Larangan meminta jabatan (kepemimpinan) serta berambisi memperolehnya

عَنْ أَبِي مُوْسَى. قَالَ:
دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم. أَنَا وَرَجُلاَنِ مِنْ بَنِي عَمِّي. فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَمَرَناَ عَلَى بَعْضِ مَا وَلاَ كَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ. وَقَالَ اْلآخَرُ مِثْلَ ذٰلِكَ. فَقَالَ : إِنَّا، وَاللهِ! لاَ نُوَلِّي عَلَى هٰذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ. وَلاَ أَحَدًا حَرَّصَ عَلَيْهِ

Hadits riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku menemui Nabi Shallallahu alaihi wassalam bersama dua orang lelaki anak pamanku. Seorang dari keduanya berkata: Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah kekuasaanmu yang telah diberikan Allah azza wa jalla! Yang satu lagi juga berkata seperti itu. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga kepada seorang yang berambisi memperolehnya

عَنْ عَبْدِالرَّحْمٰنِ بْنِ سَمُرَةَ. قَالَ:
قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَا عَبْدَالرَّحْمٰنِ! لاَ تَسْأَلِ اْلإِمَارَةَ. فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا، عَنْ مَسْأَلَةٍ، وُكِلْتَ إِلَيْهَا. وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا، عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ، أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Hadits riwayat Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mengatakan kepadaku : “Hai Abdurrahman ! Janganlah engkau meminta menjadi pejabat pemerintahan, karena kalau engkau diberi jabatan itu karena permintaan maka engkau diserahkan kepada jabatan itu. Dan bila engkau diberi jabatan bukan karena permintaan maka engkau mendapat pertolongan dengan melaksanakannya.

2 Tanggapan

  1. Bagaimana jika kita ditempatkan pada satu jabatan, lalu mengalami hal yg kurang menyenangkan dan ingin melepas jabatan tsb

  2. Jabatan adalah amanat. Kalau memang kita bisa memikul amanat tersebut dan bisa berbuat kebaikan untuk orang banyak lebih baik kita tetap memegang jabatan tsb dari pada dijabat orang lain dan disalahgunakannya.
    Dalam memikul tanggungjawab pasti ada hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dan pasti juga ada orang yang menyukainya dan membencinya, itu hal biasa.
    Bila hal yang tidak menyenangkan itu berkaitan dengan aqidah, misalnya kita terpaksa harus melanggar syariat agama dalam menjalankan jabatan itu dan kita tidak bisa menolaknya maka lebih baik kita melepaskan jabatan itu karena memegang jabatan itu berarti menambah dosa.
    Kalau hal tidak menyenangkan itu berkaitan dengan yang lainnya, maka coba cari dulu akar permasalahannya dan coba dikaji ulang apa perlu melepas jabatan tsb atau tidak?

    Semoga Anda selalu mendapatkan pertolongan dari Allah, Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: