Memberikan ilmu khusus kepada suatu kaum , tidak kepada kaum yang lainnya karena khwatir mereka tidak bisa memahaminya

وَقَالَ عَلِيٌّ حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوْسَى عَنْ مَعْرُوْفِ بْنِ خَرَّبُوْذٍ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ عَلِيٍّ بِذَلِكَ
[127]

Dan Ali berkata,
Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan? Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Ma ‘ruf bin Kharrabudz dari Abu Ath Thufail dari ‘Ali seperti itu.
(HR Imam Bukhori: 127)

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُعاذٌ رَدِيْفُهُ عَلَى الرَّحْلِ قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ يَا مُعَاذُ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ثَلَاثًا قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوْا قَالَ إِذًا يَتَّكِلُوْا وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا
[128]

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam berkata, telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Qatadah berkata, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunggang kendaraan sementara Mu’adz membonceng di belakangnya. Beliau lalu bersabda: Wahai Mu’adz bin Jabal! Mu’adz menjawab, Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu. Beliau memanggil kembali: Wahai Mu’adz! Mu’adz menjawab, Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu. Hal itu hingga terulang tiga kali, beliau lantas bersabda: Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, tulus dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan baginya neraka. Mu’adz lalu bertanya, Apakah boleh aku memberitahukan hal itu kepada orang, sehingga mereka bergembira dengannya? Beliau menjawab: Nanti mereka jadi malas (untuk beramal). Mu’adz lalu menyampaikan hadits itu ketika dirinya akan meninggal karena takut dari dosa
(HR Imam Bukhori: 128)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ
ذُكِرَ لِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قَالَ أَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ لَا إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَّكِلُوْا
[129]

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir berkata, aku mendengar Bapakku berkata, aku mendengar Anas bin Malik berkata,

Disebutkan kepadaku bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal: Barangsiapa berjumpa Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk surga. Mu’adz bertanya, Bolehkan jika itu aku sampaikan kepada manusia? Beliau menjawab: Jangan, karena aku khawatir mereka akan jadi malas (untuk beramal).
(HR Imam Bukhori: 129)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: