hamzah dari Al A’masy dari ‘Adiy binTsabit dari Sulaiman bin Shurad berkata
Aku sedang duduk bersana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ada dua orang yang saling mencaci. Satu diantaranya wajahnya memerah dan urat lehernya menegang. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh aku mengetahui satu kalimat yang bila diucapkan akan hilang apa yang sedang dialaminya. Seandainya dia mengatakan a’uudzu billahi minasy syaithaan, (aku berlindung kepada Allah dari setan) . Lalu orang-orang mengatakan kepada orang itu; Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; Berlindungkah kamu kepada Allah dari syaitan. Orang itu berkata: Apakah aku sudah gila?.
{HR Bukhori 3108}

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مَنْصُوْرٌ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ كُرَيْبٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنِي فَإِنْ كَانَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ وَلَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ قَالَ وَحَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَالِمٍ عَنْ كُرَيْبٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مِثْلَهُ
[3109]

Telah bercerita kepada kami Adam telah bercerita kepada kami Syu’bah telah bercerita kepada kami Manshur dari Salim bin Abi Al Ja’di dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Apabila seseorang dari kalian mendatangi istrinya (untuk berjima’) kemudian membaca do’a; Allahumma jannibnisy syaithaana wa jannibisy syaithaana maa rozaqtani (Ya Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah pula dari anak yang kelak Engkau karuniakan kepada kami ), kemudian bila dikaruniai anak maka setan tidak akan dapat mencelakakan anak itu dan tidak akan dapat menguasainya. Syu’bah berkata; dan telah bercerita pula kepada kami Al A’masy dari Salim dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma seperti hadits ini.
{HR Bukhori 3109}

حَدَّثَنَا مَحْمُوْدٌ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّهُ صَلَّى صَلَاةً فَقَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لِي فَشَدَّ عَلَيَّ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِي اللهُ مِنْهُ فَذَكَرَهُ
[3110]

Telah bercerita kepada kami Mahmud telah bercerita kepada kami Syababah dari Syu’bah dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Bahwa Beliau mengerjakan shalat lalu setelah itu bersabda: Setan datang menghampiri aku dan berusaha menggangguku untuk memutus shalatku namun Allah memenangkan aku atasnya. Lalu Mahmud menyebutkan lanjutan hadits ini secara keseluruhan.
{HR Bukhori 3110}

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوْسُفَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيْرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ فَإِذَا قُضِيَ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْإِنْسَانِ وَقَلْبِهِ فَيَقُوْلُ اُذْكُرْ كَذَا وَكَذَا حَتَّى لَا يَدْرِيَ أَثَلَاثًا صَلَّى أَمْ أَرْبَعًا فَإِذَا لَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا سَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ
[3111]

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf telah bercerita kepada kami Al Awza’iy dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut agar tidak mendengar suara adzan tersebut. Apabila panggilan adzan telah selesai, maka setan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi untuk mengganggu seseorang diantara dirinya dan jiwanya seraya berkata; ingatlah ini dan itu. Hingga orang itu tidak menyadari apakah tiga atau empat raka’at shalat yang sudah dikerjakannya. Maka apabila dia tidak tahu apakah telah Sholat tiga atau empat raka’at maka sujudlah dua kali sebagai sujud sahwi.
{HR Bukhori 3111}

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبَيْهِ بِإِصْبَعِهِ حِيْنَ يُولَدُ غَيْرَ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَهَبَ يَطْعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ
[3112]

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata;
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Setiap anak keturunan Adam ditusuk (untuk disesatkan) oleh syaitan dengan jari jemarinya ketika lahir, kecuali ‘Isa bin Maryam. Setan datang lalu menusuk dari balik hijab (pakaian yang dikenakan bayi) .
{HR Bukhori 3112}

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيْلُ عَنِ الْمُغِيْرَةِ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ
قَدِمْتُ الشَّأْمَ فَقُلْتُ مَنْ هَا هُنَا قَالُوْا أَبُو الدَّرْدَاءِ قَالَ أَفِيْكُمْ الَّذِي أَجَارَهُ اللهُ مِنَ الشَّيْطَانِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُغِيْرَةَ وَقَالَ الَّذِي أَجَارَهُ اللهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْنِي عَمَّارًا
[3113]

Telah bercerita kepada kami Malik bin Isma’il telah bercerita kepada kami Isra’il dari Al Mughirah dari Ibrahim dari ‘Alqamah berkata;
Aku mengunjungi negeri Syam, lalu aku bertanya; Siapa orang yang ada disini?. Mereka menjawab; Abu Darda’ radliallahu ‘anhu. Dia (‘Alqamah) berkata; Apakah benar bersama kalian ada orang yang telah Allah pelihara dari setan sebagaimana diucapkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam?. Telah bercerita kepada kami Sulaiman bin Harb telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Mughirah; Dan dia berkata; Orang yang telah Allah pelihara dari setan sebagaimana diucapkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ‘Ammar.
{HR Bukhori 3113}

قَالَ وَقَالَ اللَّيْثُ حَدَّثَنِي خَالِدُ بْنُ يَزِيْدَ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ أَنَّ أَبَا الْأَسْوَدِ أَخْبَرَهُ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَلَائِكَةُ تَتَحَدَّثُ فِي الْعَنَانِ وَالْعَنَانُ الْغَمَامُ بِالْأَمْرِ يَكُوْنُ فِي الْأَرْضِ فَتَسْمَعُ الشَّيَاطِيْنُ الْكَلِمَةَ فَتَقُرُّهَا فِي أُذُنِ الْكَاهِنِ كَمَا تُقَرُّ الْقَارُوْرَةُ فَيَزِيْدُوْنَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ
[3114]

Dia berkata; dan Al Laits berkata; telah bercerita kepadaku Khalid bin Yazid dari Sa’id bin Abi Hilal bahwa Abu Al Aswad mengabarkan kepadanya dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Para malaikat saling berbicara di atas awan dan awan-awan yang gelap tentang berbagai urusan yang akan terjadi di bumi lalu didengar oleh setan-setan kemudian setan-setan itu membisikkannya pada telinga para dukun sebagaimana botol ditiup lalu setan-setan itu menambah urusan yang didengarnya itu dengan seratus kedustaan.
{HR Bukhori 3114}

حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا اِبْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيْدٍ اَلْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
التَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ الشَّيْطَانُ
[3115]

Telah bercerita kepada kami ‘Ashim bin ‘Ali telah bercerita kepada kami Ibnu Abi Dza’bi dari Sa’id Al Maqbariy dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Menguap itu dari syaitan. Maka bila seorang dari kalian menguap hendaklah sedapat mungkin ditahannya karena bila seseorang dari kalian menguap dengan mengeluarkan suara haa, setan akan tertawa.
{HR Bukhori 3115}

حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ قَالَ هِشَامٌ أَخْبَرَنَا عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ
لَمَّا كَانَ يَوْمَ أُحُدٍ هُزِمَ الْمُشْرِكُوْنَ فَصَاحَ إِبْلِيْسُ أَيْ عِبَادَ اللهِ أُخْرَاكُمْ فَرَجَعَتْ أُوْلَاهُمْ فَاجْتَلَدَتْ هِيَ وَأُخْرَاهُمْ فَنَظَرَ حُذَيْفَةُ فَإِذَا هُوَ بِأَبِيْهِ الْيَمَانِ فَقَالَ أَيْ عِبَادَ اللهِ أَبِي أَبِي فَوَاللهِ مَا احْتَجَزُوْا حَتَّى قَتَلُوْهُ فَقَالَ حُذَيْفَةُ غَفَرَ اللهُ لَكُمْ قَالَ عُرْوَةُ فَمَا زَالَتْ فِي حُذَيْفَةَ مِنْهُ بَقِيَّةُ خَيْرٍ حَتَّى لَحِقَ بِاللهِ
[3116]

Telah bercerita kepada kami Zakariya’ bin Yahya telah bercerita kepada kami Abu Usamah, Hisyam berkata, telah mengabarkan kepada kami dari bapakku dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata;
Ketika perang Uhud dan kaum Musyrikin dapat dikalahkan, Iblis berteriak dan berkata; Hei hamba-hamba Allah, di belakang kalian ada pasukan musuh yang lain. Maka pasukan yang di depan kembali sehingga terjadilah pertempuran antara pasukan barisan depan dengan pasukan belakang (sesama Kaum Muslimin). Hudzaifah radliallahu ‘anhu memperhatikan ternyata ada bapaknya, Al Yaman. Maka segera saja dia berseru; Wahai hamba-hamba Allah, itu bapakku, itu bapakku. Demi Allah pasukan itu tidak mempedulikan (terus saja bertempur) hingga akhirnya membunuhnya (Al Yaman). Maka Hudzaifah radliallahu ‘anhu berkata; Semoga Allah mengampuni kalian. ‘Urwah berkata; Sejak saat itu Hudzaifah senantiasa mendapatkan kebaikan hinga bertemu dengan Allah (meninggal dunia) .
{HR Bukhori 3116}

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الرَّبِيْعِ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْأَحْوَصِ عَنْ أَشْعَثَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ مَسْرُوْقٍ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْتِفَاتِ الرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ هُوَ اِخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ أَحَدِكُمْ
[3117]

Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin ar-Rabi’ telah bercerita kepada kami Abu Al Ahwash dari Asy’ats dari bapaknya dari Masruq berkata, ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata;
Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seseorang yang menoleh ketika sedang shalat maka Beliau bersabda: Itu adalah sambaran yang sangat cepat yang dilakukan oleh setan terhadap shalatnya seseorang dari kalian.
{HR Bukhori 3117}

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
اَلرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللهِ وَالْحُلُمُ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا حَلَمَ أَحَدُكُمْ حُلُمًا يَخَافُهُ فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّهَا فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ
[3118]

Telah bercerita kepada kami Abu Al Mughirah telah bercerita kepada kami Al Awza’iy berkata telah bercerita kepadaku Yahya dari ‘Abdullah bim Abu Qatadah dari bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan diriwayatkan pula, telah bercerita kepadaku Sulaiman bin ‘Abdur Rahman telah bercerita kepada kami Al Walid telah bercerita kepada kami Al Awza’iy berkata telah bercerita kapadaku Yahya bin Abi Katsir berkata telah bercerita kapadaku ‘Abdullah bin Abu Qatadah dari bapaknya berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Mimpi yang baik berasal dari Allah sedangkan yang buruk dari setan. Maka itu bila seseorang dari kalian mengalami mimpi buruk yang menakutkannya hendaklah meludah ke arah kirinya dan hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpinya sebab dengan begitu mimpinya itu tidak akan membahayakannya.
{HR Bukhori 3118}

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوْسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ
[3119]

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sumayya, maula Abu Bakar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Barang siapa yang membaca laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lahuu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodir (Tidak ada ilah (yang berhaq disembah) selain Allah Yang Maha Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh orang budak, ditetapkan baginya seratus hasanah (kebaikan) dan dijauhkan darinya seratus keburukan dan baginya ada perlindungan dari (godaan) setan pada hari itu hingga petang dan tidak ada orang yang lebih baik amalnya dari orang yang membaca doa ini kecuali seseorang yang dapat lebih banyak mengamalkan (membaca) dzikir ini.
{HR Bukhori 3119}

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا يَعْقُوْبُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْحَمِيْدِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَاهُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ
اِسْتَأْذَنَ عُمَرُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ نِسَاءٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُكَلِّمْنَهُ وَيَسْتَكْثِرْنَهُ عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ فَلَمَّا اِسْتَأْذَنَ عُمَرُ قُمْنَ يَبْتَدِرْنَ الْحِجَابَ فَأَذِنَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْحَكُ فَقَالَ عُمَرُ أَضْحَكَ اللهُ سِنَّكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي فَلَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ اِبْتَدَرْنَ الْحِجَابَ قَالَ عُمَرُ فَأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ يَهَبْنَ ثُمَّ قَالَ أَيْ عَدُوَّاتِ أَنْفُسِهِنَّ أَتَهَبْنَنِي وَلَا تَهَبْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَ نَعَمْ أَنْتَ أَفَظُّ وَأَغْلَظُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ
[3120]

Telah bercerita kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah bercerita kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah bercerita kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul Hamid bin ‘Abdur Rahman bin Zaid bahwa Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqash mengabarkan kepadanya bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata
‘Umar meminta izin menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat ada wanita-wanita Quraisy sedang berbincang bersama Beliau dan berlama-lama berbicara hingga suara mereka terdengar dengan keras. Ketika ‘Umar terdengar meminta izin, para wanita itu berdiri lalu pergi berlindung di balik tabir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan ‘Umar masuk lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa. ‘Umar berkata; Semoga Allah selalu membuat gigi baginda tertawa wahai Rasulullah. Beliau berkata: Aku heran dengan para wanita yang tadi bersamaku. Ketika mereka mendengar suaramu mereka langsung saja menghindar dan berlindung dari balik tabir. ‘Umar berkata; Kamulah wahai Rasulullah, seharusnya yang lebih patut untuk disegani. Selanjutnya ‘Umar berkata; Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi diri kalian sendiri, mengapa kalian segan (takut) kepadaku dan tidak tidak segan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?. Para wanita itu menjawab; Ya, karena kamu lebih galak dan keras hati dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada satu setanpun yang berjumpa denganmu pada suatu lorong melainkan dia akan mencari lorong lain yang tidak kamu lalui.
{HR Bukhori 3120}

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيْمُ بْنُ حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنِي اِبْنُ أَبِي حَازِمٍ عَنْ يَزِيْدَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عِيْسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِذَا اِسْتَيْقَظَ أُرَاهُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيْتُ عَلَى خَيْشُوْمِهِ
[3121]

Telah bercerita kepadaku Ibrahim binHamzah berkata telah bercerita kepadaku Ibnu Abi Hazim dari Yazid dari Muhammad bin Ibrahim dari ‘Isa binThalhah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Jika terbangun, seingatku beliau bersabda; seseorang dari kalian, dari tidurnya hendaklah dia berwudlu’ dan beristinsyar (memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya) karena setan tidur pada batang hidung orang itu.
{HR Bukhori 3121}

Sujud Sahwi ( Sujud ketika ada yang terlupa didalam shalat)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي جَاءَهُ الشَّيْطَانُ فَلَبَسَ عَلَيْهِ حَتَّى لاَ يَدْرِيَ كَمْ صَلَّى فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

82(369)-

حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ وَهُوَ اِبْنُ عُيَيْنَةَ قَالَ ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ عَنِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ كِلاَهُمَا عَنِ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ نَحْوَهُ

(369)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia berkata, saya membaca di hadapan Malik dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Salah seorang dari kalian jika mendirikan shalat, maka setan mendatanginya, lalu merancukan (kekhusyu’annya) hingga dia tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat. Maka apabila salah seorang dari kalian mendapati hal tersebut maka hendaklah dia bersujud dua kali, sedang dia masih dalam keadaan duduk.

(Shahih Muslim 569-82)

Telah menceritakan kepadaku Amru an-Naqid dan Zuhair bin Harb keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dan dia adalah Ibnu Uyainah dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin Rumh dari al-Laits bin Sa’d keduanya meriwayatkan dari az-Zuhri dengan isnad ini hadits semisalnya.

(Shahih Muslim 569)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُمْ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ بِاْلأَذَانِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ اْلأَذَانَ فَإِذَا قُضِيَ اْلأَذَانُ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ التَّثْوِيْبُ أَقْبَلَ يَخْطُرُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُوْلُ اُذْكُرْ كَذَا اُذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ إِنْ يَدْرِي كَمْ صَلَّى فَإِذَا لَمْ يَدْرِ أَحَدُكُمْ كَمْ صَلَّى فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

(369)-83

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Yahya bin Abi Katsir telah menceritakan kepada kami Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu telah menceritakan kepada mereka:

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Apabila adzan dikumandangkan, maka setan berpaling lari terbirit-birit sehingga dia tidak mendengar adzan tersebut. Dan apabila adzan tersebut selesai, maka dia maju kembali. Apabila diiqamatkan shalat, maka dia berpaling. Dan apabila iqamah selesai dikumandangkan maka dia datang kembali, melintas di antara seseorang dan nafsunya. Di berkata, Ingatlah yang demikian dan ingatlah yang demikian untuk sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, hingga laki-laki tersebut senantiasa tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat. Maka apabila salah seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, hendaklah dia bersujud dua kali sedang dia masih dalam keadan duduk.

(Shahih Muslim 569-83)

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ عَبْدِ رَبِّهِ بْنِ سَعِيْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ وَلَّى وَلَهُ ضُرَاطٌ فَذَكَرَ نَحْوَهُ وَزَادَ فَهَنَّاهُ وَمَنَّاهُ وَذَكَّرَهُ مِنْ حَاجَاتِهِ مَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ

(369)-84

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Amru dari ‘Abdu Rabbih bin Sa’id dari Abdurrahman al-A’raj dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya setan apabila dikumandangkan iqamah shalat, maka dia berpaling terbirit-birit. Lalu dia menyebutkan hadits semisalnya. Dan dia menambahkan, Dia membahagiakannya dan memberinya angan-angan, serta mengingatkan sebagian dari hajatnya yang sebelumnya tidak ingat.

(Shahih Muslim 569-84)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ قَالَ:

صَلَّى لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ مِنْ بَعْضِ الصَّلَوَاتِ ثُمَّ قَامَ فَلَمْ يَجْلِسْ فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ وَنَظَرْنَا تَسْلِيْمَهُ كَبَّرَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ التَّسْلِيْمِ ثُمَّ سَلَّمَ

85-(570)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia berkata, Saya menyetorkan hapalan di hadapan Malik dari Ibnu Syihab dari Abdurrahman al-A’raj dari Abdullah bin Buhainah dia berkata:

Pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat. Setelah dua rakaat, beliau langsung berdiri tanpa duduk (tasyahud awal), dan jamaah makmum turut pula berdiri mengikuti beliau. Tatkala shalat telah selesai, dan kami sedang menunggu-menunggu beliau mengucapkan salam, ternyata beliau bertakbir, lalu bersujud dua kali ketika duduk sebelum salam, setelah itu barulah beliau mengucapkan salam

(Shahih Muslim 570-85)

وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ قَالَ ح وَحَدَّثَنَا اِبْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ اْلأَسْدِيِّ حَلِيْفِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي صَلاَةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوْسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلاَتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ يُكَبِّرُ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ وَسَجَدَهُمَا النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنَ الْجُلُوسِ

86 – (570)

Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Rumhin telah mengabarkan kepada kami al-Laits dari Ibnu Syihab dari al-A’raj dari Abdullah bin Buhainah al-Asdi yaitu kawan yang telah bersumpah setia dengan Bani Abdul Muththalib:

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur, dalam shalat itu beliau langsung berdiri, padahal seharusnya duduk (tasyahud awal). Maka ketika shalat telah cukup (empat raka’at), maka beliau bersujud dua kali dengan membaca takbir setiap kali sujud, yaitu ketika duduk sebelum salam. Orang-orang ikut pula sujud bersama-sama dengan beliau, sebagai pengganti tasyahud awal yang terlupa

(Shahih Muslim 570-86)

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ الرَّبِيْعِ الزَّهْرَانِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اْلأَعْرَجِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَالِكِ ابْنِ بُحَيْنَةَ اْلأَزْدِيِّ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي الشَّفْعِ الَّذِي يُرِيْدُ أَنْ يَجْلِسَ فِي صَلاَتِهِ فَمَضَى فِي صَلاَتِهِ فَلَمَّا كَانَ فِي آخِرِ الصَّلاَةِ سَجَدَ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ثُمَّ سَلَّمَ

87 – (570)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu ar-Rabi’ az-Zahrani telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Abdurrahman al-A’raj dari Abdullah bin Malik bin Buhainah al-Azdi:

Pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam langsung berdiri dalam rakaat genap yang seharusnya beliau duduk (tahiyat) dalam shalatnya, dan beliau terus saja meneruskan shalatnya. Tatkala beliau berada di akhir shalat, maka beliau sujud sebelum salam kemudian mengucapkan salam.

(Shahih Muslim 570-87)

وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي خَلَفٍ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ قَالَ:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا ِلأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ

88-(571)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Abi Khalaf telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu’anhu dia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang pasti (yaitu yang sedikit). Kemudian sujudlah dua kali sebelum memberi salam. Jika ternyata dia shalatlimarakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Dan jika, ternyata shalatnya memang empat rakaat maka kedua sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan

(Shahih Muslim 571-88)

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ وَهْبٍ حَدَّثَنِي عَمِّي عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَفِي مَعْنَاهُ قَالَ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ السَّلاَمِ كَمَا قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ

(571)

Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb telah menceritakan kepadaku Pamanku, Abdullah telah menceritakan kepadaku Dawud bin Qais dari Zaid bin Aslam dengan isnad ini, dan dalam makna hadits dia mengatakan: Hendaklah dia sujud dua kali sebelum salam sebagaimana yang dikatakan Sulaiman bin Bilal.

(Shahih Muslim 571)

وَحَدَّثَنَا عُثْمَانُ وَأَبُوْ بَكْرِ ابْنَا أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ جَمِيْعًا عَنْ جَرِيْرٍ قَالَ عُثْمَانُ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ عَنْ مَنْصُوْرٍ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ:

قَالَ عَبْدُ اللهِ صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ زَادَ أَوْ نَقَصَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيْلَ لَهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَحَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوْا صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَثَنَى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

89 – (572)

Dan telah menceritakan kepada kami Utsman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah, serta Ishaq bin Ibrahim semuanya meriwayatkan dari Jarir, berkata Utsman, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari Alqamah dia berkata, Abdullah berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat -Ibrahim berkata- melebihi atau kurang dari jumlah rakaat (yang semestinya).

Tatkala beliau memberi salam, ditanyakan kepadanya:  Wahai, Rasulullah! Apakah ada perubahan dalam shalat?  Nabi bertanya : Mengapa demikian pertanyaanmu?   Mereka menjawab: Kamu shalat begini, begini, dan begini. Lalu beliau menyimpulkan kedua kakinya menghadap ke kiblat, lalu bersujud dua kali, kemudian memberi salam. Kemudian beliau menghadapkan mukanya kepada kami seraya bersabda: Sesungguhnya jika ada suatu perubahan tentang cara shalat, tentu aku memberitahukan kepada kalian semua. Aku hanyalah manusia yang bisa saja lupa (salah) sebagaimana kalian juga bisa lupa (salah). Karena itu, apabila aku lupa, maka ingatkanlah aku. Dan apabila kamu ragu dalam shalat tentang jumlah rakaatnya, ambillah yang pasti benar (yaitu jumlah yang sedikit), lalu sempurnakanlah atasnya, kemudian bersujudlah dua kali.

(Shahih Muslim 572-89)

حَدَّثَنَاه أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا اِبْنُ بِشْرٍ قَالَ ح وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ كِلاَهُمَا عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ مَنْصُوْرٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَفِي رِوَايَةِ اِبْنِ بِشْرٍ فَلْيَنْظُرْ أَحْرَى ذَلِكَ لِلصَّوَابِ وَفِي رِوَايَةِ وَكِيْعٍ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ

90 – (572)

Telah menceritakan tentangnya kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Ibnu Bisyr dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Waki’ keduanya meriwayatkan dari Mis’ar dari Manshur dengan isnad ini, dan dalam riwayat Ibnu Bisyr dengan redaksi : “Maka hendaklah dia melihat kepada yang lebih tepat pada kebenaran”  Sedangkan dalam riwayat Waki’: “Maka hendaklah dia menepatkan pada kebenaran”

(Shahih Muslim 572-90)

وَحَدَّثَنَاه عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا وُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَقَالَ مَنْصُورٌ فَلْيَنْظُرْ أَحْرَى ذَلِكَ لِلصَّوَابِ

حَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ بْنُ سَعِيْدِ اْلأُمَوِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُوْرٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَقَالَ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ

حَدَّثَنَاه مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُوْرٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَقَالَ فَلْيَتَحَرَّ أَقْرَبَ ذَلِكَ إِلَى الصَّوَابِ

حَدَّثَنَاه يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ عَنْ مَنْصُوْرٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَقَالَ فَلْيَتَحَرَّ الَّذِي يَرَى أَنَّهُ الصَّوَابُ

حَدَّثَنَاه ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ عَنْ مَنْصُورٍ بِإِسْنَادِ هَؤُلاَءِ وَقَالَ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ

(572)

Dan telah menceritakan tentangnya kepada kami Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Hassan telah menceritakan kepada kami Wuhaib bin Khalid telah menceritakan kepada kami Manshur dengan isnad ini, dan Manshur berkata, Maka hendaklah dia melihat kepada yang lebih tepat pada kebenaran.

Telah menceritakan tentangnya kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Ubaid bin Sa’id al-Umawi telah menceritakan kepada kami Sufyandari Manshur dengan isnad ini, dan dia berkata, Maka hendaklah dia menepatkan pada kebenaran.

Telah menceritakan tentangnya kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bahdari Manshur dengan isnad ini, dan dia berkata, Maka hendaklah dia menepatkan pada yang paling dekat kepada kebenaran.

Telah menceritakan tentangnya kepada kami Yahya bin Yahyatelah mengabarkan kepada kami Fudhail bin Iyadh dari Manshur dengan isnad ini, dan dia berkata, Maka hendaklah dia menepatkan pada sesuatu yang dilihatnya benar.

Telah menceritakan tentangnya kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdush Shamad dari Manshur dengan isnad mereka, dan dia berkata, Maka hendaklah dia menepatkan pada kebenaran.

(Shahih Muslim 572)

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُعَاذٍ اَلْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الْحَكَمِ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَلَمَّا سَلَّمَ قِيْلَ لَهُ أَزِيْدَ فِي الصَّلاَةِ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوْا صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ

91 – (572)

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz al-Anbari telah menceritakan kepada kami Bapakku telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari al-Hakam dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah :

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (suatu ketika) shalat Zhuhurlimarakaat. Ketika beliau telah mengucapkan salam, maka ditanyakan kepada beliau: Apakah raka’at shalat bertambah, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: ‘Mengapa demikian?  Mereka menjawab: Anda shalatlimarakaat. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud dua kali

(Shahih Muslim 572-91)

و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ أَنَّهُ صَلَّى بِهِمْ خَمْسًا

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ صَلَّى بِنَا عَلْقَمَةُ الظُّهْرَ خَمْسًا فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ الْقَوْمُ يَا أَبَا شِبْلٍ قَدْ صَلَّيْتَ خَمْسًا قَالَ كَلَّا مَا فَعَلْتُ قَالُوا بَلَى قَالَ وَكُنْتُ فِي نَاحِيَةِ الْقَوْمِ وَأَنَا غُلَامٌ فَقُلْتُ بَلَى قَدْ صَلَّيْتَ خَمْسًا قَالَ لِي وَأَنْتَ أَيْضًا يَا أَعْوَرُ تَقُولُ ذَاكَ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَانْفَتَلَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا فَلَمَّا انْفَتَلَ تَوَشْوَشَ الْقَوْمُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ زِيدَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ لَا قَالُوا فَإِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَمْسًا فَانْفَتَلَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ وَزَادَ ابْنُ نُمَيْرٍ فِي حَدِيثِهِ فَإِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

92 – (572)

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kamiIbnu Idris dari al-Hasan bin Ubaidullah dari Ibrahim dari Alqamah bahwasanya dia shalat mengimami mereka lima rakaat. –Lewat jalur periwayatan lain– telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah dan lafazh tersebut adalah miliknya, telah menceritakan kepada kami Jarir dari al-Hasan bin Ubaidullah dari Ibrahim bin Suwaid dia berkata:

Alqamah shalat Zhuhur mengimami kami lima rakaat, ketika dia mengucapkan salam, maka suatu kaum berkata, Wahai Abu Syibl, kamu telah melakukan shalat lima rakaat!. Dia menjawab: ‘Tidak demikian, aku tidak melakukannya. Mereka berkata: Ya, kamu telah melakukannya. Perawi berkata: ‘Aku berada di sudut suatu kaum, dan aku ketika itu masih kecil. Aku berkata, Ya kamu telah shalat lima rakaat. Dia berkata kepadaku: Dan kamu juga mengatakan demikian wahai A’war?’ Aku menjawab:  Ya. Lalu dia berpaling, lalu bersujud dua kali, kemudian mengucapkan salam. Kemudian dia berkata, Abdullah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat mengimami kami lima rakaat. Ketika beliau berpaling maka kaum tersebut menggumam di antara mereka, maka beliau bertanya, Ada apa dengan kalian?   Mereka menjawab: ‘Wahai Rasulullah, apakah rakaat dalam shalat ditambahkan?  Beliau menjawab: Tidak. Mereka berkata: Sesungguhnya kamu telah melakukan shalat lima rakaat. Lalu beliau berpaling kemudian sujud dua kali, kemudian mengucapkan salam. Kemudian beliau bersabda: ‘Aku hanyalah manusia biasa yang bisa lupa sebagaimana kalian juga bisa lupa. Ibnu Numair menambahkan dalam hadisnya, Apabila salah seorang dari kalian lupa, hendaklah dia bersujud dua kali

(Shahih Muslim 572-90)

وَحَدَّثَنَاه عَوْنُ بْنُ سَلاَّمٍ اَلْكُوْفِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُوْ بَكْرٍ اَلنَّهْشَلِيُّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ اْلأَسْوَدِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ:

صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ أَزِيْدَ فِي الصَّلاَةِ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوْا صَلَّيْتَ خَمْسًا قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَذْكُرُ كَمَا تَذْكُرُوْنَ وَأَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ

93 – (572)

Dan telah menceritakannya kepada kami ‘Aun bin Sallam al-Kufi telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar an-Nahsyali dari Abdurrahman bin al-Aswad dari Bapaknya dari Abdullah dia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat mengimami kamilimarakaat. Lalu kami berkata: Wahai Rasulullah apakah rakaat di dalam shalat ditambahkan? Beliau menjawab : Tidak demikian.  Mereka berkata: Anda telah shalatlimarakaat. Beliau bersabda: Aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, bisa ingat sebagaimana kalian ingat, dan juga bisa lupa sebagaimana kalian lupa.  Kemudian beliau bersujud karena lupa (sujud sahwi) sebanyak dua kali

(Shahih Muslim 572-93)

وَحَدَّثَنَا مِنْجَابُ بْنُ الْحَارِثِ التَّمِيْمِيُّ أَخْبَرَنَا اِبْنُ مُسْهِرٍ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ:

صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزَادَ أَوْ نَقَصَ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ وَالْوَهْمُ مِنِّي فَقِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَزِيْدَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ فَقَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ ثُمَّ تَحَوَّلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ

94 – (572)

Dan telah menceritakan kepada kami Minjab bin al-Harits at-Tamimi telah mengabarkan kepada kami Ibnu Mushir dari al-A’masy dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah dia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, lalu beliau kelebihan atau kurang raka’atnya. Ibrahim berkata: “Praduga salah ini berasal dariku”–Maksudnya Ibrahim ragu antara redaksi kelebihan atau kurang– Lalu ditanyakanlah “Wahai Rasulullah, apakah di dalam shalat tersebut telah ditambahkan rakaatnya?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku manusia biasa seperti kalian yang bisa lupa sebagaimana kalian juga lupa. Apabila salah seorang dari kalian lupa maka hendaklah dia bersujud dua kali.’ Ketika itu beliau dalam keadaan duduk. Kemudian beliau berpaling lalu bersujud dua kali.”

(Shahih Muslim 572-94)

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ قَالَ ح وَحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا حَفْصٌ وَأَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ بَعْدَ السَّلاَمِ وَالْكَلاَمِ

95 – (572)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraibkeduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Hafsh dan Abu Muawiyah dari al-A’masy dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah :

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sujud sahwi sebanyak dua kali setelah mengucap salam dan berkata-kata

(Shahih Muslim 572-95)

وَحَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيِّ الْجُعْفِيُّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ:

صَلَّيْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِمَّا زَادَ أَوْ نَقَصَ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ وَاَيْمُ اللهِ مَا جَاءَ ذَاكَ إِلاَّ مِنْ قِبَلِي قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ أَحَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ فَقَالَ لاَ قَالَ فَقُلْنَا لَهُ الَّذِي صَنَعَ فَقَالَ إِذَا زَادَ الرَّجُلُ أَوْ نَقَصَ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَالَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ

96 – (572)

Dan telah menceritakan kepadaku al-Qasim bin Zakariya telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali al-Ju’fi dari Zaidah dari Sulaiman dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah, dia berkata:

Kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, boleh jadi beliau kelebihan, boleh jadi kurang. Ibrahim berkata: Demi Allah, tidaklah orang itu datang melainkan dari arah depanku.

Dia berkata lagi:  Kami berkata: Wahai Rasulullah, apakah ada sesuatu baru dalam shalat?  Beliau menjawab: Tidak.  Perawi berkata: Kami berkata kepadanya tentang sesuatu yang telah diperbuatnya, maka beliau bersabda:  “Apabila seorang laki-laki kelebihan atau kurang raka’atnya, maka hendaklah dia bersujud dua kali”  Dia berkata: Kemudian beliau bersujud dua kali.

(Shahih Muslim 572-96)

حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ جَمِيْعًا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ عَمْرٌو حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا أَيُّوْبُ قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ سِيْرِيْنَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ:

صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلاَتَيْ الْعَشِيِّ إِمَّا الظُّهْرَ وَإِمَّا الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَى جِذْعًا فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَاسْتَنَدَ إِلَيْهَا مُغْضَبًا وَفِي الْقَوْمِ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرَ فَهَابَا أَنْ يَتَكَلَّمَا وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ قُصِرَتِ الصَّلاَةُ فَقَامَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَقُصِرَتِ الصَّلاَةُ أَمْ نَسِيْتَ فَنَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِيْنًا وَشِمَالاً فَقَالَ مَا يَقُوْلُ ذُوْ الْيَدَيْنِ قَالُوْا صَدَقَ لَمْ تُصَلِّ إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ قَالَ وَأُخْبِرْتُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّهُ قَالَ وَسَلَّمَ

97 – (573)

Telah menceritakan kepadaku Amru an-Naqid dan Zuhair bin Harb semuanya meriwayatkan dari Ibnu Uyainah. Berkata Amru, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah telah menceritakan kepada kami Ayyub dia berkata, Saya mendengar Muhammad bin Sirin berkata, Saya mendengar Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat pada salah satu dua shalat petang, mungkin shalat Zhuhur ataupun Ashar. Lalu beliau mengucapkan salam pada dua rakaat, kemudian beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid, lalu beliau bersandar ke pohon itu dalam keadaan marah. Di antara jamaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berbicara. Orang-orang yang suka cepat-cepat telah keluar sambil berujar, Shalat dipendekkan. Sekonyong-konyong Dzul Yadain berdiri seraya berkata: Ya, Rasulullah! Apakah shalat dipendekkan ataukah anda lupa?  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menengok ke kanan dan ke kiri, lalu bersabda: Betulkan apa yang dikatakan Dzul Yadain itu?  Jawab mereka: Betul, wahai Rasulullah! Anda shalat hanya dua rakaat. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dua rakaat lagi, lalu memberi salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir, lalu bangkit dari sujud. Kemudian bertakbir, lalu bersujud lagi, sesudah itu bertakbir, lalu bangkit.

Perawi berkata: Dan saya diberi kabar dari Imran bin Hushain bahwasanya dia berkata: Dan mengucapkan salam.

(Shahih Muslim 573-97)

حَدَّثَنَا أَبُوْ الرَّبِيْعِ الزَّهْرَانِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ حَدَّثَنَا أَيُّوْبُ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلاَتَيْ الْعَشِيِّ بِمَعْنَى حَدِيْثِ سُفْيَانَ

98 – (573)

Telah menceritakan kepada kami Abu ar-Rabi’ az-Zahrani telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengimami kami shalat pada salah satu dua shalat petang,semakna dengan hadits Sufyan.

(Shahih Muslim 573-98)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ مَوْلَى اِبْنِ أَبِي أَحْمَدَ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ:

صَلَّى لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَسَلَّمَ فِي رَكْعَتَيْنِ فَقَامَ ذُوْ الْيَدَيْنِ فَقَالَ أَقُصِرَتِ الصَّلاَةُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمْ نَسِيْتَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ فَقَالَ قَدْ كَانَ بَعْضُ ذَلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَأَقْبَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ أَصَدَقَ ذُوْ الْيَدَيْنِ فَقَالُوْا نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَأَتَمَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَقِيَ مِنَ الصَّلاَةِ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ بَعْدَ التَّسْلِيْمِ

99 – (573)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dari Malik bin Anas dari Dawud bin al-Hushain dari Abu Sufyan, maula Ibnu Abi Ahmad Bahwasanya dia berkata, Saya mendengar Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat Ashar. Lalu beliau mengucapkan salam pada raka’at kedua. Lalu Dzul Yadain berdiri seraya berkata: Apakah shalat telah diqashar wahai Rasulullah atau kamu telah lupa? Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berkata: Semua itu tidak terjadi. Dzul Yadain berkata: Telah terjadi sebagian dari itu wahai Rasulullah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap manusia seraya bertanya: Apakah benar perkataan Dzul Yadain? Mereka menjawab: Benar wahai Rasulullah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan sisa rakaat shalat, kemudian bersujud dua kali dalam keadaan duduk setelah salam.

(Shahih Muslim 573-99)

وَحَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْمَعِيلَ الْخَزَّازُ حَدَّثَنَا عَلِيٌّ وَهُوَ اِبْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ مِنْ صَلاَةِ الظُّهْرِ ثُمَّ سَلَّمَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَقُصِرَتِ الصَّلاَةُ أَمْ نَسِيْتَ وَسَاقَ الْحَدِيْثَ

(573)

Dan telah menceritakan kepadaku Hajjaj bin asy-Syair telah menceritakan kepada kami Harun bin Ismail al-Khazzaz telah menceritakan kepada kami Ali, dan dia adalah Ibnu al-Mubarak telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dua rakaat dari shalat Zhuhur, kemudian beliau mengucapkan salam. Lalu seorang laki-laki dari bani Sulaim mendatanginya seraya bertanya: Wahai Rasulullah, apakah shalat telah diqashar atau kamu telah lupa?. Lalu dia membawakan hadits tersebut

(Shahih Muslim 573)

وَحَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوسَى عَنْ شَيْبَانَ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:

بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الظُّهْرِ سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ وَاقْتَصَّ الْحَدِيْثَ

100-(573)

Dan telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Syaiban dari Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata:

Ketika kami shalat Zhuhur bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam , maka beliau mengucapkan salam sesudah dua rakaat. Lalu seorang laki-laki dari bani Sulaim berdiri dan menceritakan hadits tersebut.

(Shahih Muslim 573-100)

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ جَمِيْعًا عَنِ ابْنِ عُلَيَّةَ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي ثَلاَثِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ دَخَلَ مَنْزِلَهُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ وَكَانَ فِي يَدَيْهِ طُوْلٌ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَذَكَرَ لَهُ صَنِيْعَهُ وَخَرَجَ غَضْبَانَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى اِنْتَهَى إِلَى النَّاسِ فَقَالَ أَصَدَقَ هَذَا قَالُوْا نَعَمْ فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ

101 – (574)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harbin semuanya meriwayatkan dari Ibnu Ulayyah berkata Zuhair, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Khalid dari Abu Qilabah dari Abu al-Muhallab dari Imran bin Hushain:

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Ashar, lalu mengucapkan salam pada rakaat ketiga, kemudian masuk rumahnya. Lalu seorang laki-laki yang dipanggil al-Khirbaq berdiri menujunya, dalam keadaan di tangannya terjulur seraya dia bertanya: Wahai Rasulullah,  lalu dia menyebutkan sesuatu yang telah beliau berbuat. Dan Rasulullah keluar dalam keadaan marah dengan menyeret surbannya hingga berhenti pada orang-orang seraya bersabda, Apakah benar yang dikatakan orang ini? Mereka menjawab: Ya benar. Lalu beliau shalat satu rakaat kemudian mengucapkan salam kemudian bersujud dua kali kemudian mengucapkan salam.

(Shahih Muslim 574-101)

وَحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ وَهُوَ الْحَذَّاءُ عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ قَالَ:

سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلاَثِ رَكَعَاتٍ مِنَ الْعَصْرِ ثُمَّ قَامَ فَدَخَلَ الْحُجْرَةَ فَقَامَ رَجُلٌ بَسِيْطُ الْيَدَيْنِ فَقَالَ أَقُصِرَتِ الصَّلاَةُ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَخَرَجَ مُغْضَبًا فَصَلَّى الرَّكْعَةَ الَّتِي كَانَ تَرَكَ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ ثُمَّ سَلَّمَ

102 – (574)

Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahab ats-Tsaqafi telah menceritakan kepada kami Khalid, dan dia adalah al-Hadzdza’ dari Abu Qilabah dari Abu al-Muhallab dari Imran bin al-Hushain dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam pada rakaat ketiga shalat Ashar, kemudian berdiri, lalu masuk kamar. Lalu seorang laki-laki berdiri dengan menghamparkan kedua tangannya seraya bertanya: Apakah shalat diqashar wahai Rasulullah? Lalu beliau keluar dalam keadaan marah, lalu shalat pada rakaat yang telah beliau tinggalkan, kemudian salam, kemudian bersujud dua kali sujud sahwi kemudian mengucapkan salam.”

(Shahih Muslim 574-102)

%d blogger menyukai ini: