Sunah melakukan shalat Dhuhur tepat waktu ketika hari tidak terlalu panas

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ كِلاَهُمَا عَنْ يَحْيَى الْقَطَّانِ وَابْنِ مَهْدِيٍّ ح قَالَ اِبْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ عَنْ شُعْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ ح قَالَ اِبْنُ الْمُثَنَّى وَحَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الظُّهْرَ إِذَا دَحَضَتِ الشَّمْسُ

188 – (618)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna dan Muhammad bin Basyar, keduanya dari Yahya Al Qatthan dan Ibnu Mahdi (Dan diriwayatkan dari jalur lain) Ibnul Mutsanna mengatakanو telah menceritakan kepadaku Yahya bin Said dari Syu’bah dia berkataو telah menceritakan kepada kami Simak bin Harbin dari Jabir bin Samurah (dan diriwayatkan dari jalur lain) Ibnul Mutsanna mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Syu’bah dari Simak dari Jabir bin Samurah dia berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat zhuhur ketika matahari telah condong dari tengah langit ke sebelah barat.

(Shahih Muslim 618-188)

وَحَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو اْلأَحْوَصِ سَلاَّمُ بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ خَبَّابٍ قَالَ:

شَكَوْنَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ فِي الرَّمْضَاءِ فَلَمْ يُشْكِنَا

189 – (619)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash Salam bin Sulaim dari Abu Ishaq dari Said bin Wahib dari Khabbab dia berkata:

Kami mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perihal shalat diatas kerikil yang sangat panas, namun beliau tidak menggubris keluh kesah kami.

(Shahih Muslim 619-189)

وَحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوْنُسَ وَعَوْنُ بْنُ سَلاَّمٍ قَالَ عَوْنٌ أَخْبَرَنَا وَقَالَ اِبْنُ يُوْنُسَ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُوْ إِسْحَقَ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ خَبَّابٍ قَالَ:

أَتَيْنَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ حَرَّ الرَّمْضَاءِ فَلَمْ يُشْكِنَا قَالَ زُهَيْرٌ قُلْتُ ِلأَبِي إِسْحَقَ أَفِي الظُّهْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ أَفِي تَعْجِيْلِهَا قَالَ نَعَمْ

190 – (619)

Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus dan ‘Aun bin Salam, Aun mengatakan, telah mengabarkan kepada kami, sedangkan Ibnu Yunus mengatakan, -sementara lafadhnya berasal dari dia- telah menceritakan kepada kami Zuhair dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Sa’id bin Wahib dari Khabbab dia berkata:

Kami pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkeluh kesah kepada beliau akan panas kerikil yang sangat panas, namun beliau tidak tidak mempedulikan keluh kesah kami. Zuhair mengatakan : Lalu kukatakan kepada Abu Ishaq, Apakah yang dimaksud ketika shalat dhuhur? dia menjawab: Benar. Aku berkata lagi:  Itu maksudnya supaya menyegerakannya? Jawab Abu Ishaq: Benar.

(Shahih Muslim 619-190)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ غَالِبٍ اَلْقَطَّانِ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ جَبْهَتَهُ مِنَ الْأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ

191 – (620)

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mufadlal dari Ghalib Al Qaththan dari Bakar bin Abdullah dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu , dia berkata:

Kami pernah shalat bersama Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hari sangat panas, jika salah seorang diantara kami tidak dapat menempatkan keningnya di tanah dengan baik (karena panasnya), maka ia menghamparkan pakaiannya lalu sujud di atasnya.

(Shahih Muslim 620-191)

2 Tanggapan

  1. MASYAA ALLAH tenan jika seseorang mampu menjalankan kewajiban limanya tepat waktu…

  2. Shlat lima waktu itu ketaatan yang harus dijalankan….
    Kalau ketaatan yang harus dijalani berarti statusnya adalah akibat.
    Akibat manusia dijadikan oleh TUHAN yang dilengkapi dengan akal.
    Tentunya kalau akibat tidak pantas kita mengharap pahala dari kewajiban tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: