Wajib mandi karena bertemunya dua kemaluan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ نَبِيَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ:

“إِذَا جَلَسَ بَيْنِ شُعْبِهَا اْلأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا. فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ”. وَفِي حَدِيْثِ مَطَرٍ “وَإِنْ لَمْ يَنْزَلْ”. 

Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa

Nabi Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Bila seorang lelaki duduk di antara dua paha dan dua betis istrinya kemudian menyetubuhinya, maka ia wajib mandi. Dan dalam hadits mathari : Walaupun tidak keluar mani.

عَنْ أَبِي مُوْسَى قَالَ:

اِخْتَلَفَ فِي ذَلِكَ رَهْطٌ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَاْلأَنْصَارِ. فَقَالَ اْلأَنْصَارِيُوْنَ: لاَ يَجِبُ الْغُسْلُ إِلاَّ مِنَ الدَّفْقِ أَوْ مِنَ الْمَاءِ. وَقَالَ الْمُهَاجِرُوْنَ: بَلْ إِذَا خَالَطَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ. قَالَ: قَالَ أَبُوْ مُوْسَى: فَأَنَا أَشْفِيْكُمْ مِنْ ذَلِكَ. فَقُمْتُ فَاسْتَأْذَنْتُ عَلَى عَائِشَةَ. فَأُذِنَ لِي. فَقُلْتُ لَهَا: يَا أُمَّاهُ! (أَوْ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ!) إِنِّى أُرِيْدُ أَنْ أَسْأَلَكِ عَنْ شَيْءٍ. وَإِنِّى أَسْتَحْيِيْكِ. فَقَالَتْ: لاَ تَسْتَحِي أَنْ تَسْأَلَنِي عَمَّا كُنْتَ سَائِلاً عَنْهُ أُمَّكَ الَّتِي وَلَدَتْكَ. فَإِنَّمَا أَنَا أُمُّكَ. قُلْتُ: فَمَا يُوْجِبُ الْغُسْلَ؟ قَالَتْ: عَلَى الْخَبِيْرِ سَقَطْتَ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعْبَهَا اْلأَرْبَعَ، وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ، فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ”.

Hadits riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu, ia berkata:

Telah timbul perbedaan tentang itu antara beberapa orang dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Beberapa orang kaum Anshar mengatakan: “Tiada wajib mandi melainkan karena keluar mani.” Beberapa orang Muhajirin mengatakan :”Bukan begitu ! Melainkan kalau telah campur, maka sesungguhnya wajiblah mandi.” Abu Musa berkata: “Saya akan mengobati kalian dari pertikaian pendapat itu. Lalu saya berdiri dan meminta ijin untuk masuk ke rumah ‘Aisyah dan diijinkan. Saya mengatakan kepada Aisyah: “Hai ibuku ! (Hai Ummul Mukminin) Sesungguhnya saya hendak menanyakan kepada engkau tentang suatu hal, tetapi saya malu.” Aisyah menjawab : “Janganlah engkau malu menanyakan kepada saya apa yang hendak engkau tanyakan kepada ibumu sendiri yang melahirkan engkau, karena saya ini adalah ibumu.” Lalu saya bertanya : “Apakah yang mewajibkan mandi?” . Aisyah menjawab: “Engkau telah bertemu dengan orang yang tahu! Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Apabila seorang telah ditengah-tengah empat cabang tubuh perempuan (kemaluannya), dan kemaluan telah menyinggung kemaluan (bersetubuh), maka sesungguhnya wajiblah mandi.”

 

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم. قَالَتْ:

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يَكْسِلُ. هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ؟ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “إِنِّي َلأَفْعَلُ ذَلِكَ. أَنَا وَهَذِهِ. ثُمَّ نَغْتَسِلُ”.

Hadits riwayat Aisyah isteri Nabi Shallallahu alaihi wassalam Radhiyallahu’anha, ia berkata:

Sesungguhnya ada seorang laki-laki menanyakan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tentang seorang laki-laki yang bersetubuh dengan isterinya, kemudian dia lemah (tidak keluar mani), wajibkah dia mandi?” Ketika itu Aisyah sedang duduk dekat Nabi, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: “Sesunguhnya aku memperbuat pula serupa itu, aku dan orang ini (Aisyah), sesudah itu kami mandi.”

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: