Larangan mendatangi masjid dengan bau yang tidak sedap seperti bau bawang dan lainnya

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي غَزْوَةِ خَيْبَرَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ يَعْنِي الثُّوْمَ فَلاَ يَأْتِيَنَّ الْمَسَاجِدَ

قَالَ زُهَيْرٌ فِي غَزْوَةٍ وَلَمْ يَذْكُرْ خَيْبَرَ

68 – (561)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Zuhair bin Harb keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya, dan dia adalah al-Qaththan dari Ubaidullah dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam perang Khaibar:

Barangsiapa yang makan pohon ini, maksudnya bawang putih, maka janganlah dia mendatangi masjid.

Zuhair berkata, Dalam suatu perang. Dan dia tidak menyebutkan Khaibar.

(Shahih Muslim 561-68)

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ قَالَ ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسَاجِدَنَا حَتَّى يَذْهَبَ رِيحُهَا يَعْنِي الثُّومَ

69 – (561)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair dan lafazh tersebut adalah miliknya, telah menceritakan kepada kami Bapakku dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Barangsiapa makan dari sayur mayur ini, maka janganlah dia mendekati masjid kami hingga baunya hilang. Maksudnya adalah bawang putih

(Shahih Muslim 561-69)

وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ يَعْنِي اِبْنَ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيْزِ وَهُوَ اِبْنُ صُهَيْبٍ قَالَ:

سُئِلَ أَنَسٌ عَنِ الثُّوْمِ فَقَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلاَ يَقْرَبَنَّا وَلاَ يُصَلِّي مَعَنَا

70 – (562)

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ismail, yaitu Ibnu Ulayyah dari Abdul Aziz, dan dia adalah Ibnu Shuhaib dia berkata:

Anas Radhiyallahu’anhu pernah ditanya perihal bawang putih, maka dia pun menjawab: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa memakan dari pepohonan ini maka janganlah dia mendekati kami, dan janganlah dia shalat bersama kami.

(Shahih Muslim 562-70)

وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا وَقَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا وَلاَ يُؤْذِيَنَّا بِرِيْحِ الثُّومِ

71-(562)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ dan ‘Abd bin Humaid.  ‘Abd berkata, telah mengabarkan kepada kami, sedangkan Ibnu Rafi’ berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq,  telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari az-Zuhri dari Ibnu al-Musayyab dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Barangsiapa makan sebagian dari pohon ini, maka janganlah dia mendekati masjid kami, dan janganlah dia menyakiti kami dengan bau bawang putih.

(Shahih Muslim 562-71)

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا كَثِيْرُ بْنُ هِشَامٍ عَنْ هِشَامٍ اَلدَّسْتَوَائِيِّ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ الْبَصَلِ وَالْكُرَّاثِ فَغَلَبَتْنَا الْحَاجَةُ فَأَكَلْنَا مِنْهَا فَقَالَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ الْمُنْتِنَةِ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ اْلإِنْسُ

72 – (563)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam dari Hisyam ad-Dastawa’i dari Abu az-Zubair dari Jabir Radhiyallahu’anhu dia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan bawang merah dan bawang bakung, tetapi kami sangat membutuhkannya, maka kami makan sebagian darinya, lalu beliau bersabda: Barangsiapa makan sebagian dari pohon berbau busuk ini, maka janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat merasa tersakiti (terganggu) dengan sesuatu yang karenanya manusia juga merasa tersakiti (disebabkan baunya)

(Shahih Muslim 563-72)

وَحَدَّثَنِي أَبُوْ الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ قَالاَ أَخْبَرَنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُوْنُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ قَالَ وَفِي رِوَايَةِ حَرْمَلَةَ وَزَعَمَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلاً فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ وَإِنَّهُ أُتِيَ بِقِدْرٍ فِيْهِ خَضِرَاتٌ مِنْ بُقُوْلٍ فَوَجَدَ لَهَا رِيْحًا فَسَأَلَ فَأُخْبِرَ بِمَا فِيْهَا مِنَ الْبُقُوْلِ فَقَالَ قَرِّبُوْهَا إِلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ فَلَمَّا رَآهُ كَرِهَ أَكْلَهَا قَالَ كُلْ فَإِنِّي أُنَاجِي مَنْ لاَ تُنَاجِي

73 – (564)

Dan telah menceritakan kepadaku Abu ath-Thahir dan Harmalah keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Atha’  bin Abi Rabah bahwa Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu berkata, dan dalam riwayat Harmalah, Dan dia mengklaim bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah dia memisahkan diri dari kami atau memisahkan diri dari masjid kami, dan hendaklah dia duduk di rumahnya, dan beliau pernah dibawakan satu keranjang berisi sayur mayur berupa bawang merah, lalu beliau mendapatkannya mempunyai bau, lalu beliau menanyakannya (bau tersebut), maka beliau diberitahu sebab di dalamnya berisi bawang merah. Maka beliau bersabda: Dekatkanlah ia kepada sebagian pemiliknya. Ketika beliau melihatnya, maka beliau membenci untuk memakannya. Beliau bersabda: Makanlah, karena aku membisiki malaikat yang mana kamu tidak membisikinya

(Shahih Muslim 564-73)

وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الثُّوْمِ وَقَالَ مَرَّةً مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّوْمَ وَالْكُرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُوْ آدَمَ

74 – (564)

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ibnu Juraij dia berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Atha’ dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

Barangsiapa yang makan sayur bawang putih ini, -dan pada kesempatan lain beliau bersabda: Barangsiapa makan bawang merah dan putih serta bawang bakung- janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat merasa tersakiti (terganggu) dari bau yang mana manusia juga merasa tersakiti (disebabkan baunya).

(Shahih Muslim 564-74)

وَحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ قَالَ ح وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالاَ جَمِيْعًا أَخْبَرَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ:

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ يُرِيْدُ الثُّومَ فَلاَ يَغْشَنَا فِي مَسْجِدِنَا وَلَمْ يَذْكُرِ الْبَصَلَ وَالْكُرَّاثَ

75 – (564)

Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kamiMuhammad bin Bakar dia berkata –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq semuanya mengatakan, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dengan Isnad ini:

Barangsiapa makan dari pohon ini -maksudnya bawang putih- janganlah dia mengunjungi kami di masjid kami

dan dia tidak menyebutkan bawang merah dan bawang bakung.

(Shahih Muslim 564-75)

وَحَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنِ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ قَالَ:

لَمْ نَعْدُ أَنْ فُتِحَتْ خَيْبَرُ فَوَقَعْنَا أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تِلْكَ الْبَقْلَةِ الثُّوْمِ وَالنَّاسُ جِيَاعٌ فَأَكَلْنَا مِنْهَا أَكْلاً شَدِيْدًا ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْمَسْجِدِ فَوَجَدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرِّيْحَ فَقَالَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ الْخَبِيْثَةِ شَيْئًا فَلاَ يَقْرَبَنَّا فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ النَّاسُ حُرِّمَتْ حُرِّمَتْ فَبَلَغَ ذَاكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ لَيْسَ بِي تَحْرِيْمُ مَا أَحَلَّ اللهُ لِي وَلَكِنَّهَا شَجَرَةٌ أَكْرَهُ رِيْحَهَا

76 – (565)

Dan telah menceritakan kepadaku Amru an-Naqid telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ulayyah dari al-Jurairi dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id dia berkata:

Kami belum kembali dari berperang hingga Khaibar telah ditaklukkan, lalu kami menjumpai para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berada pada kebun sayur mayur bawang putih, sedangkan orang-orang kelaparan. Maka kami memakan sayuran tersebut dengan lahap, kemudian kami pergi ke masjid. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan bau tidak sedap, maka beliau bertanya, Siapa yang memakan sedikit dari pohon yang bau ini, maka janganlah dia mendekati masjid kami!.

Lalu sekelompok orang berkata, Pohon ini telah diharamkan, pohon ini telah diharamkan. Lalu hal tersebut sampai pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku tidak berhak mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah untukku. Akan tetapi ia adalah pohon yang aku membenci baunya

(Shahih Muslim 565-76)

حَدَّثَنَا هَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدِ اْلأَيْلِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيْسَى قَالاَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ بُكَيْرِ بْنِ اْلأَشَجِّ عَنِ ابْنِ خَبَّابٍ عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى زَرَّاعَةِ بَصَلٍ هُوَ وَأَصْحَابُهُ فَنَزَلَ نَاسٌ مِنْهُمْ فَأَكَلُوْا مِنْهُ وَلَمْ يَأْكُلْ آخَرُوْنَ فَرُحْنَا إِلَيْهِ فَدَعَا الَّذِيْنَ لَمْ يَأْكُلُوْا الْبَصَلَ وَأَخَّرَ اْلآخَرِيْنَ حَتَّى ذَهَبَ رِيْحُهَا

77 – (566)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa’id al-Aili dan Ahmad bin Isa keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Amru dari Bukair bin al-Asyajj dari Ibnu Khabbab dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu’anhu :

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya melewati petani bawang merah. Lalu sekelompok orang dari mereka turun, lalu makan sebagian darinya, sedangkan yang lainnya tidak memakannya, lalu kami pergi kepada beliau, maka beliau memanggil orang-orang yang belum makan bawang merah, dan mengakhirkan orang-orang lainnya (yang makan bawang merah) hingga baunya hilang

(Shahih Muslim 566-77)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَطَبَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَذَكَرَ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَكَرَ أَبَا بَكْرٍ قَالَ إِنِّي رَأَيْتُ كَأَنَّ دِيْكًا نَقَرَنِي ثَلاَثَ نَقَرَاتٍ وَإِنِّي لاَ أُرَاهُ إِلاَّ حُضُوْرَ أَجَلِي وَإِنَّ أَقْوَامًا يَأْمُرُونَنِي أَنْ أَسْتَخْلِفَ وَإِنَّ اللهَ لَمْ يَكُنْ لِيُضَيِّعَ دِيْنَهُ وَلاَ خِلاَفَتَهُ وَلاَ الَّذِي بَعَثَ بِهِ نَبِيَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ عَجِلَ بِي أَمْرٌ فَالْخِلاَفَةُ شُوْرَى بَيْنَ هَؤُلاَءِ السِّتَّةِ الَّذِيْنَ تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَنْهُمْ رَاضٍ وَإِنِّي قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ أَقْوَامًا يَطْعَنُوْنَ فِي هَذَا اْلأَمْرِ أَنَا ضَرَبْتُهُمْ بِيَدِي هَذِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ فَإِنْ فَعَلُوْا ذَلِكَ فَأُولَئِكَ أَعْدَاءُ اللهِ الْكَفَرَةُ الضُّلاَّلُ ثُمَّ إِنِّي لاَ أَدَعُ بَعْدِي شَيْئًا أَهَمَّ عِنْدِي مِنَ الْكَلاَلَةِ مَا رَاجَعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَيْءٍ مَا رَاجَعْتُهُ فِي الْكَلاَلَةِ وَمَا أَغْلَظَ لِي فِي شَيْءٍ مَا أَغْلَظَ لِي فِيْهِ حَتَّى طَعَنَ بِإِصْبَعِهِ فِي صَدْرِي فَقَالَ يَا عُمَرُ أَلاَ تَكْفِيْكَ آيَةُ الصَّيْفِ الَّتِي فِي آخِرِ سُورَةِ النِّسَاءِ وَإِنِّي إِنْ أَعِشْ أَقْضِ فِيْهَا بِقَضِيَّةٍ يَقْضِي بِهَا مَنْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَمَنْ لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ثُمَّ قَالَ اَللّهُمَّ إِنِّي أُشْهِدُكَ عَلَى أُمَرَاءِ اْلأَمْصَارِ وَإِنِّي إِنَّمَا بَعَثْتُهُمْ عَلَيْهِمْ لِيَعْدِلُوْا عَلَيْهِمْ وَلِيُعَلِّمُوْا النَّاسَ دِيْنَهُمْ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقْسِمُوْا فِيْهِمْ فَيْئَهُمْ وَيَرْفَعُوْا إِلَيَّ مَا أَشْكَلَ عَلَيْهِمْ مِنْ أَمْرِهِمْ ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ تَأْكُلُوْنَ شَجَرَتَيْنِ لاَ أَرَاهُمَا إِلاَّ خَبِيثَتَيْنِ هَذَا الْبَصَلَ وَالثُّوْمَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ رِيْحَهُمَا مِنَ الرَّجُلِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ إِلَى الْبَقِيْعِ فَمَنْ أَكَلَهُمَا فَلْيُمِتْهُمَا طَبْخًا

78 – (567)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Salim bin Abi al-Ja’d dari Ma’dan bin Abi Thalhah:

Bahwa Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu’anhu berkhuthbah pada hari Jum’at, lalu dia menyebutkan Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menyebutkan Abu Bakar. Dia berkata: Sesungguhnya aku berfirasat seakan-akan ayam jago mamatukku tiga kali, dan menurut firasatku, itu tidak lain (tanda) kehadiran ajalku. Dan sekelompok kaum menyuruhku untuk menunjukkan penggantiku. Dan Allah tidak berkehendak menghilangkan agamaNya dan tidak pula khilafahnya (maka aku boleh memutuskan penggantiku atau tidak sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam), dan tidak pula ajaran yang dibawa oleh NabiNya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika kematian datang segera menjemputku, maka kekhilafahan adalah dipilih dengan cara musyawarah di antara enam orang yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dalam keadaan ridha kepada mereka. Dan sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa sekelompok kaum ada yang merusak masalah ini. Saya terpaksa memukul mereka dengan tanganku ini atas dasar Islam. Jika mereka melakukan hal ini maka mereka itulah musuh Allah yang kafir lagi sesat. Kemudian aku tidak meninggalkan setelahku sesuatu yang lebih penting bagiku daripada pembahasan kalalah (orang yang meninggal tidak meninggalkan anak dan orang tua). Aku tidak pernah mendebat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana aku mendebat beliau tentang masalah kalalah. Dan tidak pernah aku ngotot dalam suatu masalah sebagaimana aku ngotot dalam masalah kalalah hingga dia menusukku dengan jarinya ke dadaku. Beliau bersabda: Wahai Umar tidak cukupkah ayat Shaif yang berada pada akhir ayat darisuratan-Nisa?,  dan sesungguhnya aku jika masih hidup niscaya aku memutuskannya dengan keputusan orang yang pernah membaca al-Qur’an maupun yang tidak membaca al-Qur’an. Kemudian Umar berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku minta Engkau menjadi saksi atas para pemimpin Mesir. Dan bahwasanya aku mengutus mereka untuk rakyat dengan tujuan agar mereka berbuat adil atas mereka, dan agar mereka mengajari manusia tentang agama mereka dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, membagi harta fai’ di antara mereka, dan untuk mengajukan perkara yang sulit atas mereka untuk diajukan kepadaku. Kemudian kalian wahai manusia telah memakan dua pohon yang aku memandangnya sebagai pohon yang jelek yaitu bawang merah dan putih. Sungguh aku melihat sendiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mencium baunya dari seorang laki-laki di masjid niscaya dia menyuruh orang itu pergi keluar ke al-Baqi. Barangsiapa yang ingin memakan keduanya, hendaklah dia menghilangkan baunya dengan cara dimasak.

(Shahih Muslim 567-78)

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِي عَرُوْبَةَ قَالَ ح و حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ كِلاَهُمَا عَنْ شَبَابَةَ بْنِ سَوَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ جَمِيْعًا عَنْ قَتَادَةَ فِي هَذَا اْلإِسْنَادِ مِثْلَهُ

(567)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Ismail Ibnu Ulayyahdari Sa’id bin Abi ‘Arubah dia berkata –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim keduanya meriwayatkan dari Syababah bin Sawwar dia berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah semuanya meriwayatkan dari Qatadah dalam isnad ini hadits semisalnya.

(Shahih Muslim 567)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: